ALMEIRA'S SECRET

ALMEIRA'S SECRET
09


__ADS_3

Happy reading 🐼


Kini Meira tengah terduduk diam di dalam kelasnya, pikirannya sangat kacau memikirkan pembicaraan nya dengan bundanya Aldi yang berakhir begitu saja.


Setelah Meira mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya pada Soraya, ia langsung berdiri dan pamit pulang dengan sopan begitu saja pada bunda Aldi.


Meira pulang ke rumahnya diantar oleh Aldi, setelah dari rumah Aldi, hubungan dan suasana antara Aldi dan Meira terasa sangat canggung dan tidak nyaman.


Meira merasa tidak enak dengan bundanya Aldi karena baginya kemarin ia sudah berbicara tidak sopan.


Meira mengacak-acak rambutnya frustasi. Gila banget, kemarin gue sopan apa kagak ngomong gitu ke nyokap nya Aldi ?! Kesan pertama yang gue tinggalin udah buruk banget T_T batin Meira merutuki dirinya sendiri.


Vina menatapi Meira yang sedari tadi bingung sendiri, ia menatap heran Meira yang nampak frustasi. "Han, dia kenapa?" Tanya Vina.


"Gatau, samperin aja." Jawab Hana menepuk punggung Vina dan kemudian berjalan cepat menghampiri Meira.


Vina tersenyum iseng, sepertinya ia memiliki ide buruk terhadap Meira. "Dorrr !!!" Seru Vina yang menepuk pundak Meira dari belakang.


"Kaget Na !" Meira langsung membenarkan duduknya sembari mengelus dadanya pelan.


"Heheh." Cengir Vina melangkah mendekati Meira.


"Mikir apa ?" Tanya Vina kepo.


"Aldi." Jawab Meira singkat


"Kenapa Aldi ?" Hana menaikkan satu alisnya tidak faham dengan maksud Meira.


"Dia kemarin tiba-tiba bawa gue ketemu sama mamahnya."


"Mamanya galak ?" Tanya Vina mengerutkan keningnya.


"Kayak mertua-mertua di sinetron gitu nggak sih ?" Tambah Vina penasaran pada Meira.


"Ngawur, gue nggak tau sih mamanya baik apa nggak. Tapi kemarin mamanya itu ngomong kalo dia suka sama gue." Jawab Meira dengan lesu.


"Gaya ngomongnya gimana ?" Tanya Hana dengan wajah datarnya.


"Rada aneh gitu sih, cuma kayaknya baik."

__ADS_1


"Terus, kapan giliran lo bawa Aldi ke bokap lo ?" Sahut Vina menanyai pertanyaan yang tidak enak didengar bagu Meira.


"Nggak, gue belum kepikiran buat bawa Aldi nemuin bokap gue, gue aja nggak berani ngasih tau bokap gue kalo gue.."


Hana celingak-celinguk melihat sekelilingnya, Hana menyadari bahwa terlalu banyak orang, nanti bisa-bisa ada salah seorang teman sekelasnya yang mendengar percakapan mereka.


Hana pun langsung meraih dan menarik tangan Meira. "Kelasnya rame." Ucap Hana memberi tanda pada Vina dan Meira.


Meira dan Vina pun mengangguk iya dan kemudian berjalan beriringan menuju rooftop. Beberapa kali Meira menelan salivanya, ia rasa Vina akan mengomel jika ia menceritakan apa yang ia katakan pada bundanya Aldi kemarin.


Hana celingak-celinguk melihat sekelilingnya, setelah memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat mereka, Hana pun langsung menutup pintu rooftop dengan pelan.


"Duduk disitu aja." Ucap Hana menunjuk sebuah bangku kayu yang cukup panjang.


Meira dan Vina mengangguk bersamaan kemudian beralih duduk di bangku yang Hana tunjuk tadi. Meira duduk ditengah, sedangkan Hana dan Vina duduk di samping Meira.


"Ira, lo kemaren ngomong apa ke mamahnya Aldi ?" Tanya Hana yang merasa khawatir dengan sahabatnya ini.


"Lo nggak ngomong yang aneh-aneh kan ?" Tambah Vina meminta jawaban pada Meira.


Meira menarik nafas panjang dan kemudian menundukkan kepalanya. "Gue kemaren bilang kalo gue belum siap jadi ibu dan gue belum siap nikah."


