
HAPPY READING HAPPY GUYS 🐼❇️
Sore harinya, pulang sekolah. Aldi dan kawan-kawannya kini sedang berkumpul di sebuah kafe yang biasa mereka kunjungi.
Aldi duduk dengan tenang di sebelah Dava, berbeda dengan Fadli dan Yudis yang sedari tadi mengoceh dan panik sendiri ketika mendengar cerita Aldi.
"Orang nggak mau lo ajak nikah tiba-tiba aja lo bawa ke rumah lo buat ketemu orang tua lo, ya jelas marah lah orangnya !" Oceh Fadli menggelengkan kepalanya terheran-heran dengan sikap sahabatnya.
"Lo nggak boleh mikirin diri lo sendiri, yang ngandung sama yang ngelahirin itu kak Meira, bukan lo. Jadi pendapat kak Meira itu jauh lebih penting !" Ujar Yudis yang kini merasa kesal dengan Aldi.
"Wajar sih Meira bilang kayak gitu." Sahut Dava ikut berbicara.
Aldi melipat kedua tangannya dan kemudian menatap Fadli, Yudis dan Dava bergantian. "Kok gue jadi serba salah disini ?" Tanya Aldi tak terima mendengar ocehan sahabat-sahabat nya itu.
"Karena cewek yang selalu benar dan cowok yang selalu salah." Sahut seseorang yang tiba-tiba saja datang menghampiri meja Aldi dan kawan-kawannya.
Aldi, Fadli, Yudis dan Dava menoleh ke arah sumber suara itu. Tampak dua cewek dengan kuncir kuda di mata mereka.
Fadli terbelalak kaget melihatnya, tentu ia mengenal siapa cewek yang tiba-tiba menyahut mereka.
"Kak Hana, kak Vina.." gumam Fadli menatapi Hana dan Vina yang tiba-tiba saja muncul entah darimana.
Hana menatap tajam Aldi yang sedang duduk di pojok itu. Ingin sekali ia memukuli Aldi yang sudah membuat Meira merasa tersakiti. "Bajingan." Umpat Hana kesal merutuki Aldi.
Aldi mengingat siapa yang menamparnya waktu itu, itu adalah Hana. Saat itu Hana menampar dan juga mengatainya bajingan, reflex Aldi langsung memegang pipi yang pernah Hana pukul itu.
"Lo kenal Dli ?" Tanya Yudis menyenggol bahu Fadli.
"Kenal, dia temennya Meira." Bisik Fadli dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Hana dan Vina.
"Minggir kalian, kita mau ngomong sama Aldi." Titah Vina dengan dingin pada Fadli, Dava dan juga Yudis.
Hana dan Vina menggunakan kacamata hitam, serta jaket kulit dan juga celana jeans hitam ditubuhnya. Mereka berdua saat ini nampak sangat keren bagi Yudis dan Fadli.
Sontak Fadli dan Yudis pun langsung berdiri dan mempersilahkan Hana dan Vina untuk duduk di kursi yang tadi mereka duduki.
Hana meraih ponsel yang baru saja bergetar didalam saku jaketnya. Terdapat sebuah notifikasi pesan dari kontak yang bernama Leon, langsung Hana membuka pesan itu dan kemudian membacanya dengan seksama.
Gue ada di belakang lo. Batin Hana membaca pesan itu.
Hana langsung menutup pesan itu dan kemudian ia celingak-celinguk mencari seseorang, setelah ia menoleh ke sebelahnya, Hana menemukan seseorang yang selalu ia dan Meira cari selama ini.
"Hai." Sapa cowok itu tersenyum ramah pada Hana yang telah melihatnya.
Mata Hana langsung berkaca-kaca melihatnya, ia membalas senyuman cowok itu dengan hangat.
"Gue bakal dengerin dan liat dari sini, kalian urus diawalnya aja, gue yang urus diakhir." Ujar cowok itu dengan suara pelan pada Hana.
Hana langsung mengangguk menjawabnya.
"Han !" Panggil Vina yang sudah duduk. Vina mendapati Hana nampak ingin menangis dan hanya fokus dengan seseorang yang ada dibelakang kursi mereka.
