ALMEIRA'S SECRET

ALMEIRA'S SECRET
03


__ADS_3

Dua garis yang berarti positif. Sepuluh testpack  dengan merek berbeda sudah Meira gunakan, tetapi hasilnya tetap sama, positif.


Jantung Meira berdegup tak karuan, pikirannya sangat kacau saat ini. Air matanya tak berhenti menetes karena tak percaya dengan kenyataan ini.


Meira sedang terduduk lemas di dalam kamar mandinya. Hatinya sangat sakit rasanya. Ingin sekali Meira memutar kembali waktu dan memutuskan untuk tidak pernah datang ke dalam club.


"Ini nggak mungkin.." gumam Meira menatap beberapa testpack yang sudah ia gunakan itu dengan tubuh gemetaran.


Meira menangis terisak-isak mengetahui bahwa dirinya sedang hamil anak dari seorang cowok yang bahkan ia tidak tau namanya.


"Lucu banget takdir mainin gue" Meira tertawa pahit merutuki nasibnya ini.


"Apa perlu gue aborsi ?" Terlintas lah sebuah pikiran buruk yang ada dalam pikiran Meira.


Dengan segera Meira meraih ponsel yang ada di laci kaca kamar mandi dan mengetik sesuatu di google


*Resiko aborsi


*Hamil muda


*Hamil di luar nikah


Meira mengetikkan hal-hal itu, dan kemudian ia membaca berbagai artikel yang berkaitan dengan pencariannya.


Gue nggak bisa ngegugurin kandungan gue,  janin didalem perut gue nggak bersalah.. tapi gue nggak sanggup.. 


Batin Meira menatap perut datarnya itu dengan mata berkaca-kaca.


Resiko aborsi sangat besar, gue bisa meninggal karena itu.. batin Meira mencoba meyakinkan dirinya untuk tidak menggugurkan janin yang ada didalem perutnya.


"Apa yang harus gue lakuin sekarang ?" Tanya Meira pada dirinya sendiri dengan tatapan kosong.


Meira mengusap air mata diwajahnya dan kemudian bangkit dari kesedihannya. Ia berjalan menuju cermin dan kemudian menatap dirinya sebentar didalam cermin.


Tampilan lo buruk banget, terakhir kali lo nangis kayak gini waktu mama lo meninggal kan ? Sekarang apa ? lo nangis kayak gini karena ada bayi yang bakal hadir dihidup lo ?! Batin Meira berbicara pada dirinya sendiri.


Meira pun tersenyum sinis dan kemudian mengucapkan sebuah kalimat untuk dirinya sendiri. "Gue bakal ngelahirin dia dengan sehat ke dunia yang ini, gue bakal besarin dia dengan penuh kasih sayang." Ucapnya.


"Ma.. sekarang aku bakal jadi seorang ibu.. aku nggak tau apa aku bisa ngejalani dan ngelalui semua ini. Mama udah lahirin aku kedunia ini, sekarang giliran aku yang ngelahirin anak aku ke dunia ini." Ucap Meira menatap bingkai foto yang ada diatasnya.


Keesokan harinya kemudian..


Meira masuk sekolah dengan lesu tanpa semangat. Sedari tadi Meira tidak fokus akan pelajaran yang diikutinya, beruntung Meira duduk di pojok belakang sendiri hingga gurunya pun tidak menyadarinya.


Meira terus melihat ke arah luar jendela dan melihat adik-adik kelasnya yang sedang bermain basket dengan ramai.


Ia tersenyum kecil melihatnya.


"Ira, ke kantin kuy !" Seru Vina berjalan menghampiri Meira.


"Ntar si monyet bakal traktir kita !" Sahut Vina tersenyum riang sembari menunjuk Hana yang ada disampingnya.


Meira mendongakkan kepalanya dan menatap kedua sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca, ingin sekali ia menangis dan mengatakan segalanya pada kedua sahabatnya itu.


Hana dan Vina sekali lagi dibuat bingung dan kaget oleh Meira, pasalnya sedari kemarin Meira beberapa kali menangis secara tiba-tiba.


"Lo- lo kenapa ?!" Tanya Vina panik.


"Dugaan kemaren bener ?" Tanya Hana dengan wajah datarnya yang kemudian mengusap-usap kepala Meira dengan lembut.

