
Sejak Meira pergi dari rumah Deon, ia terus diam membisu entah apa yang ia rasakan dan fikirkan. Aldi merasa cemas dan khawatir melihat Meira yang terus larut dalam pikirannya.
"Mei !" Panggil Aldi sembari mengetuk pintu kamar Meira.
Meira tidak menjawab ataupun membalas panggilan Aldi, jam sudah menunjukkan pukul 6.35, biasanya mereka sudah berangkat menuju sekolah, tetapi hari ini Meira sama sekali belum keluar dari kamarnya.
"Meira !" Panggil Aldi dengan suara penuh kecemasan.
Sekali lagi Meira tidak membalas panggilannya, pikiran Aldi sudah kemana-mana. Tanpa persetujuan Meira, Aldi mencoba membuka pintu kamar Meira, dan ternyata langsung terbuka begitu saja. Meira tidak mengunci pintu kamarnya, Aldi pikir Meira mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Aldi bergegas masuk menuju ranjang tempat Meira tidur. Terlihat Meira masih terbaring di ranjangnya. Aldi mengalihkan pandangannya kepada bantal Meira yang terlihat sedikit basah.
"Meira habis nangis ?" Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri ketika melihat wajah Meira yang sembab.
Aldi duduk di pinggir ranjang Meira lalu menggoyangkan tubuh Meira dengan perlahan. "Meira, kamu mau masuk atau ijin dulu sekolahnya ?" Tanya Aldi mencoba untuk membangunkan Meira.
"Ma, Mei capek." Gumam Meira melantur dalam tidurnya.
Aldi mengerutkan keningnya dan kemudian mendekatkan telinganya ke mulut Meira.
"Ma, aku mau bolos sehari aja ya." Ucap Meira melantur dengan suara penuh kelembutan.
Aldi terdiam mendengarnya. Ia langsung kembali duduk dengan benar seraya tersenyum pahit menatap wajah Meira yang nampak sembab.
"Istirahat aja, nanti aku ijinin." Ucap Aldi seraya membelai wajah Meira dengan lembut.
Aldi melihat meja belajar Meira lalu beranjak dari duduknya dan kemudian berjalan menuju ke meja belajar tersebut untuk mencari sebuah notes dan juga bulpen.
Aldi mengarahkan pandangannya ke arah sebuah bulpen dan juga notes yang sudah tertata rapi dan kemudian mengambil sebuah notes dan juga bulpen tersebut dengan perlahan.
Aldi menuliskan beberapa kalimat pada notes tersebut dan kemudian menyobek selembar kertas pada notes tersebut. Aldi berjalan kembali menuju ranjang Meira dan kemudian meletakkan selembar kertas yang tadi sudah ia tuliskan beberapa kalimat di meja yang ada di sebelah ranjang Meira.
"Aku sekolah dulu ya.." gumam Aldi menatap Meira dengan lembut.
Di sekolah, Aldi dihampiri oleh kedua sahabat Meira yang bernama Hana dan Vina.
"Aldi !" Panggil Vina dengan suara lantang.
Aldi menoleh ke belakangnya dan kemudian melihat Vina dan Hana yang sedang berjalan begitu cepat ke arahnya.
"Ira dimana ?!" Tanya Vina dengan judes meminta jawaban kepada Aldi.
Aldi memutar kedua bola matanya malas, "dirumah." Jawab Aldi.
"Ira nggak enak badan ?" Tanya Vina terlihat mengkhawatirkan Meira.
"Mungkin." Jawab Aldi yang juga tidak tau apakah Meira sakit.
Hana membulatkan matanya mendengar jawaban Aldi. "Mungkin katamu ?!" Tanya Hana.
"Ya, Meira lagi sakit hati.'' Jawab Aldi mengingat kembali Meira yang sedari kemarin hanya diam saja semenjak pulang dari rumah papanya.
Hana meraih kerah seragam Aldi dan lalu mencengangkannya dengan perasaan kesal. "Lo bentak dia ?! Lo marahin dia ?! Lo sakitin dia ?!" Tanya Hana dengan ketus menatap tajam mata Aldi.
"Lo apain bestie gue ?!" Tambah Vina menatap tajam Aldi sembari meminta jawaban padanya.
