Ambiguitas Diantara Kita

Ambiguitas Diantara Kita
Lima


__ADS_3

Nayra memilih untuk tidak bergabung dengan Ayah dan Azki, tapi bersama kakaknya di warung sembako.


Allahu akbar, allahu akbar


Suara adzan berkumandang. Pak Bahar masuk ke rumah mengganti bajunya untuk sholat berjamaah di Masjid. Nayra menghampiri Azki yang sedang duduk sendirian menunggu ayahnya.


"Ustadz, nanti setelah sholat ashar lansung pulang?" tanya Nayra pelan di samping pintu.


"iya. Nay, disini saja dulu" kata Azki, sambil melihat ke arah Nayra


"Maaf, Nay tak bisa ikut ke sana" kata Nayra.


"Gk papa kok, Nay" Azki tersenyum ke arahnya.


Pak Bahar sudah siap dengan pakaian untuk sholat, Azki pamit kepada Nayra dan Naya.


Kedua laki-laki itu berjalan bersama, Azki sambil menggendong ranselnya. sesampainya di Masjid At-Taqwa yang berornamen hijau putih, ia meletakkan tasnya lalu melaksanakan sholat tahyatul Masjid, merasa masih ada waktu untuk sholat qobliyah (sebelum) ashar ia melanjutkan dan sholat qobliyah (sebelum) ashar.


Setelah selesai ia melaksanakan kedua sholat tersebut baru lah, iqomat di bunyikan.


"Ustadz, mari" ucap seseorang yang mengenali Azki sebagai seorang ustadz yang pernah mengimami sholat di masjid itu, sambil mempersilahkan untuk menjadi imam sholat ashar hari itu.


Awalnya ia menolak, namun akhirnya ia tak bisa memaksakan diri untuk terus menolak permintaan orang-orang tersebut.


سوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَفِّ مِنْ تَماَمِ الصَّلَاةِ

__ADS_1


ia berhenti sejenak, dan melihat ke arah makmum.


"Allahu akbar" Suara Azki bertaqbir mengimami sholat, yang kemudian diikuti oleh makmum


"Allahu akbar" suara makmum bertaqbir


 


***


 


"Pak, saya mohon izin pulang" Kata Azki, setelah lama mereka mengobrol hampir pukul 5 petang sambil menunggu jemputan santri dari pondok pesantren.


"Hati-hati" pulangnya ucap Pak Bahar, pada Azki dan seorang santri yang menjemputnya.


"Ustadz" panggil santri yang diboncengi Azki disebalik suara motor yang melaju.


"iya" Azki singkat


"Ustadz, ngapain ke kuit? ta'aruf sama Ustazh Nayra ya?" santai santri itu bertanya kepadanya.


Santri itu adalah santri murni yang cukup dekat dengan Azki, karena semenjak Azki mengajar di pondok anak itu yang terus membantu Azki dalam banyak hal.


"Ngantar istri pulang" Katanya.

__ADS_1


ucapan itu lansung membuat keduanya tertawa.


"ustadz, ini ada-ada saja" balas santri itu.


Setelah menempuh 1 jam perjalanan tanpa lampu merah dan kemacetan mereka sampai ke Pondok Pesantren Mukhlasin.


Pondok pesantren itu baru berumur 2 tahun, masih dalam pembagunan. Beberapa bangunan sudah permanen namun beberapa bangunan lagi masih terbuat dari papan.


Terlihat banyak santri di tengah lapangan mengisi sore hari dengan berolahraga, memanfaatkan lapangan yang tak begitu luas di tengah gedung-gedung pondok. Tak jauh dari situ seorang laki-laki bertubuh sedikit berisi menggunakan pakaian biasa sedang memotong rumput menggunakan mesin rumput. Melihat Azki datang ia menghentikan pekerjaannya. Azki mendatangi dan bersalaman dengannya.


"jauhnye ki, sampai ke kuit" ucap laki-laki itu, sambil berjalan menuju jalan yang luas satu setenga meter berada di depan gedung santri putri. Ia duduk di pinggir jalan tersebut setelah melepaskan gendongan mesin rumput yang ada di punggungnya.


"Ngantar istri, pak" Kata Azki singkat, sambil menunjukkan senyum, namun yang terlihat seperti sebuah ketawa kecil. Menganggap ucapan Azki sebuah candaan seperti biasanya.


laki-laki itu pun ikut tertawa. Laki-laki itu adalah Ustadz Rahman, pemilik pondok pesantren dan yayasan tempat Azki dan Nayra bekerja.


"Kalau lambat di khitbah nanti di khitbah orang ki" kata Ustadz Rahman.


Berulang kali Ustadz Rahman dan teman-teman sesama ustadz dan ustazah mengatakan hal -hal itu namun selalu ditanggapi dingin oleh Azki.


"Apa lagi yang ditunggu ki?" gurau pak rahman


"Tak ada yang ditunggu, pak" Jawabnya singkat.


"Bapak liat Nayra pintar, semangat, jujur, baik, nurut, tak muluk-muluk anaknya. Mau nyari yang bagaimana lagi?. Atau belum bisa melupakan cerita lama?" panjang Ustadz Rahman berucap kepada Azki, namun lawan bicaranya hanya diam dan tersenyum nyengir kepadanya.

__ADS_1


Lama mereka terjebak percakapan prihal jodoh Azki, akhirnya kedua berpisah untuk melakukan aktifitas pondok. Ustadz Rahman pulang ke rumahnya yang tak jauh dari pondok pesantre. Azki pergi menuju kamarnya yang berada di samping kantor asatidz dan asatizah.


__ADS_2