__ADS_1


Meira mengangguk pelan dan kemudian air matanya menetes, beruntung sudah tidak ada orang di kelas ini selain mereka bertiga.


"Maafin gue" ucap Meira gugup dan tak berani menatap kedua sahabatnya itu. Hana membulatkan matanya terkejut karna ternyata apa yang ia tebak itu benar. Vina menatap Hana tak mengerti maksud Meira.


Hana yang tadinya berdiri beralih duduk disebelah Meira dan kemudian memeluk sembari menepuk-nepuk punggungnya. "You are strong" ucap Hana tersenyum pahit melihat sahabatnya yang tengah bersedih.


"Gue bakal selalu ada disisi lo dan gue bakal ngejagain lo selalu sampe semuanya lancar." Ujar Hana menatap Meira dengan serius.


Tangisan Meira pecah dibuatnya, Meira pun memeluk Hana dengan erat dan itu membuat Vina  semakin bingung tak mengerti.


"Hana, emang lo yang paling peka sama gue. Nggak kayak Vina yang lemot" Ucap Meira menyembunyikan kepalanya di pelukan Hana.


Vina menatap Meira merasa sedikit kesal dengan ucapan Meira barusan. "Siapa yang lemot coba ?" Tanya Bidan memicingkan matanya.


"Nanti sore pulang sekolah kita ngobrol bareng-bareng di rumahnya Meira, nanti biarin Meira ngungkapin dan ceritain semuanya dengan detail ke kita." Ucap Hana melepas pelukannya dan kemudian menatap lembut kedua sahabatnya itu.


Vina pun hanya mengangguk iya dengan ucapan Hana.  Vina mengusap air mata di wajah Meira dengan lembut dan kemudian menepuk punggung Meira untuk menenangkannya.


Selang beberapa menit akhirnya mereka berjalan menuju kantin bersama-sama, wajah Meira masih nampak murung, Hana dan Vina hanya berpura-pura tidak tau agar tidak menyinggung perasaan Meira dan membuatnya menangis lagi.


Meira terus menundukkan kepalanya hingga ia tidak melihat jalan dan kemudian seseorang ditabraknya.


"Ma-maaf." Ucap Meira mengusap kepalanya yang terbentur dada bidang cowok yang ia tabrak itu.


Meira kembali berjalan tanpa melihat siapa yang ia tabrak, tetapi cowok yang tanpa sengaja ia tabrak menarik lengan Meira hingga jatuh dalam pelukannya.


"Apaan sih ?!" Kesal Meira pada cowok itu.


Hana, dan Vina pun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang mendengar suara Meira yang terdengar kesal.


"Itu kamu." Ucap cowok itu tersenyum senang melihat Meira.


"Lo ?!" Meira langsung menepis kasar dan melepaskan pelukan Aldi dengan cepat.


Hana dan Vina yang melihatnya pun langsung menghampiri Meira dan kemudian menatap Aldi dengan tajam.


Jantung Meira berdegup kencang tidak karuan, pikirannya juga sangat kacau ketika melihat Aldi, perasaan dan ingatannya akan malam itu kembali lagi.


"Meira Amara." Ucap Aldi langsung menyebut nama lengkap Meira.


"Ada urusan apa lo sama Ira?!" Tanya Hana ketus menatap Aldi dengan wajah datar.


"Dia ganteng ya.." ucap Vina pelan pada Hana.


"Sst, diem." Titah Hana menyenggol bahu Vina.


Tubuh Meira gemetaran ketakutan, Hana menyadari dan melihat hal Meira yang sedang gemetaran.  Hana mengerti kenapa Meira gemetaran seperti itu, Hana menduga jika Aldi adalah cowok yang telah membuat Meira jadi seperti ini.


Hana langsung menatap tajam dan berjalan menghadapi Aldi dan kemudian menamparnya dengan begitu keras, beruntung jalan yang mereka lalui sedang sepi, jadi tidak ada siswa siswi yang heboh ketika mendengarnya.


Aldi, Meira dan Vina membelalakkan matanya kaget. Vina hanya bingung dibuatnya,ia tidak tahu mengapa Hana yang biasanya cuek tiba-tiba menampar adik kelasnya itu.


"Bangs*t" umpat Hana menatap jijik Aldi.


