Aleta

Aleta
21. Drama Perjodohan


__ADS_3

...🦋 Happy Reading bestie 🦋...


...***...


Dirumah yang mewah nampak keempat orang sedang duduk diruang tamu suasana disana tampak mencengkeram tidak ada yang mengeluarkan suara hanya terdengar suara televisi.


"Papah denger mama kamu sudah keluar dari rumah sakit"


"Gimana keadaan mama kamu?"


"Penting banget gimana keadaan mama buat papah hah?" Jawab Aleta datar.


"Papah cuma nanya keadaan mama kamu Aleta! Papah khawatir"


"Khawatir?" Aleta nampak terkekeh dengan ucapan papahnya kata-kata khawatir yang terucap dari laki-laki itu bagaikan lelucon baginya.


"Yakin khawatir?"


"Papah jelas khawatir dengan keadaan mama kamu pap_"


"Udah deh gausah banyak drama papa minta Aleta kesini mau apasih!" Kesal Aleta memotong pembicaraan laki-laki yang dia sebut papah.


"Papa cuma nany_"


"Papah gak perlu tau menau keadaan mama gimana, papah urusin aja urusan papah sendiri" sahut Aleta.


"ALETA!" Bentaknya.


Saat laki-laki parumbaya itu ingin menampar Aleta tapi ada seorang anak kecil yang menghalanginya.


"Jangan pukul Ka aleta" teriaknya memeluk kaki Aleta erat.


"Eh, hai sayang" ujar Aleta tersenyum mengusap kepala arzan.


"Papah gak boleh pukul Ka Aleta" perintahnya, laki-laki parumbaya itu langsung mengurungkan niatnya.


"Arzan sini jangan ganggu papah lagi marah" ujar nerisaa menarik bocah kecil itu menjauh dari Aleta.


"Mulai sekarang kamu tinggal disini" serunya, Aleta nampak mengerutkan keningnya menatap papahnya.


Kedua wanita yang menyaksikan perdebatan papah dan anak itupun juga nampak terkejut dengan ucapannya.


"Yeah, Ka Aleta balik ladi kelumah" seru arzan girang.


"Gak bisa" jawabnya datar.


"Apanya yang gak bisa ini rumah kamu"


"Rumah aku?" Tanyanya meyakinkan.


"Iya"


"Jelas-jelas papah yang usir aku dari rumah ini dan semenjak perempuan itu ada disini ini bukan rumah aku lagi" jawabnya.


"Dia mama kamu!"


"Oh no! Mama aku cuma satu dan itu bukan dia" kata Aleta menunjuk perempuan disamping papahnya dengan sinis.


"Kamu jangan kurang ajar Aleta, papa gak pernah ngajarin kamu kaya gitu"


"Emang papah pernah ngajarin apa?"


"Setau aleta papah gak pernah mengajarkan Aleta apapun, ah iya aleta inget papah mengajarkan tentang bagaimana menghancurkan keluarga kita dengan perselingkuhan kan?"


"Alet_"


"Terserah!"


"Pokoknya mulai sekarang kamu balik kerumah ini"


"Gak akan!"


"Kamu bisa gak sih dengerin kata papah!" Bentaknya.


"Aleta gak mau"


"Oke, kalo kamu gak mau perjodohan kamu papah percepat" finalnya.


Aleta nampak terkekeh geli dengan penuturan papahnya.


"Hidup Aleta tuh emang selalu disetir papah jadi terserah papah mau ngapain Aleta gak perduli"


"Minggu besok kamu tunangan"


"Terserah" Aleta langsung berlalu pergi meninggalkan ruangan.


"Kamu mau kemana" teriak papahnya saat melihat Aleta berlalu pergi tapi sama sekali tidak ada sahutan dari Aleta.


"Anak itu makin lama makin kurang ajar" kesalnya.


"Sabar mas" ujar perempuan disampingnya mencoba menenangkan suaminya yang emosi akibat ulah anaknya.


"Saya harus sabar gimana lagi? Anak itu makin kesini semakin seperti tidak berpendidikan"


"Aleta emang kaya gitu pah, dia bahkan suka bentak-bentak aku disekolah padahal aku cuma mau mendekatkan diri, kita kan sekarang sodara tiri tapi dianya aja yang selalu dengerin omongan temen-temennya yang gak jelas itu" adu nerisaa.


"Pergaulan dia tuh emang sudah gay benar, makanya papah jodohin dia biar dia cepet nikah jadi ada yang jagain" serunya.


"Keputusan papah udah yang terbaik kok" jawab nerisaa.


"Kamu emang yang paling bisa diandalkan"


"Iya dong nerisaa gitu loh" bangganya, papah aleta mengusap kepala nerisaa bangga.


