Aleta

Aleta
23. Tunangan


__ADS_3

...🦋 Happy Reading bestie 🦋...


...***...


"Fely bilang bagas tuh baik gak percaya"


"Baik dari mananya sih?"


"Jelas-jelas dia jahat"


"Jahat gimana sih? Udah jelaskan Bagas tuh gak tau menau soal dira yang dibawa sama abangnya"


"Ya tetep aja dia tuh gak sebaik yang lu fikir"


"Gak boleh menyudutkan orang yang gak bersalah"


"Belum ketauan aja jeleknya, masih ketutup sama kepolosan lu"


Sejak tadi diapartemen aleta sudah bising karena fely dan naufal yang terus berdebat prihal bagas, sampai membuat Elvan jengah di buatnya.


"Lu mending dengerin omongan kita deh fel" seru elvan yang sibuk memakan kacang.


"Apasih, lu juga salah udah buat bagas babak belur main hakim sendiri" sewotnya.


"Lah kan emang dia salah"


"Dia tuh gak salah, kalian aja yang salah paham"


"Ngeyel banget sih kalo dibilangin" kata Elvan.


"Apasih! Udah lah fely mau pulang aja males disini" dengan kesal dia beranjak keluar dari apartemen.


"Batu" racau elvan yang masih melanjutkan makan kacang yang ada ditangannya.


"Mau kemana lu?" Teriak Elvan.


"Susul fely" sahutnya yang berlari mengejar fely keluar dari apartemen aleta, yang dijawab indikan bahu acuh Elvan.


"Loh fely sama naufal mana?" Tanya barra yang baru keluar dari dapur.


"Pergi"


"Kemana?"


"Gak tau" jawab Elvan dengan mengindikan bahunya.


"Emang gak ngomong?"


"Orang berantem terus fely cabut jadi naufal ngejar, berasa nonton sinetron gua" jelasnya.


"Berantem kenapa?" Tanya Aleta yang baru muncul.


"Gara-gara naufal ngelarang fely buat jaga jarak sama bagas, tapi fely gak mau abis itu terjadilah pertikaian dan akhirnya fely cabut"


"Fely tuh emang keras kepala dan terlalu polos jadi gampang dimanfaatin orang kebaikannya dia" kata Aleta.


"Dan itu sangat tidak baik" seru elvan menggeleng kepala sambil berdecak.


"Yaudahlah gua cabut ya" ujarnya saat melihat jam didinding menunjukkan pukul 4 sore.


"Mau kemana lu?" Tanya barra.


"Tadi nyokap gua minta anterin belanja gua udah janji nemenin"


"Gua cabut"


"Oke, hati-hati"


Diruang tamu hanya tersisa barra dan aleta yang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Mama intan kemana?"


"Dibutik sama bunda"


"Loh? Kan mama intan gak boleh ngerjain yang berat-berat dulu"


"Iya udah dibilangin kok"


"Lagi juga gapapa sesekali mah"


"Kalo mama diapartemen terus malah kasian, mama juga kan perlu menghirup udara segar"

__ADS_1


"Tapi sebisa mungkin jangan terlalu cape"


"Iya barra, bawel deh"


"Bukannya bawel gua tuh khawatir kalo mama intan kenapa-kenapa nanti lu juga yang sedih"


"Kalo lu sedih gua ikut sedih, jadi sebisa mungkin jangan sampe kenapa-napa kan gua juga sayang sama mama intan" ucap barra tulus.


Suara deringan ponsel menghentikan percakapan mereka berdua.


" Bentar ya gua angkat telpon dulu " yang dijawab anggukan kepala oleh Aleta.


'.........'


'Iya hallo pah'


'..........'


'sekarang?'


'..........'


'iyaiya barra pulang'


'Tutttt. Sambung telpon terputus.


"Gua balik dulu ya" kata barra dengan terburu-buru mengambil jaketnya yang dia taro diatas sofa.


"Kenapa?" Bingung Aleta.


"Papah nyuruh gua balik, lu baik-baik diapart sendirian" ujarnya mengusap kepala aleta.


"Gua cabut" dengan tergesa-gesa barra keluar dari apartemen Aleta.


Perempuan itu hanya menatap kepergian barra dalam diam sampai tubuh laki-laki menghilang dibalik pintu, suasana yang tadinya ramai sekarang menjadi sangat sunyi


***


Disebuah restoran mewah kelima orang itu nampak sibuk dengan urusan masing-masing tanpa ada percakapan sama sekali.


"Ciee yang mau ketemu calon suami" ledek nerisaa.


Aleta tetap sibuk dengan i-pad ditangannya tanpa memperdulikan sama sekali omongan perempuan disamping kanannya.


"Aby" Panggil seorang lelaki parumbaya.


"Haii kal, apa kabar" sapa papah Aleta mereka berdua nampak berpelukan dan diikuti istri mereka.


"Aku baik by, kamu sama keluarga kamu dimana?" Tanya Haikal.


"Aku juga baik kok"


"Mari duduk jangan berdiri sambil bicara" suruh mama Amel.


