ALMEIRA'S SECRET

ALMEIRA'S SECRET
05


__ADS_3

Happy reading ❇️


Keesokan paginya.


Aldi datang kerumah Meira begitu pagi, ia menekan bel yang ada disamping pagar hitam rumah Meira beberapa kali.


Meira yang masih tertidur itu pun akhirnya terbangun karena mendengar suara bel yang Aldi tekan beberapa kali.


Meira membuka matanya perlahan dan kemudian mengucek-ngucek matanya, ia turun dari kasur dan kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


"Siapa sih ? Masih pagi juga." Keluh Meira berjalan malas menuju pintu keluar.


Meira membuka pintu dan kemudian berjalan menuju pagar sembari membawa kunci, Meira membuka gembok besi yang ada dipagarnya, lalu membuka pagarnya dengan perlahan.


Meira terbelalak kaget melihat siapa yang datang kerumahnya. Ia langsung mengucek-ngucek matanya sekali lagi dan kemudian berencana untuk kembali menutup pagarnya.


Aldi berjalan masuk sembari tersenyum hangat pada Meira. Meira langsung mundur untuk menghindari Aldi, matanya melotot tajam melihat Aldi yang sudah menggunakan seragam sekolah.


"Ngapain lo kesini ? ini baru jam enam, lo udah rapi gitu aja." Ucap Meira menatap Aldi heran.


"Mau jemput calon istri." Ujar Aldi menaikkan satu alisnya sembari tersenyum manis.


"Sok keren lo, siapa calon istri lo ?!"


"Namanya Meira Amara, dia calon ibu dari anak-anakku nanti."


"Anak-anak ?! Siapa yang mau ngelahirin anak-anak lo ?"


"Lo."


"Cukup sekali aja lo ngehamilin gue, nggak ada yang kedua kalinya !" Tegas Meira menggelengkan kepalanya.


"Gue nggak mau berangkat bareng lo."


"Gue mau berangkat bareng anak gue."


"Nyokapnya nggak mau."


"Bokapnya mau."


"Dih, kalo mau nunggu gue tungguin di dalem mobil lo sendiri. Jangan sampe tetangga gue mikir yang aneh-aneh terus lapor ke bokap gue." Jelas Meira memperingati Aldi.


"Di ruang tamu aja boleh nggak ?" Pinta Aldi menundukkan kepalanya.


Meira membuang nafasnya kasar, "terserah" ia beralih membalikkan badan dan kemudian berjalan masuk kedalam rumahnya dengan cepat.


Aldi tersenyum tipis mendengar jawaban Meira dan kemudian mengikutinya dari belakang dengan patuh.


Meira berjalan menaiki tangga dengan perlahan, sedangkan Aldi duduk di sofa sembari celingak-celinguk melihat sekitar.


Meira memasuki kamarnya dan kemudian membanting pintunya dengan kencang hingga membuat Aldi yang berada dibawah merasa terkejut.


"Ngapain sih tuh anak ? ganggu gue aja." Gerutu Meira melipat kedua tangannya kesal.


Aldi berdiri dan kemudian berjalan melihat-lihat dalam rumah Meira yang tertata begitu rapi. Aldi mendongakkan kepalanya dan kemudian melihat sebuah bingkai foto yang cukup besar yang ada di atas sofa.


"Ini.." Aldi menggantungkan ucapannya ketika melihat sebuah foto Meira dengan ibu dan kakanya ketika Meira masih berumur tiga belas tahun. Ia tersenyum kecut melihat foto itu.


"Dari kecil emang udah cantik." Gumam Aldi menatap lekat wajah Meira yang ada didalam foto itu. Suara Aldi tidak seperti menggumam saat mengucapkannya.


"Dari lahir yang bener." Sahut Meira yang sudah mandi dan berpakaian seragam dengan lengkap berjalan menuruni tangga.


Aldi berbalik dan kemudian menatap Meira yang nampak sangat cantik dengan rambut bergelombang dan bando bewarna pink diatasnya.


"Um, gue ganteng, lo cantik. Anak gue ntar jadi bibit unggul." Balas Aldi tersenyum smirk berjalan menghampiri Meira.


Meira tertegun mendengarnya, ia langsung melangkah mundur menjauhi Aldi yang terus melangkah maju mendekati nya.


Meira terus mundur hingga terpojok, Aldi tersenyum smirk dan kemudian meraih dagu Meira dengan jari telunjuknya.


"Makasih udah mau mempertahanin dia." Ujar Aldi tersenyum hangat menatap Meira yang sedang tersipu malu.


Meira menepis tangan Aldi dan kemudian menatapnya sinis. " Dia ?" Tanya Meira berpura-pura tidak mengerti apa maksud Aldi.