__ADS_1
"Hmm." Balas Hana mengangguk dan kemudian duduk dengan baik di sebelah Vina.
"Lo nggak pergi ?" Tanya Vina memicingkan matanya pada Dava yang masih duduk manis disebelah Aldi.
"Nggak." Jawab Dava dengan ketus.
"Oh, kalo gitu kalian berdua aja yang pergi." Balas Vina menunjuk ke arah Fadli dan Yudis secara bergantian.
Fadli dan Yudis langsung mengangguk dan pergi begitu saja. Mereka tau jika mulut mereka itu sulit diatur, jadi mereka memilih untuk pindah ke tempat duduk yang lain agar tidak mengganggu Aldi.
"Salken, gue Vina, ini Hana." Ucap Vina tersenyum sinis menatap Aldi dan Dava.
"Gue temennya Meira dari kelas 6 SD, ini Hana, temen Meira sejak kelas 1 SD, tapi jadi sahabatnya Meira pas kelas 3 SD. " Jelas Vina membahas sesuatu yang tidak masuk dalam inti pembicaraan ini.
"Nggak penting Vin." Ucap Hana pelan pada Vina.
"Heheh, sorry." Cengir Vina menggaruk kepalanya tak gatal.
"Langsung aja." Ujar Dava mewakili Aldi yang nampak cukup gugup.
"Lo cinta sama Meira ?" Tanya Hana langsung pada Aldi.
Aldi langsung tersedak air ludahnya sendiri ketika mendengar pertanyaan Hana. Ia merasa bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Hana. Pasalnya saat ini ia memang masih belum memiliki perasaan pada Meira kecuali perasaan bersalah.
Hana tersenyum tipis melihat Aldi yang nampak kebingungan. "Lo merasa bersalah sama Meira ?" Lanjut Hana bertanya dengan ketus pada Aldi.
Aldi hanya mengangguk menjawabnya.
Nggak istrinya nggak suaminya, mesti ngangguk-ngangguk doang kalo ditanya. Gumam Vina dalam hatinya mengingat Meira yang lebih sering mengangguk ketika menjawab pertanyaan.
Aldi mengingat-ngingat kejadian malam itu, ia rasa ia melakukan itu karena obat, bukan karena mabuk ataupun nafsu. Tetapi Aldi belum menyelidiki hal itu karena akhir-akhir ini ia dipusingkan dengan urusan keluarga serta masalahnya dengan Meira.
"Lo masih umur 17 tahun ? Lo udah minum - minuman beralkohol, lo yakin cuma Meira aja yang pernah lo gituin ? Kali aja diluar sana ada banyak cewek yang punya anak sama lo." Kata Hana menekankan suaranya pada setiap kata yang ia ucapkan. Perkataan Hana itu cukup tajam dan menusuk bagi Aldi.
Aldi langsung menggebrak meja karena geram mendengarnya. "Malam itu adalah yang pertama dan terakhir kalinya gue ngelakuin zina. Terus gue minum juga baru pertama kalinya !" pekik Aldi menatap tajam Hana.
"Lo marah ? kita juga marah, apalagi kemaren lo main bawa-bawa Meira ketemu sama nyokap lo gitu aja, lo nggak mikirin gimana perasaan Meira saat itu ?!" balas Vina yang merasa sangat kesal melihat sikap Aldi.
Aldi terdiam dibuatnya. Dava yang ada disebelahnya itu juga hanya bisa diam karenanya.
"Aldi, kalo lo emang bener-bener mau tanggungjawab, lo harus buat Meira bahagia." Ujar Hana ketus tak ingin melihat wajah Aldi.
Disini gue jadi serba salah, semua salah. Gue makaik dipojokin, padahal tempat duduk gue udah di pojok, masih aja dipojokin kayak gini. Keluh Aldi dalam hatinya.
"Gue tau, bokap lo itu Yuda Bramasta kan ?" tanya Hana menaikkan satu alisnya.
"Hmm." Jawab Aldi malas.
"Jangan pernah mikir karena bokap lo kaya dan cukup berkuasa lo bisa bersikap seenakya." Ujar Vina ketus menatap Aldi tidak suka.
