ALMEIRA'S SECRET

ALMEIRA'S SECRET
14


__ADS_3

Leon Amara (2)


Leon telah tiba di Jakarta bersama dengan sekertarisnya. "Ulya, saya pergi ke kantornya papa saya dulu." Ucap Leon memberitahu sekertarisnya.


"Apakah saya perlu menunggu ?" Tanya Ulya mengangguk pelan.


"Nggak perlu, nanti malem kita ketemu di restoran tempat janji temu sama klien." Jawab Leon.


"Baik." Balas Ulya mengangguk.


Leon datang ke rumah Deon tanpa memberitahunya. Leon melihat rumah mewah yang ada dihadapannya dengan seksama.


Udah lama banget, mungkin terakhir kali gue kesini pas umur gue 24 tahun.. batin Leon mengingat kembali.


Leon melihat satpam yang ada di pos satpam dan kemudian memanggilnya. "Pak-" ternyata Leon sudah lupa dengan nama satpam tersebut, padahal satpam tersebut sudah bekerja di rumah Deon selama 5 tahun.


Pak satpam tersebut menoleh dan kemudian berjalan menghampiri Leon. Satpam itu terlihat gelisah melihat wajah Leon, wajah yang cukup familiar baginya, tetapi lupa dimana ia pernah melihatnya. "Oh mas Leon !" Seru satpam tersebut yang akhirnya telah ingat dengan Leon.


"Tolong bukain." Ucap Leon tersenyum tipis membalas satpam tersebut.


"Sehat mas ? Udah lama banget nggak kesini." Ujar satpam tersebut tersenyum ramah sembari membuka pagar cokelat tinggi.


"Sehat pak." Jawab Leon menganggukkan kepalanya. Setelah pagar dibuka, Leon berjalan dengan cepat memasuki rumah.


Leon menaiki tangga menuju pintu masuk. Membuka pintu masuk, terlihat ibu tiri dan adik tirinya sedang sibuk memainkan ponsel mereka masing-masing.


Leon mengabaikan mereka dan kemudian buru-buru menaiki tangga menuju ruang kerja papanya yang ada di ruangan pojok di atas.


Leon membuka pintu ruang kerja papanya dengan kencang hingga membuat Deon kaget. "Pa !" Sahut Leon dengan suara kencang pada Deon yang terlihat sibuk dengan berkas-berkas yang ada di mejanya.


Deon mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang datang. "Leon ?" Deon terkejut melihat siapa yang datang, putra yang sudah hampir setahun tidak ia temui.


Leon menutup pintu ruangan kerja Deon dan kemudian menguncinya dengan rapat. "Ada hal penting yang harus kita omongin" ujar Leon to the point.


Deon beranjak dari duduknya seraya mengerutkan keningnya, pasalnya putranya ini datang kerumahnya begitu saja, tentunya terdapat hal yang benar-benar penting untuk disampaikannya.


"Disini nggak ada siapa-siapa kan ?" Tanya Leon memastikan seraya celingak-celinguk melihat sekelilingnya.


"Cuma ada papa sama kamu." Jawab Deon berjalan mendekat ke arah Leon.


Leon mengepal kedua tangannya erat dan kemudian menutup matanya sejenak. "Ira hamil." Ucap Leon dengan suara pelan.


"Apa ?!" Deon tak percaya dengan ucapan Leon, berharap bahwa dirinya sedang salah dengar.


"Ira hamil sama Aldi anaknya Yuda Bramasta." Ujar Leon membuka matanya dan kemudian menatap Deon dengan penuh keyakinan.


Raut wajah Deon berubah menjadi penuh emosi seketika. "Yang bener ?!" Tanya Deon memastikan.


"Berengsek !" Umpat Deon kesal menghantam dinding dengan keras.


Terlihat darah segar mengalir di tangan Deon, Leon membuang nafasnya. "Pah, jangan nyakitin diri sendiri." Ucap Leon meraih pundak papanya.


"Ira belum nemuin papa beberapa minggu ini, ternyata ini alasannya." Gumam Deon dengan raut wajah kecewa.


"Tapi Ira nggak punya pacar, apa mungkin dia-?" Deon menggantungkan kata-katanya, ia menutup matanya merasa ragu untuk mengatakannya.


