
Happy reading guys .
Satu sampai dua bulan telah berlalu sejak kejadian buruk itu. Meira sudah berusaha untuk menjalani hari-harinya seperti biasanya.
Bersama dengan kedua sahabatnya yang selalu ada di sampingnya telah membuat Meira hampir melupakan kejadian dan kenangan buruk itu.
Hingga, Meira menyadari bahwa dia sama sekali belum datang bulan akhir-akhir ini. Dia juga beberapa kali merasa mual dan mudah letih. Jantung Meira berdegup begitu cepat karena gugup dan takut memikirkannya.
"Jangan-jangan gue hamil.." gumam Meira dengan wajah pucat menatap wajahnya sendiri di cermin toilet sekolah.
"Nggak mungkin, itu cuma sekali.. gue cuma masuk angin aja.." gumam Meira meyakinkan dirinya.
Meira ingin memastikan hal itu dengan testpack, tetapi ia tidak berani dan tidak ingin melihat hasilnya nanti. Ia sungguh takut jika hasilnya positif nanti.
"Gue nggak mungkin hamil anak cowok yang bahkan gue nggak tau namanya.." gumam Meira tersenyum pahit mengingat kembali kejadian malam itu.
Beberapa Minggu sebelumnya..
Suara musik yang begitu bising bagi Meira. Sungguh malas sekali dia datang ke club, ini adalah pertama kalinya bagi Meira menginjakkan kakinya masuk kedalam club' yang penuh dengan maksiat.
Meira celingak-celinguk mencari seseorang yang mengundangnya datang kemari, tetapi nihil. Meira sama sekali tidak melihat seseorang yang mengundangnya untuk datang ke club.
Selang beberapa menit, Meira termenung dan duduk sendirian pojokan. Tibalah beberapa cowok menghampiri Meira, cowok itu mencoba untuk menggoda dan memberi Meira sebuah minuman.
"Halo" Sapa cowok itu tersenyum ramah pada Meira.
Meira mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang sedang menyapanya itu. Meira tersenyum tipis dan kemudian membalas sapaan cowok itu. "Hai." Balas Meira.
"You are alone ?" Tanya cowok itu duduk disamping Meira.
"Yeah." Jawab Meira menatap cowok itu.
"Mau minum ? Ini hanya segelas lemon tea." Ucap cowok itu memberikan gelas yang ia pegang pada Meira.
Meira hanya mengangguk dan menerima gelas itu dengan patuh, ini adalah pertama kalinya Meira datang ke club atupun bar, dia sama sekali tidak tau dengan apa yang akan terjadi ketika dia meminum minuman yang cowok itu berikan.
"Thanks." Ucap Meira tersenyum tipis pada cowok itu.
Meira pun meminum seperempat isi gelas itu dengan nikmat. Sedangkan cowok yang memberikan minuman itu tersenyum smirk, entah apa yang sedang cowok itu pikirkan.
"Lo cantik" ucap cowok itu mengusap wajah Meira dengan lembut.
Meira merasa tak nyaman akan hal itu dan kemudian menepis tangan cowok itu dengan kasar. "Don't touch me !" Tegas Meira menatap tajam cowok itu.
"Jangan berpura-pura." Bisik cowok itu mendekatkan bibirnya pada telinga Meira.
Meira langsung menghindari cowok mesum itu. Mata Meira menatap tajam cowok itu. Geram rasanya diperlakukan seperti murahan oleh cowok yang bahkan baru pertama kali ia lihat.
__ADS_1
Meira berdiri dan langsung berjalan cepat menuju toilet agar bisa menghindari cowok itu. "Maaf, gue ke toilet dulu." Ucap Meira menyembunyikan wajahnya dari cowok itu.
Meira mencuci wajahnya di wastafel, ia menatap dirinya sejenak di cermin. Make up yang natural, jaket hitam dan celana jeans hitam yang tertutup ia gunakan.
"Panas.." lirih Meira menggaruk tengkuk lehernya.
Meira menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian mencuci mukanya sekali lagi. Ia tersenyum pahit dan kemudian mengatakan sesuatu pada dirinya sendiri. "Kalo sekarang nggak ketemu Leon, gue pasti bakal ketemu sama tuh anak lain kali." Ucap Meira pelan.
Setelah mencuci dan mengelap tangan serta wajahnya, Meira langsung keluar dari toilet. Meira melihat beberapa orang tadi itu sedang mencarinya, jantungnya berdegup begitu cepat karena takut, sontak ia pun langsung berlari dan bersembunyi ke asal tempat.
Meira memasuki sebuah ruangan VVIP milik seorang cowok, cowok itu hanya sendirian menikmati minumannya.
"Siapa ?" Tanya Aldi ketus melihat Meira yang memasuki ruangannya begitu saja.
"Ssst" Meira memohon agar Aldi dapat diam.
Aldi berdiri dan melihat ke luar ruangannya, terdapat beberapa orang yang sangat kasar sibuk mencari Meira.
Aldi tersenyum smirk dan kemudian menatap intens Meira. Wajah Meira tampak sangat panik ketakutan.
"Tolongin gue" pinta Meira menggenggam tangan cowok itu dengan mata berkaca-kaca.
