
HAPPY READING GUYS 🐼
Meira kini sudah ada di dalam mobil Aldi. Ia sedang duduk diam sembari memainkan ponselnya dengan tenang. Aldi, ia sedang fokus mengemudikan mobilnya.
Dalam hatinya, Meira sangat-sangat penasaran akan dibawa kemanakah dirinya oleh Aldi ? Pikirannya saat ini sedang kacau kemana-mana. Ia berfikir bahwa dirinya akan dibawa ketempat yang sepi lalu dibunuh atau di gugurkan kandungannya, tetapi setelah mengenal Aldi selama beberapa hari terakhir ini, Meira mulai mengurungkan pikirannya itu.
Gila kali ya ? bisa-bisanya gue mikirin yang aneh-aneh. Gerutu Meira dalam hatinya merasa kesal sendirinya.
Meira diam-diam melirik Aldi yang sedang fokus itu. Dia mau bawa gue kemana sih ? firasat gue nggak enak ih.. Gerutu Meira dalam hatinya. Jujur saja ia sangat cemas saat ini, hatinya berkata bahwa hal yang tidak dia inginkan akan segera terjadi.
"Nggak usah khawatir, aku bakal bawa kamu ke tempat yang aman kok." Ucap Aldi tersenyum hangat ketika menyadari Meira nampak cemas sedari tadi.
Meira terkejut dibuatnya, tanpa ia sadari dirinya saat ini sedang tersenyum tipis begitu saja. "Oke.." lirih Meira mengalihkan pandangannya menuju luar jendela.
Selang beberapa menit, akhirnya mobil Aldi berhenti di depan sebuah rumah yang amat mewah. Meira mengerutkan keningnya tak mengerti mengapa Aldi membawanya ke tempat ini.
Aldi melepas seat belt nya dan juga Meira terlebih dahulu, kemudian ia beralih menatap Meira dengan lembut.
"Ini dimana ?" Tanya Meira meminta jawaban pada Aldi.
"Rumah ortu gue." Jawab Aldi membuka pintu mobilnya dan kemudian melangkah keluar dari mobil.
Deg-
Jantung Meira berdegup cepat tak karuan, ia fikir saat ini Aldi ingin membawanya menemui kedua orang tua Aldi untuk membahas kelanjutan hubungan mereka di masa depan.
Meira menelan salivanya. Ia tidak ingin turun ataupun keluar dari mobil, ia masih belum siap untuk menemui kedua orang tua Aldi.
Aldi berjalan menghampiri Meira dan kemudian membuka pintu mobilnya untuk Meira. Aldi menaikkan satu alisnya sembari tersenyum lebar pada Meira.
"Ayo." Ajak Aldi mengulurkan tangannya pada Meira.
Meira langsung menggelengkan kepalanya menolak Aldi. "Mau ngapain ?" Tanya Meira ketus.
"Ngomongin masa depan." Jawab Aldi mencoba Manarik Meira keluar dari mobil.
"Nggak mau !" Ucap Meira meninggikan suaranya.
"Ortu aku baik kok." Ujar Aldi mencoba membujuk Meira.
"Nggak peduli mau baik apa nggak, tapi gue nya nggak mau !" Pekik Meira menatap tajam Aldi.
"Kenapa ?" Tanya Aldi meminta jawaban pada Meira.
"Nggak, pokoknya gue nggak mau !"
__ADS_1
"Cuma ketemu aja gimana ? Tadi aku udah terlanjur bilang.."
"Nggak aneh-aneh kan ?" Tanya Meira memastikan.
"Nggak, cuma kenalan aja nggak masalah kan ?" Balas Aldi menarik Meira keluar dari mobil.
Meira pun keluar dari mobil dengan perlahan, wajahnya masih nampak kesal dibuat Aldi. Ia melipatkan kedua tangannya kesal.
"Ayo." Ucap Aldi mengulurkan tangannya pada Meira.
"Hmm" balas Meira yang masih melipat kedua tangannya, yang berarti ia tidak mau masuk ke dalam rumah Aldi sembari bergandengan tangan.
Aldi membuang nafasnya sedikit kesal, akhirnya ia pun berjalan terlebih dahulu di depan Meira. Meira berjalan di belakang Aldi sembari mengikuti Aldi dengan patuh.
Gawat, gue nggak bawa apa-apa buat orang tua nya Aldi pula. Bisa-bisa di pertemuan pertama ini gue udah ninggalin kesan yang buruk lagi.. Batin Meira bingung sendiri dalam hatinya.
Aldi menghentikan langkahnya dan kemudian membalikkan badannya menghadap Meira. "Nggak perlu gugup ataupun takut, kamu juga nggak tau kalo kamu bakal kesini kan ? Ayah sama bunda aku juga pasti bakal ngerti kok." Ujar Aldi tersenyum hangat menatap wajah Meira yang nampak cantik.
"Tau aja yang gue pikirin." Gumam Meira kesal tak ingin melihat Aldi.
Aldi dan Meira kini melangkah masuk kedalam rumah milik orang tua Aldi. Jantung Meira berdegup tak karuan sangking gugupnya. Ingin sekali dirinya berbalik dan kemudian lari secepat nya keluar dari rumah ini.
Meira menggosok-gosok kedua tangannya dan kemudian melihat sekelilingnya. Sebuah ruang tamu yang besar tetapi sederhana, sebuah ruangan dengan dinding bewarna abu-abu disekelilingnya.
Meira menelan salivanya, ingin sekali ia menggenggam tangan Aldi kemudian mencubit tangannya dengan kencang.