'dret'dret'dret


📞 +1 576* *** is call


"Nomor siapa nih?" aleta nampak mengerutkan keningnya saat ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


Hallo' seru seorang wanita dari ujung sana.


^^^'Lu kemana aja?' tanyanya begitu mengetahui siapa yang menelponnya dirinya.^^^


'Ceritanya panjang ta' serunya menghela nafasnya pasrah.


'Gua janji setelah gua balik gua bakal ceritain semuanya ke lu'

__ADS_1


'intinya gua dijual sama sih bastian br*ngs*k itu ke rumah bordil dan dibeli sama Rafael dan berakhir gua yang harus ikut dia keluar negri karena perjalanan bisnis dia' aleta nampak begitu serius mendengarkan penjelasan dira.


^^^'Kapan lu balik? kita khawatir dir apalagi nyokap lu dia stress banget pas tau lu dijual sama bokap lu sendiri'^^^


'Gua belom tau gua bakal balik kapan tapi secepatnya gua bakal balik dan sekolah lagi' serunya.


'Sorry banget udah buat kalian semua khawatir gua gak maksud' sesalnya diujung sana.


^^^'Wajar kita khawatir sama lu yang tiba-tiba menghilang berbulan-bulan dir'^^^


'Kalian tenang aja gua baik-baik aja kok Rafael juga memperlakukan gua dengan begitu baik'


^^^'Yakin?'^^^


'Gua gak bohong ta dia benar-benar memperlakukan gua dengan begitu baik, secepatnya gua bakal ngomong sama dia biar gua cepet balik sekolah lagi gua kangen banget sama kalian, sama mama sama vania'


^^^'Oke jaga diri lu baik-baik'^^^


'Pasti'


'Ta jangan bilang sama siapapun kalo gua ngehubungin lu apalagi sama mama gua gak mau buat dia tambah khawatir'


^^^'Oke'^^^


'Makasih ta, kalo gitu gua tutup dulu telponnya'


^^^'Selalu jaga diri dir'^^^


'Iya ta lu gak usah khawatir kan gua jagoan hehe' kekehnya.


^^^'Jagoan kok cengeng'^^^


'Gak kok udah dulu ya bye'


'Oke bye'


Tut. sampungan telpon pun terputus.


***


Dira nampak berdiri menatap kearah laut dalam diam rambutnya yang panjang hitam legam tampak berterbangan dibalik punggungnya.


Seorang laki-laki tiba-tiba memeluknya dari belakang membuat sang empuh yang tengah melamun tersadar dari lamunannya.


Dira mencoba melepaskan diri dari kungkungan laki-laki tersebut tapi semakin dia mencoba semakin erat pula pelukannya.


"Lepas" pinta dira yang mencoba melepaskan pelukan dari laki-laki itu.


"Biarin kaya gini dulu" jawabnya yang semakin mengeratkan pelukannya sambil memejamkan mata.


Mereka berdua nampak terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Ehem" Dira menatap kearah samping, laki-laki itu tengah menatapnya dalam.


"Bisa lepas?" Ujar Dira.


"Gak"


"Lepas dong"


"Rafael tolong lepasin" pintanya, dengan perlahan laki-laki itu melepaskan Dira dari pelukannya.


Dira nampak memilin kukunya dengan gugup laki-laki disampingnya menatap dirinya dalam diam.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Gapapa"


"Kenapa?"


"Itu" Rafael nampak mengerutkan keningnya bingung dengan jawaban dira yang setengah-setengah.


"Gua boleh ga_" Rafael langsung menatap Dira tajam yang ditatap langsung tersadar dengan kata-katanya.


"Eh_ aku" ujarnya sambil memainkan ujung bajunya gugup, Rafael langsung mengangkat dagu Dira.


Manik mata keduanya nampak bertemu dira langsung bungkam tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


"Kamu kenapa?" Tanya Rafael.


"Aku mau minta sesuatu boleh?"


"Katakan"


"Aku udah lama gak sekolah pasti temen-temen aku khawatir mereka pasti bingung nyariin aku yang tiba-tiba menghilang" ujarnya Rafael nampak mendengarkan setiap ucapan Dira dalam diam.


"Aku boleh gak sekolah lagi" lanjutnya.


"Kalo aku bilang gak boleh?"


"Tapi aku mau sekolah lagi, dikit lagikan aku lulus" jelasnya lesuh.


"Kan bisa home schooling"


"Tapi_"


"Tapi apa?"


