
"ALDI !" Teriak Meira ketakutan memanggil nama Aldi.
Aldi yang sedang bermain ponsel langsung berlari menghampiri Meira ketika mendengarnya. "Kenapa ?" Tanya Aldi dengan wajah panik.
"Kecoak !" Jawab Meira sembari menunjuk seekor kecoak yang berada di dekat keran kamar mandi.
Aldi langsung mengarahkan pandangannya menuju keran yang Meira tunjuk. "Terus ?" tanya Aldi dengan wajah polosnya kepada Meira.
Meira beralih menatap tajam Aldi dan kemudian menunjuk tepat ke arah wajahnya dengan geram. "Pukul bego, itu ada sandal !" Ucap Meira kesal yang kemudian beralih menunjuk sandal jepit bewarna putih di dekat pintu kamar mandi.
Aldi tidak membalas Meira dan langsung mengambil sandal tersebut. Aldi berjalan memasuki kamar mandi dan kemudian ia beralih memukul kecoak tersebut. "Udah." Ucap Aldi tersenyum bangga kepada Meira.
Meira memicingkan matanya heran dengan sikap Aldi. "Lo nggak pernah bunuh kecoa ?" Tanya Meira melipat kedua tangannya.
"Ini kedua kalinya, mungkin ?" Jawab Aldi memiringkan kepalanya. "Kan dari tadi ada sandal, kenapa kamu nggak mukul kecoanya sendiri ?"
"Ck, kalo aku kepleset gimana ?!" Balas Meira menatap kesal Aldi. "Dan, bisa-bisanya ini kedua kalinya lo mukul kecoak..'' sambung Meira menatap Aldi heran.
Aldi ber o ria dan kemudian mengangguk patuh kepada Meira. "Maaf." Ucap Aldi menundukkan kepalanya.
"Minggir !" Seru Meira menyenggol Aldi dengan kencang. Aldi menepis dan kemudian membiarkan Meira masuk ke dalam kamar mandi. " Oh ya, tolong ambilkan kresek atau kertas dong !" Sahut Meira membalikkan badannya.
Aldi mengangguk dan kemudian langsung berjalan cepat menuju dapur untuk mengambil sebuah kresek hitam di lemari dapur. Setelah mengambil sebuah kresek, Aldi berjalan menghampiri Meira di kamar mandi dan kemudian memberikan kresek itu kepada Meira. "Ini." Ucap Aldi.
Meira menerima kresek yang Aldi berikan dan kemudian ia berjongkok. Meira mengambil kecoak tersebut menggunakan kresek dan kemudian kembali berdiri. "Tolong buangin di tempat sampah ya." Ucap Meira memberikan kresek yang sudah berisi mayat kecoak didalamnya.
"Oke.'' Balas Aldi menerima kantong kresek tersebut.
"Aldi lemot.." gumam Meira tersenyum tipis melihat tingkah Aldi.
Kini Meira dan Aldi sedang duduk di sofa sembari fokus memainkan ponsel mereka masing-masing.
Aldi menoleh dan kemudian diam-diam melirik Meira yang sedang duduk dengan santai di sebelahnya.
"Meira.." ucap Aldi menyebut nama Meira dengan suara sedikit pelan.
Meira mendengar ucapan Aldi dan kemudian menoleh ke arah Aldi. "Apa ?" Tanya Meira.
"Gimana perasaanmu ?" Tanya Aldi dengan ragu menatap mata Meira.
Meira terdiam sejenak mendengarnya. "Pe-perasaan apa ?" Tanya Meira menggaruk kepalanya tak gatal.
"Perasaan setelah menikah." Jawab Aldi menggigit bawah bibirnya dengan pelan.
"Ah, perasaan gue ?" Tanya Meira seraya tertawa canggung mendengarnya. "Perasaan lo sendiri gimana ?'' sambung Meira kembali bertanya.
Aldi mengalihkan pandangannya dan kemudian beralih menundukkan kepalanya menatap ke bawah karpet. "Lumayan." Jawab Aldi.
Meira memutar bola matanya. "Ck, jangan lumayan ! Jawabnya itu seneng, sedih, marah, atau gimana kek." Ucap Meira merasa kesal mendengar jawaban Aldi.
