
Nayra mengangguk pelan. Menjawab pertanyaan Ustadz Rahman dengan rasa malu dan segan.
Mereka duduk di atas kursi kayu yang dilapisi dengan bantal-bantal persegi.
Seorang perempuan dewasa masuk dengan membawa sebuah nampan yang berisi 3 gelas air, yang ia berikan kepada tamunya. Kemudian, ia datang lagi dengan membawa 2 buah toples berisi cookies dan kripik pisang. Nayra menyalami dan menciumi tangan perempuan itu, kemudian kembali ke belakang. Perempuan itu adalah istri Ustadz Rahman.
Ustadz Rahman duduk dengan tenang menghadap Ustadz dan Ustazah pengajar di pondok, 2 orang yang ia hormati sebagai pendidik dan 2 orang yang ia sayangi sebagai anak-anaknya.
Ustadz Rahman yang merasa ada kecanggungan kepada mereka berdua, berusah mencairkan suasana dengan menanyakan kabar kepada Nayra, dan sedikit bergurau kepada keduanya. Pelan-pelan keadaan mulai mencair.
"Jadi, kedatangan kami berdua untuk menjelaskan suatu hal" kata Azki, mengawali niat yang ia janjikan pada Ustadz Rahman. Sementara, Nayra hanya menunduk di kursi samping Azki namun berjarak.
Ustadz Rahman berusaha untuk tetap berfikir positif terhadap keduanya, meski agak sulit baginya.
"Sebelumnya kami ingin meminta maaf kepada pesantren dan terutama bapak" lanjut Azki.
Laki-laki dewasa itu diam, mendengarkan perkataan Azki.
"Kami tidak bermaksud melakukannya namun, semuanya terjadi begitu saja" kata Azki. Nayra tetap menunduk.
__ADS_1
"ini lah yang dinamakan taqdir" lanjutnya
"bahwa kami telah menikah selama 6 bulan lebih, Ustadz" Ucap Azki pelan, namun cukup terdengar jelas di telinga laki-laki dewasa yang masih sehat itu.
Ustadz Rahman diam. Mereka diam sejenak.
"tapi, kami harap bapak bisa merahasiakan hubungan kami ini. Kami hanya bisa memberitahukan bapak saja. Itupun karena rasa bersalah yang begitu dalam dari kami" jelas Azki
Azki menyodorkan sepasang buku nikah di atas meja, kemudian diulurkannya ke arah Ustadz Rahman. Laki-laki mengambil salah satu buku tersebut. Ia tersenyum. lalu meletakkannya kembali ke atas meja, dan mengulurkan kepada Azki.
" Alhamdulillah" ucapnya, seperti bernafas lega.
"Baarakallaahu Laka Wa Baaraka ‘Alaika Wa Jama’a Bainakuma Fii Khoir" ucapnya.
laki-laki itu tak henti-hentinya tersenyum, yang diikuti senyum malu Azki serta Nayra yang berulang kali menyipitkan mata.
"jika bapak boleh jujur, bapak sebenarnya khawatir dengan Azki, akhir-akhir ini. Tapi ternyata melaksanakan sunnatullah" lanjutnya lagi.
Semakin malu keduannya. Seperti pengantin baru mereka dibuatnya padahal mereka sudah hampir 7 bulan menikah.
__ADS_1
"kami sungguh minta maaf" kata Nayra.
"tak apa, Nay. Lagian kalian tidak melaksanakan hal-hal yang dilarang agama" jelas Ustadz Azki.
Ustadz Rahman kenal betul keduanya, jika sedang rapat 1 di ujung dinding, 1 nya lagi di ujung dinding, jika ingin mengabarkan berita pasti melalui santri, jika ingin mengantarkan makanan pasti melalui tangan santri, jika bertemu di tengah jalan 1 menunduk yang 1nya berlalu, jika sudah terlihat dari jauh 1 diantara keduanya dan masih ada jalan lain, maka memilih untuk melewati jalan lain itu. Jika membangunkan sholat subuh apabila para Ustadz terlambat bangun, Nayra akan kabur setelah lampu dinyalakan atau ada suara dari dalam. selama itu tak pernah ada 1 patah kata pun keluar dari mulut keduanya untuk mengobrol atau hal lainnya. Namun, jika di usili keduanya hanya tersenyum. Walaupun, pernah terjebak prasangka.
"mengapa memilih merahasiakan, apalagi hampir 7 bulan" tanya ustadz rahman.
"bapak taukan, bahwa Nayra memiliki seorang kakak perempuan yang belum menikah. Keluarga meminta kami untuk merahasiakan Nayra, supaya kakaknya tidak merasa malu, karena belum menikah" jelas Azki.
Laki-laki itu mengangguk pelan. Menandakan bahwa ia mengerti.
"lalu jika begitu mengapa kalian menikah?" selidik Ustadz Rahman.
"Inilah yang dinamakan taqdir mutlak, ustadz" kata Azki, sambil melihat ke arah Nayra.
"mengingat bagaimana luka Nayra karena saya tempo hari, rasanya sulit untuk menyatukan kami dalam pernikahan. Tapi, Allah slalu punya cara mempertemukan, layaknya Hawa dan adam yang terpisah jauh, ali dan fatimah, yusuf dan zulaikha, bahkan firaun dan asiyah yang memiliki sifat yang sungguh berbeda" kata Azki, mengenang masa lalu, yang spontan mendapatkan pandangan dari Nayra.
Ustadz Rahman tersenyum, mendengarkan ucapan Azki, yang terdengar seperti sebuah harapan yang pernah dibuatnya.
__ADS_1
"jika diizinkan, ceritakanlah bagaimana kalian bisa menikah" pinta Ustadz Rahman kepada keduanya.
Nayra memulai cerita dari sudut pandang Narya