"Aku kangen sekolah bareng temen-temen aku raf"


"Nanti kamu kabu_"


"Aku janji kalo dibolehin sekolah aku gak bakal kabur, lagi jugakan aku udah janji gak bakal kabur-kaburan lagi buktinya sampe sekarang aku gak pernah mencoba untuk kabur dari kamu lagi kan" jelasnya.


"Boleh ya"


"Biar aku pikirkan dulu"


"Tap_"


"Mending sekarang kita sarapan" ajak Rafael.


***


'Tring'tring


"Baik anak-anak untuk pembelajaran hari ini cukup sampai disini silahkan dikumpulkan"

__ADS_1


"Baik Bu"


"Ohiya satu lagi untuk UN tinggal 4 bulan lagi jangan lupa untuk terus fokus belajar ya"


"Iya Bu"


"Kalo ada yang tidak dimengerti bisa tanya sama temen atau sama saya langsung"


"Ujian praktik dimulai kapan Bu?"


"Kalian uprak mungkin awal bulan besok jadi persiapkan ya"


"Oke tetep semangat semuanya"


"Baik Bu terimakasih" semua murid berhamburan keluar kelas.


"Huaaaaa cepet banget ya ujian udah didepan mata" keluh Karin.


"Iya ih rasanya pengen cepet-cepet lulus aja" jawab fely.


"Eh kita mau belajar bareng gak?" Ajak Tasya.


"Ayoo biar semangat kalo bareng-bareng" ujar Karin.


"Aleta mau kan" tanya fely.


"Iya"


"Yaudah dicafe aja ya" seru fely.


"Terserah"


"Yaudah gua balik duluan ya udah dijemput" ujar Tasya.


"Karin juga dijemput?" Tanya fely.


"Gua bareng Tasya"


"Oke hati-hati kalian"


"Iya kalian juga hati-hati dah" seru Tasya.


***


Dicafe bunda dan mamah intan nampak sibuk berbincang dengan Aleta yang sibuk sendiri dan fely yang bergulung-guling diatas karpet berburu sambil bermain hp.


"Huaaaaa, Aleta gak cape liat tulisan terus" keluh fely yang jengah mentap Aleta yang sibuk dengan kertas-kertas diatas meja.


"berisik kamu fel" seru bunda.


"Fely bosan bunda" rengeknya.


"Kamu ngalahin Vania kalo gitu fel" kata bunda.


"Ih kok disamain kaya Vania sih"


"Bukan disamain malah mendingan Vania yang gak rewel kaya kamu" ujar bunda, mama intan nampak terkekeh geli dengan penuturan bunda.


"Bontot gak jadi" seru Aleta yang diledekin hanya memasang tampang kesalnya.


"Ih nyebelin, fely mau bantu Tomi ajalah"


"Mana ada bantu, buat kacau kalo kamu mah" kata bunda.


"Enggak kok tanya aja Tomi"


"Halah"


"Ih bunda nyebelin udah ah bye" fely langsung berlalu pergi meninggalkan ruangan.


***


Langit nampak cerah bulan yang begitu terang ditemani dengan hamparan bintang yang bersinar disisinya kedua orang berbeda gender itu nampak duduk berdampingan dengan sangat laki-laki yang senantiasa memeluk pinggang perempuan disampingnya dengan begitu erat.


"Kita kapan pulang?" Tanya dira.


"Kamu maunya kapan?"


"Ditanya kok malah nanya balik"


"Terserah kamu"


"Lebih cepat lebih baik"


"Raf" panggil dira yang dipanggil hanya bergumam sebagai jawaban atas panggilan Dira.


"Jadi gimana?" Rafael nampak mengerutkan keningnya dengan ucapan Dira.


"Itu pertanyaan aku tadi pagi"


"Aku boleh kan sekolah lagi?"


"Hm"


"Boleh?" Tanyanya menyakinkan.


"Iya"


"Serius?"


"Tapi ada syaratnya"


"Apa?"


"Harus dianter jemput supir"


"Tapi aku boleh main sama temen-temen aku kan?"


"Gapapa kalo sesekali dan gak boleh nakal, inget kamu itu punya aku" ujarnya memperingatkan.


"Iya janji"


Dengan antusias Dira mengecup pipi Rafael dan diakhiri dengan pelukan hangat sadar dengan apa yang dia lakukan dira nampak tersipu malu dan menyembunyikan mukanya didada Rafael.


Rafael hanya tersenyum melihat tingkah laku Dira sekarang walaupun awal pertemuan mereka yang tidak mengenakkan tapi sekarang mereka jadi begitu dekat dan Rafael menyukai itu dia menyukai Dira yang sekarang ah bahkan dia menyukai Dira sejak awal mereka bertemu dirumah bordir.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2