ALMEIRA'S SECRET

ALMEIRA'S SECRET
04


__ADS_3

Meira tengah berlari begitu cepat menuju gerbang sekolahnya, hari ini dia bangun kesiangan karena kemarin dia tidak bisa tidur karena begitu senangnya sudah menceritakan semuanya pada teman-temannya.


Meira berhenti di depan gerbang yang sudah ditutup dengan ekspresi wajah kecewa, dirinya sudah berlari sekencang ini dari halte bus ke sekolah masih saja terlambat.  Dari halte bus ke sekolah membutuhkan waktu kisaran 3 menit jika berlari, tetapi jika berjalan membutuhkan waktu 5 menit.


Nafas Meira tersengal-sengal, dia pun kemudian berjalan menuju tembok yang biasanya digunakan untuk memanjat oleh para siswa dan siswi. Tembok itu berada di belakang sekolah dan tempat itu sangat sepi, kecuali jika banyak siswa yang ingin bolos ataupun siswa yang ingin masuk ke sekolah tapi terlambat sudah.


"Ukh, perut gue keram.." lirih Meira memegangi perutnya yang terasa sakit beberapa detik setelah berlari itu.


"Maafin aku, tadi aku keburu telat, jadi lari kayak gini bikin kamu capek kah ?" Tanya Meira dengan suara pelan mengelus perut datarnya dengan lembut.


Meira pun tersenyum tipis dan kemudian akhirnya dia sampai di belakang sekolah, Meira menatap tembok itu intens, dan kemudian menghela nafasnya singkat.


Meira melihat sekitarnya dan kemudian dia melihat sebuah tangga kayu yang sepertinya biasa digunakan oleh murid-murid yang datang terlambat. Meira tersenyum senang dan kemudian mengangkat tangga itu kedekat tembok yang baginya cukup tinggi itu.


Meira pun menaiki tangga itu dan kemudian tanpa Meira tau, tangga itu bergoyang dan hampir jatuh kerena ada sebuah batu dibawahnya.


Meira menutup matanya dan memegang perutnya dengan erat. "Bayiku !" Teriak Meira pelan ketika akan jatuh.


Seseorang menangkap tubuh Meira, perlahan Meira membuka matanya dan melihat siapa yang sudah menangkapnya yang hampir saja jatuh ke tanah.


"Bayi?" Tanya Aldi menaikkan satu alisnya.


Meira terbelalak kaget melihat cowok yang menangkapnya itu, ternyata cowok itu adalah Aldi. Meira pikir Aldi sudah mendengar teriakannya, Aldi lebih muda ketimbang dirinya, Meira rasa Aldi tidak akan menerima kehadiran bayi didalam perutnya ini hingga mungkin saja Aldi akan memintanya melakukan aborsi.


"Lepasin !" Titah Meira kesal pada Aldi.


Aldi pun melepaskan Meira dan menurunkannya dengan hati-hati. Meira ingin langsung pergi meninggalkan Aldi, tetapi Aldi telah menggenggam tangannya dengan erat.


"Bayi apa ?" Tanya Aldi sekali lagi dengan serius.


"Apaan sih ? Bayi apa coba ?" Tanya Meira berpura-pura tidak mengerti apa yang Aldi bicarakan.


Aldi menghela nafasnya singkat dan kemudian menarik Meira dengan cepat menuju mobil hitam miliknya yang terparkir di parkiran kafe depan sekolah.


Meira berusaha melepaskan cekalan Aldi, tetapi sayang Aldi mencekal ya begitu erat.


"Sakit !" Keluh Meira meminta tangannya dilepaskan.


Aldi tidak menggubrisnya dan langsung memasukkan Meira ke dalam mobilnya.


Aldi menutup pintu mobilnya dan beralih duduk di bangku supir.


Aldi menginjak gas dengan cepat. Wajahnya tampak sangat kesal entah apa alasannya.


