ALMEIRA'S SECRET

ALMEIRA'S SECRET
06


__ADS_3

Hana dan Vina mengerjapkan matanya beberapa kali. Meira sudah menceritakan semua yang terjadi kemarin pada kedua sahabatnya.


"Ja-jadi, lo bakal nikah sama Aldi ?" Ucap Vina yang langsung menutup mulutnya ragu.


"Ngawur, gue belum setuju ya !" Jawab Meira menghentikan aktivitas makannya.


"Aldi bener, dia butuh pertagggung jawaban bapaknya." Ujar Hana menggigit bibirnya ragu untuk mengatakannya karena takut menyakiti hati Meira.


"Gue tau.. cuma gue belum siap, gue juga nggak tau apa dengan pertanggung jawaban Aldi semuanya bakal jauh lebih baik, atau malah jauh lebih buruk dari sekarang ?" Jelas Meira menundukkan kepalanya memasang ekspresi bingung meminta jawaban pada Vina dan Hana.


Hana dan Vina menatap satu sama lain, tak hanya Meira, tetapi Hana dan Vina saat ini juga sangat bingung memikirkannya.


"Coba, lo jalani dulu." Ucap Vina menatap Meira.


"Hubungan bukanlah sesuatu yang dapat dicoba dengan sesuka hati. Emang lo pikir maeman ? Kalo rasanya nggak enak tinggal di muntahin ?" Balas Meira menatap lekat Vina.


"Terserah lo deh, keputusan ada di tangan lo. Asal lo seneng dan nggak bakal nyesel, gue bakal dukung lo" Seru Hana tersenyum lebar sembari mengusap lembut kepala Meira.


"Heheh, makasih." Balas Meira tersenyum manis menatap lembut kedua sahabatnya itu.


Hari sudah mulai malam, Meira tak kunjung ngantuk rasanya. Ingin sekali ia mendengar suara Aldi, tetapi ia mengurungkan keinginannya itu, rasa gengsi nya masih ada dalam hati dan pikirannya.


"Plis, jangan ngidam yang aneh-aneh." Keluh Meira memohon sembari mengusap perut datarnya itu.


"Akhh, gue besok masih sekolah, nggak lucu kalo besok bangunnya kesiangan terus ketiduran di kelas." Meira meremas rambutnya bingung harus bagaimana.


Meira meraih ponselnya yang ada di meja samping tempat tidurnya itu dan kemudian menyentuh layar ponselnya membuka aplikasi chat.


"Kemarin dia ngasih nomornya ke gue sih, cuma kalo tiba-tiba gue nelpon dia malem-malem gini kan bisa-bisa dia mikir yang aneh-aneh lagi." Meira mendengus kesal.


"Demi anak, gue rela nelpon bajingan itu." Ucap Meira menutup matanya kemudian menekan tombol calling dalam aplikasi.


Memanggil, beberapa detik kemudian tulisan itu berubah menjadi berdering. Jantung Meira berdegup begitu cepat, karena rasanya malu untuk menelepon Aldi di malam hari, Meir Apun memutuskan untuk mematikan teleponnya.


Belum sempat Meira menekan tombol merah untuk mematikan teleponnya, suara Aldi sudah terdengar di telinganya.


"Assalamualaikum ?" Ucap Aldi memulai dengan salam.


Mata Meira membulat seketika, ia terdiam sejenak mendengar suara Aldi.


"Halo ?" Ucap Aldi yang tak kunjung mendengar balasan dari Meira.


"Wa -waalaikumsalam" balas Meira terbata-bata dibuatnya.


"Kenapa ? Kangen sama gue ?" Celetuk Aldi yang sedang tertawa kecil di seberang sana.

__ADS_1


"Ngawur, di-dia yang kangen." Jawab Meira dengan wajah memerah dibuatnya.


Meira merutuki dirinya sendiri menyadari jawabannya itu. Bisa-bisanya gue bilang dia yang kangen .. batin Meira menyesal.


"Dia ?" Tanya Aldi memastikan.


"A-anak lo." Balas Meira menjawab Aldi dengan ragu.


Aldi tersenyum smirk mendengarnya. "Anak gue ? Bukannya kemaren ada yang bilang kalo bapaknya itu orang lain ya ?"


Meira menggembungkan wajahnya kesal. "Oh, ternyata bukan anak lo. Sorry tadi anak gue mau dengerin suara bapaknya, ternyata gue salah nomor." Ujar Meira langsung mematikan panggilannya.


