
Leon Amara (1)
Leon Amara, itu adalah nama yang diberikan oleh Kayla, mendiang ibu kandungnya.
Leon adalah seorang anak yang sangat cerdas dan patuh kepada kedua orangtuanya. Saat kedua orangtuanya bercerai, semua mengubah hidupnya.
Kehidupan dengan ibu dan adik tiri yang sangat tidak ia sukai, itu membuatnya menjadi pembangkang. Sering kali ia tidak pulang kerumah papanya, tetapi malah pulang ke rumah mama yang selalu memberikannya kehangatan.
Leon Amara adalah seorang pria tampan single yang baru berusia 27 tahun. Saat SMA dia adalah Most wanted sekolah yang sangat populer akan ketampanan serta kepintarannya. Dia adalah seorang pria bijaksana, Leon berhasil membangun perusahaan mereknya sendiri diumurnya yang masih 22 tahun.
"Tuan Leon, saya menemukan kejanggalan terhadap nona Meira." Ucap seorang sekertaris Leon yang bernama Ulya seraya memberikan sebuah map hitam kepada Leon.
"Jelaskan !" Balas Leon menerima map itu kemudian membuka map itu dengan cepat.
"Dua bulan yang lalu terdapat seseorang yang sengaja menggunakan nama anda untuk mengundang nona Meira ke sebuah bar FV. Di dalam bar nona Meira bertemu dengan sekelompok pria bajingan yang kemudian memberi nona Meira segelas minuman yang berisi obat." Jelas sekertaris Ulya dengan serius kepada Leon.
Leon mengepal kedua tangannya erat-erat mendengar penjelasan Ulya. "Lalu ?" Tanya Leon mendongakkan kepalanya menatap Ulya.
"Nona Meira kabur dari sekelompok pria bajingan tersebut dengan bersembunyi disebuah ruangan VVIP milik Gavino Fadli Zon. Di ruangan tersebut terdapat seorang laki-laki SMA yang sedang mabuk bernama Aleo Dimas Bramasta." Lanjut sekertaris Ulya menceritakan kejadian hari itu dengan seksama.
"Meira pertama kalinya datang ke tempat seperti itu, seharusnya ia menolak minuman pemberian bajingan-bajingan itu !"
"Lalu.. nona Meira melakukan hal itu dengan cowok SMA yang bernama Aleo Dimas Bramasta." Sekertaris Ulya cukup gugup mengatakan hal ini kepada Leon.
Leon langsung berdiri dari duduknya seraya mengepal kedua tangannya. "Sialan !" Umpat Leon geram.
"Tuan, di dalam map itu terdapat foto nona Meira datang ke sebuah rumah sakit bersama dengan Aldi, Aldi adalah nama panggilan Aleo Dimas Bramasta." Ungkap Ulya menunjuk map yang tadi ia berikan.
"Rumah sakit ?!" Pekik Leon membulatkan matanya terkejut.
Leon mengusap kasar wajahnya dan kemudian menghela nafas berat. "Ira hamil ?" Tanya Leon dengan tatapan tak percaya pada Ulya.
"Benar." Jawab Ulya menundukkan kepalanya.
Leon kembali duduk dan kemudian menyandarkan tubuhnya di kursinya. "Kamu pesan 2 tiket untuk kembali ke Jakarta." Titah Leon kepada Ulya.
"Baik." Jawab Ulya yang kemudian langsung berjalan keluar dari ruangan Leon.
Leon beralih menatap sebuah bingkai foto yang ada di mejanya. Terlihat foto dirinya dengan Meira dan kedua orangtuanya yang telah diambil beberapa tahun yang lalu. Leon menatap sendu foto itu dan kemudian meraih foto itu dengan perlahan.
"Pa, ma.. aku nggak bisa jagain Ira." Lirih Leon dengan frustasi sembari mengusap bingkai foto itu dengan lembut.
Leon mengingat kembali saat-saat dimana orang tuanya mau bercerai. Saat itu Leon sudah berumur 21 tahun, berbeda dengan Meira yang masih berumur 11 tahun.
Saat itu Leon baru kembali dari asrama kampus setelah beberapa hari tidak pulang ke rumahnya.
"Ma !" Seru Leon berjalan masuk menuju kamar mamanya.
Leon membuka pintu kamar mamanya dan kemudian ia mendapati mamanya yang sedang menangis dalam diam sembari memegang sebuah kertas.
Leon terbelalak kaget melihat mamanya yang sedang menangis, sungguh terasa sakit hatinya ketika melihat mamanya menangis sendirian tanpa suara.
Leon bergegas menghampiri mamanya dan kemudian duduk di sebelah mamanya dengan perlahan. "Ma, kenapa ?" Tanya Leon dengan khawatir memeluk mamanya.
