Aleta

Aleta
22. Kembali


__ADS_3

...🦋 Happy Reading bestie 🦋...


...***...


Dira nampak sibuk berdiri didepan cermin membenarkan penampilannya sambil sesekali berdecak kesal dengan tanda merah yang Rafael buat dilehernya yang begitu banyak.


"Ngapain sih" tanya Rafael yang bingung menatap Dira yang tengah sibuk dengan spons yang dia tempelkan ke lehernya dengan cairan berwarna.


"Ini semua gara-gara kamu" Kesalnya yang bersusah payah menutupi bercak merah itu dengan foundation.


"Kok aku" elak Rafael.


"Ya terus siapa lagi?"


"Yaudah gausah sekolah"


"Gak! enak aja kan aku udah lama gak sekolah raf"


"Yaudah gausah ngeluh" Dira nampak berdecak kesal dengan jawaban Rafael.


"Ayo" Dira nampak mengerutkan keningnya bingung dengan ajakan laki-laki itu.


"Sarapan dulu abis itu aku anterin" ujarnya.


"Kan kamu mau berangkat ke kantor"


"Gapapa sekalian"


"Terserah deh"


Keduanya menuruni tangga sambil bergandengan tangan menuju ruang makan disana sudah nampak banyak makanan yang tersaji.


"Makan yang banyak" seru Rafael mengusap lengan dira lembut.


Dira nampak memakan beberapa lempar roti bakar dan segelas susu coklat.


"Gak mau makan nasi?" Tanya Rafael yang dijawab gelengan kepala.


"Makan dikit aja"


"Gak ini aja" tunjuknya ke nasi goreng.


"Yaudah yang banyak" yang dijawab anggukan kepala.


***


Mobil yang dikendarai Rafael memasuki pekarangan sekolah yang sudah nampak ramai.


"Disana aja" tunjuk dira kearah koridor sekolah, mobil berhenti sesuai arahan yang Dira minta.


"Nanti pulang jam berapa?"


"Paling jam 3"


"Oke aku jemput"


"Gak usah, dijemput supir aja emang kamu gak sibuk?"


"Gak kok hari ini aku bisa jemput"


"Yaudah hati-hati" saat Dira ingin keluar dari mobil Rafael menahan tangannya.


"Apalagi?" Tanya dira bingung.


"Ini belum" ujar ya menunjuk kearah pipinya, Dira yang paham dengan apa yang Rafael maksud langsung mengecup pipi Rafael dan langsung berlalu pergi dengan terburu-buru, Rafael hanya terkekeh geli dengan tingkah Dira.


Setelah tidak melihat Dira lagi Rafael langsung menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan sekolah dengan senyuman yang tidak berhenti.


Tanpa sadar setelah kehadiran Dira dia jadi lebih sering tersenyum dan tertawa tidak lagi bermuka datar dan dingin kepada gadis kecil itu.


***

__ADS_1


Fely nampak sibuk memakan kue kacang yang dibawakan Karin sambil sesekali berbincang dengan Karin dan Tasya, aleta yang tengah sibuk menatap layar i-padnya, sampai suara seorang perempuan membuat mereka mengalihkan pandangannya.


"Pagi" sapanya, sejenak mereka terdiam sampai akhirnya tersadar.


"Dira" ujar mereka shock.


"Kangen" kata fely berlari kearah pelukan Dira sambil menangis.


"Dih kok makin cengeng ngalahin Vania sih" ledek Dira.


"Dira dari mana aja fely sama yang lain cari gak ketemu-ketemu" isaknya dalam pelukan Dira.


"Healing" kekehnya.


"Jahat banget ilang" keluh nya.


"Kan yang penting sekarang ada disini" jawabnya menenangkan.


"Ngapain bengong" tegur Dira kearah Tasya dan Karin.


"Lu dari mana aja?" Tanya Tasya.


"Kita cari-cari tau" cecar Karin.


"Healing hehe"


"Udah udah ih udah mah masuk nih" serunya.


"Yaudah nanti lanjut lagi harus cerita ya"


"Siap"


"Yaudah kita balik ke kelas dulu"


Setelah kepergian Karin dan Tasya, Dira sudah duduk ditempat duduknya dengan fely yang terus memegang erat tangannya.


"Fel udah ih"


"Gak nanti Dira ilang lagi kalo gak dipegangin"


"Lepas dulu, duduk sana ditempat lu cepet ntar keburu ada guru" pinta dira.


