
"Nay yakin akan pulang sendiri?"ucap seorang laki-laki dewasa berperawakan tinggi, berkulit lansat, kepada seorang perempuan berpakaian tertutup, bergamis hitam panjang, menggunakan jilbab yang hampir menutupi dua per tiga dari tingginya dan wajahnya ditutupi cadar berwarna hitam.
perempuan itu menatap lekat namun menyipit.
"bukan kah kita sudah sepakat, bahwa hari ini Nay akan pulang sendiri, ustadz?"ucap perempuan itu. Memastikan bahwa kesepakatan yang telah mereka buat semalam masih berlaku.
Perempuan itu adalah Nayra Arsya. Perempuan berumur 22 tahun yang berpropesi sebagai guru di sebuah Madrasah Tsanawiyah Swasta, dan laki-laki yang dipanggilnya ustadz itu adalah Azki, berusia 30 tahun, seorang ustadz di sebuah pondok pesantren tempat dimana nayra juga membantu mengajar SMP yang berada dibawah naungan pondok pesantren tersebut.
Laki-laki itu diam sejenak.
"Pak, kami pesan 2 tiket ya"ujarnya tiba-tiba ke depan jendela penjual tiket kapal.
Kali ini Nayra yang terdiam.
"Ustadz, yakin mau mengantar Nay pulang?" ucap Nayra pelan dibalik cadarnya.
__ADS_1
Azki itu tersenyum.
"Saya sudah membeli 2 buah tiket kapal. Sepertinya itu sudah membuktikan bahwa saya yakin" di tatapnya mata Nay. Refleks Nay menundukkan wajahnya, meskipun yang terlihat hanya kedua matanya saja. Azki semakin melebarkan senyumnya
Mereka turun ke kapal, Azki terlebih dahulu turun ke kapal, setelah itu di tungguinya Nayra di samping depan pintu kapal. Pelan langkah Nayra menuruni kapal. Beberapa orang Laki-laki yang terlihat seperti pekerja kapal itu nampak segan untuk membantu Nayra . Refleks Azki mengulurkan tangannya pada Nayra. Nayra yang terkejut dengan uluran tangan seseorang, melihat ke arah pemilik tangan tersebut.
"ustadz, azki"fikirnya
Lantas diraihnya tangan laki-laki itu, pelan ia melangkahi kapal yang sedikit berjarak dengan dermaganya.
"Ustadz, itu kursinya. Ayo"ucap Nay semangat di tariknya tangan laki-laki itu. Baru lah ia sadar bahwa sedari tadi ia tidak melepaskan genggaman tangan Azki.
"Maaf, ustadz" ucapnya pelan.
"Ayo"ucapnya juga pelan.
__ADS_1
Sedari Tadi Nay terus memperhatikan keadaan laut, yang saat itu begitu tenang.
Dilihatnya pulau-pulau kecil yang tak berpenghuni dipenuhi dengan pohon hijau, yang disamping terhampar pasir putih ataupun pohon bakau dengan akar nafasnya yang mencuat dipermukaan air.
Azki sekali-kali melihat ke arah Nay. ia hanya diam saja. tak bisa mengulang hafalan Al-Qurannya karena musik yang begitu kuat di dalam kapal.
"Blak" suara kepala Nayra yang terjodot ke dinding kapal.
Refleks Nayra terbangun. Dilihatnya Azki yang sedang melihatnya aneh dan mengejek. Tak diperdulikannya laki-laki itu walau sebetulnya ia sedikit malu. Nayra membuang pandangannya hingga menghadap ke dinding kapal, dan melanjutkan tidurnya. Azki yang melihat tingkahnya hanya diam dan menahan senyum.
"Jika aku tak sedekat ini padanya mana mungkin aku tau, bahwa dia memiliki sifat yang seperti ini"batin Azki.
Tidak lama Nayra kembali tertunduk-tunduk. Azki yang melihatnya seperti itu, menyenderkan kepala Nayra ke pundaknya. Perempuan itu tak bergeming.
Nayra, yang semakin nyenyak dengan tidurnya tak jarang memperbaiki posisi tidurnya di pundak Azki.
__ADS_1
Lama menatap laut dan orang sekitar akhirnya Azki juga ikut tertidur dengan posisi Nayra masih di pundaknya.