ALMEIRA'S SECRET

ALMEIRA'S SECRET
16


__ADS_3

Meira menelan salivanya kasar. "Aldi, hari itu adalah hari pertama dan terakhir kali gue ketemu sama papa sejak gue hamil." Ucap Meira meraih lengan kemeja Aldi.


"Gugup ?" Tanya Aldi tersenyum hangat sembari menepis tangan Meira dari lengan kemejanya dan kemudian langsung menggenggam kedua tangan Meira dengan lembut.


Meira mengangguk pelan menjawab Aldi.


"Mau ditemenin ?" Tanya Aldi menaikkan satu alisnya.


Meira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat menjawab Aldi. "Makasih, tapi nggak perlu." Ucap Meira melepaskan genggaman Aldi.


"Oh" balas Aldi yang langsung merubah ekspresi wajahnya.


"Makasih udah nganterin gue !" Seru Meira sembari menutup pintu mobil Aldi dengan perlahan.


"Nanti pulangnya perlu dijemput ?" Tanya Aldi.


"Nggak, nanti ada sopir." Jawab Meira.


"Oke"  balas Aldi.


Meira kemudian berjalan menuju kerumah papanya. "Assalamualaikum, pak Jo." Ucap Meira dengan suara sedikit keras memanggil satpam rumah papanya.


"Non Meira ?" Tanya pak Jo selaku satpam. Pak Jo langsung berjalan menuju pagar dan kemudian membuka pagar dengan cepat untuk Meira.


"Apa kabar non ?" Tanya Pak Jo dengan ramah sembari mempersilahkan Meira masuk.


"Baik pak.'' Balas Meira tersenyum ramah. "Pak Jo sehat ?" Tanya Meira sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Alhamdulillah sehat juga non." Jawab Pak Jo.


"Papa ada di rumah kan ?" Lanjut Meira bertanya.


"Tuan ada di rumah, tapi sebentar lagi tuan mau pergi keluar sama non Bian." Jawab Pak Jo tersenyum sungkan sembari kembali menutup pagar.


"Oh, kalo gitu saya masuk dulu ya pak.'' Balas Meira tersenyum tipis yang kemudian langsung berjalan pergi menuju ke dalam rumah.


"Silahkan non." Balas Pak Jo.


Sedangkan di luar rumah, Aldi masih sedang duduk termenung didalam mobil. Aldi masih belum melajukan mobilnya pergi dari depan rumah Deon.


Gue beneran nggak perlu ikut Meira masuk kan ? Sebelumnya gue juga belum ngobrol sama papanya Meira. Ini juga pertama kalinya Meira ke rumah papanya setelah menikah sama gue, apa nggak papa gue nggak pergi masuk ke rumah papanya Meira ?.  Batin Aldi yang memiliki perasaan bersalah dalam hatinya.


Tok, tok


Seseorang mengetuk kaca jendela mobil Aldi. Terlihat seorang pria yang menggunakan setelan jas hitam yang tampak sangat rapi sedang tersenyum sinis.


Aldi menoleh dan kemudian membuka kaca jendelanya. "Ya ?" Tanya Aldi mengerutkan keningnya dan kemudian melihat siapa yang barusan mengetuk kaca jendelanya.


"Nggak masuk ?" Tanya Leon yang barusan mengetuk jendela mobil Aldi.


"Bang Leon ?" Tanya Aldi yang kemudian langsung membuka pintu mobilnya dan kemudian keluar dari dalam mobil.


"Ira ada di dalem ?" Tanya Leon tersenyum tipis.


"Ya, barusan masuk." Jawab Aldi mengangguk pelan.


Leon menaikkan kedua alisnya dan kemudian tersenyum smirk entah apa yang ia pikirkan. "Ikut gue masuk ke dalem." Ucap Leon menyeringai.


"Meira bilang gue nggak perlu masuk." Balas Aldi dengan dingin.


"Kalo lo nggak ikut, entar papa gue ngamuk." Ujar Leon dengan sinis.


Aldi menatap Leon mencoba untuk menerawang alasan Leon mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Leon tertawa kecil melihat Aldi yang nampak waspadai dengannya. "Nggak usah khawatir, kalo lo ikut situasinya juga bakal lebih bagus. Kalo cuma Meira sama gue doang yang masuk, entar yang ada malah ribut." Ujar Leon.


Aldi memikirkan apa yang Leon katakan. Selang beberapa detik, Aldi mengangguk setuju. "Oke gue ikut." Ucap Aldi dengan ekspresi serius.


Leon merasa senang mendengarnya. "Nanti ceritain ke gue gimana rasanya pertama kali kerumahnya mertua." Seru Leon tersenyum senang sembari berjalan bersama dengan Aldi disebelahnya.


Aldi hanya mengangguk seraya menatap Leon dengan heran.


