
Happy reading 🐼❇️
Aldi tengah melamun sendirian didalam kelasnya. Para siswa saat ini sedang beristirahat diluar kelas, hanya Aldi sendirian yang kini berada didalam kelasnya.
Tok..tok..tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kelas, suara itu pun membuyarkan lamunan Aldi.
"Permisi" ucap Meira dengan lembut mencari Aldi karena sedari kemarin ia belum melihat Aldi sama sekali, bahkan Aldi yang biasanya begitu bersemangat untuk menjemputnya pun tiba-tiba tidak muncul dihadapannya selama dua hari terakhir, bahkan Aldi juga tidak menghubunginya seperti biasanya.
Aldi menoleh dan melihat siapa yang tadi mengetuk pintu. Nampak seorang gadis berseragam merah muda dengan rambut terurai yang sangat cantik.
"Halo !" Sapa Meira melambaikan tangannya pada Aldi dan kemudian berjalan menghampiri Aldi yang duduk di barisan pertama didepan sendiri.
Aldi memalingkan wajahnya entah kenapa. Meira tersenyum ramah menatap Aldi. "Lo sakit ?" Tanya Meira dengan ramah pada Aldi.
Aldi tidak menjawabnya, wajahnya nampak tidak suka ketika melihat kehadiran Meira didepannya.
Meira mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar ketika melihat Aldi yang nampak tidak senang akan kehadirannya. "Lo kenapa ?" Tanya Meira yang juga tidak senang dengan sikap Aldi saat ini.
Aldi tetap tidak menjawabnya, malahan Aldi langsung berdiri dan kemudian berjalan melalui Meira begitu saja.
"Dih, dia pasti udah nggak ilfeel sama gue." Gumam Meira kesal sendiri melihat Aldi yang berjalan melaluinya begitu saja.
"Dia.. bukan beneran udah bosen sama gue kan ?" tanya Meira pada dirinya sendiri dengan tidak yakin.
"Masa bodoh lah. Gue ngampirin dia juga karena baby gue mau liat dia, bukan karena gue sendiri yang mau liat dia." Gerutu Meira berjalan pergi ke luar kelas Aldi menuju kelasnya sendiri.
Saat ini Aldi tengah termenung sendirian di halaman belakang sekolah.
Aldi merasa kacau saat ini. Ingin sekali dirinya memeriksa latar belakang serta masa lalu Meira, tetapi kemarin Vina dan Hana sudah memperingatinya. Tidak bisa bagi Aldi mengabaikan peringatan Vina dan Hana begitu saja.
Ayahnya sudah berulang kali menyuruhnya untuk segera menikahi Meira, begitu pula dengan bundanya yang terus menerus berkata ingin bertemu dengan Meira.
Aldi mengusap wajahnya kasar. "Bisa gila gue." Gerutu Aldi kesal mengacak-acak rambutnya.
Drrt.
Ponsel Aldi yang ada didalam sakunya bergetar, terdapat sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Aldi membuka ponselnya dan kemudian membaca pesan itu dengan seksama.
+62xxxxxxxx
'Temui gue di perumahan nn jalan xx nomor 72A. '
'Hana ?'
Nomor itu hanya membaca pesan Aldi dan tidak menjawabnya. Aldi rasa pemilik nomor itu adalah Hana atau Vina. Aldi mengusap wajahnya kasar dan kemudian menyandarkan tubuhnya di bangku taman.
"Gue baru nulis satu hal aja, berikutnya apa yang harus gue tulis coba ?" Gerutu Aldi yang sudah pasrah.
"Meira tadi nyari gue tadi tumben- tumbenan.. apa mungkin dia ada hal yang penting yang harus diomongin sama gue kali ya ?" gumam Aldi mengingat Meira yang tadi mencarinya.
Seharunya usia kandungan Meira sekarang udah sepuluh minggu, berarti kurang.. 26 minggu lagi gue dah punya anak ?! Batin Aldi menghitung usia kandungan Meira saat ini menggunakan jarinya.
