
MASA LALU (1)
Meira kecil kini sedang menangis tersedu-sedu, bersama dengan Leon yang juga sedang bersedih.
Hari sudah mulai gelap, tetapi Meira dan Leon masih memutuskan untuk bersedih di makam mama mereka.
Serasa semua sudah hancur dan menghilang, Meira menatap batu nisan milik almarhum ibunya yang kini berada dihadapannya.
"Mama, maafin Meira yang belum bisa jadi anak yang baik buat mama." Lirih Meira dengan penuh kesedihan didalam hatinya.
"Seperti yang mama minta, aku bakal jadi anak yang rajin, semangat buat belajar dan jadi anak yang aktif ikut kegiatan disekolah. Ma, maafin aku belum bisa ngabulin harapan mama disaat mama masih hidup." Mata Meira berkaca-kaca, dadanya terasa sesak sekali melihat batu nisan milik mamanya.
Tidak pernah menyangka, bahwa dirinya akan menjadi anak piatu diusianya yang masih 14 tahun. Umur memang hanya tuhan yang tahu, tidak ada yang tahu pasti kapan mereka akan tiada. Meira berusaha menerima dengan ikhlas kepergian mamanya.
"Ira, mama udah tenang disana. Kita setiap hari doain mama, lo juga harus inget pesan-pesan dan harapan mama buat lo selama mama masih hidup-" Ujar Leon dengan suara serak. Matanya terlihat memerah, begitu pula dengan wajahnya yang terlihat sembab karena dirinya juga merasa sangat sedih atas kepergian mama yang sangat ia sayangi.
"Kak, gue belum siap buat ngejalani hari-hari mama" lirih Meira beralih menatap Leon dengan tatapan sendu.
Leon dibuat menangis lagi karena mendengar lirihan Meira. "Gue juga belum siap Ra ! Tapi waktu bakal terus maju dan nggak bakal berhenti, hidup lo juga masih panjang, mama pasti juga nggak mau liat lo terus-terusan sedih kayak gini !'' Kata Leon menekankan meninggikan suaranya. Perkataannya itu berhasil membuat tangisan Meira semakin pecah.
"Kak, sekarang gue tinggal sendirian. Nggak ada lagi yang bangunin gue buat berangkat sekolah, nggak ada lagi yang masakin sarapan buat gue, nggak ada lagi yang ngomelin gue atau nyuruh gue makan, nggak ada lagi yang ngajarin gue tentang materi yang gue nggak faham." Keluh Meira menatap mata kakaknya dengan tatapan penuh kesedihan.
Leon tersenyum pahit dibuatnya, "masih ada gue, lo bisa tinggal sama gue." Ucap Leon membelai rambut adiknya dengan lembut.
Meira memeluk Leon dengan erat dan kemudian bersandar didadanya. "Kak, gue nggak mau ikut sama papa, tante Diana sama Bian nggak suka sama gue" kata Meira memberitahu Leon dengan suara serak.
Leon membalas pelukan Meira, "nanti kalo gue lagi ke luar kota atau ke luar negeri, lo tinggal sama papa dulu. Gue juga nggak bisa biarin lo sendirian.' Ujar Leon memberikan tatapan jangan kepada adiknya.
Leon merasakan anggukan Meira. Ia pun tersenyum tipis dibuatnya. Ma, Leon bakal jagain Ira, mama bisa tenang di alam sana. Leon udah sukses, udah mandiri, jadi mama udah bisa tenang juga soal Leon. Ucap Leon dalam batinnya, menatap langit yang terlihat mendung diatasnya.
"Leon !" Panggil seseorang dengan suara berat yang tiba-tiba muncul di belakang Leon.
Leon dan Meira mendongakkan kepala mereka, melihat seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi bagi mereka. "Papa ?" Ucap Meira dengan suara pelan. Ia merasa bingung kenapa tiba-tiba papanya datang ke kuburan, papa yang bahkan tidak datang disaat-saat yang paling ia butuhkan ketika mamanya sedang sakit dan ketika dirinya sedang merasa sangat terpuruk dihari pertama mamanya tiada.