__ADS_1
Aldi menepis tangan Hana dari kerah seragamnya. "Ada masalah keluarga." Jawab Aldi menatap sinis Hana dan Vina secara bergantian.
"Masalah keluarga yang mana ? Sama papanya atau sama lo ?!" Tanya Vina lagi dengan ketus.
"Sama papanya." Jawab Aldi yang kemudian langsung membalikkan badannya membelakangi Hana dan Vina lalu berjalan cepat pergi meninggalkan mereka berdua begitu saja.
"Aldi, tunggu !" Seru Hana dan Vina yang kemudian berlari menyusul Aldi.
Aldi menghentikan langkahnya. Vina dan Hana kini berada tepat dihadapannya. "Ada apa ?" tanya Aldi menaikkan satu alisnya meminta jawaban.
"Lo kasih Ira perhatian lebih ya." Ujar Vina melipat kedua tangannya.
"Nanti lo pulang lebih awal, Ira mungkin bisa ngelakuin hal aneh.'' Sahut Hana beralih menatap Aldi dengan sinis.
"Aneh ?" Tanya Aldi mengernyit tidak mengerti.
"Hmm, tadi pas lo berangkat sekolah dia belum bangun kan ?" Tanya Hana menaikkan satu alisnya. "Nanti mungkin Ira bakal bangun sekitar jam 11 atau jam 1 siang." Sambung Hana memberitahu Aldi.
Aldi terdiam tidak bisa berkata-kata mendengar perkataan Hana.
"Nanti jam istirahat kedua lo pulang ke rumah Ira, terus jangan lupa bawain dia cokelat batangan yang ada di minimarket. Harganya cuma dua puluh ribu, jadi jangan merasa keberatan.'' Tambah Vina.
"Setelah lo pulang kerumah Ira, nanti lo bakal ngerti alasan kita ngomong kayak gini." Ucap Hana tersenyum miring lalu menggandeng tangan Vina dan berjalan pergi meninggalkan Aldi.
"Aneh, apa dia bakal-" gumam Aldi menggantungkan perkataannya dan langsung berlari dengan cepat menuju parkiran sekolah.
"Aldi, lo mau kemana ?!" Sahut Yudis dengan lantang dari kejauhan ketika melihat Aldi yang terlihat tergesa-gesa.
"Pulang !" Ucap Aldi dengan suara lantang menjawab Yudis.
Saat ini Aldi berada di minimarket untuk membeli beberapa batang cokelat seperti yang Vina katakan. Aldi bingung cokelat merek apa yang Meira suka, jadi ia mengambil semua merek cokelat batangan yang berada di dekat kasir.
Selesai menerima cokelat-cokelat tersebut dan setelah menmbayarnya, Aldi bergegas masuk menuju mobilnya.
Aldi melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Pikirannya cukup kacau saat ini. Ia membayangkan jika Meira sudah bangun dari tidurnya dan kemudian Meira melakukan hal buruk yang akan melukai dirinya sendiri.
Memikirkan hal itu saja, Aldi sudah sangat cemas dibuatnya.
Selang beberapa saat, akhirnya Aldi tiba dirumah Meira. Aldi turun dari mobil lalu membuka pintu pagar dengan lebar untuk memasukkan mobilnya ke dalam rumah.
Setelah memasukkan mobilnya kedalam garasi, Aldi langsung menutup pintu pagar lalu pergi membuka kunci pintu rumah dengan buru-buru.
"Assalamualaikum !" Ucap Aldi yang lupa untuk melepas sepatunya.
Aldi menutup pintu rumahnya dan langsung bergegas menuju kamar Meira.
"Meira !" Seru Aldi membuka pintu kamar Meira dengan keras.
Aldi membulatkan matanya terkejut melihat sekelilingnya. Meira tidak terlihat di ranjangnya ataupun di meja belajar.
"MEIRA !" Teriak Aldi memanggil nama Meira dengan panik.
Aldi keluar dari kamar Meira dan kemudian mencari-cari Meira di dalam kamarnya serta di lantai bawah yang hanya terdapat sebuah ruangan, dapur, ruang tamu dan juga satu kamar mandi.
"MEIRA, KAMU DIMANA ?" Teriak Aldi meminta jawaban dari seseorang.