"Tau ah frustasi gue !" gerutu Aldi mengacaukan rambutnya dengan geram.
Meira kini sedang menikmatin minumannya dengan suasana hati buruk. Raut wajahnya tampak masih sangat kesal dengan Aldi yang tadi tiba-tiba saja mengabaikannya.
"Kemarin kalian ngomong apa aja ke Aldi ?" tanya Meira dengan ketus menatap kedua sahabatnya meminta jawaban.
Vina dan Hana melirik satu sama lain. "Ngomongin apa ?" tanya Vina gugup.
"Kemarin kalian jadi nemuin Aldi kan ? apa yang kalian omongin sampe Aldi nggak ngeladeni gue ?" Meira menaikkan satu alisnya itu meminta jawaban pada Hana dan Vina. Tatapannya nampak sangat tajam, Vina berkeringat dingin dibuatnya.
"Um, kemarin kita nyuruh Aldi buat jangan pernah nyelidikin latar belakang lo, ataupun masa lalu lo." Ujar Vina dengan santainya menjawab Meira.
"Cuma itu doang ?" tanya Meira memastikan.
"Nggak, masih ada." Ucap Hana melirik Vina bermaksud menyuruh Vina saja yang mengatakannya.
Vina membulatkan bola matanya pada Hana. "Perasaan kemaren yang ngomong itu lo, kenapa jadi gue yang harus ngasih tau ?" Kata Vina memalingkan wajahnya tidak ingin berkata.
"Lo kemarin juga ngomong."
"Ta-tapi.."
"Apaan ? Kalian ngomongin gue yang nggak-nggak ?!"
"Kemarin gue cuma ngomong itu aja." Vina tersenyum canggung menjawab Meira.
Meira menatap mata Hana dan Vina bergantian, tampak sebuah kebohongan di mata mereka. "Jujur !" titah Meira menaikkan telunjuknya menunjuk tepat ke arah Hana.
"Gue nanya ke Aldi, dia cinta sama lo apa nggak" Jawab Hana memutar bola matanya malas.
"Pertanyaan lo aneh banget, tentu jawabannya tidak Hana !" kata Meira menyipitkan matanya.
"Terus Aldi bilang kalo perasaannya ke lo itu perasaan bersalah." Lanjut Hana menatap Meira dengan serius.
"Oh wajarlah."
"Tapi gue rasa Aldi nggak ngeladeni atau ngehindari lo itu karena lo sendiri deh Ra." Sahut Vina tersenyum tipis menatap Meira.
"Gue kenapa ?" tanya Meira yang tidak mengerti maksud Vina.
"Kemaren yang lo bilang itu loh.." lirih Vina menundukkan kepalanya.
"Apaan ?"
"Ck, yang nanti jika kehidupan pernikahan itu lo" Kata Vina mengingat kembali ucapan Meira.
"Oh, gue ngerti !" Meira mengangguk paham mendengarnya.
"Jadi dia ngerasa bersalah, ngerasa bingung dan frustasi gitu ? makannya dia ngejauhin gue ?!" ucap Meira dengan tatapan bingung pada Vina.
Vina mengangguk iya menjawab Meira.
Meira mendengus kesal mengetahuinya. "Cih, kalo gitu dia bakal ngehindari gue sampe kapan ?" tanya Meira meminta jawaban pada Vina dan Hana.
Vina menaikkan bahunya menjawab Meira.
"Tanya aja langsung ke orangnya." Ucap Hana tersenyum miring menatap Meira.
"Nggak, nanti dia kepedean." Balas Meira menggelengkan kepalanya tidak mau.
"Dih, lo nggak suka dia sembunyi-sembunyi dari lo ? Bukannya katanya nggak mau nikah sama dia ?"
"Gu-gue bukan nggak mau nikah sama dia, ta-tapi gue.." Meira menghentikan ucapannya, ekspresinya berubah menjadi sedih tidak tahu kenapa.
