Ambiguitas Diantara Kita

Ambiguitas Diantara Kita
Lima Belas


__ADS_3

Mobil hijau dengan kursi panjang tempat mereka duduk dengan beberapa orang yang tak dikenali berjalan menyusuri jalanan kota yang ramai. Nayra duduk berbelakangan dengan beberapa orang. Matanya memerah, menangis karena malu. Seliuran orang-orang yang berada dijalan terkadang melihat ke arah mobil hijau yang mereka naiki. Tatapan itu yang terlihat seperti sedang mencemooh mereka.


"Ya, Allah engkau yang maha mengetahui , dan engkau mengetahui dosa ku, sungguh hari ini aku merasa malu. Ampunilah dosa ku"batin Nayra


Disisi lain kursi itu Azki duduk menatap jalan dengan mata yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Tak lama iring-iringan itu sampai ke kantor polisi. Mereka berjalan seperti biasanya, kemudian duduk di ruang tunggu untuk di introgasi. Nayra yang melihat Azki sedang berdiri di tiang menghadap ke luar kantor itu, mencoba mendekati Azki. Ia berusaha untuk memberanikan diri agar bisa berbicara, walau bagaimana pun ia tau ia yang bersalah dalam hal ini.


"Assalamualaikum, Ustadz" panggil Nayra. Namun, suara itu amat pelan hingga tak terdengar oleh azki, padahal dengan susah payah ia mengumpulkan tenaga untuk bersuara mengeluarkan kata-kata.


Nayra menarik nafas, pelan. Berharap suara selanjutnya bisa lebih baik lagi.


"Bismillah" batinnya


"Assalamualaikum, Ustadz" ucap Nayra. Benar saja laki-laki itu menoleh. Azki melihat ke arah orang yang memanggilnya, refleks memutar tubuh ketika mengetahui bahwa Nayra lah yang memanggilnya. Nayra pun, memilih menunduk.


"Ustadz, sungguh saya minta maaf karena sudah berbuat kesalahan" kata Nayra penuh sesal dibalik jilbabnya yang berusaha menutupi wajah.


Azki mengulurkan sebuah kain hitam dari belakang punggungnya ke arah Nayra, ternyata itu sebuah masker, yang sempat ia ambil saat akan keluar dari kamar hotel.


"Ambil lah, Insyaa allah lebih baik bagi mu" ucap Azki.


" Terima kasih, Ustadz" ucap Nayra, sambil mengambil uluran masker dari Azki.

__ADS_1


"Ustadz, saya sungguh benar-benar minta maaf. Saya tidak tau itu kamar Ustadz. Saya salah mengingat nomor kamar. Sungguh. Ini kunci kamar saya" jelasnya cepat, namun pelan. Ditunjukkannya di depan laki-laki itu, sebuah kunci dengan nomor kamar 96, sementara kamar yang ia masuk yang sebenarnya adalah kamar Azki yang bernomor 69.


Azki melihat ke arah kunci yang ditunjukkan oleh Nayra. Namun, ia diam saja.


"Saya bisa masuk kamar itu karena kamar itu tidak di kunci. Jadi, saya fikir mungkin saja petugas kebersihan lupa mengunci pintu, setelah bekerja karena sewaktu saya ingin chek-in resepsionisnya bilang kamar itu sedang dibersihkan" Nayra menyambung penjelasannya.


Nayra sangat berharap laki-laki itu bisa mempercayainya, mungkin laki-laki itu tidak mengenalnya secara lansung, namun krebilitasnya dalam bekerja mungkin saja memiliki harga jual dimata laki-laki itu, supaya dia bisa mempercayainya.


Lalu, mereka diam.


"Tak apa. Bukan kamu yang menjadikan saya disini, namun Allah lah yang mengizinkan kita untuk sampai ditempat ini" Kata Azki.


"Saya sungguh minta maaf" Nayra menunduk


"Nayra, Azki" Seseorang polisi memanggil keduanya untuk masuk ke ruang introgasi.


Seorang polisi dengan tubuh sedikit berisi dengan seragam lengkap telah duduk dibalik sebuah meja yang di depannya ada 2 buah kursi.


"Silahkan duduk" Ucap polisi itu singkat, tentu saja untuk kedua orang yang sedang terdakwa salah.


Nayra berdiri melihat kursi itu, ia bingung melihat kursi yang jaraknya terlalu dekat dengan kursi di sebelahnya.


Azki menggeserkan sebuah kursi, sehingga berjarak dengan kursi disebelahnya. Lalu ia mempersilahkan Nayra untuk duduk. Barulah Nayra duduk, namun masih juga menggeserkan kursinya. Azki menarik kursinya satunya lagi, hingga mereka benar-benar berjarak.

__ADS_1


Nayra menunduk. Azki diam menunggu laki-laki bersuara.


"Kita berada di wilayah melayu, yang menjunjung tinggi agama. Jadi, saya fikir kalian tau hukuman apa yang akan diterapkan untuk kalian" ucap laki-laki itu setelah panjang lebar berbicara.


"Tapi, sungguh pak. Kami tak melakukan apa pun" bantah Nayra.


Laki-laki hanya tersenyum mengejek. Jelas ia tak mempercayai Nayra.


"lalu mengapa bisa berada di dalam 1 kamar?" ucapan laki-laki itu sedikit mengintimidasi.


"saya sudah menjelaskan kepada Bapak di awal, saya yang salah masuk kamar dan telah menunjukkan kunci kamarnya" sambung Nayra.


Azki memandang ke arah Nayra, dia paham betul sifat wanita itu. Ia bukan wanita yang begitu mudahnya menyerah atas apa yang tak sesuai dan tak bisa diterima oleh otak matematikanya itu, yang sering kali Ustadz Rahman bilang Nayra si otak 1+1\= 2, tak bisa berubah menjadi 3. Namun, ia juga mengkhawatirkan dan menghormati wanita itu sebagai seorang wanita.


Polisi itu hanya tersenyum, dengan senyum mengejek.


"Jika sudah didalam kamar berdua-dua an, apalagi yang dilakukan jika bukan hal yang tidak senonoh" Tekan laki-laki itu


Nayra terkejut dengan ucapan laki-laki itu yang menurutnya tak sopan. Begitu pun Azki.


"Jangan mempersulit aparat. Kalian akan dinikahkan hari ini dimulai dari setelah sholat magrib nanti" ucap tegas polisi itu.


"Tapi, pak" Ucapan Nayra terpotong dengan suara Azki yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Baiklah, saya akan menikahi nya" kata Azki tegas. Resleks Nayra melihat ke arah Azki.


"tapi ustadz" kata Nayra cepat


__ADS_2