Leon mengangguk menjawab Deon. "Ira ngelakuin itu dibawah pengaruh obat." Ujar Leon memberikan sebuah berkas yang berisi beberapa foto serta kejelasan dari kejadian tersebut.


"Cowok nya ngelakuin itu dalam keadaan sadar?" Tanya Deon menatap Leon dengan serius.


"Dia juga dibawah pengaruh obat, saingan bisnis Yuda Bramasta yang ngasiu obat ke Aldi, tapi Ira.. yang ngasih obat itu cuma sekedar sekelompok bajingan di bar."  Jelas Leon dengan wajah datar.


"Dia mau tanggung jawab ?" Tanya Deon meraih berkas yang Leon berikan.


"Dia mau tanggung jawab, tapi Ira terus nolak dia." Jawab Leon mengalihkan pandangannya dari Deon.


Deon tersenyum pahit mendengarnya. "Salah papa, dulu sering bertengkar sama almarhumah mama kamu di dekat Ira." Ucap Deon membalikkan tubuhnya membelakangi Leon.


"Terus Ira sekarang jadinya takut nikah ?" Celetuk Leon tersenyum sinis. "Dan kebetulan Aldi itu adik kelasnya Ira." Sambung Leon mengingat bibirnya.


"Adik kelas ?"  Tanya Deon.


"Cuma 9 bulan lebih muda" jawab Leon.


"Kita temui orang tuanya Aldi lusa, terus kita omongin masalah Ira sama anak mereka." Tukas Deon menaruh berkas yang Leon berikan di meja.


"Papa nggak mau temuin Ira dulu ?" Tanya Leon mengerutkan keningnya.


"Urusan itu nanti aja." Jawab Deon.


Deon membalikkan badannya "Kamu udah makan ?" Tanya Deon dengan sedikit canggung pada Leon.


Leon tersenyum tipis mendenganya. "Belum." Jawab Leon.


"Mau makan disini ?" Tanya Deon penuh harapan.


"Boleh." Jawab Leon menaikkan satu alisnya.


"Obati dulu tangannya." Ujar Leon menunjuk tangan kanan Deon yang tadi berdarah.


Beberapa hari kemudian, Deon sudah membuat janji dengan Yuda sebelumnya. Deon menyuruh asistennya untuk menghubungi Yuda Bramasta dan membuat janji temu dengannya bersama dengan Soraya Karan.


Deon dan Leon kini berada di ruangan VVIP sebuah restoran sedang menunggu kehadiran Yuda dan Soraya.


Terlihat sepasang suami istri berjalan berdampingan menggunakan pakaian formal memasuki ruangan VVIP tersebut.


"Tuan Amara, selamat siang."  Sapa Yuda Bramasta dengan ramah kepada kedua pria yang sedari tadi sudah menunggunya.


Deon bangkit dari duduknya dan kemudian berjabat tangan dengan Yuda Bramasta sembari tersenyum ramah ala pebisnis. Sedangkan Leon, ia hanya menatap sinis Yuda dan Soraya.


"Silahkan duduk." Ucap Deon mempersilahkan Yuda dan Soraya untuk duduk di hadapannya.


Yuda dan istrinya akhirnya duduk dan kemudian memesan makanan yang ada di menu kepada pelayan. Selesai memesan, Deon dan Leon berencana untuk langsung berbicara ke intinya.


"Ini adalah ketiga kalinya kita bertemu." Ucap Yuda memposisikan duduknya dengan nyaman. "Tidak tahu ada gerangan apakah tuan Deon tiba-tiba mengundang saya dan istri saya untuk datang makan bersama ?" Tanya Yuda menatap intens Deon.


"Saya langsung saja ya, sebenarnya saya mengundang anda dengan nyonya Karan kesini adalah untuk membicarakan masalah anak-anak." Ucap Deon menjelaskan.


Yuda mengerutkan keningnya. "Masalah anak-anak ?" Tanyanya yang tak mengerti apa yang Deon maksud.


"Pah, biar Leon aja yang ambil alih." Sahut Leon tersenyum ramah.


Deon mengangguk membalas Leon.


"Perkenalkan, saya Leon Amara. Pendiri perusahaan O L A." Ucap Leon mengulurkan tangannya kepada Yuda.