Leon melepaskan pelukan Meira, ia langsung berdiri dan kemudian menatap tajam papanya. "Ngapain papa ?" Tanya Leon dengan sangat tidak sukanya melihat kehadiran papanya.
Meira yang sedang berjongkok pun juga langsung berdiri, ia mengalihkan pandangannya dari papanya.
"Maaf, papa baru sempat datang kesini." Ucap Deon, terukir penyesalan dan juga kesedihan diwajahnya.
"Maaf ?!" Meira melototkan matanya tajam kepada Deon. Ia tersenyum miring melihat ekspresi sedih Deon atas meninggalnya mantan istrinya.
"Papa dimana disaat mama lagi sakit ?! Papa dimana saat mama pergi ?! Sekarang udah hari kedua mama pergi dari dunia !" Kata Meira. Air mata tak berhenti membasahi wajahnya, sesak rasanya dirinya bertanya seperti itu kepada papanya.
"Papa sibuk sama istri baru papa ! Padahal mama yang udah nemenin dan ngedukung papa selama 20 tahun lebih !" Ujar Meira menekankan suaranya pada setiap kata yang ia keluarkan.
Meira tersenyum miring melihat papanya yang hanya diam saja tidak bisa berkata-kata, ia melipat kedua tangannya kesal lalu berputar membalikkan badannya membelakangi Leon dan juga Deon.
"Pa, aku nggak mau ribut di depan makam mama. Aku juga udah capek, aku mau pulang dulu." Ucap Meira berjalan pergi melalui Deon dan juga Leon dengan cepat.
"Pa, aku juga mau pulang." Pamit Leon yang kemudian berjalan pergi menyusul Meira.
Meira kini sedang duduk di dalam mobil Leon dengan patuh. Perasaannya makin kacau setelah melihat papanya yang datang ke kuburan mamanya sembari membawa sekeranjang bunga di tangannya.
Meira menyenderkan kepalanya pada bantalan kursi, sungguh penat rasanya.
Leon yang sedang menyetir sesekali melirik Meira yang terlihat pucat.
"Lo sakit ?'' tanya Leon yang merasa khawatir melihat adiknya.
Meira menggelengkan kepalanya menjawab Leon.
"Mau pulang ke rumah gue atau kerumah mama ?" Tanya Leon.
__ADS_1
"Rumah lo" jawab Meira.
××××××
Meira termenung di dalam kelasnya, sudah seminggu sejak kepergian mamanya, tapi ia masih belum terbiasa menghabiskan hari-harinya tanpa mendengar suara ataupun melihat mamanya.
Hana sebagai sahabat Meira juga merasa sedih melihat Meira yang terus-menerus merenung. Beberapa kali ia mencoba untuk membuat Meira tertawa ceria seperti biasanya, tapi tampaknya itu sungguh sulit.
Meira yang biasanya sangat bersemangat ketika bel istirahat dan bel pulang berbunyi kini terlihat begitu lesu dan tidak bersemangat. Rasanya berat baginya untuk pulang kerumahnya.
Dulu setiap pulang sekolah ia selalu disambut dengan hangat oleh mamanya. Ketika membuka pintu rumahnya, aroma masakan mamanya pasti sudah tercium. Rindu sekali rasanya ketika mengingat masa-masa itu.
"Hana, gue boleh ikut lo nggak ?" Tanya Meira yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah bersama dengan Hana.
Mendengar pertanyaan Meira, Hana langsung tersenyum senang dibuatnya. "Boleh !" Jawab Hana dengan senyuman lebar terukir diwajahnya.
Hana langsung menggandeng tangan Meira dan kemudian membawanya menuju mobil jemputan yang biasa menjemputnya.
××××××
Hari sudah malam, Meira sedang berjalan menuju rumahnya. Ia sudah bilang kepada Leon bahwa malam ini dirinya akan tidur di rumah mamanya, ia merasa rindu dengan rumah yang menyimpan berbagai kenangannya dengan mamanya setelah satu minggu lamanya tidak kembali ke rumah tersebut.
Setelah sampai di depan rumah, terlihat sebuah mobil hitam yang sudah tidak asing lagi bagi Meira. Mobil itu adalah mobil milik papanya.