"Anak yang ada di dalem perut lo." Balas Aldi.


Meira merapikan rambutnya yang tidak berantakan dan kemudian mengalihkan pembicaraan, lo udah sarapan belom ?" 


"Belum."


"Mau roti atau nasi ?" Tanya Meira yang sedang memba kulkasnya sembari melihat-lihat apa yang ada didalam kulkasnya itu.


"Udah mau jadi istri siaga nih ?" Tanya Aldi tersenyum senang menggoda Meira.


"Gue bukan istri, dan bukan calon istri lo." Ucap Meira menekankan setiap huruf dan kata-katanya.


"Gue mau apa aja, asal itu lo yang masak." Balas Aldi.


"Masih pagi gini, orang tua lon mana ?" Tanya Aldi dengan polosnya pada Meira yang sedang menyalakan kompor.


Meira tersenyum pahit mendengarnya, hatinya sedikit sakit rasanya. Meira berbalik dan kemudian menghampiri Aldi yang sedang duduk di kursi meja makan.


"Mama udah meninggal, papa dirumahnya." Jawab Meira.


"Ma-maaf, gue nggak tau." Spontan Aldi langsung berdiri dan kemudian mendekatkan diri pada Meira.


"Nggak perlu minta maaf." Balas Meira mengalihkan pandangannya.


Aldi meraih pundak Meira dan kemudian membawa Meira kedalam pelukannya. Entah kenapa Meira tidak mau menepis ataupun mendorong Aldi yang sedang memeluknya, mungkin bayi didalam perutnya itu sedang ingin dipeluk oleh ayahnya.


"Mulai sekarang aku bakal nemenin kamu." Ucap Aldi dengan malu pada Meira karena menggunakan kata 'aku kamu.


Meira tersenyum senang mendengarnya. "Aku ? Kamu ?" Ledek Meira mendorong Aldi dengan pelan darinya.


"Latihan dulu." Jawab Aldi menatap Meira dengan lembut.


Meira celingak-celinguk melihat sekitarnya. "Bau gosong." Ucap Meira pada Aldi. Akhirnya diapun teringat akan kompor yang tadi ia nyalakan, segera Meira langsung mematikan kompor itu dengan cepat.

__ADS_1


Aldi hanya tertawa kecil melihat Meira yang nampak manis.


"Gue masakin tempe sama tahu aja mau kan ?" Tanya Meira tersenyum iseng pada Aldi.


"Asal lo yang masak." Jawab Aldi memamerkan deretan giginya yang rapi itu.


Selang beberapa menit kemudian, mobil Aldi sudah berhenti di parkiran sekolah.


Beberapa siswa bergerombol di dekat mobil Aldi untuk melihat siapa wanita yang sedang bersama Aldi.


Aldi adalah siswa yang cukup populer karena ketampanannya dan prestasinya dalam bidang olahraga, tentunya tidak sedikit orang-orang yang menyukainya.


"Siapa itu ?"


"Kelihatannya familiar banget !"


"Kayaknya Laura nggak sih ?"


"Eh iya, Laura sama Aldi pernah digosipin kan ya ?"


Para siswi yang bergerombol itu menebak-nebak dan bergosip bersama, entah apa manfaatnya bagi mereka.


Meira menghela nafasnya pendek, ia menatap sinis Aldi yang masih sibuk dengan ponselnya didalam mobil.


"Gue gimana ?" Tanya Meira ketus pada Aldi, ia merasa tak nyaman melihat siswi-siswi yang sedang bergosip itu, jika ia langsung keluar dari mobil sekarang, bisa-bisa ia menjadi topik hangat nomor satu di SMA PEMUDA 1


"Hmm?"


"Lo buta ? Di luae ada puluhan murid yang ngeliat kita entar !"


"Terus ?"


"Dih, kasih gue jaket lo !" Titah Meira yang sudah kesal dan malas berbicara dengan Aldi.


"Nih" ucap Aldi memberikan sebuah jaket kulit bewarna coklat pada Meira.


"Makasih." Meira menerima jaket itu dengan senyuman kecil diwajahnya.


Meira memakai jaket yang Aldi berikan dan kemudian mengambil masker dan karet disakunya. Meira memang selalu sedia masker dan karet dimana-mana untuk berjaga-jaga jika ia bertemu dengan situasi yang tidak menguntungkan.


"Ngapain lo pake masker ?" Tanya Aldi menaikkan satu alisnya tak mengerti.


"Terserah gue mau ngapain." Jawab Meira judes.


Meira pun langsung membuka pintu mobil dan turun dari mobil dengan perlahan.