Meira memasang selt beat karena Aldi mengendarai mobilnya begitu cepat seperti kebut-kebutan. Raut wajah Meira memucat seketika, keringat dingin bercucuran didahinya.


"Lo mau bawa gue kemana ?!" Sentak Meira menoleh pada Aldi.


"Rumah sakit." Jawab Aldi singkat.


"Bu-buat apa ?" Tanya Meira ragu, Meira pikir Aldi akan membawanya kerumah sakit untuk menggugurkan kandungannya itu.


"Bayi." Jawab Aldi singkat dengan wajah dingin.


"Bayi gue kenapa ?! Lo mau nyuruh gue aborsi ?!" Pekik Meira membulatkan matanya panik.


Aldi langsung menepikan mobilnya dipinggir jalan, Aldi menghela nafasnya panjang dan kemudian mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Bayi gue kan yang ada diperut lo ?!" Sentak Aldi bertanya sembari melototkan matanya pada Meira.


"Lo nggak perlu tau !" Jawab Meira ketus mengalihkan pandangannya.


"Gue harus tau !" Ujar Aldi menyentak Meira.


Air mata Meira tanpa ia sadari menetes dan membasahi mukanya. "Ngomong nggak pake bentak-bentak nggak bisa apa ?!" Sentak Meira ketus menutupi wajahnya yang nampak sembab. Mungkin efek hormon ibu hamil yang berubah, jadi dia mudah sekali menangis.


"Ma-maaf."


"Gue nikahin lo." Ucap Aldi dengan serius menatap wajah Meira.


"Nggak !" Jawab Meira tegas menolak Aldi. Meira membuka telapak tangannya dan menatao Aldi dengan serius.


"Lo baru kelas 11, sedangkan gue beberapa bulan lagi udah lulus. Pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa diucapkan dan dilakukan dengan mudah !" Ucap Meira menatap tajam mata Aldi.


"Lagian ini juga bukan bayi lo kok." Ucap Meira santai dengan tatapan kosong menatap Aldi. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri yang telah berkata seperti itu, bagaimana mungkin bayi ini bukan milik Aldi ? Meira hanya pernah melakukan hal itu hanya dengan Aldi seorang saja, tidak pernah dengan yang lain.


"Berapa usia kandungan lo?" Tanya Aldi mencoba berbicara dengan santai dan tenang.


Meira memutar bola matanya, ia bingung harus menjawab bagaimana, pasalnya dia sendiri belum periksa ke dokter kandungan, jadi dia tidak tahu berapa usia kandungannya.


"Tiga bulan." Jawab Meira ngawur.


Aldi tersenyum miring, "bohong, kita ngelakuin itu  sembilan minggu kurang  tiga hari yang lalu. Gimana bisa usia janin lo udah tiga bulan aja ?"  Ucap Aldi mendekatkan dirinya pada Meira.


Meira memundurkan dirinya berusaha menjauh dari Aldi. "Lo bu-bukan yang pertama."  Ujar Meira mengalihkan pandangannya tak berani menatap Aldi.


Gimana bisa lo bukan yang pertama ?! Lo itu yang pertama dan terakhir buat gue ! Batin Meira kesal merutuki ucapannya sendiri.


"Jadi lo ***** ?" Dengan lemas dan santai Aldi menanyakan itu pada Meira.


Bugh-


Meira langsung menaikkan kakinya dan menendang perut Aldi dengan kencang. "Anjing lo !" Umpat Meira yang sangat marah dengan perkataan Aldi sebelumnya.


"Lo punya kebiasaan mukul sama nendang orang ? Cewek lain biasanya nampar, ini lo malah nendang sama nge bogem gue mulu." Ungkap Aldi merintih kesakitan.

__ADS_1


"Berisik !" Kesal Meira melipat kedua tangannya.


"Itu adalah kali pertama dan terakhir lo kan ? Ikut gue ke dokter, kita periksa janin lo." Ucap Aldi meninggikan suaranya dengan nada memerintah.