"Dih, kemaren sama tadi terus ngomongin anaknya- anaknya mulu, sekarang ? ngomong kalo nih anak orang lain, plin-plan banget." Gerutu Meira geram sembari meletakkan kembali ponselnya dimeja.


Keesokan harinya..


Meira tengah berjalan menuju halte bus.


Beberapa kali ia terus menguap, matanya masih terasa berat untuk dibuka, semalam ia sangat sulit untuk tidur karena mengidamkan sesuatu yang sulit untuk ia dapatkan.


"Yang tenang ya didalem perut, semoga nanti gue nggak mual-mual.." gumam Meira mengusap pelan perutnya.


Tiiin


"Mei !" Teriak Aldi dari membuka jendela mobil memanggil Meira.


"Bareng gue kesekolah !" Seru Aldi membuka pintu mobilnya dan kemudian turun dari mobilnya untuk menyusul Meira.


Aldi berlari cepat dan kemudian menarik tangan Meira dengan hati-hati. "Bareng gue." Ucap Aldi meninggikan suaranya.


"Ogah." Balas Meira memutari bola matanya malas.


"Ada hal penting yang harus gue omongin."


"Nggak penting buat gue."


"Ini penting banget, entah itu buat lo, ataupun buat gue. "


"Yaudah gue ngikut lo." Ucap Meira malas.


Aldi tersenyum senang mendengarnya.


Didalam mobil, Meira nampak sangat mengantuk dan ingin tidur, beberapa kali ia menjatuhkan kepalanya karena sudah tak kuasa menahan kantuk.


Aldi melirik Meira yang nampak kelelahan itu, ia nampak iba melihatnya.

__ADS_1


"Lo kenapa ?" Tanya Aldi dengan polosnya pada Meira.


"Kenapa kata lo ?! Ini gara-gara lo tau nggak ?!" Sentak Meira menatap sinis Aldi. Ia sangat lelah karena kemarin ia terus mual, sulit tidur serta mengidamkan sesuatu yang aneh-aneh.


"Lo susah tidur kemaren ?"


"Lo mual ? Ngidam apa lo kemaren ?"


"Kemaren kenapa matiin telponnya gitu aja ?"


Aldi yang masih tetap fokus menyetir mobil itu mempertanyakan beberapa pertanyaan pada Meira dengan serius.


"Gue matiin telponnya ya karena lo itu plin-plan." Jawab Meira ketus.


Aldi melirik Meira yang ada di sebelahnya itu. "Kapan ?" Tanya Aldi yang merasa bahwa dirinya sama sekali bukan orang yang plin-plan seperti yang Meira katakan.


"Kemarin, lo bilang kalo dia bukan anak lo." Jawab Meira menoleh dan menatap lekat wajah Aldi.


"Maaf, gue cuma bercanda." Ujar Aldi dengan wajah datarnya.


Meira melihat ke arah jalanan, ekspresi wajahnya nampak sangat kesal ketika melihat Aldi dengan wajah datarnya tadi.


"Kemaren kamu susah tidur ?" Tanya Aldi dengan suara lembut melirik Meira.


Meira hanya diam tidak menjawab pertanyaan Aldi. Kebetulan lampu lalu lintas sudah bewarna merah, Aldi menginjak rem dan kemudian mobilnya berhenti.


Aldi tersenyum smirk dan kemudian mendekatkan dirinya pada Meira. Ia meraih dagu Meira dengan jari telunjuknya dan kemudian ia mengecup bibir merah Meira dengan lembut.


Meira membulatkan matanya tajam menatap Aldi. "Lo gila ?!" Sentak Meira kesal mendorong Aldi.


"Nggak."


"Bangsat lo, kalo lo udah kayak gini sekarang, gimana kalo entar gue nikah sama lo ? Lo makin menjadi-jadi kan pastinya ?" Meira mengelap bibirnya berkali-kali dengan lengan panjang seragamnya itu.


Aldi tertawa kecil dibuatnya. "Kamu udah mikirin masa depan kita ?" Tanya Aldi iseng menggoda Meira.


"Your eyes !"


To be continued


Halo, silahkan ketikkan kritik dan sarannya. Aku ngerasa kalo ada banyak yang kurang dari novel ini.


Semoga kalian suka 😄


Makasih buat vote nya 😁

__ADS_1


__ADS_2