"Sampe lupa duduk karena keasikan ngobrol" sahut keduanya sambil tertawa.


"Ayo jeng duduk" ajaknya.


"Ngomong-ngomong anak kamu mana?" Tanya papah aleta.


"Ohiya, sorry banget nih dia lagi ada urusan jadi gak bisa ikut" sesal Haikal.


"Gapapa masih bisa lain kali"


"Ini yang cantik namanya siapa?" Tanya istri Haikal saat menatap gadis muda didepannya yang sibuk dengan i-pad ditangannya tanpa terganggu sedikitpun dengan kegaduhan mereka.


"Oh itu Aleta anak aku yang mau kita jodoh kan, Aleta kenalkan ini Tante ara dan ini om Haikal calon mertua kamu" bangga Aby.


"Oh haii Aleta" sapa tante Ara senang yang dijawab senyuman kecil oleh aleta.


"Kalo yang samping Aleta namanya nerisaa dia kakak tirinya Aleta"


"Haii Tante aku nerisaa" sapa nerisaa.


'Kok mukanya tante Ara familiar ya' batin nerisaa yang masih mengamati wajah Tante Ara dengan seksama.


"Kalo yang paling ganteng ini?" Tanya Tante ara.


"Itu arzan anak bontot kami"


"Haii ganteng" ujar Tante ara.

__ADS_1


"Iya tante"


"Kita langsung ke intinya saja kali ya" ujar om Haikal.


"Kamu terlalu bersemangat kal" mereka pun terkekeh dengan ucapan papah Aleta.


"Gimana gak semangat calon mantunya cantik gini" sahutnya.


"Jadi gimana Aleta setuju dijodohkan dengan anak om?" Tanya om Haikal, Aleta nampak terdiam dengan pertanyaan om Haikal semua orang yang disitu nampak menunggu jawaban Aleta dengan cemas.


"Lu harus mau, kalo sampe lu bilang gak mau itu bisa bikin papah marah dan malu sama keluarga om Haikal" bisik nerisaa, aleta tetap diam tidak mendengarkan omongan nerisaa.


"Aleta?" Panggil Tante ara.


"Iya"


"Iya apa sayang? kamu mau atau tidak?"


"Iya Aleta terima perjodohan ini"


"Syukurlah" keempat orang dewasa itu nampak menghela nafasnya lega dengan jawaban aleta.


"Kamu sekarang kelas 3 SMA kan sayang?"


"Iya tante"


"Berarti kalian seumura, anak Tante juga kelas 3 sma mungkin kalian akan cepat akrab" seru tante Ara yang hanya dijawab anggukan kepala dengan senyuman kecil.


"Nerisaa kira anak tante udah kuliah" serunya.


"Nerisaa udah kuliah?" Tanya Tante ara.


"Nerisaa dan Aleta sama-sama masih sma kelas 3 mereka berdua juga sekolah ditempat yang sama" jawab mama Amel yang dijawab anggukan kepala oleh tante Ara.


"Jadi gimana?" Tanya papah aleta.


"Rencananya kan hari ini mereka tunangan karena zay tidak bisa hadir jadi yang pakaikan cincin tunangannya tante intan aja yang pakaikan agar rencana kita tetap berjalan"


"Tunangan itu apa?" Tanya arzan menatap mereka bingung.


"Pertunangan itu peralihan antara lamaran dengan pernikahan, nah biasanya itu tukeran cincin sebagai tanda sudah diikat sebelum nikah" jelas om Haikal.


"Nikah itu apa?" Mereka semua nampak bingung dengan pertanyaan arzan.


"Nanti kalo sudah besar arzan akan tau" ujar tante Ara.


"Jadi harus tunggu besar dulu?"


"Iya sayang"


"Ayo kita lanjutkan" ujar om Haikal.


"Oh oke silahkan" jawab papah aleta.


Dengan ragu Aleta memberikan sebelah kirinya kearah Tante ara, dengan perlahan tante intan memakaikan cincin dijari manis aleta setelah terpasang Tante ara menggenggam tangan aleta lalu tersenyum kearahnya dengan tulus.


"Mulai sekarang panggilnya mami dan papi aja ya sayang biar kaya zay" ujar tante Ara senang.


"Iya mih"


"Yaampun akhirnya punya anak gadis" senangnya.


"Zay dan Aleta kan sama-sama sudah kelas 3 SMA sebentar lagi mereka juga lulus bagaimana kalo pernikahan mereka kita percepat?" Saran om Haikal.


"Gimana sesudah mereka simulasi ujian?" Kata papah.


"Tapi apa gak terlalu cepat?" Potong Aleta.


"Lebih cepat lebih baik" sahut nerisaa.


"Nah bener kata nerisaa jadi gimana?"


"Oke"


"Berarti tinggal 2 Minggu lagi, biar nanti aku yang urus semuanya" kata tante Ara dengan semangat.


"Biar aku dan nerisaa bantu ya jeng nantikan pasti sibuk banget" ujar mama Amel.


"Iya nanti kita yang urus"


"Yaudah kalian aturlah" jawab kedua laki-laki itu pasrah.

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2