Yuda menaikkan satu alisnya seraya tersenyum ramah. "Saya sering mendengarnya, perusahaan kalian ini menyediakan mata-mata, detektif, bodyguard dan juga petarung yang hebat. Saya kagum." Balas Yuda dengan suara merendah menjabat tangan Leon.


"Terimakasih." Ucap Leon tersenyum sinis mendengarnya.


"Silahkan anda membaca isi map ini." Ucap Leon memberikan map yang berisi kejadian tentang Meira dengan Aldi.


"Apa ini ?" Tanya Soraya mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kalian akan mengetahui isinya setelah melihatnya." Jawab Leon tersenyum ramah pada Soraya.


Soraya pun mengangguk dan kemudian meraih map tersebut dan kemudian membukanya. Soraya meraih beberapa lembar kertas yang ada di dalam map tersebut.


"Aldi ?" Ucap Soraya yang merasa terkejut melihat gambar putranya bersama dengan seorang perempuan yang tidak lain adalah Meira.


Yuda beralih melihat gambar yang Soraya pegang. "Ini foto Aldi sama siapa dirumah sakit ?" Tanya Yuda mengerutkan keningnya.


Leon tersenyum sinis mendengar pertanyaan Yuda. "Yang ada di foto itu adalah anak anda dan adik saya." Jawab Leon menatap Yuda tidak suka.


"Ini.. ruang konsultasi kandungan ?" Gumam Soraya melihat gambar tersebut dengan lebih jeli.


"Apa maksudnya ?!" Tanya Yuda dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Apa lagi ? Anak kalian harus bertanggung jawab atas kehamilan adik saya !" Pekik Leon memalingkan wajahnya.


"Oh ya, mereka melakukannya dibawah pengaruh obat. Lalu kalian bisa membaca selembar kertas yang ada ditangan kalian untuk mengetahui beberapa hal lebih lanjut."  Lanjut Leon menjelaskan sembari menunjuk selembar kertas yang Yuda pegang.


"Yah, anak kita beneran-?"


Yuda menggelengkan kepalanya pasrah menjawab istrinya. "Kita tanya ke Aldi dulu." Ucap Yuda.


"Pak Yuda, saya harap anak anda tidak mengecewakan kami." Sahut Deon menatap Yuda dengan serius.


Kemudian terlihat pelayan yang sedang membawa makanan pesanan mereka. Suasana menjadi hening diantara mereka semua, sedangkan Leon sudah beralih dan disibukkan oleh ponselnya.


Yuda yang baru memakan pesanannya sesuap tiba-tiba meletakkan sendok dan garpunya di meja dan kemudian beralih menatap ke arah Deon.  "Berani berbuat maka berani bertanggung jawab." Ucap Yuda kepada Deon setelah mempertimbangkan beberapa hal dalam pikirannya tadi.


"Baik, anda harus menepati kata-kata anda." Balas Deon tersenyum tipis pada Yuda. 


Beberapa hari kemudian, Leon datang berkunjung ke rumah papanya untuk membicarakan beberapa hal tentang Meira lebih lanjut.


Leon duduk dengan tenang di ruang kerja Deon. Ia melirik papanya yang terlihat masih sibuk menandatangani beberapa kertas.


"Apa yang kamu liat ?" Tanya Deon yang menyadari lirikan Leon.


"Liat lukisan." Jawab Leon mengalihkan pandangannya dari Deon.


"Apa yang mau kamu bicarakan ?" Lanjut Deon bertanya.


"Pernikahannya Ira." Jawab Leon.


Deon terdiam mendengarnya, ia langsung meletakkan pena dan kertas-kertas nya. Deon beranjak dari duduknya dan kemudian berjalan menghampiri Leon yang sedang duduk di sofa.


"Kamu udah ngomong ke Ira ?"  Tanya Deon menaikkan satu alisnya.


"Belum, rencananya sih mau kasih kejutan ke dia. Nikahin dia secara dadakan." Ucap Leon mendongakkan kepalanya menatap mata papanya.


"Kenapa ?" Tanya Deon beralih duduk di sebelah Leon.


"Kalo ngasih tau dia duluan, yang ada nanti dia kabur." Jawab Leon.


Deon mengangguk setuju mendengarnya. Leon menyenderkan tubuhnya seraya tersenyum miring memikirkan suatu ide.