"Lo juga nggak boleh nyelidikin identitas, latar belakang ataupun masa lalunya Meira ! kalo lo mau tau sesuatu tentang Meira, lo bisa nanya ke Vina, gue, atau nanya langsung ke Meira, yang penting jangan sampe lo nyelidikin sesuatu tentang Meira !" Tegas Hana menatap sinis Aldi.
__ADS_1
"Pembicaraan ini kayaknya melenceng deh ?" sahut Dava yang merasa pembicaraan mereka ini sangat berantakan.
Hana mengangguk setuju, dan kemudian menyuruh Vina untuk diam. "Disini kita mau ngomong kalo misal lo mau nikahin Meira, lo harus ngelakuin semua hal yang kita suruh selama seminggu terakhir ini." Kata Hana tersenyum smirk dan kemudian beralih menatap Vina.
Tunggu, ini kayaknya beda sama rencana awal Han ! Batin Vina yang merasa terkejut dengan perkataan Hana.
Gue punya rencana sendiri. Ucap Hana menatap yakin Vina.
Aldi dan Dava saling bertukar tatapan. Mereka cukup terkejut dengan perkataan Hana barusan.
"Jadi, suruhan pertama kita adalah.. Buat daftar semua hal yang Meira suka !" Ucap Hana menyuruh Aldi sembari memberikan selembar kertas putih kosong pada Aldi.
Aldi menatap kertas putih kosong itu tak mengerti. "Nulis semua yang Meira suka ?" Tanya Aldi memastikan.
"Iyaa !" sahut Vina menatap tajam Aldi.
"Besok bawa kertas itu dengan semua yang udah lo tulis ke gue. Alamatnya nanti gue kirim ke nomor lo" ujar Hana bangkit dari duduknya dan kemudian menarik Vina pergi meninggalkan Aldi begitu saja.
Aldi beralih menatap Dava meminta bantuan. "Gue harus nulis apaan ?" tanya Aldi mengerutkan keningnya.
"Gue cuma tau kalo Meira itu suka keluarga bahagia." Ujar Dava mendengus kesal menghadapi Aldi.
"Tau darimana lo ?" tanya Aldi menatap Dava seolah ia tidak percaya.
"Kemarin gue nggak sengaja denger kalo Meira tuh anak brokenhome, jadi gue pikir Meira pasti suka keluarganya bahagia kan ?" ucap Dava menjelaskan sembari menebak-nebak.
Hana dan Vina sudah keluar dari kafe. Mereka berjalan beriringan menuju sebuah mobil sport bewarna merah yang sudah menunggu mereka sedari tadi.
"Ayo !" seru Hana mengajak Vina memasuki mobil sport itu.
Vina menaikkan satu alisnya. "Mobil siapa ?" tanya Vina meminta jawaban.
"Punya bang Leon." jawab Hana tersenyum miring.
"Be-beneran dia ?!" tanya Vina memastikan dengan senyuman lebar terpampang diwajahnya.
Hana mengangguk sembari mengedipkan matanya mengiyakan Vina. Mengetahui itu, Vina langsung lompat kegirangan dan kemudian masuk kedalam mobil sport itu dengan tenang.
Hana duduk di sebelah kursi pengemudi, sedangkan Vina duduk di belakang. Terlihat seorang pria yang tampan sedang duduk menunggu Hana dan Vina.
"Bang Leon !" seru Vina kegirangan sendiri melihat sosok yang ada didepannya.
"Udah lama ya." ucap Leon, pria yang tadi mengirimi Hana pesan.
"Nggak asik ah, muncul tiba-tiba gini. Padahal biasanya Meira kena masalah juga nggak sampe segininya." Celetuk Vina memasang ekspresi ngambek pada Leon.
"Masalah kali ini beda sama biasanya." Balas Leon tersenyum pahit menatap Vina dari kaca.
"Masalah kali ini, nggak bisa diselesaikan dengan kekerasan ataupun pembicaraan singkat." Sahut Hana pada Leon dengan tatapan sinis.
"Dia, yang udah nyakitin Meira sampe segininya." Ujar Leon menundukkan kepalanya, tak bisa menatap Vina dan Hana.
__ADS_1
"Dia ?" tanya Hana dan Vina bersamaan. Mereka berdua tidak mengerti siapa 'dia' yang Leon maksud.
To be continued