Aldi melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumah milik Deon, Aldi memerhatikan sekelilingnya. Terlihat halaman rumah yang luas dan tertata rapi.


"Siapin mental lo." Sahut Leon meraih pundak Aldi dan kemudian menepuknya dengan kencang.


"Hmm." Jawab Aldi menatap sinis Leon.


Leon dan Aldi berjalan menaiki tangga untuk masuk kedalam rumah Deon. Mereka terkejut melihat Meira yang masih berdiri di depan pintu.


"Ira !" Panggil Leon yang kemudian langsung berjalan menghampiri adiknya.


Meira menoleh ke belakang dan kemudian melihat Leon dengan sangat gembira. "Kak Leon !" Seru Meira yang langsung berlari menuju Leon.


"Ira kangen banget !" Ucap Meira berseru dan langsung memeluk Leon dengan erat.


Meira mendongakkan kepalanya seraya tersenyum hangat menatap Leon. "Untung kakak ada disini, kalo nggak gue  nggak jadi masuk ke dalem !" Ucap Meira dengan nada manja kepada Leon.


Leon membalas pelukan Meira seraya membelai kepala adiknya dengan lembut. "Gue juga kangen banget sama lo. Jangan lari-lari kayak tadi, kalo lo kenapa-kenapa gimana ?" Leon tersenyum hangat kepada Meira.

__ADS_1


"Heheh, nggak bakal ada lain kali !" Balas Meira mengedipkan satu matanya.


Aldi merasa menjadi nyamuk ketika melihat tingkah Leon dan Meira. "Ehem !" Aldi tiba-tiba berdehem untuk merusak suasana diantara sepasang kakak adik yang sedang melepas rindu satu sama lain.


Meira mengalihkan pandangannya menuju asal deheman tersebut dan kemudian membulatkan matanya terkejut melihat Aldi yang berada di belakang kakaknya. "Ngapain lo disini ?!" Tanya Meira yang langsung melepaskan pelukannya.


Meira mendengus kesal dan kemudian beralih menatap tajam ke arah Leon. "Oh, ini pasti ulah lo kan ? Aldi seharusnya udah pergi, tapi lo kan yang ngajak dia ikut masuk kesini ?!" Meira mengangkat jari telunjuknya dan kemudian mengarahkannya tepat ke arah Leon.


Leon mengalihkan pandangannya dari Meira. "Makin rame, suasananya makin bagus."  Elak Leon tersenyum gugup sembari menatap sinis Aldi.


"Mumpung masih belum masuk ke dalem, lo pergi dan pulang aja deh !" Titah Meira beralih menatap sinis Aldi.


"Eh ? Kan Aldi udah masuk, kalo disuruh balik lagi kan kasian.'' Sahut Leon.


"Apaan sih ?" Tanya Meira ketus.


"Lo nggak usah balik, ikut aja ke dalem." Ucap Leon kepada Aldi.


"Monyet gila !" Umpat Meira geram dengan kakaknya.


"Nanti bilang aja kalo lo temen gue, bukan pacar atau suaminya Ira." Seru Leon tersenyum lembut kepada Aldi dan Meira secara bergantian.


Meira menghela nafasnya kesal dan kemudian melipat kedua tangannya kesal. "Terserah lo aja.'' Ucap Meira.


"Gue masih ada disini." Sahut Aldi menatap heran Meira dan juga Leon.


"Kakak !" Seru seseorang membuka pintu rumah kepada Leon dan juga Meira.


Meira menoleh dan kemudian melihat ke  arah asal suara tersebut. Meira tersenyum kecut melihat siapa yang memanggilnya.


Aldi mengerutkan keningnya bingung. "Adik tiri ?" Tanya Aldi meminta jawaban.


Leon menaikkan kedua alisnya seraya mengangguk iya menjawab Aldi. "Kayaknya itu dia, tapi gue udah dua tahun nggak liat mukanya, gue lupa." Jawab Leon dengan suara pelan kepada Aldi.


"Tadi aku denger suara berisik, ternyata itu kalian." Ucap Bian dengan senyuman manisnya menatap Meira dan Leon secara bergantian. "Ini siapa kak ?" Tanya Bian yang kemudian melihat Aldi.


"Temen gue." Sahut Leon menjawab Bian dengan dingin.


"Maaf karena suara kita berisik." Ucap Meira menatap sinis Bian.


Meira langsung berjalan cepat melalui Bian menuju pintu dan kemudian masuk ke dalam rumah.


"Ma-maksud aku nggak gitu." Ucap Bian membalikkan badannya.


Leon yang melihat Meira masuk ke dalam rumah, ia pun langsung berjalan melalui Bian dengan cepat, begitu pula dengan Aldi yang hanya mengikuti Leon saja.


"Hubungan kalian buruk ?" Tanya Aldi dengan suara pelan kepada Leon.