"Nanti akad nikah dirumah Leon, terus nanti Ira dateng atau nggak itu kita serahin ke Hana sama Vina !" Seru Leon menatap papanya dengan tatapan penuh harapan.


"Kamu bisa ngurus semuanya ?" Tanya Deon mengerutkan keningnya menatap putranya tak yakin.


"Bisa." Jawab Leon dengan penuh percaya diri.


Leon menghela nafasnya berat. "Ulya, ini mereka beneran bakal ketemuan di kafe ini kan ?" Tanya Leon sembari melepaskan kacamatanya pada sekertarisnya.


"Benar, informasi yang kita dapatkan bisa dipercaya dan dipastikan kebenarannya. Hana dan Vina akan bertemu dengan Aldi pada pukul 16.00" jawab Ulya menjelaskan.


"Sekarang sudah pukul 15.45 saat ini Aldi dan ketiga temannya sedang berkumpul di kafe ini, lebih tepatnya lagi di meja nomor 7." Ucap Ulya menjawab Leon.


"Oke, saya akan masuk ke dalam kafe. Kamu bisa pergi mengurus beberapa pekerjaan yang belum selesai. Saya tidak akan kembali ke kantor cabang hari ini." Ujar Leon berjalan turun dari mobil.


"Oh ya, kamu naik taksi. Nanti saya mau nyetir mobilnya sendiri." Lanjut Leon membalikkan tubuhnya menghadap Ulya.


"Siap." Jawab Ulya tersenyum tipis sembari mengangguk patuh.


"Sampai jumpa besok." Ucap Leon melambaikan tangannya sembari berjalan cepat menuju kafe.


Leon melihat sekelilingnya dan kemudian beralih menatap meja nomor 6 yang sudah penuh. "Gue duduk dimana ya ?" Gumam Leon yang kemudian beralih menatap meja nomor 8 yang ada di belakang meja nomor 7 yang terlihat kosong.


Leon berjalan menuju meja tersebut dan kemudian duduk di atas bangku dengan tenang. Leon meraih buku menu yang ada di atas meja dan kemudian membukanya. "Americano coffee sama waffle cokelat." Gumam Leon menatap buku menu tersebut.


"Orang tua gue nggak tau kenapa bisa tau tentang masalah gue sama Meira." Ucap Aldi dengan suara gelisah pada ketiga sahabatnya. Ucapannya itu didengar oleh Leon yang duduk di belakangnya.


Leon tersenyum smirk mendengarnya. Itu gue yang ngasih tau.  Batin Leon yang merasa cukup senang mendengarnya.


"Woah, jangan-jangan om Yuda ngirim mata-mata buat ngawasin lo ?!" Celetuk Yudis dengan sembarangan.


"Mana ada ?!" Sontak Aldi tidak percaya mendenganya.


"Mungkin aja tante Karan yang nemu informasi tentang masalah lo sama kak Meira." Sahut Fadli berbicara.b


"Nggak, orang tua gue bukan orang yang bakal ngawasin anaknya sampe kayak gitu." Balas Aldi.


"Yaudah, terserah lo." Ucap Fadli dan Yudis bersamaan.


"Karena ayah sama bunda udah tau, mereka nyuruh gue ajak Meira ke rumah."  Ucap Aldi dengan wajah murung.


"Terus ?"


"Ya kemarin gue nggak ngasih tau Meira kalo gue mau ngajak dia ke rumah, akhirnya dia kesel sama gue." Ucap Aldi memberitahu ketiga sahabatnya.


Wajar dia kesel sama lo. Batin Leon dengan perasaan kesal.


Selang beberapa menit, Leon melihat ke arah pintu kafe yang baru saja dibuka seseorang. Leon tersenyum senang melihat siapa yang datang, terlihat Hana dan Vina yang berpenampilan keren di matanya.


Leon merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. "Gue ada dibelakang lo." Gumam Leon sembari mengetikkan pesan kepada Hana.


"Hai !" Ucap Leon tersenyum ramah kepada Hana.


"Gue bakal dengerin dan liat dari sini, kalian urus diawalnya aja, gue yang urus diakhir." Ujar Leon dengan suara pelan pada Hana.