"Ma-maaf." Vina menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah karena sudah membuat Meira berkata seperti itu.
"Hmm."
"Eh, hari ini gue senggang banget, ortu sama adek gua hari ini pada keluar semua. Nanti gue ngikut lo ya Ra !" Seru Vina yang langsung memeluk lengan kiri Meira.
"Hmm, tapi bantuin gue beresin rumah gue." Meira menganggukkan kepalanya dan kemudian tersenyum iseng menatap Vina.
"Berantakan kah ? Kalo gitu gue ngikut Hana aja dah !" Tanya Vina yang langsung melepaskan pelukannya dan kemudian langsung beralih pada Hana.
"Oh, kalo gitu nanti kita pergi ke rumahnya kak Leon aja." Kata Hana tersenyum smirk seraya menggeser bangkunya maju mendekat pada Meira.
Meira membulatkan kedua bola matanya tak percaya apa yang Hana katakan. "Kak Leon udah pergi dari rumah itu tiga bulan lebih tanpa kabar, dengan kita dateng ke rumahnya gitu aja dia bakal langsung nongol apa ?' Tanya Meira memiringkan kepalanya pada Hana.
Vina tersenyum tipis dan kemudian meraih tangan Meira dengan perlahan. "Tenang aja, walau nanti bakal ada hal yang mengejutkan, tapi nggak sampe bikin jantungan kok." Sahut Vina beralih menatap Hana dengan percaya diri.
Meira mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang sedang Hana dan Vina maksud saat ini.
__ADS_1
"Kalian ngerencanain apa ?" Tanya Meira yang firasatnya tiba-tiba tidak enak.
Vina dan Hana hanya saling bertatapan satu sama lain dan kemudian tersenyum pahit menatap sedih Meira. "Nanti lo juga bakal tau sendiri kok." Ujar Vina menepuk pelan pundak Meira.
Beberapa jam kemudian, bel pulang sekolah telah berbunyi. Para siswa dan siswi merasa sangat senang karena akhirnya mereka bisa kembali pulang ke rumah masing-masing.
Meira, Hana dan Vina saat ini sedang berjalan menuju taksi online yang tadi sudah mereka pesan.
"Ayo, buruan !" Seru Vina menarik Meira masuk kedalam mobil.
"Iya, iya." Meira pun masuk kedalam mobil dengan patuh. Ia duduk ditengah-tengah Hana dan Vina.
Meira berulang kali melirik Hana dan Vina yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Perasaannya terasa sangat aneh saat ini, ia rasa sebentar lagi ia akan mendapati sebuah hal yang tidak disukainya.
"Gue nggak punya kunci rumahnya kak Leon, gue juga nggak tau password nya. Lagian mau apa sih kita pergi kerumahnya kak Leon ?" Meira menatap sinis kedua sahabatnya itu secara bergantian. Ia mendekatkan wajahnya pada Hana hingga Hana langsung meletakkan ponselnya begitu saja.
Hana mengalihkan pandangannya dari Meira, ia merasa cukup gugup saat ini. "Ya main aja, kita juga udah lama kan nggak kerumahnya kak Leon ?" Hana menjawab asal dibuatnya.
Disisi lain, terlihat Aldi yang saat ini merasa sangat bingung. Aldi sedang berdiri di depan sebuah rumah yang sangat mewah. Ia menelan salivanya kasar melihat rumah mewah itu.
Gue udah terlanjur datang ke sini, sia-sia dong kalo gue pulang gitu aja. Batin Aldi yang merasa gugup.
"Aleo Dimas Bramasta kan ? silahkan masuk." Ucap seseorang dari sebuah monitor yang tiba-tiba terdengar di telinga Aldi.
Gerbang masuk yang bewarna hitam itu pun kemudian terbuka secara otomatis setelah suara itu menghilang. Dengan ragu, Aldi pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah ini.