"Siapa yang bayar ?" Tanya Meira dengan wajah merona karena malu menanyakan hal itu. Pasalnya Meira hari ini hanya membawa uang tunai sepuluh ribu saja, jadi dia tidak mau jika nanti tiba-tiba disuruh membayar tagihan pemeriksaan.


"Gue." Jawab Aldi tersenyum smirk.


Aldi langsung menginjak gas nya dan mengemudikan mobilnya dengan perlahan, beberapa kali Meira mencuri pandang pada Aldi, tetapi Aldi tidak menyadarinya.


Jantung Meira berdegup cepat tidak karuan, pikirannya sangat kacau dan bingung saat ini. Apa yang harus ia lakukan nanti saat pemeriksaan ?


"Bi-bisa tolong pinjemin gue jaket ?" Pinta Meira ragu pada Aldi.


"Buat apa ?" Tanya Aldi yang masih fokus menyetir mobilnya.


"Gue sekarang paket seragam sekolah, kalo ntar ke dokter kandungan pake seragam ntar dighibahin, terus kali aja bakal ada yang ngenalin gue terus ngelapor kesekolah." Jelas Meira ragu sembari menatap Aldi yang sedang fokus itu.


"Gue ada jaket di belakang, lo ambil aja." Ucap Aldi ketus.


"O-oke.." balas Meira menundukkan kepalanya.


"Hmm"


Meira pun kembali duduk manis, ia berencana untuk mengambil jaketnya nanti saja ketika mobil Aldi sudah berhenti.


Selang beberapa menit, akhirnya Aldi dan Meira sudah sampai di rumah sakit umum. Meira beralih kebelakang dan mengambil jaket hitam Aldi. Meira pun langsung memakai jaket itu dan kemudian mengancingkan nya dengan rapi.


"Udah selesai ?" Tanya Aldi menoleh ke belakang melihat Meira.


Meira hanya mengangguk membalasnya.


"Lo nggak malu?" Tanya Meira penasaran.


"Malu ? nggak, gue nggak malu." Jawab Aldi dengan wajah datar.


"O-oh" balas Meira.


Aldi sudah menggunakan jaket sedari tadi, ia memang sudah terbiasa untuk menggunakan jaket sebelum berangkat sekolah dan kemudian melepaskannya ketika bel masuk kelas sudah berbunyi.


"Gu-gue malu." Ungkap Meira menarik lengan jaket Aldi.


Aldi menghela nafasnya singkat dan kemudian menggandeng tangan Meira sembari tersenyum hangat pada Meira.


"Ada gue, lo nggak perlu malu ataupun takut." Ujar Aldi meyakinkan Meira.


Meira pun tersenyum pahit, lalu berjalan mengikuti Aldi masuk kedalam rumah sakit.


Aldi sudah mendaftarkan nama Meira dan kini hanya tinggal menunggu nama Meira dipanggil saja. Suasana nampak sangat canggung, Meira duduk berjauhan dari Aldi, dia tidak ingin duduk begitu dekat bersama seorang cowok yang sudah membuatnya seperti ini.


"Wa-waktu itu lo yang dikasih obat, gue mabuk.. jadi kita berdua sama-sama salah ?" Ungkap Aldi dengan telinga yang amat merah karena malu. Aldi menggaruk tengkuk lehernya tak gatal, baginya sangat canggung sekali, dia juga bingung harus berkata apa pada Meira.


"Laki-laki yang ngejar lo yang ngasih obat ?" Tanya Aldi tak berani menatap Meira.


"Hmm" jawab Meira singkat.


"Kenapa lo dikejar sama mereka ?" Tanya Aldi penasaran.


"Karena gue cantik." Jawab Meira dengan santai dan dengan wajah datar.


Aldi hanya diam tidak bisa berkata-kata mendengar jawaban Meira. Ya walau memang apa yang Meira katakan itu benar, Meira adalah seorang gadis yang sangat cantik dan rupawan.


Suasana canggung kembali mendatangi mereka, Aldi berharap jika nama Meira cepat dipanggil agar mereka tidak merasakan suasana canggung seperti ini lagi.