Aldi mendongakkan kepalanya dan kemudian tersenyum tipis menatap sinis mata Meira. "Lo sendiri ?" Tanyanya merubah cara bicaranya yang biasanya pakai aku kamu berubah menjadi gue lo.
Meira tersenyum sinis mendengar pertanyaan Aldi. "Sekarang mau bicara dengan identitas apa ?" Tanya Meira menatap intens Aldi.
"Identitas gue sebagai adik kelas." Jawab Aldi mengalihkan pandangannya dari Meira.
"Oh." Jawab Meira seraya meletakkan ponselnya di sofa.
"Apa yang lo pikirin tentang gue ?" Tanya Aldi melipat kedua tangannya.
"Tentang lo ?, gue pikir lo itu aneh." Jawab Meira dengan wajah datarnya kepada Aldi.
"Aneh ?"
"Um, lo itu kadang sok perhatian, kadang lo ngeluarin kata-kata manis yang nggak tau gulanya berapa sendok, terus lo tiba-tiba jadi cuek, tiba-tiba jadi sok polos atau sok bego gitu." Ucap Meira menjawab Aldi sembari tertawa kecil.
Aldi mengernyit bingung mendengar jawaban Meira. "Gue ? Bego ? Sok manis ? Sok polos ? Cuek ?" Tanya Aldi tersenyum tak percaya mendenganya.
"Fakta." Jawab Meira disertai dengan anggukan.
Aldi melongo tak percaya mendenganya. "Di kamar lo ada kaca kan ?" Tanya Aldi dengan ketus kepada Meira.
Meira tersenyum ramah mendengarnya. "Ada, gue nggak perlu ngaca kok. Gue sadar dan tau kalo gue itu cantik." Ucap Meira dengan bangga dan percaya dirinya.
Aldi terdiam heran mendengarnya. Sedangkan Meira tertawa puas mendengar ucapannya sendiri.
Meira menghentikan tawanya dan kemudian beralih ke mode serius. "Di, menurut lo pernikahan kita bakal bertahan sampai kapan ?" Tanya Meira.
"Gue rasa sampai akhir hayat." Jawab Aldi dengan yakin.
"Oh."
__ADS_1
"Kenapa ?"
"Nggak, cuma nanya aja."
"Oke"
"Terus-" Meira menggantung ucapannya, terlihat suatu kebingungan dan keraguan diwajahnya.
Aldi yang melihat kebingungan dan kekhawatiran tersebut pun kemudian membelai kepala Meira dengan lembut. "Lo nggak perlu sungkan sama gue." Ucap Aldi menaikkan satu alisnya.
Meira mengangguk pelan seraya menepis tangan Aldi dari kepalanya. "Terus, lo udah siap jadi orang tua ?" Tanya Meira menatap Aldi meminta jawaban.
Aldi terdiam sejenak mendengarnya. "Mau nggak mau gue udah harus siap." Jawab Aldi tersenyum pahit menatap perut Meira yang masih cukup datar.
"Hmm lagian lo yang salah, dan lo udah harus siap !" Ujar Meira menepuk pundak Aldi dari depan dengan tatapan yakinnya itu.
"Udah tiga hari ya kita nikah.." lirih Meira menundukkan kepalanya dengan suara pelan hingga Aldi tidak mendengarnya.
"Gimana pendapat lo tentang gue setelah kita tinggal bersama ?" Tanya Meira meminta jawaban.
"Entahlah." Jawab Aldi yang langsung beranjak dan kemudian berjalan pergi menuju dapur.
Meira menoleh ke belakang menatap Aldi dengan lekat. "Mau ngapain ?" Tanya Meira tidak mengerti.
"Belum minum susu kan hari ini ?" Tanya Aldi membalikkan badannya sembari memegang sebuah gelas berisi bubuk cokelat di tangannya.
Meira tersenyum lebar dibuatnya. "Sekalian sama cokelat yang ada di atas lemari !" Seru Meira menatap Aldi dengan berbinar-binar.
Aldi tertawa kecil mendenganya. "Iya, aku bawain bentar lagi." Balas Aldi seraya menuangkan air hangat kedalam gelas yang ia pegang.