Terlihat Meira yang sedang duduk dengan santai sembari memainkan ponselnya di sofa. Raut wajahnya nampak sangat kesal.


"Gue duduk juga atau gimana ?" Tanya Aldi kepada Leon.


"Duduk aja disebelah Ira, gue panggil papa dulu ke atas." Balas Leon yang kemudian berjalan pergi meninggalkan Aldi dan Meira berdua diruang tamu.


"Aku duduk disini ya ?" Tanya Aldi kepada Meira dengan ragu.


"Duduk aja." Jawab Meira ketus.


Aldi langsung duduk mendapati jawaban Meira.


"Lo mau minum ?" Tanya Meira melirik Aldi yang duduk disebelahnya.


"Nggak." Jawab Aldi.


"Oh, entar kalo ditanyain sama Bian atau tante Diana jawab aja mau teh susu.'' Ucap Meira membenarkan posisi duduknya.


Bian menutup pintu rumahnya lalu berjalan menghampiri Aldi dan kemudian duduk dihadapan Aldi dengan tiba-tiba.


"Mau minum apa kak ?" tanya Bian kepada Aldi.


Aldi melirik Meira "teh susu." Jawab Aldi sesuai dengan perkataan Meira tadi.


"Kak Meira seperti biasa ?" tanya Bian beralih kepada Meira.


"Hmm" jawab Meira yang masih fokus dengan ponselnya.


"Oke." Balas Bian beranjak dari duduknya lalu berjalan pergi ke dapur.


"Bi Tia, bikinin teh susu dua ya." Ujar Bian kepada art yang sedang sibuk mencuci piring didapur.


"Buat non Meira sama siapa non ?'' tanya Bi Tia seraya meletakkan piring-piring yang sudah ia cuci.


"Buat temennya kak Leon, nanti anterin ke ruang tamu ya bi. Aku mau ke kamar dulu." Ucap Bian berjalan pergi dari dapur.


Aldi melirik Meira yang sedang sibuk memainkan ponselnya. "Main apa ?" tanya Aldi meminta jawaban.


"Mau tau ?" Tanya Meira yang langsung mematikan ponselnya.


"Hmm" jawab Aldi mengangguk cepat.

__ADS_1


Meira tersenyum senang melihat Aldi yang tampak begitu patuh. "Kalo gini lo keliatan nurut sama manis, tapi kenapa lo nggak nurut soal lo nggak perlu ikut gue masuk ke sini ?!"


"Aku ikut bang Leon, bukan kamu."  Jawab Aldi.


"Sama aja !'' balas Meira kesal.


"Iyain aja.''


Disisi lain, Leon sedang duduk di ruang kerja Deon dengan santai.


"Aldi ada disini ?" tanya Deon meminta jawaban kepada Leon.


"Telinga papa bermasalah ? Kan tadi Leon udah bilang kalo Aldi ada disini." Jawab Leon memutar kedua bola matanya malas menanggapi Deon.


"Telinga papa baik-baik aja." Balas Deon kesal dengan sikap putranya. "Dia ngapain kesini ?" Tanya Deon mengerutkan keningnya.


"Niatnya cuma nganterin Ira doang, tapi Leon suruh masuk ke rumah. Lagian papa sama Aldi kan belum ngobrol sebagai mertua dan menantu.'' Jawab Leon tersenyum ramah pada papanya.


Deon menatap sinis putranya. "Menantu ? Papa belum nerima dia sebagai menantu, gimanapun juga dia yang udah buat Meira harus nikah muda dan ngalamin sesuatu yang buruk baginya." Ujar Deon tersenyum pahit.


"Tapi papa sebagai orang tua juga salah, seharusnya dari dulu Ira tinggal sama papa. Kalo Ira tinggal sama papa, papa bisa ngawasin dan jaga Ira lebih dekat lagi, sedangkan kalo Ira tinggal sendiri kayak gini, papa bisa ngawasin dan merhatiin Ira lebih dekat ? Nggak pa !" Jelas Leon dengan perasaan yang sangat kesal kepada Deon.


"Kamu kalau bicara bisa sopan sedikit ?" Deon meninggikan suaranya. "Lagi pula, Ira yang nggak mau tinggal sama papa, dia minta tinggal sendiri dirumah mama kamu !"  Pekik Deon mengangkat jarinya lalu mengarahkannya tepat kewajah Leon.


Leon tersenyum sinis mendengar ucapan papanya. "Kalo papa bisa naruh perhatian papa ke Ira jauh lebih banyak setelah mama meninggal, Ira pasti juga nggak bakal mau pindah dari sini !" Ucap Leon meninggikan suaranya.


"Papa nikah sama tante Diana itu udah bikin perasaan Ira hancur pah ! Dan lagi, papa lebih sering ngajak dan bawa Bian anak tiri papa itu pergi jalan-jalan !" Ungkap Leon dengan raut wajah kecewa kepada Deon.