"Ibu Meira." Panggil suster.


Deg-


Jantung Aldi dan Meira langsung berdegup begitu cepat, mereka menatap satu sama lain dan kemudian menelan salivanya. Meira beranjak dari duduknya lalu berjalan dengan pelan karena takut dan gugup.


Aldi yang melihatnya pun juga ikut beranjak dan langsung berjalan cepat sembari menggandeng Meira menuju ruangan yang bertuliskan dokter kandungan itu.


"Dengan ibu Meira ?" Tanya dokter itu tersenyumlah ramah.


"I-iya." Jawab Meira beralih duduk di kursi yang ada dihadapan dokter itu.


"Sudah berapa usia kandungannya Bu ?" Tanya dokter itu menatap wajah mungil Meira.


Meira beralih menatap Aldi yang ada dibelakangnya, Aldi hanya menggeleng tak tau menyadari tatapan Meira yang meminta jawaban padanya.


"Belum tau dok.." jawab Meira.


"Sudah pernah diperiksa menggunakan testpack Bu ?" Lanjut dokter itu kembali bertanya dengan ramah pada Meira.


"Su-sudah, sepuluh testpack hasilnya positif semua." Jawab Meira gugup.


"Baiklah, silahkan berbaring terlebih dulu, biar saya periksa." Ujar dokter itu bangkit dari duduknya.


Meira pun mengangguk dan kemudian berjalan lalu berbaring dengan tenang.


Dokter mulai mengoleskan gel konduktif keseluruh area permukaan perut yang sedang diperiksa, kemudian dokter itu stik yang bernama transducer dengan maju mundur secara lembut dan perlahan di area permukaan tertentu untuk menangkap gambar organ-organ didalamnya.


"Kelihatan ?" Tanya dokter itu tersenyum ramah.


Meira melirik dan melihatnya. Sebuah kantung kecil sebesar kacang diperutnya. Meira terdiam sejenak melihatnya, jantungnya berdegup cepat melihatnya, air matanya menetes dibuatnya. Sebuah nyawa kecil kini benar-benar ada didalam perutnya.

__ADS_1


Aldi yang sedari tadi memperhatikannya, jantungnya juga berdegup begitu cepat, perasaannya campur aduk  tak karuan saat ini, entah itu senang, sedih, marah ataupun haru.


"Usia kandungan ibu kini sembilan minggu." Ungkap dokter itu pada Meira sembari menatap Aldi yang sedari tadi hanya diam membeku di dekatnya.


"Tolong dijaga dan dirawat dengan baik istrinya, usia kehamilan yang masih awal ini sangat rentan, saya akan memberikan vitamin untuk memperkuat janin." Ujar dokter itu pada Aldi.


"Makasih dok." Ucap Aldi tersenyum tipis.


"Gue bukan istri lo !" Ucap Meira dengan pelan. Meira beralih kembali duduk di kursi yang ada di hadapan dokter.


"Gue juga nggak bilang kalo lo istri gue." Balas Aldi dengan nada meledek pada Meira.


"Cih!" Kesal Meira.


Aldi sudah membayar tagihan rumah sakit, dia dan Meira saat ini sedang berada di sebuah restoran Jepang karena Meira tiba-tiba ingin memakan takoyaki.


Meira memesan dua porsi takoyaki gurita dan satu porsi sushi, dia memakan semuanya dengan lahap. Aldi hanya memerhatikan Meira dari sampingnya dengan sedikit heran saja.


"Apa liat-liat?" Ketus Meira yang tidak suka Aldi menatapnya begitu lekat.


"Nggak, lanjutin aja makannya." Jawab Aldi dengan wajah datar.


Meira pun hanya tersenyum sinis dan kemudian melanjutkan makannya dengan nikmat.


"Gue bakal tanggung jawab" ucap Aldi serius pada Meira.


"Uhuk-" Meira tersedak, spontan Aldi langsung mengambilkan air putih yang ada didepannya pada Meira.


