
Meira membuka matanya perlahan, terlihat sebuah kamar yang cukup mewah bewarna putih di matanya.
Rasa nyeri dan pegal terasa ditubuhnya, Meira melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa ada seorang cowok yang ada disampingnya.
"Siapa ?" Spontan Meira langsung duduk dan melihat cowok itu dengan tajam.
"Mm ?" Aldi terbangun ketika mendengar suara Meira. Ia mengucek matanya sesekali untuk menyadarkan dirinya sendiri.
Aldi melihat sekitarnya dan melihat Meira yang hanya berbalut selimut sedang duduk disampingnya.
"Ini dimana ?" Tanya Aldi terkejut melihat Meira disampingnya.
"Se-seharusnya gue yang nanya ?!" Sentak Meira dengan mata berkaca-kaca menatap Aldi.
Terdapat noda darah mewarnai sprei bewarna putih itu. Meira amat terkejut melihat nya, ia pun melihat dirinya yang hanya tertutupi oleh selimut saja tanpa sehelai pakaian pun menutupinya.
Aldi memegang kepalanya yang sedikit terasa pusing. Beberapa potongan ingatannya muncul didalam kepalanya.
Ia kembali mengingat hal-hal yang sudah terjadi semalam. Pikirannya menjadi tak karuan dibuatnya.
"Ma-maaf." Ucap Aldi menundukkan kepalanya karena merasa malu terhadap Meira.
Air mata Meira menetes dibuatnya. Hatinya terasa sangat sakit dan hancur karenanya. "Maaf ? Apa dengan maaf semua yang udah lo ambil bisa kembali lagi ?!" Sentak Meira dengan emosional pada Aldi.
"Bajingan !" Umpat Meira memukul roti sobek Aldi.
Segera Meira pun langsung berdiri dan meraih pakaian miliknya yang sudah berantakan dibawah kasur. Meira berlari kecil menuju kamar mandi dengan selimut yang menutupinya.
"Gue emang bajingan.." lirih Aldi menatap noda darah yang ada di kasur itu dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Meira merendamkan tubuhnya di dalam bathup, air mata tak berhenti ia keluarkan. Suara tangisan terus terdengar, bahkan dari luar kamar mandi.
Gue kotor
Gue udah nggak suci lagi..
Sakit banget rasanya, entah itu sakit dari dalem atau dari luar. Batin Meira meratapi nasibnya.
Selang beberapa saat, Meira sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Sangat terlihat jika Meira habis menangis hanya dari wajahnya.
Meira keluar dari kamar mandi menggunakan sebuah sweater bewarna biru dan juga celana jeans ditubuhnya.
Keluar dari kamar mandi Meira langsung melihat seorang cowok yang sedang berdiri dengan lesu di balkon.
"Gue pergi dulu." Ucap Meira ketus pada Aldi setelah mengambil hp miliknya yang ada di meja kayu bewarna coklat.
Aldi tidak menjawab dan hanya diam saja, Meira sudah keluar dari kamar yang telah menjadi tempat terburuknya.
"Aku butuh mama.." lirih Meira menatap langit bewarna biru diatasnya.
Mama Meira sudah meninggal dunia ketika umur Meira masih 14 tahun, sedangkan Papa Meira dan mama Meira sudah bercerai di umur Meira yang masih 11 tahun. Setelah kedua orangtuanya bercerai, Meira ikut dengan mamanya, sedangkan kakaknya ikut dengan papanya.
Papa Meira menikah kembali dengan seorang janda beranak 1 diumur Meira yang sudah 13 tahun. Setelah mamanya meninggal, Meira tinggal sendiri di rumah peninggalan ibunya.
"Maafin aku Ma, aku nggak bisa jaga diri aku sendiri." Gumam Meira menahan air matanya dengan sekuat tenaga.
Disisi lain..
Aldi masih berada di kamar yang sama dengan tadi. Pikirannya sungguh kacau saat ini. Dia telah membuat seorang perempuan menangis terisak-isak, dirinya juga telah merenggut sesuatu yang sangat berharga bagi perempuan itu yang tak lain adalah Meira.
__ADS_1
"Gue harus apa ?" Tanya Aldi bingung sembari mengacak-acak rambutnya.
"Meira Amara.. dia primadona di sekolah, kakak kelas 12 yang cukup terkenal karena prestasi dan parasnya yang amat cantik.." gumam Aldi mengingat wajah Meira yang tampak familiar baginya.
To be continued
Ig : @xiaona.89
Ini visual menurut imajinasi saya, mungkin kalian punya visual imajinasi kalian sendiri (✯ᴗ✯)
ALEO DIMAS BRAMASTA
Biasa dipanggil Aldi
Umur: 17 tahun
Ultah: 27 Agustus
Hobi : Berenang
MEIRA AMARA
umur 17 tahun, otw 18
Ultah : 19 Maret
__ADS_1
Hobi : Menggambar