"Tapi nanti cerita ya"


"Iya janji"


"Oke" fely nampak mendengarkan Dira dan duduk di kursinya.


"So?" tanya Aleta datar, Dira nampak menceritakan semuanya kepada Aleta tanpa ada satupun yang dia tutupi.


"Terus sekarang?"


"Dia baik kok, buktinya sekarang dia ngebolehin gua balik sekolah lagi"


"Jadi sekarang lu tinggal sama Rafael?"


"Iya, dia juga ngebolehin gua sesekali main kok jadi tenang aja"


"Nanti gua bakal minta waktu buat ketemu sama bunda sama mama kok mereka pasti khawatir banget kan" ujarnya sedih.


"Udah yang penting lu sekarang gapapa dan baik-baik aja"


"PAGI" Teriakan seorang guru perempuan menghentikan pembicaraan mereka.


"PAGI BU"


"Oke kita lanjutkan pembelajaran minggu kemarin ya, buka bukunya halaman 258"


"Baik Bu"


***

__ADS_1


Diujung kantin kelima remaja itu nampak sibuk berbincang dengan makanan didepannya.


"Oh jadi pas lu dijual yang beli lu itu abangnya sih bagas" ujar Tasya.


"Iya"


"Tapi dia jahat gak sama dira?" Tanya fely khawatir.


"Gak kok dia malah baik banget sama gua" jawabnya santai seraya memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.


"Tapi kok kalo dia baik kenapa gak dari awal aja lu tetep sekolah?" Tanya Karin.


"Kenapa berbulan-bulan malah menghilang?" Lanjut Tasya.


"Gua dibawa keluar negri sama Rafael, soalnya bisnis dia lagi ada masalah jadi dia harus turun tangan langsung karena berkaitan dengan penggelapan uang perusahaan dan itu perlu waktu yang cukup lama buat jeblosin tuh orang masuk kepenjara" Mereka semua nampak mengganggukan kepala tanda mengerti dengan penjelasan dira.


"Berarti kasian dong si bagas ya" ujar Karin.


"Loh kenapa?"


"Dia babak belur dipukul habis-habisan sama Elvan gara-gara gak mau ngaku dimana abangnya bawa kabur lu" jelas Tasya.


"Iya Elvan khawatir sama Dira, dia sampe gak tidur buat cari Dira" adu fely.


"Bagas?" Bingung dira.


"Itu loh laki-laki yang waktu itu nolongin vania di cafe" jelas fely.


"Dia adeknya Rafael?" Kaget Dira.


"Iya" jawab ketiga wanita itu kompak dengan polosnya mengganggukan kepala.


"Yaampun kasian banget tuh orang mana gak tau apa-apa" sesal dira.


"Iya kasian banget bagas"


"Duh gua jadi gak enak ngerepotin kalian" sesal dira.


"Yaelah gapapa lagi kita kan khawatir banget pas tau lu ilang makanya kita cari bareng-bareng, and then pencarian kita gak sia-sia akhirnya lu balik juga"


"Seneng banget" heboh Karin memeluk Dira dari samping.


"Hai girls" teriak nerisaa yang berjalan menghampiri meja mereka bersama Sandra.


"Ngapain lu" sewot Dira.


"Eh kemana aja anak bansos udah sekolah dapet beasiswa malah gak sekolah-sekolah" ledek nerisaa.


"Kalo punya mulut dijaga dong" sentak fely.


"Emang bener temen lu kan bisa sekolah disini karena uang dari orang tua kita-kita kalo gak dia gak bisa sekolah disini" seru sandra.


"Seenggaknya dira bisa sekolah karena otaknya pinter bukan karena uang sogokan" ledek Karin.


"Orang yang pinter bakal kalah sama orang yang ber-uang" jawab Sandra dengan bangga.


"Apapun itu emang bisa dibeli sama uang tapi otak yang pinter gak ada yang jual" sahut karin mencemoh sandra, Sandra hanya mencibirkan bibirnya dengan jawaban karin.


"Mending lu pergi" ujar Aleta datar.


"Yeh sewot aja, gua cuma mau bilangin lu disuruh pulang sama papah"


"Gua sibuk"


"Ya terserah sih dari pada cafe lu dibakar" ujarnya mengindikan bahunya acuh.


"Terserah!"


"Yang penting gua udh bilangin bye"


"Emang dasar ya nenek lampir" kesal fely.

__ADS_1


"Tau ngeselin banget sih tuh cewe"


Bersambung.......


__ADS_2