Terlihat sebuah taman yang asri dan juga beberapa mobil di halaman rumah tersebut. Tampak sebuah mobil bewarna putih yang terlihat familiar bagi Aldi, Aldi pun menyipitkan matanya dan kemudian berjalan menghampiri mobil itu.
"Ini mobil ayah ?" Gumam Aldi bertanya pada dirinya sendiri.
Aldi membuang nafasnya, ia beralih menatap pintu masuk yang sudah terbuka lebar entah kenapa alasannya. Aldi pun berjalan dengan perlahan menuju pintu masuk tersebut, ia berencana untuk melihat-lihat terlebih dahulu, jika situasinya baik ia akan masuk dan jika situasinya buruk, dia tidak akan masuk ke dalam rumah tersebut.
Muncul seseorang yang sudah tidak asing bagi Aldi, seseorang tersebut menggunakan sebuah baju batik bewarna putih, lalu ia tersenyum ramah pada Aldi. "Kamu sudah datang ? ayo masuk !" Ucap seseorang itu yang tidak lain adalah ayahnya Aldi, Bramasta.
Aldi terbelalak kaget melihatnya. "Ayah ? Ke-kenapa bisa disini ?" Tanya Aldi yang sedikit terbata-bata kepada ayahnya.
"Papa sama kakaknya Meira juga ada disini." Ujar Bramasta menepuk pundak putranya.
Aldi terdiam sejenak mendengarnya, pikirannya cukup kacau sekarang.
Papanya Meira ? Apaan nih ? Gue bukan mau dipukulin kan ?! Ta-tapi ayah kenal sama keluarganya Meira dari mana coba ? Gumam Aldi dalam hatinya.
"Buruan masuk." Bramasta menatap sinis Aldi, lalu membalikkan tubuhnya berjalan masuk kedalam rumah.
Aldi pun mengangguk dan mengikuti ayahnya dari belakang, jantungnya berdegup kencang saat ini. Keringat dingin pun juga membasahi tubuhnya.
Terlihat sebuah ruang tamu yang sangat luas di mata Aldi. Disana terdapat dua sofa panjang dan tiga sofa kecil. Terlihat bundanya dan juga seorang wanita paruh baya serta dua orang pria dewasa yang sedang duduk di sofa itu.
"Jadi kamu yang sudah menghamili anak perempuan saya ?!" Seorang pria paruh baya yang sedang duduk itu pun tiba-tiba berdiri ketika melihat Aldi. Pria paruh baya tersebut menatap tajam Aldi, pria paruh baya itu tidak lain adalah papanya Meira yang bernama, Deon Amara.
Mampus gue ! Batin Aldi merutuki dirinya sendiri.
"Pa, kita bicarakan baik-baik aja oke ?" Tanya Leon meraih telapak tangan papanya dengan lembut.
Deon pun hanya mengangguk dan kemudian duduk kembali dengan tenang.
"Aldi kan ? silahkan duduk, saya sudah tahu banyak hal tentang kamu." Ujar Leon tersenyum ramah mengalihkan pandangannya pada Aldi.
Apaan nih ? Gue mau dikroyok ? Batin Aldi yang mulai merasa panik sendiri.
Akhirnya Aldi pun duduk di sebelah ayah dan bundanya dengan patuh. Terlihat tiga orang yang sedang menatapnya dengan sangat tajam.
Bisa-bisa jidat gue bolong duluan nih diliatin kayak gini.. Pikir Aldi sembarangan.
Leon tersenyum sinis melihat Aldi. "Papa dan saya sudah tau masalah kamu sama Ira, jadi kami memutuskan untuk menikahkan kamu dengan Ira." Ujar Aldi menopang dagunya menggunakan kedua tangannya.
Aldi membulatkan kedua bola matanya terkejut mendengarnya. Aldi memang sudah sering memikirkan perihal pernikahannya dengan Meira, tetapi ia tidak menyangka bahwa kakaknya Meira lah yang akan mengatakan hal ini padanya.