Sesaat setelah Leon bosan mendengar percakapan Hana, Vina, Aldi dan Dava. Leon beranjak dari duduknya dan kemudian membayar tagihan makanannya dan juga tagihan meja nomor 7 dikasir, selesai membayar, Leon langsung keluar dari kafe dan kembali ke mobil sport miliknya.


Leon meraih ponselnya dan kemudian mengirim sebuah pesan kepada Hana. "Gue tunggu di mobil." Ucap Leon sembari mengetikkan pesan kepada Hana.


Selang beberapa menit, akhirnya terlihat Hana dan Vina yang sudah keluar dari kafe dimata Leon, Leon merasa cukup senang ketika melihat Hana dan Vina yang sedang berjalan menghampirinya.


Leon mendapati Hana dan Vina yang sudah berada di dalam mobilnya.


"Bang Leon !" seru Vina kegirangan sendiri melihat sosok yang ada didepannya.


"Udah lama ya."  ucap Leon.


"Nggak asik ah, muncul tiba-tiba gini. Padahal biasanya Meira kena masalah juga nggak sampe segininya." Celetuk Vina memasang ekspresi ngambek pada Leon.


"Masalah kali ini beda sama biasanya." Balas Leon tersenyum pahit menatap Vina dari kaca.

__ADS_1


"Masalah kali ini, nggak bisa diselesaikan dengan kekerasan ataupun pembicaraan singkat." Sahut Hana pada Leon dengan tatapan sinis.


"Dia, yang udah nyakitin Meira sampe segininya." Ujar Leon menundukkan kepalanya, tak bisa menatap Vina dan Hana.


"Dia ?" tanya Hana dan Vina bersamaan. Mereka berdua tidak mengerti siapa 'dia' yang Leon maksud.


"Ya, Shaka Putra Raditya." Jawab Leon membuang nafasnya lega.


"Cowok berengsek yang udah nipu Ira itu ?!" Sahut Vina dengan perasaan kesal dan terkejut.


"Dia yang ngasih Ira obat ?!" Sambung Hana menatap Leon meminta jawaban.


Leon menggelengkan kepalanya menjawab Hana. "Bukan dia, tetapi dia yang udah minta Ira buat dateng ke bar sambil bawa-bawa nama gue." Ucap Leon menjawab Hana.


"Persetan tuh orang !" Umpat Vina geram.


"Udah lama nggak ada kabar, sekarang Shaka muncul tiba-tiba gini.." lirih Hana mengingat kembali siapa Shaka itu.


"Tapi bang Leon juga udah lama nggak ada kabar, sekarang tiba-tiba muncul di depan kita." Sahut Vina dengan tatapan datar.


"Maaf, gue punya hadiah permintaan maaf buat kalian. Tapi ambil hadiahnya nanti aja, gue mau omongin masalah yang lebih penting dulu."  Ucap Leon menatap Hana dan Vina secara bergantian.


"Tentang Ira sama Aldi ?" Tanya Hana.


"Hmm, papa juga udah tau masalahnya Aldi sama Ira." Balas Leon mengangguk iya menjawab Hana.


Vina dan Hana membulatkan matanya terkejut. "Terus kenapa om Deon nggak datengin Ira ?!" Tanya Vina dengan ekspresi wajah kesal.


"Gimana reaksi om Deon ?" Tanya Hana meminta jawaban kepada Leon.


"Entahlah, gue nggak tau kenapa papa nggak ketemu sama Ira. Tapi gue tau kalo besok Ira bakalan jadi istri sah Aldi." Ujar Leon tersenyum miring sembari menatap Hana dan Vina secara bergantian.


Hana dan Vina terbelalak kaget mendengarnya. "Omaygat !!!" Seru Vina dengan suara histeris.


"Seriusan !" Pekik Hana menatap tajam Leon.


"Serius, tetapi Aldi sama Ira belum tau tentang hal ini."  Ucap Leon membalas Hana. "Dan gue sama papa udah nemuin kedua orangtuanya Aldi, setelah kami bertemu sebanyak dua kali, kami memutuskan untuk menikahkan Ira dengan Aldi dirumah gue besok." Sambung Leon menjelaskan.


"Ira nggak bakal setuju." Gumam Vina.