"Tadi Leon liat bajunya Bian itu rapi banget kayak mau keluar, terus mobil putih yang ada di luar juga udah siap, Leon pikir seharusnya papa mau pergi sama anak tiri papa itu kan ?!"


"Pah ! Kalo Leon nggak ngasih tau papa tentang kehamilan Ira, papa mungkin juga nggak bakal tau kan ?! Papa aja nggak pernah ngirim asisten rumah tangga buat ngebersihin rumahnya Ira, papa juga nggak minta seseorang buat nganterin Ira pergi ke mana aja, nggak kayak anak tiri papa itu yang selalu papa anterin kemanapun dia pergi !'' Bentak Leon dengan perasaan yang amat kacau.


"LEON !" Teriak Deon dengan sangat kesal hingga membuatnya mengangkat tangannya ingin memukul Leon.


Leon menyeringai melihatnya, "kenapa ? omongan Leon bener, jadi papa nggak jadi mukul Leon." ucap Leon bertanya kepada Deon dengan tatapan sinis.


Dari bawah, suara Deon terdengar walau  hanya samar-samar. Aldi dan Meira yang mendengarnya pun menjadi terkejut.


"Gawat, kakak  sama papa mulai lagi." Gumam Meira menggigit bawah bibirnya dan langsung berlari ke arah tangga menuju ke ruang kerja Deon.


"Jangan lari !" Pekik Aldi yang langsung berlari menyusul Meira.


Meira membanting pintu ruang kerja Deon yang tadi masih terbuka sedikit. "PAPA !" teriak Meira menatap tajam papanya.


Leon dan Deon menoleh ke arah Meira berada. Terlihat Meira yang sangat marah sedang berdiri di depan pintu.


"Kalian mulai lagi ?!" Tanya Meira berjalan menghampiri Leon yang kini sedang berdiri dihadapan papanya.


Aldi yang berlari menyusul Meira tersebut pun menghentikan langkahnya seraya terdiam mendengar teriakan Meira yang terdengar sangat kesal.


Meira berjalan menghampiri kedua pria didepannya tersebut. "Pa, kenapa sih ?" Tanya Meira dengan ekspresi wajah khawatir.


Leon mengusap wajahnya kasar, begitu pula dengan Deon. Mereka berdua terlihat bingung dan merasa kesal sendiri.


"Kamu pulang aja dulu sama Aldi, papa bakal nemuin kamu nanti malem." Ucap Deon memalingkan wajahnya dari Meira.


"PA !" Pekik Leon melototkan matanya kepada Deon.


"KAMU JUGA PULANG KE RUMAH KAMU LEON !" Titah Deon mengarahkan tatapan tajamnya kepada Leon.


"Pa, Leon tau kalo Leon sama Ira kurang perhatian sama papa, tapi apa papa tau penyebab kita kurang perhatian sama papa ?!"


"STOP KAK !" Pekik Meira menarik lengan kakaknya.


"Kenapa Ra ? Sebenernya lo sayang banget kan sama papa ? Tapi disisi lain lo juga benci banget sama papa kan ?" Tanya Leon menatap sinis Meira.


Tanpa Meira sadari, air mata menetes diwajahnya. Beberapa potongan memori tentang saat-saat dimana papanya terus menerus marah kepada dirinya dan juga mamanya.


"Benci banget.." gumam Meira yang tetesan air matanya semakin deras.


"Pah, Leon sama Ira pulang dulu !" Ucap Leon pamit kepada papanya sembari menarik Meira keluar dari ruang kerja papanya.


"Pa, maaf." Ucap Meira melirik papanya.


Deon menghela nafasnya berat seraya memijit kepalanya pusing.


"Aldi anterin Ira pulang dengan selamat, gue masih ada urusan di kantor." Ucap Leon menyerahkan Meira kepada Aldi.


"Pasti." Balas Aldi meraih telapak tangan Meira dan kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Maaf, gue nggak nyangka kalo hari ini bakal kacau banget.." lirih Meira menundukkan kepalanya sembari berjalan mengikuti Aldi.


"Eh non, ini minumannya-" Sahut Bi Tia yang membawa nampan berisi dua gelas teh susu.


Meira menoleh dan kemudian tersenyum ramah. "Maaf bi." Ucap Meira yang berjalan dengan cepat mengikuti Aldi yang menggenggam tangannya.


"Tapi non-" Belum selesai Bi Tia berucap, Aldi dan Meira kini sudah berada di luar, begitu pula dengan Leon yang sedang berjalan menuju ke arah mobilnya berada.


To be continued

__ADS_1


Gimana episode kali ini ? Mon maap kalo eps nya kurang jelas T_T


Jangan lupa vote ya !!!


__ADS_2