"Hari ini." Ucap Deon dengan ketus pada Aldi yang ada di hadapannya.
Soraya tersenyum tipis dan kemudian membelai kepala Aldi dengan lembut. "Nanti ya, tunggu Meira datang." Ucap Soraya dengan lembut pada putranya.
"Nak Aldi, saya harap kamu bisa bertanggung jawab pada Ira dengan baik." Ujar seorang wanita paruh baya yang sedari tadi tidak berhenti menatap Aldi.
Aldi langsung menoleh ke asal suara itu.
Aldi membuka mulutnya dengan perlahan. "Saya pasti akan bertanggung jawab dan memperlakukan Mei- kak Meira dengan baik." Ucap Aldi dengan yakin menatap wanita paruh baya.
"Ira adalah anak perempuan adik saya satu-satunya, saya selalu menganggap Ira sebagai anak saya sendiri. Jika kamu sampai berani menyakiti Ira, saya tidak akan tinggal diam !." Pekik wanita paruh baya tersebut yang bernama Salsa.
Ting tong..
Terdengar suara bel berbunyi dari luar rumah. Mendengar suara itu, Deon, Leon dan Salsa pun langsung berdiri dan kemudian berjalan cepat menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Ira !" Seru Salsa dengan gembira melihat seseorang yang sedang berdiri di depan gerbang bersama kedua sahabatnya.
Meira langsung mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang memanggilnya. Senyuman lebar terpampang diwajahnya ketika melihat Salsa.
"Tante !" Balas Meira melambaikan tangannya pada Salsa.
Salsa, Leon dan Deon pun langsung menuju ke gerbang dan kemudian menekan sebuah tombol untuk membuka gerbang itu.
Meira seketika langsung membalikkan badannya ketika melihat papa dan kakaknya juga berada disini.
"Ada acara apaan nih ?" Meira menyenggol lengan Vina dengan bingung.
"Akad nikah." Jawab Vina dengan santainya.
Deon, Leon dan Salsa kini sudah berdiri tepat dihadapan Meira. Jantung Meira berdegup begitu cepat tidak karuan, ia tidak berani melihat papa dan juga kakaknya ini.
Gawat ! Kak Leon ada disini, pasti dia udah tau masalah gue, papa juga pasti udah tau.. Hana sama Vina pasti juga sekongkol sama mereka kan ?! Gawat banget kalo kayak gini mah ! Batin Meira yang merasa panik.
"Ka- kamu nggak apa-apa ?" Tanya Deon dengan ragu pada putrinya. Tatapannya nampak penuh perasaan melihat punggung putrinya tersebut.
"Nggak nyangka, pulang-pulang ternyata gue nemuin masalah sebesar ini." Ucap Leon tersenyum tipis meraih lengan adik perempuan yang sangat ia sayangi itu.
"Maafin tante, seharusnya tante lebih sering ngunjungi kamu." Lirih Salsa dengan mata berkaca-kaca menatap punggung keponakan kesayangannya.
Hana dan Vina hanya terdiam melihat interaksi keluarga tersebut, mereka mencoba untuk memahami situasi saat ini.
"A-aku malu.." ucap Meira dengan pelan menutup kedua matanya rapat-rapat.
Hana dan Vina menghela nafasnya pendek, mereka tersenyum tipis dan kemudian meraih pundak Meira dengan lembut.
"Tenang aja, ada gue sama Vina." Ujar Hana menatap Meira seraya tersenyum lembut padanya.
Meira membuka matanya perlahan dan kemudian menganggukkan kepalanya dengan perlahan. "Papa mau marahin aku ?" Tanya Meira ragu dengan posisi membelakangi Deon.
Deon tersenyum pahit mendengarnya. "Mau marahin apalagi ? Semua udah terjadi, percuma juga kalo dimarahin." Balas Deon mengusap kepala putrinya.