"Kalo makan jan cepet-cepet, dikunyah yang bener." Ujar Aldi memberikan gelas air putih itu pada Meira.


Meira pun meminum air putih itu dan kemudian beralih melihat Aldi dengan serius.


"Nggak perlu." Ucap Meira santai membalas Aldi.


"Perlu !"


"Nggak, gue nggak perlu !"


"Tapi anak gue perlu !" Pekik Aldi mengernyit.


Meira dibuat diam oleh Aldi, Meira tidak ingin melanjutkan percakapan ini dan kemudian menghabiskan makanannya dengan cepat. Selesai menghabiskan makanannya, Meira melepas jaket Aldi dan kemudian memberikan jaket itu pada Aldi dengan kasar.


"Gue pergi dulu." Ucap Meira meraih tas ransel miliknya yang ada di depan kursinya.


Meira berjalan cepat, Aldi langsung beranjak dan membayar tagihan makanan dengan tergesa-gesa, selesai membayar Aldi langsung berlari menyusul Meira.


Tampak Meira sedang berdiri di trotoar sedang menunggu taksi ataupun angkutan umum.


"Gue anter." Sahut Aldi meraih lengan kiri Meira.


"Berapa total semuanya ?" Tanya Meira menaikkan satu alisnya dengan ketus.


"Total ?"


"Nanti gue transfer ke akun lo."


"Gue keluarin uang buat anak gue, bukan buat lo." Jelas Aldi tersenyum miring.


"Oh, kalo gitu lepasin. Gue nggak utang apa-apa sama lo kan ?" Ucap Meira menatap tajam Aldi sembari mencoba melepaskan genggaman Aldi.


"Gue anterin lo pulang, siapa yang tau ntar lo kenapa-kenapa terus anak gue ikut kenapa-kenapa." Balas Aldi.


"Lo dari tadi terus bilang anak, anak, anak terus, risih gue dengernya !" Keluh Meira dengan raut wajah kesal menatap Aldi.


"Emang anak gue kan ?" Tanya Aldi dengan polosnya.


Meira memutar bola matanya malas. "Apa yang lo mau ?!" Tanya Meira meminta jawaban.


"Gue mau tanggungjawab."


"Nggak usah, gue nggak butuh !" Pekik Meira geram.


"Anak gue butuh." Balas Aldi.


"Nggak, dia cuma butuh gue !" Jelas Meira mengalihkan pandangannya.


"Lo tau darimana ?"


"Tau aja, kalo dia nggak butuh gue berarti bukan gue yang ngandung ataupun ngelahirin dia." Jelas Meira nyolot.


"Males gue debat sama lo." Ucap Meira melipat kedua tangannya yang sudah Aldi lepaskan.


"Siapa juga yang mau debat sama lo ? Emang kita di persidangan?!" Tanya Aldi santai pada Meira.


Meira tersenyum pahit mendenganya. "Persidangan ? nanti kalo lo tanggung jawab terus nikahin gue, endingnya juga di persidangan." Kata Meira  ketus pada Aldi.


Aldi terdiam dibuatnya, Meira tersenyum miring melihat Aldi yang terdiam membeku dibuatnya.


Diem ? Dia mau tanggung jawab itu cuma keputusan sesaat, nanti kalo udah seminggu, sebulan, sampe setahun hidup bareng mulu, entar juga bosen. Batin Meira dengan sedikit rasa kecewa didalam hatinya.


"Pernikahan itu janji antara dua pihak, gue juga nggak bakal maksa lo kok. Tapi bagi gue, menikah cukup sekali seumur hidup." Ujar Aldi tersenyum pahit.


"Hubungan dan perasaan itu harus diperjuangin, bukan dipaksain" lanjut Aldi menatap lembut wajah Meira dengan ekspresi datar.


To be continued.

__ADS_1


Silahkan ketikkan saran dan kritikannya T_T semoga kalian suka story' aku ini..


Ig : @xiaona.89


__ADS_2