"Mama nggak papa, kapan kamu pulang ?" Mendengar dan merasakan kehadiran putrnya, Khayla langsung mengusap matanya dan kemudian langsung menjatuhkan kertas yang ia pegang dari tangannya.
Leon mengalihkan perhatiannya pada kertas yang mamanya jatuhkan dan kemudian Leon berjongkok untuk mengambil kertas tersebut.
"Jangan diam-" belum selesai Khayla menyelesaikan kata-katanya, Leon sudah menyelanya terlebih dahulu.
"Surat panggilan kementerian agama" Leon terdiam sejenak, "kalian mau cerai?" Sambung Leon mendongakkan kepalanya dan kemudian menatap mamanya meminta jawaban.
Khayla menghela nafas berat dan kemudian menundukkan kepalanya dengan pasrah. "Maaf" ucap Khayla dengan perasaan bersalah kepada Leon.
__ADS_1
Leon berdiri dan kemudian tersenyum pahit mengalihkan pandangannya dari mamanya. "Seharusnya aku sering pulang." Ucap Leon penuh rasa penyesalan menatap kertas yang ia pegang.
"Ira udah tau ?" Tanya Leon menatap mamanya meminta jawaban.
Khayla mengangguk dan kemudian meneteskan air matanya, "dia yang minta." Jawab Khayla menatap Leon penuh perasaan.
"Apa ?" Tanya Leon tidak percaya dengan perkataan mamanya.
"Mama sama papa kamu sering bertengkar di dekat dia, terus sampai suatu hari Ira ngomong gini ke kita-" Khayla menggantungkan ucapannya, rasanya cukup berat baginya untuk mengatakan hal tersebut kepada Leon.
"Ira bilang apa ?" Tanya Leon meminta jawaban pada mamanya.
"Pa, ma kenapa kalian nggak pisah aja ? Nggak capek bertengkar terus ? Aku aja udah capek dengerinnya." Jawab Khayla mengulangi ucapan Meira pada saat itu.
Leon tercengang mendengar jawaban mamanya. Kini pikirannya sangat kacau. "Kalian pasti pecahin barang-barang sambil teriak-teriak ?" Tebak Leon dengan suara pelan pada mamanya.
Khayla tersenyum pahit dan kemudian mengangguk iya menjawab Leon.
Leon tersenyum tipis mendapatinya, "sekarang Ira dimana ?" Tanya Leon menatap kosong mamanya.
"Sekolah." Jawab Khayla dengan suara pelan.
Leon meletakkan surat cerai yang tadi ia pegang dengan penuh emosi di meja dan kemudian berlalu pergi meninggalkan mamanya dari kamar.
Leon beralih menuju motor hitamnya yang ada di garasi. "Ira pasti udah kena mental" gumam Leon mengusap wajahnya kasar mengingat adiknya.
"Seharusnya gue tinggal dirumah, bukan tinggal di asrama" sambung Leon mengusap wajahnya kasar.
Maaf ma, Leon tau mama sekarang ngerasa sedih, tapi kondisi Ira sekarang lebih penting.. batin Leon yang merasa bersalah kepada mamanya.
Leon membuka pagar rumahnya dan kemudian mengemudikan motornya keluar rumah. "Bi Lala, tolong tutupin pagarnya ya !" Seru Leon kepada asisten rumah tangganya.
"Iya den" balas Bi Lala dari dalam rumah yang langsung bergegas menuju keluar rumah.
Sesampainya di SD tempat Meira berada, Leon turun dari motornya seraya melepaskan helm nya. "Seharusnya Meira belum pulang sekolah ?" Gumam Leon bertanya pada dirinya sendiri mengingat saat ini baru pukul setengah satu.
Leon memutuskan untuk menunggu Meira di bangku dekat gerbang sekolah yang disediakan untuk penunggu atau penjemput. Leon merogoh sakunya dan kemudian meraih ponselnya.
Terlihat sebuah panggilan dari papanya. Melihat itu, Leon menatap kesal ponselnya dan kemudian berdecak kesal.
"Meira harus ikut mamah, kalo ikut papah ntar dia sendirian." Lirih Leon mengingat papanya yang selalu disibukkan dengan urusan bisnis.
Leon menekan tombol hijau, menerima panggilan tersebut. "Pah." Ucap Leon meninggikan suaranya.
"Maafin papa." Ucap Deon dari seberang sana dengan penuh perasaan bersalah pada putranya.
Leon tersenyum pahit mendengarnya, "mama yang kasih tau papa ?" tanya Leon menatap langit-langit yang ada diatasnya.
"Iya." Jawab Deon.
"Nanti nggak usah jemput Ira, aku aja yang jemput." Ucap Leon pada papanya.
"Papa udah nyakitin Ira.." lirih Deon.