Aldi tersenyum miring dan kemudian menarik lengan Meira menuju sebuah sofa.
Aldi menutupi kepala Meira menggunakan jaket kulit hitam miliknya dan kemudian mencium bibir Meira dengan lembut.
Meira dengan terpaksa menerima ciuman Aldi.
Cowok-cowok itu melihat Meira dan Aldi sedang berciuman, jadi mereka berpikir bahwa Meira tidak ada disini dan kemudian mereka pun keluar dari ruangan Aldi, tak lupa mereka juga menutup pintu ruangan itu.
Aldi melepaskan ciumannya dan kemudian menatap wajah cantik Meira yang nampak sangat merah saat ini.
"Ganteng." Ucap Meira tersenyum melihat cowok itu.
Aldi tersenyum smirk dan menatap lekat wajah Meira. "Cantik." Ucap Aldi mengusap wajah Meira.
Meira tak menepis tangan Aldi, tetapi Meira malah menggenggam tangan Aldi dan membiarkan Adli mengusap wajahnya.
"Lembut." Ucap Aldi tersenyum devil.
Meira membalas ucapan Aldi dengan senyuman lembut. Sesuatu membuat tubuh Meira terasa panas dan membuat hasratnya menjadi-jadi.
Aldi menggendong Meira ala brydal style dan kemudian membawa Meira kedalam kamar VVIP milik sahabatnya yang ada didalam club ini.
Aldi mengecup wajah Meira dan kemudian mencium bibi Meira dengan penuh gairah. Meira yang juga merasakan gairah yang begitu dalam pun membalas ciuman Aldi. Hingga kemudian mereka menghabiskan malam yang begitu panjang bersama-sama.
skip-
__ADS_1
....
Meira menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri dan kemudian membasuh wajahnya yang nampak pucat.
"Overthingking mulu otak gue." Gerutu Meira memukul kepalanya pelan.
Meira pun kemudian berjalan keluar toilet dan kembali menuju kantin, karena ketiga sahabatnya itu sedang menunggunya.
"Ira !" Panggil Vina melambaikan tangannya dari meja tempat ia dan yang lainnya menikmati makanan mereka sambil menunggu Meira.
"Lama amat lo" sahut Safira melirik Meira yang nampak sedikit pucat.
"Sorry, perut gue sakit heheh." Cengir Meira beralih duduk di sebelah Hana yang sedari tadi sibuk menyantap makanannya.
"Lo sih, ngeyel kalo dibilangin." Omel Safira menyentil dahi Meira.
"Hmm, gue kurangin makan pedesnya." Ujar Meira tertawa kecil sembari mengelus dahi nya yang sedikit sakit karena sentilan Safira barusan.
"Makanan lo belum habis." Ucap Hana melihat Meira.
"Gue nggak nafsu makan.." ucap Meira tersenyum kecil. Tadi ia merasa mual ketika memakan sesendok ketoprak miliknya itu. Jadi Meira memutuskan untuk menghentikan makannya saja dan hanya duduk menunggu ketiga sahabatnya yang belum selesai makan itu.
"Bukannya lo biasanya paling demen sama yang namanya ketoprak ?" Tanya Vina heran pada Meira.
"Nggak biasanya lo tiba-tiba nggak nafsu makan kayak gini." Sahut Hana menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Meira dengan sedikit khawatir.
"Akhir-akhir ini lo aneh, sering ke kamar mandi tiba-tiba, terus gampang capek, makan kadang banyak banget, kadang sedikit banget." Imbuh Hana menatap intens Meira.
Meira terdiam seketika, ia fikir kedua sahabatnya itu sama sekali tidak menyadari keanehan yang ada dalam dirinya akhir-akhir ini. Bingung harus menjawab apa atas pertanyaan ketiga sahabatnya ini, Meira pun meneteskan air matanya karena merasa emosional.
"Ma-maaf." Ucap Meira gugup sambil menutup wajahnya.
Vina dan Hana terbelalak kaget melihat Meira yang tiba-tiba saja menangis. Hana dan Vina yang duduk didepan Meira pun beralih duduk di sebelah Meira penuh kecemasan.
"Gue ada salah ngomong ?" Tanya Vina menaikkan kedua alisnya meminta jawaban pada Hana.
Hana pun menggelengkan kepalanya tak tau alasan Meira menangis tiba-tiba.
"Maaf, gue terlalu emosional akhir-akhir ini.." lirih Meira pada ketiga sahabatnya itu dengan masih menutup wajahnya.
"Lo hamil ?" Bisik Hana dengan pelan ditelinga Meira karena takut Vina yang heboh itu akan mendengarnya.
Deg-
Jantung Meira berdegup cepat tak karuan. Pertanyaan itu membuat air matanya menetes semakin deras membasahi wajahnya. Pikiran yang aneh-aneh pun mulai muncul dalam kepalanya.
Apa gue beneran hamil ? Batin Meira bertanya pada dirinya sendiri dengan ragu.
__ADS_1
To be continued
Halo ! gimana episode kali ini ? Semoga kalian suka ya, mohon maaf sekali jika ada salah kata, huruf atau sesuatu yang menyinggung. Cerita ini hanyalah imajinasi dari saya saja, tidak berkaitan dengan dunia nyata.