Keesokan harinya
Hari ini adalah hari Minggu. Meira berencana untuk pergi ke rumah papanya karena sudah cukup lama dirinya tidak berkunjung.
Meira meraih tas selempang bewarna pink dan hitam miliknya yang ada di gantungan. "Perfect !" Serunya tersenyum senang melihat dirinya sendiri di dalam cermin.
Meira segera berjalan keluar kamarnya dan beralih menuju kamar di sebelahnya yang biasa di gunakan oleh Aldi. Meira mengetuk pintu kamar tersebut dengan perlahan. "Aldi !" Panggil Meira.
"Aldi !" Panggil Meira sekali lagi.
Meira mengerutkan keningnya, Meira pikir mungkin saat ini Aldi masih tertidur pulas didalam sana. "Gue langsung masuk ya !" Ucap Meira yang langsung membuka pintu kamar.
Meira berjalan dengan cepat memasuki kamar Aldi hingga terhenti sejenak ketika melihat Aldi yang berjalan keluar dari kamar mandi.
Roti sobeknya yang terlihat keren, juga rambutnya yang masih basah membuatnya terlihat lebih keren.
Aldi membulatkan matanya terkejut, sontak Aldi langsung menutupi dadanya menggunakan kedua tangannya. "Li-lihat apa lo ?!" Tanya Aldi gelagapan.
Meira langsung membalikkan badannya membelakangi Aldi. "Lo malu ?" Tanya Meira yang kemudian tersenyum smirk.
"Kenapa nggak ketuk dulu ?" Tanya Aldi yang kemudian langsung berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaiannya.
"Gue udah manggil sama ketuk pintu kok, cuma lo aja yang nggak denger. Gue pikir lo masih tidur, jadi gue langsung masuk." Ucap Meira menjelaskan.
"Ada perlu apa ?" Tanya Aldi sembari memakai bajunya.
"Gue mau keluar, nanti kalo lo keluar pintu sama pagernya dikunci ya ! Terus gue udah masakin nasi goreng, kalo lo mau ambil aja di bawah tudung saji." Ucap Meira menjawab Aldi.
"Keluar kemana ?"
"Kerumah papa.''
"Aku, ikut ?"
"Nggak, lagian tante Diana sama Bian pasti belum tau masalah kita. Jadi lo nggak perlu dan nggak harus ikut." Ucap Meira menjelaskan kepada Aldi.
"Mereka ibu tiri sama adik tiri kamu ?"
"Um"
"Naik apa kesana ?"
"Taxi online."
"Ku anterin aja gimana ?"
"Boleh, tapi cuma nganterin gue doang. Jangan sampe masuk !" Jawab Meira yang kemudian membalikkan badannya.
Meira mengalihkan pandangannya pada Aldi yang sudah berpakaian dengan rapi. "Cepet juga.." gumam Meira tersenyum sinis melihat Aldi yang sedang berjalan menghampirinya.
"Udah sarapan ?" Tanya Aldi.
__ADS_1
Meira hanya menggelengkan kepalanya pertanda belum sarapan.
Aldi mengerutkan keningnya. "Terus tadi mau langsung pergi gitu aja ?" Tanya Aldi menatap Meira meminta jawaban.
"Iya, nanti papa pasti nyuruh gue makan lagi disana." Jawab Meira mengangguk cepat.
"Ayo sarapan bareng." Ajak Aldi meraih pergelangan tangan Meira. Aldi langsung menarik Meira sembari berjalan menuju dapur. Meira hanya terdiam sembari berjalan mengikuti Aldi turun dari tangga.
Selang beberapa saat kemudian. Saat ini Meira berada di mobil Aldi dan duduk di sebelah Aldi dengan patuh. Beberapa kali Meira melirik Aldi secara diam-diam seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan.
Aleo, gue rasa dia lebih keren dipanggil Leo. Terus, badannya Aldi kalo diingat-ingat bagus juga.. dia sering olahraga kali ya ? Batin Meira yang diam-diam sedang memikirkan Aldi.
"Ngapain senyum-senyum sendiri ?" Tanya Aldi yang baru saja melihat Meira yang sedang tersenyum entah apa alasannya.
