Ambiguitas Diantara Kita

Ambiguitas Diantara Kita
Empat


__ADS_3

Nayra turun dari motor dan mendekati laki-laki yang sedang duduk itu.


"Assalamualaikum" Suara Nayra mengucap salam.


Laki-laki itu tersenyum. Disambutnya tangan Nayra yang terulur di depannya. Narya lansung mencium tangan laki-laki itu. Laki-laki itu adalah Pak Bahar, ayah Nayra.


Dengan langkah pelan, Azki mendekati Pak Bahar, mengucap salam, dan menciumi tangannya.


Pak Bahar mempersilahkan Azki duduk di kursi panjang tempat dimana ia duduk. Sedangkan Nayra duduk di kursi plastik yang berada di depan mereka.


"Azki sudah sholat?. Sepertinya belum." Ucap Pak Bahar.


"iya, pak. Saya belum sempat sholat tadi" Ucap Azki.


"Naaaaay" panggil Pak Bahar.


Nayra yang mengerti maksud Pak Bahar, lansung bergegas membawa masuk barang-barangnya. Tak lama kemudian ia keluar.


"Ustadz, sudah Nay siapkan sajadahnya di kamar. Mari Nay antar" ucapnya pelan.


"Mohon izin ya pak" Azki pelan. Ia menundukkan kepala dan tubuhnya, karena merasa sungguh tidak sopan pada laki-laki itu.


Nayra berjalan yang diikuti Azki dibelakangnya.

__ADS_1


"Nay, apakah ayah mu terlihat marah?" kata Azki tiba-tiba.


Nayra yang sudah berada di depan pintu kamarnya, berhenti.


"Insyaa Allah, tidak. Ustadz" katanya pelan


"Mari. Nay, tunggu di depan" ucapnya pada Azki.


Azki masuk ke kamar Nayra. Sedangkan Nayra pergi ke dapur.


Setelah menyelesaikan sholat Dzuhur dan sunnah Dzuhurnya, Azki tak lantas ke luar dari kamar itu. Dilihatnya kamar dengan sebuah jendela lama, dengan dinding sebelah depan terbuat dari papan lama yang tersusun dengan rapi, di hiasi tempelan dan frame-frame photo yang berisi beberapa lukisan dengan pensil dan terdapat sebuah lampu strongking lama yang cukup bersih. Di sisi lain dindingan terbuat dari triplek kayu yang tak ditempeli apapun. Namun, dipojok kamar terdapat segerombolan boneka, dan sekeranjang bunga plastik yang berisi kartu ucapan. Sedangkan lantai kamarnya hampir tertutupi kasur ukuran besar, dan sebuah lemari kayu serta lemari plastik yang berada di samping pintu kamar. Di atas lemari plastik itu tersusun buku-buku tebal.


"Fiqih wanita, kalkulus I, kalkulus II, kitab tauhid, Akidah yang lurus, Fiqih sholat, Adabul Mufrad, Riyadus sholihin, Matematika pemprograman, kamus Bahasa Arab, Kamus Bahasa Inggris, The davinci code" batinnya


Ia keluar dari kamar menuju teras depan tempat dimana ia bertemu Pak Bahar, ayahnya Nayra tadi.


Dilihatnya sudah ada dua buah cangkir yang berisi dengan teh hangat serta sepiring roti. Namun, Nayra tak berada di situ.


"Duduk, ki" Ucap Pak Bahar


"iya, pak" dengan sopan ia menjawab dan di duduk di depan Pak Bahar.


-------NAYRA----------

__ADS_1


"itu ra, yang kemaren sampai membuat mu tak ingin pulang ke pondok" kata kak Naya pada Nayra yang sedang duduk di lantai sebalik etalase.


"suuuut" Nayra mendekatkan jari telunjuk pada bibirnya meskipun masih dibatasi cadar hitamnya.


"Kelak orangnye denger" Kata Nayra pelan


Nayra memilih menguping pembicaraan ayahnya dan Azki.


"Nay"panggil Naya


Nayra melihat ke arah Naya yang memanggilnya


"Nayra sudah berjanji kan pada kakak?!" kata Naya


"iya, kak. Nay, sudah berjanji. Dan insyaa allah akan Nay lakukan" kata Nay pelan.


Mereka kembali menguping pembicaraan kedua laki-laki itu.


"Azki menginap atau lansung balek?" lambat-lambat Pak Bahar menyusun kata agar Azki memahami bahasanya.


"Pulang, pak. Tidak enak berlama-lama" jawab Azki singkat namun tetap mempertahan kesopanannya pada Pak Bahar.


"Nay, akan tinggal disini" sambungnya

__ADS_1


__ADS_2