Aleta

Aleta
28. Alergi


__ADS_3

...🦋 Happy Reading bestie 🦋...


...***...


Sudah hampir 1 bulan ini dira dan elvan menjadi sangat dekat mereka yang tadinya ga pernah akur selalu saja cekcok menjadi sangat akur bahkan jarang terlihat keduanya adu mulut.


"Lu udah ngasih tau prihal lu yang suka bolak-balik rumah sakit ke orangtua lu?" Tanya dira kepada laki-laki disampingnya yang tengah sibuk meminum.


"Gak"


"Kenapa?"


"Gua gak mau bikin nyokap jadi khawatir kalo tau keadaan gua"


"Tapi kalo mereka gak tau dan lu kenapa-kenapa dia bakal lebih khawatir van"


"Gua kaya gini juga kan karena mereka dir" ujarnya tersenyum miris.


"Yaudahlah gausah dibahas gak penting juga"


"Tapi_"


"Udah ah ayo cabut udah mau gelap nih"


"Cari masjid dulu ya gua sholat magrib dulu abis itu baru kita cari makan, abis makan baru gua anter balik"


"Oke"


***


"Gua sholat dulu, lu tunggu didalem aja" ajak elvan.


"Hm, gak enak takut ganggu yang lain gua tunggu sini aja"


"Yakin?"


"Iya, udah sana udah mau mulai tuh kayaknya"


"Yaudah jangan kemana-mana"


Saat kepergian elvan yang masuk kedalam masjid dira duduk didepan masjid sambil menatap kearah dalam begitu banyak orang yang sedang melaksanakan sholat berjamaah.


"Kaka kok gak ikut sholat" tanya seorang anak kecil yang tiba-tiba duduk disamping Dira, tapi wanita itu masih terdiam menatap kearah orang-orang yang sedang melaksanakan sholat, anak kecil itu memegang tangan dira sampai akhirnya dia menyadari keberadaan anak kecil itu.


"Eh, haii cantik"


"Kaka gak sholat?" yang langsung dijawab gelengan kepala sambil tersenyum.


"Loh kenapa? Kan Kaka udah besar kata abi sholat itu wajib untuk orang dewasa"


"Kita beda tuhan"


"Emang tuhan Kaka siapa?" Tanya gadis itu polos, Dira nampak menggaruk kepalanya bingung.


"Kamu sendiri kenapa gak sholat?" Tanya dira mengalihkan pertanyaan gadis kecil itu.


"Ohiya aku lupa kan disuruh umi ambil tas" ujarnya menepuk jidatnya.


"Aku anterin ini ke umi dulu ya ka dadah" gadis kecil itu berlari memasuki masjid.


"Udah?" Tanya dira yang melihat elvan duduk disampingnya seraya memakai sepatunya.


"Udah, ayo" ajaknya.


Keduanya nampak sibuk mengitari jakarta dengan Elvan yang mengendarai motor dengan kecepatan pelan.


"Mau makan apa?"


"Cari yang didekat-deket sini aja"


"Makan seafood mau gak?" Tanya elvan yang melihat penjual dipinggir jalan.


"Boleh" Elvan langsung memarkirkannya motor disamping penjual itu.

__ADS_1


"Mau apa?" Tanya elvan memberikan menu kedira.


"Mau nasi goreng seafood satu sama es jeruk aja" jawabnya memberikan buku menu ke Elvan lagi.


"Oke, gua persen dulu ya"


****


Sudah hampir setengah jam dira merasa gatal dan panas di sekujur tubuhnya dia berdiri di depan cermin langsung kaget melihat seluruh tubuhnya nampak muncul ruam merah.


"Duh gatel banget"


"Perasaan gua gak makan yang aneh-aneh deh tapi ini kenapa gatel gini sih"


"Gua gak punya alergi juga" dengan memberikan bedak tabur dan terus mengusapnya sama sekali tidak meredakan rasa gatalnya yang ada dia sekarang mendadak pusing dan sedikit mual.


"Kamu kenapa?" Tanya Rafael yang baru memasuki kamarnya masih lengkap dengan setelan jas kerjanya.


"Gak tau nih panas, gatel mana pusing banget kepala aku" keluhnya, Rafael menghampiri Dira melihat keseluruhan tubuh Dira yang nampak begitu banyak ruam merah.


"Jangan digaruk" ujarnya mencekal tangan dira.


"Duh, tapi gatel banget"


"Emang kamu abis makan apa?" Tanyanya.


"Ya kaya biasa"


"Kamu alergi sesuai gak?"


"Aku gak punya alergi apapun" tiba-tiba dira berlari dengan terburu-buru masuk kedalam kamar mandi, elvan yang bingung langsung mengikuti kepergian Dira.