"Karena gue tau Ira nggak bakal setuju, makannya gue ngomong ini sama kalian, bukan sama Ira." Ucap Leon membalas Vina.


"Misi kalian sekarang ini adalah buat bujuk atau bawa Ira kerumah gue sehabis pulang sekolah." Ujar Leon dengan wajah serius kepada Hana dan Vina.


"Gimana cara kita ngomongnya ?" Tanya Vina mengerutkan keningnya bingung.


"Itu terserah kalian, asal kalian nggak nyakitin Ira." Jawab Leon tersenyum ramah.  "Oke, gue anterin kalian pulang kerumah." Sambung Leon menaikkan satu alisnya.


Leon pov (◕ᴗ◕✿)


Saat ini pikiran dan perasaan ku sangat kacau. Aku bingung harus melakukan dan mengatakan apa. Hari ini Ira akan menikah dengan seorang cowok yang bahkan baru dikenalnya selama beberapa minggu.


Aku sungguh bingung apakah keputusan ku untuk menikahkan Ira itu adalah sebuah keputusan yang benar.


Aldi sedang berjalan mengikuti ku dari belakang. Pikiranku sangat kacau, ingin sekali aku memukuli Aldi hingga babak belur.


"Lo masuk, kita ngobrol bentar" ucapku dengan ketus kepada calon adik ipar ku.


Dia hanya patuh dan kemudian memasuki ruang kerja ku dengan tenang. Aku menutup pintu dan tidak lupa aku juga mengunci pintunya agar tidak ada orang ketiga yang mendengar percakapan ku dengannya nanti.


"Ceritain semua yang lo tau tentang Ira." Ucapku menatapnya sinis.


Aldi membuka mulutnya dengan perlahan dan kemudian membalas tatapan ku dengan serius. "Ngomongnya informal boleh kan ?" Tanyanya menaikkan satu alisnya.


"Senyaman lo." Jawabku seraya melipat kedua tanganku.


"Meira, dia umur 17 tahun. Primadona sekolah yang terkenal akan kemampuan dan kecantikannya. Dia suka makan kripik kentang, terus dia suka rasa cokelat. Keinginannya adalah hubungan harmonis. Meira tinggal sendirian nggak tau sejak kapan, terus dia orangnya rapi banget. Gue tau beberapa hal itu." Ucap Aldi menopang dagunya menggunakan satu tangan kanannya.


Aku tersenyum sinis mendengarnya, rasanya cukup senang mengetahuinya jika dirinya sudah cukup mengenal Ira dalam waktu sesingkat ini. "Oke, cukup bagus." Ucapku sembari melemparkan sebuah map hitam kepadanya.


Aldi menangkap map yang aku berikan dan kemudian menatapku seolah meminta jawaban dariku. "Disitu ada informasi tentang Ira yang perlu lo ketahui." Sahutku menunjuk tepat ke arah map hitam yang sedang Aldi pegang.


"Makasih." Balas Aldi.


Aldi terlihat cukup bingung. "Jangan pernah bikin Ira kecewa ataupun sedih." Ucapku seraya menepuk pundak Aldi dengan berat hati." Sejujurnya gue pengen banget mukulin lo, tapi gue nggak boleh ngelakuin itu."  Ucapku menatap Aldi dengan sinis.


Aldi mendongakkan kepalanya, ia hanya diam saja tidak membalasku. Aku menghela nafas berat dan kemudian menyuruhnya keluar dari ruang kerja ku menuju sebuah kamar yang berada di ujung koridor.


Dengan patuh Aldi berjalan keluar dari ruang kerja ku dan kemudian merapikan serta membersihkan dirinya di kamar tersebut.


To be continued


Shaka ? Siapa dia ?


see you in the next episode!


Bonus !



LEON AMARA


Biasa dipanggil Leon


Umur : 27 tahun


Ultah  : 5 Desember


Hobi : Bermain game



CLARISSA HANA


Biasa dipanggil Hana


Umur: 18 tahun


Ultah : 30 Desember


Hobi : Menari



DARA AVINA LAURA


Biasa dipanggil Vina


Umur : 18 tahun


Ultah : 3 Januari


Hobi : Membaca buku

__ADS_1


Note : mereka hanyalah visual imajinasi saya, mungkin kalian memiliki visual imajinasi sendiri ;)


__ADS_2