
Azki yang melihat Nayra sudah berada di depannya lansung memeluk perempuan itu. Nayra yang sudah terbiasa dengan pelukan dari Azki ikut membalas pulukannya.
"Ustadz, ayo makan" Ucapnya pelan, dengan tubuh masih didalam pelukan Azki.
"Tahan sebentar lagi" Jawab Azki pelan
Setelah menahan Nayra untuk tetap memeluknya, perlahan ia melepaskan tubuh Nayra. Dia memegang bahu Narya dengan kedua tangan, kemudian menjauhkan Nayra sedikit dari tubuhnya.
"Ayo, makan" Ucap Azki dengan senyum khas.
Nayra membuka rantang putih yang telah ia siapkan dari rumah. Azki duduk disamping Nayra yang sedang duduk dilantai.
"Nay, udah makan?" tanya azki sambil mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauk dari Nayra.
"Belum" Nay pelan sambil nyengir hingga menampakkan giginya yang gingsul.
"Buka mulutnya" Kali ini Azki mengarahkan tangannya yang sudah berisi makanan ke mulut Nayra.
"Ustadz, tak perlu. Nay bisa sendiri" Kata Nayra malu.
"Naaaaaaay" Pujuk Azki pelan.
Mendengar ucapan Azki yang begitu lembut padanya, Nayra membuka mulutnya pelan-pelan.
__ADS_1
Nayra mengambil piring, berniat untuk mengambil makanan untuknya. Namun, dicegah oleh Azki dengan tangannya.
"Biar saya saja yang menyuapi, Nay. Lagian Nay udah mengotori tangan Nay untuk masak buat saya. Jadi, kali ini biar saya yang mengotori tangan saya untuk menyuapi Nay" Ucap Azki.
Azki bergiliran menyuapi dirinya sendiri dan Nay. Mereka begitu menikmati makanan sederhana yang dimasak Nayra.
"semoga Allah tak mengizinkan aku menyakiti kamu lagi" Batin Azki
Adzan ashar berkumandang, Nayra telah mengemasi rantangnya lagi. Sementara Azki telah bersiap untuk mengimami sholat Asar. Nayra, masih di dalam ruang Asatizh, ia akan keluar ketika jalan yang awalnya sepi kembali sepi lagi. Azki, menyempatkan diri menemui Nayra, yang sedang duduk di kursi menghadap ke jendela yang tertutup rapat oleh gorden.
"Nay, saya pergi ya" Ucap Azki, diciuminya kening perempuan itu. Lalu ia tersenyum.
"Ustadz, Nay sekalian izin pulang, ya. Khawatir nanti ketika Nay mau pulang, Ustadz masih ngajar" ucap Nayra, sambil melihat ke arah Azki
Nayra yang mendapati laki-laki itu hendak pergi lansung bersalaman dan menciumi tangannya.
Azki keluar dari ruangan asatidz, kemudian keluar dari kamarnya. Ia berhenti di depan jendela tempat Nayra sedang duduk, diketuknya pelan jendela itu. Setelah terlihat Nayra membuka sedikit gorden yang menutupi jendela. Laki-laki itu menggambar sebuah bentuk di jendela, gambar itu berbentuk sebuah hati.
Nayra tersenyum di balik cadar melihat tingkah Azki yang seperti itu. Laki-laki itu berlalu menuju masjid. Nayra yang melihat lapangan pondok mulai sepi dari santri putra, ia beranjak pergi menuju gedung santri putri, untuk sholat berjamaah.
Setelah sholat ashar Nayra kembali ke kantor asatidz untuk mengambil dan menyelesaikan beberapa data siswa, agar ia bisa menyelesaikan perkerjaan tersebut di rumah saja. Lama ia berkutat di depan komputer, hingga tak menyadari bahwa hari sudah mulai sore.
Ustadz Rahman yang baru menyadari bahwa Nayra sedang berada di ruang Asatidz, datang menghampiri perempuan itu.
__ADS_1
"Nay, tidur di pesantren?" Tanya Ustadz Rahman pada Nayra dengan posisi masih berada di luar ruangan.
"Tidak, Pak. Sebentar lagi Nay pulang, setelah semua data terrekap" jawab Nayra jelas dibalik cadarnya.
"Nanti kalau pulang hati-hati. Jangan kesorean" Ustadz Rahman mengingatkan Nayra, karena perempuan itu sering kali lupa waktu ketika sudah bekerja. Bahkan, tak jarang ia pulang setelah sholat isya melewati hutan perbatasan kampung-kampung yang belum di pasangi lampu jalan.
"iya, pak. Insyaa allah" Jawab Nay.
Seperti ucapannya, tak lama dari waktu mereka mengobrol Nayra kembali ke kos. Sesampai di kos ia memelih untuk mendinginkan tubuhnya sebentar sambil memebereskan kosnya itu. Setelah ia merasa tubuhnya cukup dingin dan kosnya sudah sedikit rapi, walau meskipun beberapa map dan buku masih berserakan di atas meja tempat ia bekerja serta laptop yang masih dalam keadaan terbuka meski tidak menyala.
Ia mengambil pakaiannya dari keranjang baju yang tersusun rapi, dan dibawanya ke kamar mandi seperti biasa.
Suara pintu depan di ketok. Namun, tak ada yang keluar. Jelas saja motor Nayra terparkir di deman kos, yang berarti perempuan itu ada di rumah.
"Assalamualaikum" Ucap Azki yang sudah berada di depan pintu kos Nayra. Namun, masih juga tidak ada yang menyaut dari dalam.
Azki yang juga memiliki kunci kos Nayra lansung membuka. Dilihatnya cahaya dari kamar Nayra yang hanya di tutupi gorden, menandakan bahwa perempuan itu benar-benar sedang ada di kos.
"Nay" Panggilnya, namun yang terdengar hanya suara air di dalam kamar mandi.
"Mungkin sedang di kamar mandi" Fikir Azki. Ia masuk ke kamar Nayra, dan merebahkan tubuhnya.
Nayra keluar dari kamar mandi menggunakan celana piyama bermotif hitam putih berukuran pendek diatas lutut yang menampakkan kaki jenjangnya dan baju kaos hitam pendek dengan leher bulat yang kemudian ujung bajunya ia masukkan ke dalam celananya, hingga menampakkan tubuhnya yang kecil. Dan rambutnya yang ia gulung dengan hanbuk karena masih basah, menampakkan lehernya yang jenjang.
__ADS_1
Nayra berjalan menuju kamarnya