"Nyebelin" kesal Meira memanyunkan bibirnya dari balik masker. Setelah turun, Meira menutup pintu mobil Aldi dengan keras karena kesal.


Aldi nampak kaget melihat Meira yang nampak sangat emosi, ia hanya menghela nafas pendek dan kemudian menaruh hp nya didalam saku celananya , lalu turun dari mobil mengikuti Meira.


"Mei, lo kenapa ?" Tanya Aldi yang berhasil menyusul Meira.


"Siapa yang lo panggil Mei ?" Tanya Meira menghentikan langkahnya.


"Lo."


"Lo kayak cewek pms aja sih ?" Celetuk Aldi dengan santai.


"Males gue ngomong sama lo." Ujar Meira melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Aldi.


Meira melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas dengan berat, kemarin ia bolos sekolah tanpa memberitahu sahabat-sahabat nya. Ia rasa bahwa setelah dirinya duduk di bangkunya ia akan langsung diserbu ratusan pertanyaan oleh Hana dan Vina.


Hana dan Vina tampak sedang berkumpul di meja Meira. Meira menghela nafasnya pendek melihat ketiga sahabatnya itu sudah menunggunya. Ia tersenyum tipis dan kemudian menyapa ketiga sahabatnya itu.


"Hai." Sapa Meira.


Hana dan Vina langsung menoleh dan memberi tempat pada Meira yang ingin duduk di bangkunya itu.


"Kemaren kemana ?"


"Hp lo rusak ?"


"Nggak punya paketan ?"


"Kenapa nggak ngasih kabar kita ?"


"Lo capek ?"


"Mual ?"


"Lo nggak papa kan ?"


Tanya Hana dan Vina  secara bergantian tidak memberi kesempatan untuk Meira menjawabnya. Meira pun duduk di bangkunya dan kemudian melepaskan tasnya dari bahunya.


Meira tersenyum canggung menatap kedua sahabatnya itu dan kemudian menjawab semua pertanyaan Hana dan Vina.


"Gu-gue pergi sama Aldi.." jawab Meira mengalihkan pandangannya dari kedua sahabatnya itu.


Hana masih dengan ekspresi datar, Vina terbelalak kaget mendengarnya.


"Gi-gila, nggak mungkin kan ?" Tanya Vina panik melihat perut Meira.


Meira dan Hana mengerutkan keningnya tak mengerti apa yang dimaksud oleh Safira.


"Lo nggak mungkin aborsi kan ?" Celetuk Vina bersuara kecil pada Meira.


Vina dan Hana membulatkan matanya kaget dan kemudian memukul meja Meira dengan pelan. "Jangan bercanda lo !" Ucap Hana  menatap tajam Vina yang sembarang berbicara.


"Gue nggak mungkin ngelakuin itu, cukup gue khilaf sekali, nggak perlu ada yang kedua kalinya sampe gue mau bunuh dia." Jelas Meira mengecilkan suaranya sembari menatap kedua sahabatnya itu dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Kalo ngomong nggak pernah dipikir !" Ujar Vina menatap tajam Safira.


"Ya maaf.." ujar Vina tersenyum kecut pada Hana.


"Nanti ceritain ke kita semuanya !" Ucap Hana tegas menatap Meira.


"I-iya."

__ADS_1


Disisi lain, Aldi tengah berkumpul bersama tiga sahabatnya di rooftop sekolah.


Aldi nampak sangat emosi dan nampak sangat tak karuan hingga membuat bingung Fadli, Yudis dan juga Dava.


"Lo kayak monyet belum mandi sebulan bro ." Ujar Fadli meledek Aldi.


"Kenapa sih ? Dari tadi kayak orang frustasi aja ?" Sahut Yudis terheran-heran dengan sikap Aldi yang terlihat aneh sedari tadi.


"Gue hamilin kakak kelas." Ujar Aldi menjawab pertanyaan Fadli dan Yudis.


Fadli dan Yudis bangkit dari duduknya dan kemudian terbelalak kaget mendengarnya. Dava yang sedari tadi hanya diam tidak bertanya pun ikut terkejut mendengar ucapan Aldi.


"Gila lo !" Ujar Yudis membulatkan matanya.


"Anak orang lo apain ?!" Lanjut Yudis menatao intens Aldi.


"Kapan woi ?!" Pekik Fadli penasaran.


"Siapa ?" Tanya Dava menaikkan satu alisnya menatap tajam Aldi yang ada di sebelahnya.


"Itu terjadi gitu aja, gue juga nggak sadar.. dia kak Meira." Jawab Aldi malu menatap wajah ketiga sahabatnya itu.


"Terus ?"  Tanya Fadli memicingkan matanya.