Meira tercengang mendenganya, sontak ia pun langsung berbalik menghadap papanya. Terlihat air mata yang sudah membendung. Tak kuasa Meira pun meneteskan air matanya dengan deras.
"Pa, ma-maaf, maafin aku."
"Dek, lo kalo ada masalah seharusnya lo telepon gue ! Kalo asisten Ulya nggak ngasih tau gue, mungkin sekarang gue juga masih belum tau !'
"Ira, kamu pasti udah capek kan ? Masuk dulu yuk !"
Meira pun mengangguk dan kemudian berjalan terlebih dahulu bersama dengan Hana dan Vina memasuki halaman rumah Leon.
Deon, Leon dan Salsa saling bertatapan satu sama lain dan kemudian membuang nafas pendek seraya berjalan masuk ke dalam rumah.
Meira melangkahkan kakinya masuk kedalam, tetapi tiba-tiba saja ia terdiam sejenak karena melihat seseorang yang sedang duduk di sofa.
Aldi ? Kenapa dia bisa disini ? Apa jangan-jangan Vina ngomong akad nikah itu beneran ?! Pikiran Meira sangat kacau, ia sangat bingung dengan situasi saat ini.
__ADS_1
"Ira, ayo jalan." Sahut Hana menarik lengan Meira dengan pelan.
"O-oh, um."
Soraya yang menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang datang langsung berdiri ketika melihat Meira. Soraya tersenyum cerah melihat Meira.
Ada ortunya Aldi, gawat banget ! Kabur sekarang udah nggak sempet lagi !
"Halo tante.." sapa Meira menundukkan kepalanya sembari tersenyum ramah pada Soraya.
"Hai, kamu apa kabar cantik ?" Balas Soraya berjalan menghampiri Meira.
"Baik te.." jawab Meira tersenyum canggung.
"Kamu pasti capek kan ? Mau minum dulu ?" Dengan cepat Soraya langsung meraih dan kemudian menggenggam kedua tangan Meira dengan erat.
Meira hanya melirik Hana dan Vina, ia bingung harus menjawab apa saat ini.
Sedangkan Aldi, ia sedang kalut dalam pikirannya sendiri.
"Kemarin lusa tante bertemu dengan kakak kamu, terus ketemu sama papa kamu.. dan akhirnya kami memutuskan untuk menikahkan kamu hari ini." Ujar Soraya dengan tatapan berbinar-binar pada Meira.
Meira hanya diam saja mendengarnya, kini pikirannya sangat kacau. "Nggak.." gumam Meira dengan suara pelan.
"Apa ?" Tanya Soraya.
Raut wajah Meira memucat seketika, tubuhnya seperti gemetar ketakutan. "A-AKU NGGAK MAU !" Ucap Meira dengan sedikit berteriak.
Sontak Soraya langsung melepaskan genggamannya dan merasa bingung sendiri. Hana dan Vina, mereka menelan salivanya dan kemudian tersenyum canggung pada Soraya.
"Meira !" Panggil Deon dari dekat Meira.
Meira langsung membalikkan badannya membelakangi Soraya dan menghadap Deon. Matanya berkaca-kaca melihat papanya.
Deon berjalan dengan cepat menghampiri putrinya, perasaannya saat ini pun juga sangat kacau. Ia merasa bingung, sedih, marah dan juga senang.
"Maaf." Ucap Deon tertunduk malu dihadapan putrinya.
Meira menggelengkan kepalanya, terlihat matanya sedang berlinang air mata, tetesan air mata membasahi pipinya. "Pah, aku nggak mau.." lirih Meira dengan pasrah.
"Ira, ikut papa ke kamar." Ucap Deon dengan sedikit ketus pada Meira.
Meira hanya mengangguk menjawabnya. Kemudian Deon berjalan dengan cepat menuju kamar yang ada di dekat lorong.
"Leon, kamu juga !" Pekik Deon melirik putranya.
Leon hanya mengangguk dan kemudian mengikuti adik dan juga papanya dari belakang.
