
Suasana terasa sangat canggung diantara Aldi dan Meira. Sejak ijab kabul dadakan tadi, Aldi dan Meira kini sudah resmi menjadi suami istri yang sah dalam agama.
Aldi dan Meira belum berencana untuk mendaftarkan pernikahan mereka ke KUA. Jantung Meira berdegup tidak karuan bingung harus apa. Aldi sedari tadi hanya diam saja tidak mengajaknya berbicara, padahal biasanya Aldi lah yang sok akrab dengan Meira.
"Ehem !" Meira berdehem untuk mencairkan suasana diantara mereka.
Aldi diam-diam melirik Meira yang ada di sampingnya, mendengar deheman Meira, ia pun langsung menoleh dan tampak salah tingkah.
"Y-ya ?" tanya Aldi dengan gugup pada Meira.
"Lo mau disini terus ? tidur di kamar sebelah aja gih !" Titah Meira yang masih merasa malu pada Aldi.
"O-oh, oke." Aldi langsung beranjak dari duduknya dan kemudian menatap Meira yang masih duduk dengan canggung.
Meira menggigit bibirnya pelan, "Aldi, lo malu ?" Tanya Meira mencoba merusak kecanggungan diantara mereka.
"Hmm." Jawab Aldi mengalihkan pandangannya dari Meira.
Meira tersenyum smirk dan kemudian merebahkan dirinya diatas kasur. "Lo mau tidur bareng atau sendiri-sendiri ?" Tanya Meira yang iseng itu pada Aldi.
"Gu-, aku tidur di kamar sebelah aja." Jawab Aldi gugup dan langsung membalikkan badannya membelakangi Meira.
Meira menaikkan satu alisnya dan kemudian kembali duduk dengan baik. "Oh, kalo gitu buruan pergi !" Titah Meira menatap kesal punggung Aldi.
"Iya." Jawab Aldi yang langsung berjalan pergi keluar kamar Meira, tidak lupa Aldi juga langsung menutup pintu kamar Meira dengan pelan.
Melihat Aldi yang sudah keluar dari kamarnya itu, Meira beranjak dari kasurnya dan kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan keringat yang telah menempel ditubuhnya.
"Capek banget, kak Leon terus-terusan bikin gue kaget mulu setiap ketemu." Gumam Meira mengingat kakak laki-lakinya itu yang selalu nampak misterius.
Aldi kini sudah berada di kamar yang ada di sebelah kamar Meira. Sebuah kamar sederhana dengan cat tembok bewarna abu-abu. Kamar yang masih tampak bersih dan sangat rapi, kelihatannya Meira sering membersihkan kamar ini.
Aldi berjalan menuju kasur dan berniat untuk merebahkan dirinya di kasur. Aldi mengusap wajahnya kasar tak percaya apa yang sudah ia lakukan dan ia dapatkan hari ini.
Aldi memandangi langit-langit kamarnya, beberapa kali ia mengedip matanya. "Gue beneran udah jadi suaminya Meira ya ?" Lirih Aldi bertanya pada dirinya sendiri.
"Semuanya akan berlalu begitu saja.." gumam Aldi tersenyum tipis meratapi nasibnya.
Selang beberapa menit sudah Aldi termenung dan melamun sendirian. Tiba-tiba saja Aldi teringat akan ketiga sahabatnya yang belum ia beritahu tentang kabar baiknya ini.
Aldi meraih dan kemudian merogoh saku celananya mencari ponselnya. Aldi mengambil ponselnya dari dalam saku dan kemudian membuka aplikasi bewarna hijau yang ada didalam ponselnya.
...Aldi menekan sebuah grup yang bernama 'grup nggak jelas'....
...Grup nggak jelas....
...20 pesan belum terbaca...
Hi guys !
Dava !
Yudis !
Gue punya pembicaraan hot yang
Iya, jadi Aldi itu udah sah sama kak
Tau dari mana lo ? Dava
Wait, bentar lagi orangnya
Yang gue panggil Aldi, napa
Ciee yang sekarang udah jadi
^^^Gue udah nikah sama^^^
^^^Entar aja gue ceritainnya.^^^
Aldi menutup aplikasi chat nya dan kemudian meletakkan ponselnya di meja yang ada di samping kasur.
Aldi menutup matanya sejenak dan kemudian mengingat kembali beberapa hal yang terjadi beberapa saat lalu.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Aleo Dimas Bramasta bin Yuda Bramasta dengan anak saya yang bernama Meira Amara dengan maskawinnya berupa emas 750 gram dan uang 1M, Tunai.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Meira Amara binti Deon Amara dengan emas 100 gram dan uang 1M tunai." Balas Aldi membaca kabul dengan jantung berdegup cepat karena gugup.
"Sah para saksi ?"
"Sah !"
Aldi menoleh ke arah Meira dan kemudian mengulurkan tangannya pada Meira. Meira meraih telapak tangan Aldi dan kemudian mengecup punggung tangan Aldi dengan perlahan.
Keesokan harinya.