Meira menaikkan satu alisnya tak mengerti, "gue senyum ?" tanya Meira tak percaya.
"Iya." Jawab Aldi.
"Gue nggak nyadar kalo barusan gue senyum." Balas Meira menggigit bawah bibirnya.
"Mikirin apa ?" Tanya Aldi.
"Mau tau aja atau mau tau banget ?'' tanya Meira tersenyum iseng menggoda Aldi.
"Nggak mau tau." Jawab Aldi tersenyum tipis.
Media memutar bola matanya malas mendengar jawaban Aldi. "Jangan nanya kalo nggak mau tau." Ucap Meira ketus.
Meira mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Berhenti !" Sahut Meira kepada Aldi.
Aldi langsung menginjak rem nya dan kemudian menatap ke arah Meira dengan tatapan bingung. "Kenapa ?" Tanya Aldi.
Meira tersenyum ramah, "gue mau permen kapas !" Ucap Meira sembari menunjuk penjual kaki lima yang sedang menjual permen kapas di pinggir jalan.
Aldi tersenyum tipis mendengar ucapan Meira. "Mau berapa ?" Tanya Aldi seraya melepaskan seat beltnya.
"Tiga, terus warnanya warna pink, hijau sama biru ya !" Seru Meira menjawab Aldi seraya menunjukkan ketiga jarinya kepada Aldi.
"Bentar ya" balas Aldi.
Aldi turun dari mobil dan kemudian berjalan menuju penjual gula kapas tersebut. "Pak gula kapasnya tiga." Sahut Aldi seraya mengeluarkan dompetnya dari saku celananya. "Warnanya beda-beda ya pak." Sambung Aldi tersenyum ramah memberitahu penjual tersebut.
"Buat siapa mas ?" Tanya penjual tersebut.
"Buat istri saya." Jawab Aldi dengan sedikit ragu.
"Oh, masih muda udah nikah ternyata. Saya kira masih sma, masnya awet muda ya." Balas penjual tersebut sembari memberikan dua bungkus permen kapas kepada Aldi.
Aldi hanya tersenyum sembari mengangguk membalas penjual tersebut. "Gue emang masih SMA.." gumam Aldi dengan suara yang sangat pelan.
Aldi menerima kedua gula kapas tersebut dan kemudian menunggu gula kapas yang ketiga sedang digiling.
Istri ya, Meira emang istri gue sih.. batin Aldi tersenyum sinis mengingat dirinya yang tadi menjawab penjual tersebut.
"Ini mas, dua belas ribu ya." Ujar penjual tersebut memberikan permen kapas bewarna hijau kepada Aldi.
Aldi membuka dompet dan kemudian mengambil selembar uang bewarna ungu dan juga abu-abu. "Makasih pak." Ucap Aldi memberikan uang tersebut seraya menerima permen kapasnya.
Aldi langsung berbalik dan kemudian berjalan menuju mobilnya menghampiri Meira.
Mata Meira berbinar-binar melihat Aldi yang memasuki mobil sembari memegang tiga buah permen kapas ditangannya. "Wow, makasih !" Seru Meira yang langsung merebut sebuah permen kapas bewarna pink dari tangan Aldi.
"Ngidam ?" Tanya Aldi menaikkan satu alisnya meminta jawaban kepada Meira.
Meira mengangguk dengan cepat menjawabnya.
Melihat Meira yang makan permen kapas tersebut dengan begitu lahap dan cepat, Aldi tersenyum hangat serta merasa senang melihatnya. "Imut.." gumam Aldi dengan suara pelan.
"Ngomong apa barusan?" Tanya Meira yang mendengar Aldi bergumam barusan walau samar-samar baginya.
"Nggak ngomong apa-apa." Elak Aldi mengalihkan pandangannya dari Meira.
"Oh."
"Kamu sanggup ngehabisin tiga gula kapas ini sendirian ?" Tanya Aldi mengerutkan keningnya menatap Meira tidak yakin.
Meira tersenyum smirk, "satu buat lo, yang warna biru." Jawab Meira tersenyum jahil. "Oh ya, lo harus makan permen kapasnya !" Pekik Meira menatap intens Aldi.
To be continued
__ADS_1
Jangan lupa buat vote !