"Kalo luka Ira nggak terlalu dalem, dia juga nggak bakal nyaranin kalian pisah." Balas Leon dengan suara penuh tekanan pada Deon diseberang sana.
Terdengar suara helaan nafas dari Deon. "Apa dia perlu konseling ke psikolog ?" Tanya Deon meminta jawaban pada Leon.
"Nggak perlu." Jawab Leon dengan ketus pada papanya.
Dengan kesal dan tidak sopannya, Leon langsung mematikan sambungan panggilan dari papanya.
"Maaf " ucap Leon dengan suara pelan sembari menatap ponselnya.
__ADS_1
Selang beberapa saat, akhirnya terdengar suara bel pulang sekolah yang berbunyi. Banyak murid yang berlarian menuju gerbang sekolah yang sudah terbuka lebar.
"Akhirnya pulang sekolah ! Papa gue udah jemput, gue duluan ya Ra !" Seru Hana menunjuk mobil papanya yang sudah ada di parkiran luar sekolah.
Meira hanya mengangguk menjawabnya, kemudian Meira berjalan dengan cepat keluar sekolah seraya celingak-celinguk mencari papanya yang biasa menjemputnya.
Apa karena udah pisah jadi papa udah nggak jemput aku lagi ? Batin Meira dengan murung bertanya pada dirinya sendiri.
"Ira !" Seru Leon dengan suara indahnya memanggil Meira.
Meira membalikkan badannya dan kemudian tersenyum senang melihat siapa yang ada dihadapannya. "Kakak !" Seru Meira menatap kakaknya dengan senang.
"Gue yang jemput." Ujar Leon membelai rambut Meira dengan lembut.
"Naik motor ? nggak mau !" Sahut Meira dengan wajah cemberut.
"Seharusnya gue bawa mobil ? Kali ini aja deh naik motor gue." Balas Leon menarik Meira berjalan menuju motornya.
"Beliin baju baru ?" Tanya Meira memiringkan kepalanya disertai senyuman manis di wajahnya.
Leon tertawa kecil melihat tingkah manis Meira. "Kita ke mall dulu baru pulang kerumah gimana ?" Usul Leon mengacak-acak rambut Meira.
"Ayo !" Balas Meira dengan sedikit bersemangat.
Setibanya di mall, Meira mengambil beberapa sweater yang ia suka dan kemudian ia tunjukkan kepada Leon, "kak cocok nggak ?" Tanya Meira.
"Cocok aja." Jawab Leon dengan sembarangan.
"Oh." Balas Meira dengan kesal.
"Ira, kita makan di restoran itu ya." Sahut Leon menunjuk sebuah restoran Cina. Meira hanya mengangguk menjawabnya.
Sesaat kemudian, setelah memesan makanan. Sembari menunggu pesanan mereka, Leon mengajak Meira berbicara. "Ira, gimana perasaanmu ?" tanya Leon dengan ragu.
"Apa ?" Tanya Meira tidak mengerti. Meira terdiam sejenak dan kemudian tersenyum tipis pada Leon. "Seneng, mama sama papa nggak perlu ribut lagi." Ucap Meira dengan raut wajah sedikit sedih.
Leon menaikkan satu alisnya, "beneran ?" Tanyanya memastikan.
"Beneran kak !" Jawab Meira dengan wajah serius.
"Terus nanti mau ikut mama atau papa ?" Lanjut Leon bertanya.
Meira terdiam mendengarnya. "Hah ?" Tanya Meira memiringkan kepalanya tak mengerti.
"Papa sama mama cerai, kamu mau milih tinggal sama siapa ?" Jelas Leon.
"Kakak mau milih siapa ?" Tanya Meira dengan wajah polosnya.
"Gue mau ikut siapa aja bisa, gue udah gede, sedangkan lo masih kecil." Jawab Leon dengan raut wajah kesal.
"Oh.." Meira memainkan tangannya dan kemudian terlihat bingung harus menjawab Leon bagaimana. "Ikut mama." Jawab Meira tersenyum pahit dengan tatapan yakin.
Leon tersenyum puas mendenganya. "Pilihan yang bagus, nanti lo jangan ngerepotin atau nyusahin mama ya !" Ucap Leon mengusap kepala adiknya dengan lembut.
"Siap !" Balas Meira sembari tertawa kecil.
Kembali ke pikiran Leon di masa kini.
Mengingat kembali saat-saat itu membuat Leon meneteskan air matanya walau hanya setetes.
Leon mengusap air matanya dan kemudian tersenyum sinis. "Ma, Leon kangen banget.." lirih Leon beralih menatap foto mamanya dengan penuh perasaan.
"Bentar lagi Leon udah jadi om, Leon udah keduluan sama Ira. Leon bingung gimana caranya Leon harus ngasih tau papa, papa pasti bakal marah besar.." lirih Leon tersenyum pahit.
__ADS_1
To be continued