"Lo nggak boleh lari !" Tegas Dava menatap sinis Aldi.


"Berengsek lo !" Umpat Yudis mengalihkan pandangannya tak ingin melihat Aldi.


"Tanggung jawab !" Titah Fadli merasa kecewa pada sahabatnya.


"Gue udah bilang bakal tanggung jawab dan nggak bakal kabur gitu aja. Tapi sebenernya gue belum siap, gue nggak yakin gue bisa atau nggak ngelanjutin semua ini." Jelas Aldi mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Siapa yang tadi ada di mobil lo tadi pagi ?" Tanya Dava ketus meminta jawaban pada Aldi.


"Meira, gue mungkin emang keliatan bercanda atau nggak keliatan serius buat dia. Dia terus-terusan bilang kalo gue nggak perlu tanggung jawab dan gue sempet mikir kalo emang dia nggak minta pertanggungjawaban gue, gue juga nggak perlu tanggungjawab-" belum selesai Aldi melanjutkan omongannya, Fadli dan Yudis sudah menyela terlebih dahulu.


"Bajingan !"


"Berani berbuat berani bertanggungjawab !"


"Nanggung banget lo ngelakuin sesuatu !"


"Bagi kak Meira ini jauh lebih sulit diterima goblog !"


"Udah untung dia nggak ngelaporin lo, dia udah berbaik hati nggak gugurin kandungannya !"


"Lo udah ngerebut kesuciannya, sekarang lo mau dia ngandung dan ngelahirin anak lo sendirian ?!"


Fadli dan Yudis nampak sangat emosi, Fadli mencengkram kerah seragam Aldi dengan kasar.


Yudis berjalan menghampiri Aldi sembari menatapnya tajam.


Dava tertawa kecil melihat sikap ketiga sahabatnya yang cukup mengejutkannya hari ini.


Aldi mendorong Fadli dan kemudian merapikan pakaiannya dengan benar.


"Bisa nggak sih dengerin orang ngomong sampe selesai dulu ?" Tanya Aldi menatap sinis Fadli dan juga Yudis secara bergantian.


"Gue sadar dan tau diri, gue juga bukan pengecut. Jadi gue mutusin buat tanggung jawab dan nikahin kak Meira kalo dia udah siap !" Pekik Aldi membalikkan badannya dari ketiga sahabatnya itu.


"Dli, hari ini omongan lo cukup menyentuh buat gue." Ujar Dava tersenyum tipis menepuk pundak Fadli yang tadi mengomeli Aldi.


"Al, hari ini lo udah bikin gue kaget dan kecewa sama lo." Lanjut Dava menghela nafasnya pendek menatap kecewa Aldi.


Yudis melongo mendengarnya. "Gue nggak ?" Tanya Yudis memiringkan kepalanya pada Dava.


"Lo hari ini masih sama aja." Jawab Dava tersenyum iseng pada Yudis.


"Iyain aja."


"Lo mau ngomong ke orang tua lo kapan ?" Tanya Yudis mengalihkan pembicaraan nya pada Aldi yang sedang duduk di samping Dava.


"Nggak tau, gue bingung." Jawab Aldi.


"Pegangan biar nggak bingung." Sahut Fadli meraih lengan Aldi.


"Dih, homo." Ucap Aldi menepis tangan Fadli sembari menatapnya jijik.


"Njir, siapa yang lo bilang homo ?!"


"Lo bego."


"Dih, ngalihin topik lo."


"Siapa yang ngalihin topik ?"


"Ya lo anjirt."


"Oh"


"Jadi gimana kelanjutannya ?"


"Yah, gue harus nunjukin kesungguhan gue. Walau gue belum nerima kalo bentar lagi gue bakal jadi bapak, tapi mau nggak mau gue juga harus nerima kan ?"


"Yeah."


"Kak Meira hidup sendiri, orang tuanya udah beda alam sama dia." Gumam Aldi mengingat ucapan Meira tadi pagi.


"Innalilahi"  Sahut Fadli dan Yudis menutup mulutnya.


"Di, lo bener-bener ngejatuhin kak Meira kedalem sumur." Celetuk Yudis menggelengkan kepalanya merasa iba pada Meira.


"Lo harus nikahin kak Meira dan buat dia hidup bahagia !" Titah Fadli menepuk pundak Aldi.


"Semoga kalian langgeng and happy always." Tambah Dava tersenyum tipis pada Aldi.


To be continued

__ADS_1


Halo, mohon maaf apabila ada banyak typo.. maaf apabila ada kesamaan nama ataupun karakteristik, semua cerita yang ada didalam novel ini asli karangan dan imajinasi saya. 🙏


__ADS_2