Meira tengah menyiapkan sarapan di dapur, sedangkan Aldi, ia masih sibuk dikamarnya entah apa yang sedang ia lakukan.
Gue masak sarapan buat Aldi juga kali ya ? Batin Meira yang teringat akan Aldi yang saat ini tinggal dirumahnya.
Masak aja deh, ntar kalo dia nggak mau tinggal masukin kotak buat bawa kesekolah. Pikir Meira memutar kedua bola matanya malas.
__ADS_1
Selang beberapa menit, terdengar suara langkah kaki seseorang menuruni tangga. Mendengar suara itu, Meira pun langsung menoleh ke asal suara tersebut.
Terlihat Aldi yang memakai seragam sekolah dengan berantakan.
"Pa-pagi." Sapa Aldi dengan gugup dan sedikit malu pada Meira.
"Hmm." Balas Meira yang masih sibuk menata kotak makannya.
Aldi mengangguk dan kemudian berjalan ke meja makan menghampiri Meira. "Masak apa ?" Tanya Aldi.
"Nugget sama sosis." Jawab Meira ketus.
"Makanan instan semua ? " tanya Aldi menaikkan kedua alisnya menatap intens makanan yang sudah tertata rapi di meja.
"Hmm." Jawab Meira disertai dengan anggukan.
"Nggak !" seru Aldi membuat Meira kesal.
"Lo nggak suka ? Nggak usah makan."
Ekspresi wajah Aldi terlihat cukup khawatir menatap Meira yang akan memakan makanan cepat saji. "Bukan gitu, lo nggak makan sayur ?"
"Nggak sempet." Jawab Meira menunjuk jam dinding yang ada di atas kulkas.
Aldi beralih melirik jam dinding yang Meira tunjuk. "Yaudah, makan seadanya dulu. Tapi nanti, besok dan kedepannya setiap makan harus ada sayurnya !" Ucap Aldi dengan tatapan serius pada Meira.
"Terserah." Jawab Meira memutar kedua bola matanya malas.
"Kemarin.. tidur lo nyenyak ?" Tanya Meira yang diam-diam melirik Aldi.
Aldi terdiam mendengar nya. "Nye-nyenyak kok." Jawab Aldi dengan sedikit gugup karena semalam ia cukup sulit untuk tidur.
"Oh." Jawab Meira.
"Kamu sendiri gimana ?" Tanya Aldi mengalihkan pandangannya dari Meira.
"Nggak nyenyak." Jawab Meira dengan jujur.
"Kenapa ?"
"Ya kali gue bisa tidur nyenyak, apalagi setelah semua hal yang terjadi kemarin ?"
"Yeah.."
"Nih, bekal buat lo." Ucap Meira menyodorkan sebuah kotak makan bewarna hijau pada Aldi dengan wajah memerah karena malu.
"Beneran ?"
"Iya."
"Makasih.."
"Lo udah mandi ?" tanya Meira menaikkan satu alisnya menatap Aldi
"Udah." Jawab Aldi sembari tersenyum lembut pada Meira.
"Oh."
Meira melirik seragam Aldi yang berantakan, ia menggelengkan kepalanya heran dengan Aldi. "Dasi lo miring, terus baju lo nggak rapi." Ucap Meira yang langsung mendekati Aldi dan kemudian merapikan seragamnya.
Aldi tercengang dibuatnya, jantungnya berdegup cepat merasakan Meira yang kini berada sangat dekat dengannya.
"Udah !" Seru Meira tersenyum senang setelah merapikan seragam Aldi.
"O-oh." Balas Aldi terbata-bata karena gugup.
Disekolah . . .
"Cie pengantin baru !!!" Seru Fadli pada Aldi dengan senyuman lebar terpasang diwajahnya.
Dava mengerutkan keningnya dan kemudian berdecak kesal mendengar seruan Fadli. "Kenapa cuma lo yang tau ?" Tanya Dava dengan ketus kepada Fadli.
"Kemarin Aldi ngirim pesan ke gue, gue nikah." Jawab Fadli dengan ekspresi wajah bangga dan senang.
"Kenapa nggak ngasih tau gue lo ?!" Sahut Yudis menatap sinis Aldi.
"Nggak keburu." Jawab Aldi.
"Gimana ceritanya lo tiba-tiba jadi suami ? Kemarin siang lo masih single ck." Lanjut Yudis meminta penjelasan pada Aldi.
Aldi memutar kedua bola matanya malas untuk menjelaskan. "Kemarin gue dapet pesan dari abangnya Meira buat Dateng ke rumahnya. Pas dateng ada ortu gue sama ortunya Meira, terus pas masuk gue diajak ngobrol bentar, habis ngobrol beberes, terus akad."
"Bisa gitu ya ?" Yudis menaikkan satu alisnya tidak percaya mendengar penjelasan Aldi.
"Gimana perasaan lo ?" Tanya Fadli dengan mata berbinar-binar meminta jawaban Aldi.
"Kurang jelas nying." Sahut Dava dengan ekspresi wajah kesal.