'Huek'huek'huek


Dengan terus mengurut leher dira elvan dengan sigap disamping wanita itu, Dira yang sudah cape mengeluarkan semua isi perutnya nampak limbung.


"Kita ke dokter ya" cemas Rafael.


"Gausah gimana, kamu tuh sebenernya makan apasih sampe kaya gini"


"Kamu jangan ngomel-ngomel malah bikin aku tambah pusing"


"Yaudah ayo istirahat dikasur" dengan sempoyongan Dira berjalan dituntun Rafael, tapi Dira malah jatuh pingsan dengan sigap Rafael langsung menangkap tubuh wanita itu kedalam dekapannya.


***


"Selamat ya pak istri bapak hamil 6 Minggu" ujar dokter sambil tersenyum.


"Hamil dok?" Tanya Rafael meyakinkan.


"Iya pak"


"Terus ruam merah ditubuhnya karena apa dok?"


"Itu akibat alergi pak"


"Alerginya bahaya gak dok buat kandungannya?" Tanya Rafael cemas.


"Bapak tidak perlu cemas, alergi umumnya tidak membahayakan kesehatan ibu hamil maupun bayi di dalam kandungan kok"


"Tapi walaupun begitu, bumil tetap perlu waspada terhadap kemungkinan timbulnya reaksi alergi berat, yaitu syok anafilaksis, yang dapat berakibat fatal" jelas dokter.


"Bagus deh kalo kandungannya gapapa" syukur Rafael.


"Tapi harus tetap dijaga kehamilannya, karena umur calon ibunya masih sangat remaja dan sangat rentan keguguran"


"Biar saya kasih vitamin dan obat penguat kandungan nanti bisa langsung ditebus ya"


"Baik dok terimakasih"


"Kalo gitu saya permisi dok"


"Iya silakan"

__ADS_1


Rafael duduk disamping bangkar dira dia mengusap perut dira yang datar dia masih tidak percaya bahwa didalam perut dira ada anak kandungnya yang tengah tumbuh.


Rafael benar-benar tidak bisa menjelaskan perasaan saat ini bagaimana dia begitu bahagia tapi juga begitu cemas karena dira belum sadar dan dia pun tidak tau bagaimana reaksi dira nanti setelah tau kalo dia hamil sendangkan dia masih sekolah.


"Yang sehat ya sayang diperut mama"


"Jagain mamanya jangan bikin susah"


"Jadi anak yang baik"


"Harus penurut ya"


Dira mencoba membuka matanya dengan perlahan menyesuaikan sorata lampu yang mengenai matanya dengan sesekali mengedipkannya.


"Rafaela" panggilnya pelan.


"Kamu udah bangun"


"Masih pusing?"


"Masih mual?"


"Masih gatel?"


"Ada yang sakit gak?" Tanyanya bertubi-tubi yang dijawab gelengan kepala.


"Haus"


"Nih, pelan-pelan minumnya" dengan telaten Rafael membantu Dira untuk minum.


"Aku kenapa?" Tanyanya.


"Kamu alergi"


"Perasaan aku gak punya alergi apapun deh" ujarnya bingung.


"Dan kamu_"


"Aku kenapa?"


"Kamu hamil" Dira seketika terdiam mencerna apa yang baru saja Rafael katanya dengan perlahan air matanya terjatuh dan Dira pun terisak, Rafael langsung memeluk Dira.


"Hey, kenapa kok malah nangis? Kamu gak suka ya kalo kamu hamil" tanya Rafael cemas yang dijawab gelengan kepala.


"Terus?"


"Gak tau"


"Loh kok gak tau"


"Iya gak tau mesti senang atau sedih"


"Harus senang dong"


"Iya aku seneng aku hamil, tapi aku juga sedih aku kan masih sekolah nanti kalo aku dikeluarin dari sekolah karena ketauan hamil diluar nikah gimana?" Isaknya.


"Gak bakal ketauan kamu sekolah tinggal tiga bulan lagikan perut kamu juga masih datar jadi masih bisa kok ditutupin sampai lulus nanti jadi kamu tenang aja ya" ujarnya menenangkan Dira dengan terus mengusap-usap punggung wanita itu.


"Kalo kamu mau nikah sekarang juga ayo" ajak Rafael dengan nada serius.


"Kamu ngajak nikah kaya ngajak beli permen" kesalnya.


"Ya kan aku nawarin yang terbaik"


"Nanti kalo mama tau gimana?"


"Aku yang bakal temuin mama kamu, jadi kamu tenang aja ya gausah dipikirin biar itu jadi urusan aku"


"Yaudah sekarang kamu Istirahat ya"


"Iya"


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2