Pikirnya untuk apa papanya malam-malam kemari ? Padahal menurutnya papanya sudah lupa jika memiliki seorang putri kandung yang tak lain adalah dirinya sendiri.
Meira melanjutkan langkahnya menghampiri papa nya yang sedang berdiri di sebelah mobil. Tampaknya Deon sedang menunggu Meira.
"Papa." Panggil Meira dengan ketus.
Deon menoleh ke arah Meira, senyuman tipis terukir diwajahnya ketika melihat putrinya.
"Kamu baru pulang sekolah ?" Tanya Deon yang melihat Meira masih membawa tas dipunggungnya dan juga masih memaki seragam sekolah ditubuhnya.
Deon tidak suka mendengar jawaban Meira. "Sekarang udah jam setengah delapan malem ! Habis main darimana aja kamu ?!" Deon menatap tajam Meira.
"Apa itu penting ?" Tanya Meira sinis.
"Kamu !" Deon menjeda perkataannya, ia mengusap wajahnya kasar karena merasa bingung harus bagaimana menghadapi putri nya ini.
"Kamu ikut papa, bawa barang-barang yang kamu suka atau yang kamu butuhin. Barang-barang lainnya nanti bisa beli." Ujar Deon dengan serius menatap Meira.
Meira mengerutkan keningnya, "nggak mau." Balas Meira memalingkan wajahnya dari Deon.
"Kamu anak cewek, kelayapan malem-malem gini. Dirumah juga nggak ada yang menjaga kamu ! Mending kamu ikut ke rumah papa aja !"
"Tapi-"
"Nggak ada tapi-tapian, jangan ngebantah !" Pekik Deon yang tidak ingin diganggu gugat.
Meira berdecak kesal. "Iya, aku ambil barang-barang dulu. Papa tunggu aja di dalem mobil, mungkin aku agak lama ambil barang-barangnya." Balas Meira yang sudah merasa lelah membantah perkataan papanya.
Ia rasa mungkin dirinya hanya perlu tinggal dirumah Deon selama 1 sampai 3 hari, setelah ia merasa tidak betah, dirinya bisa langsung pergi begitu saja dari rumah Deon.
-------
Meira POV
Udah satu minggu gue tinggal dirumah papa. Rasanya sungguh penat dan sesak berada dirumah ini.
Ibu tiri yang selalu menceritakan prestasi anaknya di meja makan, istri kedua papa yang selalu menyindirku dengan halus, juga wanita yang membuatku merasa muak ini selalu saja bersikap sok dekat denganku ketika papa berada di rumah.
Seperti tai memang. Sungguh muak rasanya mendengar ocehannya yang nggak banget.
__ADS_1
Bian, dia adik tiri yang umurnya selisih dua tahun lebih muda sama gue. Anaknya sok polos, sok imut, sok cantik dan sok pinter. Beberapa kali ia mencoba membuatku malu didepan papa, tetapi hasilnya malah dirinya lah yang merasa malu karena ulahnya sendiri.
"Kak Ira !" Seru dirinya berjalan menghampiri ku sembari membawa suatu mangkok putih polos yang tidak diketahui apa isinya.
"Hmm ?" Balasku dengan sinis. Sungguh, sebenernya gue eneq banget liat mukanya yang sok imut.
"Papa bawa bakso waktu pulang, ini buat kakak." Ujarnya menyodorkan semangkok bakso yang warna kuahnya sangat merah.
Gila batinku, dia memberiku sebuah racun atau sebuah makanan ?! Sepertinya dia menuangkan sebotol sambal dan juga saus tomat di dalam mangkok bakso milikku.
Aku mengulurkan tanganku untuk menerima mangkok yang ia berikan, tetapi ups. Gue sengaja jatuhin mangkoknya.
"Eh, maaf. Tangan gue licin." Ucapku menatapnya tidak suka.
Lantai nampak basah dan dipenuhi oleh pecahan mangkok. Segera, gue mundur beberapa langkah buat ngehindari pecahan-pecahan piring yang berbahaya.
Bukannya menjauh atau menepi, Bian malah mendekati pecahan kaca tersebut. Terlihat darah busuk mengalir dari telapak kakinya. Dia meringis kesakitan. Gue jijik banget ngeliat dia yang pura-pura kesakitan, apalagi aktingnya buruk banget.