"Semuanya terjadi gitu aja, gue sendiri juga masih belum percaya." Jelas Aldi membalikkan tubuhnya membelakangi ketiga sahabatnya.
"Terus, sekarang lo tinggal dimana ?"
__ADS_1
"Rumahnya Meira."
"Kebangetan !"
"Nikahnya di rumah abangnya Meira, tinggalnya dirumah Meira."
"Kayaknya bokap lo punya banyak vila, bisa-bisanya lo sebagai anaknya tinggal di rumah istri lo "
"Ck, Meira nggak mau ninggalin rumahnya. Terus sama bunda gue disuruh tinggal dirumah Meira dulu, koper gue sampe dibawain sama bibi."
"Bunda lo penuh persiapan."
"Terus, rencana lo kedepannya gimana ?"
"Rencana apaan ?"
"Ya rencana lo buat masa depan keluarga lo !"
Keluarga ? oh, Meira udah jadi bagian dari keluarga gue.. batin Aldi yang kemudian tersenyum tipis.
"Gue belum tau." Jawab Aldi menundukkan kepalanya merasa bingung.
Dava menepuk punggung Aldi dan kemudian membalikkan tubuh Aldi menghadapnya. "Gue bantu lo ngerencanain masa depan !" Sahut Dava tersenyum smirk.
Bel pulang sekolah telah berbunyi, Aldi dan Meira pulang bersama menuju rumah Meira.
"Al, tolongin gue ke minimarket." Meira yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba membuka mulutnya dan kemudian berkata pada Aldi.
"Mau beli apa ?" Tanya Aldi.
"Susu ibu hamil yang rasa cokelat, daging kalengan, kecap botolan satu, bumbu nasi goreng yang pedas, roti, meses, sama es krim." Jawab Meira.
Setelah menjawab Aldi, Meira langsung meraih tasnya dan kemudian merogoh isi tasnya mencari sesuatu yang ia inginkan.
Meira mengeluarkan sebuah dompet bewarna putih dari tasnya, setelah mengambil dompet, ia kembali menutup tasnya dan kemudian meletakkan tas nya di jok belakang.
"Oke." Jawab Aldi mengangguk iya.
"Al, nanti habis nganterin gue pulang lo mau kemana ?" Tanya Meira beralih menatap Aldi.
"Nggak kemana-mana."
"Oh."
Selang beberapa menit, berhentilah mobil Aldi di parkiran sebuah minimarket.
"Ini." Ucap Meira memberikan sebuah kartu ATM pada Aldi.
Aldi menoleh dan melihat kartu yang ada di tangan Meira. "Buat apa ?" Tanya Aldi yang tidak mengerti maksud Meira.
"Buat nanti bayar di kasir lah." Jawab Meira.
"Nggak usah." Balas Aldi menolak kartu yang Meira berikan.
"Kenapa ?"
"Aku suamimu, aku yang nafkahin dan nanggung kamu." Jawab Aldi tersenyum tipis sembari mendorong kartu pemberian Meira.
Meira hanya diam saja tidak membalas Aldi, jauh didalam hati Meira, kini ia merasa sangat senang. Wajah Meira terlihat merah merona mendengar jawaban Aldi barusan, sontak Meira pun langsung memalingkan wajahnya dari Aldi.
"Aku turun dulu ya." Sahut Aldi sembari melepaskan seat belt nya.
"Lo inget yang gue bilang kan, jangan sampe ada satu pun yang lupa lo beli !" Sahut Meira menatap Aldi dengan tajam.
"Ingatanku bagus !" Ucap Aldi dengan percaya diri tersenyum tipis pada Meira.
Selang beberapa menit, akhirnya Aldi kembali ke dalam mobil sembari membawa sebuah kantong belanja besar. Meira terbelalak kaget melihatnya.
"Yang gue minta sedikit, tapi kenapa kantongnya gede banget ?!"
"Nggak tau."
Meira pun langsung mengambil kantong belanja yang Aldi pegang dan kemudian mengecek barang-barang yang Aldi beli.
"Banyak banget es krimnya, terus ini rotinya kenapa juga banyak ? Roti kadaluarsa nya cepet Aldi !"
"Lo nggak bilang mau es krim yang apa, roti yang apa." Jawab Aldi kembali memasang selt beat nya.
"Terus, ini cokelat ?" Tanya Meira mengeluarkan tiga batang cokelat berukuran besar dengan tiga merek yang berbeda.
"Sekarang tanggal berapa ?" Balas Aldi balik bertanya.
"14 Februari." Jawab Meira dengan tatapan tidak mengerti.
"Hmm." Jawab Aldi menaikkan kedua alisnya.
"Valentine ?" Tanya Meira mengerutkan keningnya yang kemudian tersenyum tipis merasa cukup senang karena menerima coklat dari Aldi.
"Nggak suka ?" Tanya Aldi
"Suka, makasih." Jawab Meira tersenyum hangat pada Aldi.
__ADS_1
To be continued
Happy valentine day !