__ADS_1
Aldi turun dari tangga dan kemudian berjalan menuju sebuah ruangan yang sama sekali belum pernah ia masuki dan belum pernah Meira tunjukkan kepadanya.
Terlihat, pintu ruangan tersebut sedikit terbuka, juga terdapat cahaya dari celah pintu yang terbuka dari dalam sana.
Aldi menghentikan langkahnya pada pintu kamar tersebut. Aldi menatap pintu ruangan tersebut dengan tidak yakin. "Apa mungkin Meira ada disini ?' gumam Aldi bertanya kepada dirinya sendiri.
Aldi memegang ganggang pintu tersebut dan kemudian menariknya dengan perlahan. Aldi melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut.
Aldi melihat sekelilingnya dan kemudian terbelalak kaget melihat apa yang ada di sekeliling. Terdapat berbagai macam kardus yang berisikan kue ringan dan juga chiki -chiki yang tertata di dalam ruangan ini dengan rapi.
"Meira ?" Ucap Aldi yang dibuat terkejut oleh Meira yang sedang asik menikmati beberapa bungkus cemilan yang yang ada di pelukannya.
Meira mendongakkan kepalanya dan kemudian mengarahkan pandangannya kepada Aldi yang sedang berdiri di depan pintu. "Lo nggak sekolah ?'' tanya Meira dengan santainya kepada Aldi.
Aldi tersenyum lega melihat Meira yang sedang menikmati cemilan dengan nyaman. Aldi berjalan menghampiri Meira dan kemudian berjongkok untuk mendekatkan dirinya dengan Meira yang sedang duduk di sofa kecil yang ada dibawah lantai.
"Lo kenapa ? Keringetan gitu ?" Tanya Meira menatap Aldi bingung.
"Nggak kenapa-kenapa." Jawab Aldi.
Aldi menatap wajah Meira sembari tersenyum hangat melihatnya. Meira merasa bingung dengan sikap Aldi saat ini.
"Lo nggak sekolah ?" Tanya Meira menatap intens Aldi.
"Tadi udah di sekolah, tapi karena ada sesuatu, aku pulang dulu." Jawab Aldi.
Meira menganggukkan kepala membalas Aldi. Ia mengunyah keripik kentang, beberapa detik kemudian ia mendongakkan kepalanya sembari menatap Aldi dengan sebuah harapan dimatanya.
"Lo punya cokelat ?" Tanya Meira membuat Aldi tertawa kecil mendengar pertanyaannya.
"Punya, ini." Jawab Aldi sembari memberikan sekantong kresek yang sedari tadi ia pegang.
"Cokelat semua ?!" Meira membulatkan matanya melihat kresek berukuran sedang yang berisi penuh dengan cokelat-cokelat dengan merek yang berbeda.
"Hmm, aku nggak tau kamu suka yang mana." Ucap Aldi menjawab Meira.
"Boros banget, tapi gue suka semuanya !" Seru Meira tersenyum tipis kepada Aldi.
Aldi mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, melihat tumpukan kardus yang berisi Snack membuat Aldi mengerutkan keningnya. "Ini punya kamu semua ?" Tanya Aldi.
Meira mengangguk cepat menjawab Aldi. "Papa yang ngasih, biar gue nggak jajan ke minimarket." Ucap Meira sembari membuka sebungkus cokelat ditangannya. "Lo mau ? Ambil aja, ada banyak juga." Sahut Meira seraya memberikan sebungkus keripik kentang rasa sapi panggang yang masih utuh kepada Aldi.
"Jadi, hal aneh yang mereka maksud itu Meira makan snack sebanyak ini ?" gumam Aldi dengan suara pelan.
Aldi meraih keripik kentang yang Meira berikan. "Are you okay ?" Tanya Aldi meminta jawaban kepada Meira.
Ekspresi wajah Meira berubah seketika.
"Lo mau dengerin gue ?" tanya Meira dengan tak yakin kepada Aldi.
"Mau." Jawab Aldi.
To be continued
Jangan lupa vote ya !!!
__ADS_1
Astaga, beda banget. Orang lain pamitannya mau kerja, kalo Aldi pamit ke istrinya mau sekolah 😭😂