"Bian, kamu nggak papa ?" Tanya papa yang buru-buru datang menghampiri anak tirinya itu.
Sepertinya suara pecahan tadi terlalu keras, sampe papa bisa denger. "Lebay" perkataan itu lolos begitu saja dari mulutku ketika melihat papa yang nampak khawatir dengan kondisi anak tirinya itu.
Papa langsung menatapku tajam ketika mendengar ucapan ku.
"Pa, mata Bian kayaknya perlu diperiksain, padahal udah jelas kalo ada pecahan mangkok didepannya, tapi dia malah jalan maju ke kaca yang udah pecah. Oh, otaknya juga harus diperiksain, kayaknya dia udah kelewat bego sampe-sampe ngelukain dirinya sendiri." Tanpa jeda gue ngomong dengan terus terang ke papa.
"Ira, Bian ini adik kamu ! Bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu didepan adik kamu ?!" Ah, sepertinya papa sangat kesal dengan ucapan ku.
Adik ? Jangan harap, mama nggak pernah ngelahirin adik buat gue !
"Pa, aku cuma punya kakak. Aku nggak punya adik. Mama nggak pernah lahirin anak sebego, sealay dan semenjijikan dia !" Ucapku dengan kesal dan tidak sopannya kepada papa.
"Kemana tata krama kamu ?!" Tanya papa melototkan matanya tajam kepadaku.
"Ada, ketinggalan di rumah mama." Jawabku yang kemudian langsung berjalan pergi begitu saja menuju ke dalam kamarku yang ada di lantai tiga.
"Ira !" Pekik papa dengan sangat marah setelah denger kata-kata gue.
Yeah, jelas tau kalo yang gue omongin itu nggak ada akhlak dan nggak ada adab nya sama sekali. Cuma gue nggak bisa diem aja, yang ada entar gue jadi Cinderella yang sering di jahatin sama ibu sama adik tirinya lagi. Ya, tapi gue nggak berharap kalo bakal ada pangeran yang nyari-nyari gue sambil bawa sepatu.
Satu bulan telah berlalu, gue udah cukup terbiasa ada dirumah yang penuh drama ini. Gue pulang sekolah pergi ke rumahnya Hana atau Vina dulu, kalo mereka nggak bisa, gue juga pergi ke rumah kak Leon dulu.
Papa sering banget ngajak Bian ke mall, mana alasannya nggak banget. Bisa-bisanya papa bilang kalo baju Bian udah jelek, terus katanya gue sering nggak ada dirumah pas mereka ke mall.
Padahal beberapa kali gue ada dirumah pas mereka jalan keluar, jadi yang anak kandung itu Bian, terus gue anak tirinya, bener nggak sih ?
"Kak, bawa gue pergi." Kak Leon mengehentikan langkahnya sejenak setelah gue bilang hal itu.
Dia noleh ke belakang dan bilang, "gue masih ada urusan, lain kali aja ya." Ah, udahlah. Dia nggak ngerti maksud gue, mungkin dia pikir gue mau jalan-jalan ke mana gitu, padahal gue pengen pergi dari rumah yang udah bikin gue muak.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, dan akhirnya setahun udah gue tinggal dirumah papa bareng sama dua orang nggak bersangkutan yang sering banget bikin mood gue naik turun.
Gue coba ngumpulin keberanian gue dan akhirnya coba ngobrol sama papa, berdua diruang kerjanya. "Pah, aku udah SMA. Aku mau tinggal sendiri di rumahnya mama boleh kan ?"
"Kamu bisa jaga diri kamu sendiri ?" Tanya papa dengan tatapan tak yakin.
"Bisa."
"Oke, kamu bisa pindah ke rumah almarhum mama kamu mulai besok. Tapi jangan lupa, minimal seminggu sekali kamu dateng kerumah papa" balas papa menatapku dengan serius.
Gue pikir setidaknya papa bakal marah-marah ke gue, tapi ternyata nggak. Yah, bagus lah, jadi gue nggak perlu khawatir atau bingung lagi.
To be continued
__ADS_1
Haloo !!! Jangan lupa buat vote yaaa