Meira tersenyum tipis pada Hana dan Vina. Ia menutup matanya sejenak dan kemudian menelan salivanya kasar.


"Nanti  kehidupan pernikahan bisa saja tidak berjalan dengan baik dan mungkin saja salah satu dari kami ingin berpisah. Orang tua selalu memikirkan anaknya bukan ? Mungkin ini egois, tapi saya tidak ingin hidup tidak bahagia hanya karena dua kata ini 'demi anak."  ucap Meira memberitahu Hana dan Vina t apa yang ia katakan kemarin pada bundanya Aldi.


"Apa yang gue bilang bener kan ?" Tanya Meira tak yakin pada Hana dan Vina.


Hana mengangguk dan kemudian tersenyum hangat pada Meira. "Apa yang lo omongin bener kok. Apalagi lo udah berpengalaman jadi anak brokenhome." Balas Hana menatap lembut Meira.


"Tapi dipertemuan pertama lo sama mamanya Aldi udah ngomong kayak gitu, bisa aja mamanya Aldi itu mikir lo yang enggak-enggak."


"Aldi denger apa yang lo bilang nggak kemaren ?"


Meira mengangguk iya menjawab Hana.


"Gue takut, gue belum yakin sama Aldi."


"Wajar kok kalo lo ngerasa takut atau nggak yakin sama Aldi. "

__ADS_1


"Tapi.. lo mau nunda sampe kapan ? Sampe perut lo membesar ? Lo mau anak lo dicap anak haram ?" Celetuk Vina menatap intens Meira.


"Y-ya nggak mau."


"Oh gini aja, gue sama Hana bakal nemuin Aldi nanti sore, kita bakal ngomong ke dia boleh ?"  Tanya Vina menaikkan satu alisnya dengan mata berbinar-binar menatap Meira.


"Buat apa kalian nemuin dia ?"


"Yah kalo dia mau jadi suami lo, yah dia harus lulus seleksi dari kita!" Seru Vina tersenyum licik.


"Gue setuju sama Vina." Kata Hana memberi jempol pada Vina.


"Selama nggak ngerepotin kalian sih.." ucap Meira pasrah.


"Bagi nomornya dia." Pinta Vina memberikan ponselnya pada Meira.


Meira meraih ponsel Vina dan kemudian menekan angka-angka yang nanti jadilah nomor telepon Aldi. Meira tidak menghafal nomor Aldi, tetapi nomor Aldi memang mudah diingat, jadi Meira mengingat nomor telepon Aldi begitu saja.


"Ini." Ucap Meira mengembalikan ponsel Vina.


"Oke makasih."


Hana menghela nafasnya berat. Meira dan Vina yang melihat itu terkejut dibuatnya. "Lo ada masalah apa Han ?" tanya Meira dan Vina khawatir melihat Hana yang hampir tidak pernah menghela nafas berat seperti ada masalah.


"Lo jadi masalah gue." ujar Hana dengan ekspresi penuh kecemasan menatap Meira.


Meira menaikkan kedua alisnya tidak mengerti maksud perkataan Hana. "Gu-gue jadi masalah lo ? kenapa ?" tanya Meira ragu.


"Lo hamil gitu aja, terus lo udah ketauan sama Aldi, bahkan udah ketemu sama orang tuanya Aldi, gimana gue nggak panik sama khawatir coba. Gue kenal lo udah sepuluh tahun, dan gue tau banget masa lalu lo." Jelas Hana dengan serius menatap Meira.


Vina dan Meira dibuat gugup oleh Hana. "Maafin gue yang udah bikin kalian panik sama khawatir kayak gini." Ucap Meira menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Nggak papa, ini udah terjadi, gue bakal selesaiin masalah lo sama Aldi." Kata Hana dengan yakin pada Meira.


Meira mengerutkan keningnya tidak faham dengan maksud Hana. Hana .. dia nggak mungkin ngelakuin sesuatu yang aneh-aneh kan ?! Pikir Meira panik sendiri.


Diam-diam, ternyata sedari tadi terdapat seseorang yang sudah mendengar percakapan Meira, Hana dan Vina dari awal.


Padahal aing niatnya mau nyantai di sini, eh malah dengerin berita yang menggemparkan. Batin seseorang itu mendengus kesal.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2