Aldi hanya diam merasakannya, ia pikir Meira sudah menceritakannya pada sahabat - sahabatnya hingga seorang gadis berambut pendek dan berpenampilan berantakan itu tiba-tiba datang menamparnya.


Aldi tersenyum tipis, ia beralih menatap Meira yang masih diam membeku.  "Nama gue Aleo Dimas Bramasta." Ucap Aldi tersenyum smirk pada Meira sembari berjalan pergi meninggalkan Meira dan ketiga sahabatnya itu.


"Beneran dia kan ?!" Sentak Hana bertanya pada Meira.

__ADS_1


Meira hanya mengangguk menjawabnya.


"Lo dari tadi nggak ngomong, cuma ngangguk doang. Gue bukan Hana yang bisa ngerti maksud lo gitu aja Ra." Keluh Vina cemberut.


Hana menatap tajam Vina yang mulutnya suka ceplas-ceplos. Meira hanya mengangguk dan kemudian meminta maaf lagi pada Vina.


"Maaf." Ucap Meira tersenyum pahit.


"Tau lah, lo dari tadi maaf maaf mulu." Kesal Vina berjalan cepat meninggalkan Meira dan juga Hana.


"Gue salah besar ya ?" Tanya Meira dengan suara pelan pada Hana.


Hana hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya menjawab Meira.


Saat pulang sekolah kemudian, Safira, Vina dan juga Hana tengah berkumpul dirumah Meira untuk mendengarkan semua cerita dan kesedihan Meira.


"Jadi.. gue hamil." Ucap Meira singkat sembari menunjukkan beberapa testpack miliknya pada Hana dan Vina.


Mata Vina terbelalak kaget melihatnya. Hana hanya menaikkan kedua alisnya dan memasang raut wajah kecewa melihatnya.


"Gi-gimana bisa ?!" Pekik Vina terbata-bata menatap Meira yang sedang tertunduk malu.


"Jadi.. gini ceritanya." Ucap Meira mengingat malam itu.


Selang beberapa menit, semua yang terjadi pun sudah Meira katakan dengan jujur pada ketiga sahabatnya itu.


"Gue juga nggak tau kalo Aleo itu satu sekolah sama kita.." ucap Meira lesu.


"Tadi dia bilang namanya Aleo Dimas Bramasta kan ?" Tanya Vina memastikan.


"Yeah." Jawab Meira sembari mengangguk.


"Dia populer dikalangan ciwi-ciwi. Jago main basket, sering ikut lomba renang,  sering dapet rangking satu pas ujian, anak konglomerat juga sih kalo nggak salah. Panggilan dia itu Aldi." Jelas Vina yang mengetahui beberapa hal tentang Aldi dari temannya.


"Dia sering ikut lomba renang, pantesan kecebongnya langsung jadi." Ucap Hana menggelengkan kepalanya heran dan kesal dibuatnya.


Meira tersipu malu mendengarnya. Ia menatap satu persatu sahabatnya yang tampaknya masih sama seperti sebelumnya.


"Lo tenang aja, gue bakal selalu jagain lo."


"Lo bakal lahirin janin ini kan ? "


"Gue bakal dukung lo terus."


Kedua sahabat Meira itu berhasil membuat Meira tersenyum haru dan bahagia. "Makasih !" Seru Meira memeluk dua sahabatnya dengan erat.


Vina, dan Hana tertawa kecil secara bersamaan dibuatnya.


"Maafin gue karna tadi gue udah bacot seenaknya." Ucap Vina menepuk punggung Meira dengan pelan.


"Gapapa kok, gue udah bersyukur banget kalo kalian nggak benci ataupun jijik sama gue.." ucap Meira tersenyum hangat membalas Vina.


"Yakali kita bakal ngerasa jijik sama temen yang selalu setia ada disisi kita, padahal lo udah buat banyak hal buat kita." Ujar Vina mengusap kepala Meira dengan lembut.


"Kita sayang banget sama lo, jangan pernah ngerasa sendiri, lo punya gue sama Vina" Tambah Hana menghibur Meira dengan senyuman hangat terpampang diwajahnya.


"I love you all too much" balas Meira tersenyum cerah mendengar semua perkataan yang sahabat-sahabatnya itu katakan.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2