Selang beberapa detik, seorang wanita paruh baya yang masih nampak cantik itu turun dari tangga dengan anggun. Wanita itu menggunakan dress bunga-bunga bewarna biru. Wanita itu tak lain lagi adalah bunda Aldi yang bernama Soraya Karan.
"Aldi, apakah dia Meira ?" Tanya bunda Aldi berjalan menghampiri Meira dan Aldi dengan cepat.
Aldi langsung mengangguk menjawab bundanya. "Kenalin, ini mama aku." Ujar Aldi menarik Meira ke sampingnya.
Meira tersenyum canggung menghadapinya, Soraya Karan langsung meraih kedua tangan Meira dan menggenggam nya begitu saja, matanya nampak berkaca-kaca melihat Meira.
"Maafin anak saya ya, dia udah bikin kamu jadi susah dan kayak gini." Ujar bunda Aldi mengusap wajah Meira dengan lembut.
Meira menatap Aldi meminta bantuan, kini ia sangat bingung harus menjawab dan berkata apa pada bundanya Aldi. Aldi mengabaikannya dan langsung berjalan pergi ke dalam kamarnya begitu saja meninggalkan Meira dan Soraya sendirian diruang tamu.
Aldi ******, ninggalin gue gitu aja ! Umpat Meira kesal dalam hatinya merutuki Aldi.
"Meira, ayo duduk." Ucap Soraya memapah Meira duduk menuju sofa.
Saya tidak lumpuh Tante T_T Batin Meira yang merasa canggung dan kurang nyaman dengan Soraya yang memapahnya begitu saja.
Meira pun akhirnya duduk di sebelah Soraya, rasanya cukup tidak nyaman bagi Meira, karena tiba-tiba saja dirinya dibawa kerumah Aldi, lalu dikenalkan kepada bundanya yang tidak ia mengerti isi hatinya
__ADS_1
"Kamu sudah makan ?" Tanya Soraya basa-basi.
"U-udah." Jawab Meira canggung.
"Sekarang kamu tinggal sama siapa ?"
"Sendiri."
"Ayah kamu kemana ?"
"Pa-papa ada dirumahnya sendiri sama keluarga barunya.."
"Kamu udah siap jadi ibu ?"
Meira terdiam dibuatnya, ia bingung harus menjawa apa, jika ia menjawab belum takut dipikir negatif oleh bundanya Aldi, tetapi jika menjawab sudah, Meira tentu belum siap.
Soraya Karan tersenyum melihat Meira yang terlihat kebingungan. Ia langsung membelai kepala Meira dengan lembut sembari tersenyum hangat pada Meira.
"Kamu pasti belum siap, saya ngerti kok. Jadi ibu itu sulit, sulit banget. Saya melahirkan Aldi waktu saya masih umur 27 tahun, diumur saya yang bisa dibilang sudah cukup dan mampu untuk merawat seorang anak, bagi saya itu sulit, apalagi buat kamu yang masih umur 17 tahun." Ujar Soraya Karan mengingat kembali masa-masa dimana Aldi baru lahir.
Mata Meira berkaca-kaca mendengarnya. "I-iya, saya belum siap banget.." gumam Meira tersenyum pahit pada Soraya.
Soraya mendengar gumaman Meira. "Maafin anak saya ya. Kemarin Aldi cerita semuanya ke bunda sama ayah. Jujur bunda kaget banget, ayahnya Aldi juga sampe mecahin banyak vas sama piring sangking marahnya sama Aldi. Kemarin malem bunda yang minta supaya Aldi bisa bawa kamu kerumah ini. Ayahnya tadi ada dirumah, tapi karena ada telepon dari sekertaris nya tiba-tiba aja dia pergi ke luar." Jelas Soraya dengan perasaan bersalah pada Meira.
"Tadi Aldi bilang ke kamu atau nggak kalo kamu mau diajak kesini ?" Tanya Soraya mengusap pipi Meira dengan lembut.
Meira terdiam sejenak merasakan usapan Soraya. "Ng-nggak te" jawab Meira menggelengkan kepalanya.
"Oh, kenapa Aldi nggak bilang ke kamu ?
Apa kamu belum siap ?" Tanya Soraya dengan ragu pada Meira.
"Sejujurnya saya sama sekali belum siap, saya juga tidak berniat meminta pertanggung jawaban Aldi sebagai ayah dari anak saya, tetapi Aldi yang terus memaksa saya." Ungkap Meira melepaskan genggaman Soraya dengan perlahan.
"Kenapa ? Bukankah sebuah hal yang sangat baik bagimu jika Aldi mau bertanggung jawab ?"
"Sebuah hubungan yang terjalin karena sebuah kecelakaan tidak selalu berakhir baik. Hubungan yang terjalin karena perasaan saja sudah banyak yang berakhir buruk, apalagi jika hubungan kami ini yang terhubung hanya karena sebuah kecelakaan dan ketidaksengajaan ?" Jelas Meira menatap kosong wajah Soraya.
"Nanti jika kehidupan pernikahan tidak berjalan dengan baik dan mungkin saja salah satu dari kami ingin berpisah. Orang tua selalu memikirkan anaknya bukan ? Mungkin ini egois, tapi saya tidak ingin hidup tidak bahagia hanya karena dua kata 'demi anak." Jelas Meira dengan wajah datarnya berkata sesuai isi hatinya.
Deg-
Jantung Aldi berdegup cepat tak karuan ketika tanpa sengaja mendengar ucapan Meira barusan. Soraya, ia terdiam sejenak mendengarnya, senyuman smirk terpampang jelas diwajahnya.
"Saya suka kamu." Ucap Soraya menatap lembut Meira sembari tersenyum aneh bagi Meira.
__ADS_1
To be continued