
Nayra masuk ke halaman pesantren, menuju parkiran yang melewati gedung santri putri, ternyata hanif baru keluar dari gedung itu hingga mereka berpapasan. Seperti biasanya nayra hanya menunduk, tak berniat untuk memperpanjang pendangannya pada hanif. Nayra berjalan menuju rumah aisya yanh berarti rumah hanif, karena memang dari awal dia ingin bertemu dengan aisyah.
Dari kejauhan Azki melihat keduanya. Perasaan tak nyaman semakin mengganggu dirinya.
"Nay, mencari ustadzah aisyah?" Hanif dari arah belakang.
"Iya, ustadz" jawab nayra tanpa melihat ke arah hanif.
"Masuk saja ustazah aisyah ada di dalam" hanif mempersilahkan.
"Mari"nayra membungkukkan tubuhnya sedikit.
Azki yang sedari tadi memperhatikan kedua akhirnya memilih untuk menemui hanif, walaupun dengan perasaan malas.
"Itu Nayra?"tanya azki pada hanif, memulai pembicaraan.
"Iya, mau ketemu aisyah katanya"jawab hanif seadanya, kemudian kedua pergi ke ruang asatidz.
Nayra duduk di kursi kayu yang di lapisi dengan bantal yang cukup empuk, di depannya ada aisyah. Perempuan itu telah menyuguhkan segelas teh hangat untuk nayra.
"Ada apa ustazah?"tanya nayra, melihat perempuan itu.
Namun, perempuan itu diam. Nayra, memilih untuk menunggu perempuan itu siap untuk mengatakannya.
"Nayra, benar ingin menolak, ustadz?"tanya aisyah, setelah sejenak diam.
__ADS_1
Nayra tersenyum, lalu mengangguk tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.
Perempuan itu menghirup nafas dalam-dalam, nayra dapat merasakan bahwa ada hal berat yang ini perempuan itu sampaikan padanya.
"Ustazah, benar mau untuk di madu?" tanya nayra pelan dan lembut, tanpa menghilangkan sopan dan santunnya pada perempuan yang 4 lebih tua darinya itu.
"Pahalanya besar, Nay"jawabnya setelah
"Memang Allah menyukai amalan hati, ikhlas, memaafkan, tidak marah, sabar. Semua itu adalah amalan hati. Tapi, pertanyaan nay, ustazah mau?"ucap nay, mendesak.
"insyaa, allah"katanya singkat.
"Terbebas dari niat ustazah, nay tidak mau untuk menjadi madu. Bukan karena dia ustadz hanif terlebih lagi beliau, tapi karena memang nay tidak mau"nayra tegas pada aisyah.
"Nayra, mau mendengarkan suatu hal?"tanya aisyah.
"Dulu sewaktu kami berta'aruf, ustadz sudah menanyakan prihal poligami. Dan saya izinkan. Setelah beberapa bulan pernikahan ia, bertanya kepada saya apakah benar saya benar-benar mengizinkan pologami. Saya jawab iya. Saat itu ia mulai menceritakan bahwa ia cukup menganggumi nay, dulu sebelum mengkhitbah saya, dia sempat menawarkan nayra pada ummu ustadz, namun setelah ditimbang saya yang dipilih. Sementara, rasa ustadz pada nayra tak jua hilang begitu saja. Terlebih memang kalian memang telah saling mengenal dan berkomunikasi. Setelah niat itu di utarakan, saya mencoba mengamati mu, jujur saja. Dan sangat wajar jika ia benar-benar menginginkan mu. Nayra yang begitu bebas namun, pandai menjaga diri" jelasnya panjang pada nayra.
Nayra tersenyum mendengar semua ucapan perempuan itu.
"Percayalah pada nay, ustadz sangat mencintai ustazah, hingga sangat khawatir ustazah kelelahan bahkan saat mengajar, dia pernah meminta nay untuk bekerja sama dengan baik agar ustazah tidak kelelahan. Ustadz mungkin memang menganggumi nay, tapi hanya sebatas kemampuan yang nay miliki, tapi selain itu tidak. mungkin ia tidak menyadari itu, barang kali sedikit saja. Jika memang ustazah mengizinkan ustadz untuk berpoligami maka perempuan itu bukan nay"jawab nayra panjang.
Ia menghirup nafas sebentar
"lagian nay juga tidak bisa mencintai seseorang yang sangat mencintai orang lain"kata nayra menutup penjelasannya.
__ADS_1
Sore yang semakin sore akhirnya mereka menjelaskan pembicaraan mereka. Nayra meminta izin untuk pulang.
Nayra keluar dari pondok pesantren, dengan mengendarai motornya sendiri. Ia telah meminta azki untuk menjeputnya di rumah ustadz rahman, setelah solat magrib. Saat itu pondok dalam keadaan sepi, santri sedang dalam program menunggu jam makan malam.
Nayra duduk bersama istri ustadz rahman dengan segelas teh, dan singkong goreng yang ada di depannya, sambil menunggu azki menjemput, nayra tak bisa membawa motor ke pesantren lagi, karena akan ada yang mengetahui jika ia masih ada disana.
"Bagaimana hubungan kalian nay?"tanya perempuan dewasa itu.
"Allahmdulillah, bu"ucap nayra sambil mengambil sepotong singkong goreng di atas piring.
"Semoga allah, mudahkan ya Nay"kata perempuan itu.
"aamiin"jawab nayra, mengaminkan doa perempuan itu.
"Terima kasih ya nay. Sudah cukup membantu di pesantren, setelah pernikahan kalian azki, lebih baik dalam bekerja. Meski sekarang harus berbagi tempat dengan nay disana, tapi ia tetap menyelesaikan tugasnya dan meringakan pekerjaan ustadz rahman" perempuan itu tulus pada nay.
"Nay, sadar betul bahwa Ustadz bukan hanya milik nay. Tapi, milik santri dan pesantren. Nay tak bisa begitu egois mementingkan diri nay sendiri, lagian mencintai akan mengizinkan orang lain untuk berkembang di jalannya, namun tetap seiring"kata nayra bijak, ia menyiratkan senyum tulus pada perempuan itu.
Perempuan itu membalas senyuman nayra, dengan rasa kagum.
"assalamualaikum"suara azki memberikan salam. Dua orang yang mengenali suara tersebut lansung menjawab salam dan beranjak keluar dari rumah itu.
Nayra menyalami azki, azki hanya memberikan salam yang berjarak pada perempuan itu.
"Saling menjaga ya, nak. Kerja samalah yang baik dan saling memahami. Kami pihak pesantren sekaligus merasa seperti orang tua kalian berharap banyak kalian tetap dalam lindungan Allah"ucap perempuan itu.
__ADS_1
Nayra menyalami dan mencium tangan perempuan itu. Azki menunduk menandakan hormatnya pada perempuan itu.
Mereka berlalu, namun masih terlihat jelas oleh perempuan itu, nayra begitu menempel manja dengan azki. Perempuan itu tersenyum.