Tiba di sebuah kamar yang cukup besar, dengan cat tembok bewarna abu-abu. Meira duduk di kasur dengan patuh.
"Pah, kalian ngelakuin semua ini tanpa sepengetahuan dan tanpa sepertujuan ku !" Ucap Meira dengan nada tinggi.
"Mungkin pertengkaran mama sama papa di masa lalu bikin kamu sedih, tapi semua udah berlalu."
Meira tersenyum miring mendengarnya. "Tapi semuanya masih membekas pa !"
"Kakak juga ! Selalu pergi dan dateng seenaknya sendiri ! Kalo dateng nyakitin, kalo nggak dateng bikin orang khawatir !"
"Gue tau, Aldi adik kelas lo. Tapi dia cuma 10 bulan lebih muda dari lo."
"Papa sudah berbicara dengan ayahnya Aldi."
"Vinansial keluarga mereka juga bagus."
"Papa tetap nafkahin kamu walau kamu udah jadi istri Aldi."
"Kalian mau dengan alasan aku hamil, terus aku nikah gitu aja ?!"
"Nggak ! Aku nggak mau !"
"Aldi emang anaknya lumayan sih, tapi-"
"Nggak ada tapi-tapian !"
"Lo make-up aja disini, gue udah panggil penata rias."
"Gue juga yang ngasih tau papa sama tante."
"Sialan lo !"
"Jangan emosi, lo nggak kasian sama ponakan gue apa ?"
"Anjing lo !"
Deon hanya menghela nafas berat melihat kakak adik itu. Ia mengusap wajah kasar bingung harus apa.
"Nggak nyangka, ternyata lo duluan yang bakalan nikah. Padahal gue lahir 10 tahun lebih dulu daripada lo."
"Lo ngeledek gue ?!"
"Nggak"
"Persetan anjing !"
"Umpatan lo dari dulu masih sama, cuma dikurangi ya !"
"Berisik !"
Disisi lain, Aldi kini tengah berbicara dengan kedua orangtuanya.
"Situasi apa ini ?!" Tanya Aldi dengan ketus pada ayahnya.
"Kamu pikir ?"
"Nggak lucu tau, kalo mau bercanda atau nge prank nggak usah berlebihan gini !"
"Ini serius Aldi !"
"Ndadak gini ?!"
"Iya, nanti kamu ikut Leon, kakaknya Meira. Dia nanti bawa kamu ke kamar yang ada di atas. Kamu mandi, ganti baju, terus siap-siap dulu gih !" Titah Soraya tersenyum bahagia seraya mendorong putranya untuk segera berjalan menemui Deon atau Leon.
"Tapi-" belum selesai Aldi berkata, bundanya tersebut sudah menyelanya.
"Tenang aja, semuanya udah bunda sama ayah siapin, kamu tinggal hafalin sama nyiapin diri aja !" Seru Soraya pada Aldi.
Dengan terpaksa Aldi pun menuruti bundanya dan kemudian berjalan menyusul Leon yang tadi mengikuti Deon ke dalam kamar.
Tok.. tok.. tok
"Permisi om.." Aldi tampak malu
Deon dan Leon langsung menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang barusan mengetuk pintu. Meira sedang berada di kamar mandi untuk memberikan dirinya.
Leon tersenyum miring melihat Aldi, lalu ia pun langsung berjalan menuju pintu menghampiri Aldi.
"Ikut gue." Ucap Leon dengan ketus.
"Kamu bisa ngurusin dia kan ?" Tanya Deon mengentikan langkah Leon yang sudah keluar dari kamar.
"Bisa." Jawab Leon yang kemudian berjalan pergi begitu saja.
To be continued
Haloo, gimana episode kali ini ?!
__ADS_1
Ini aku bikinnya 3000 kata lebih guys T_T Mon maap karena udah beberapa hari gak up. Penjelasan dan flashback nya bakal ada di eps berikutnya ya !