Ambiguitas Diantara Kita

Ambiguitas Diantara Kita
Tujuh Belas


__ADS_3

"Insyaa Allah, Ayah izin kan" Ucap pak Samsul dengan nada tegas dan bijaksana.


Nayra, yang mendengar lansung mengucurkan air matanya. Perasaannya tak bisa ia ungkapkan. Ada perasaan lega karena telah diberikan izin untuk menikah oleh ayahnya, tanpa satu patah pun perkataan marah atas kejadian yang ia alami. Namun, disisi lain ia sangat merasa sedih karena harus menikah dengan keadaan yang seperti itu.


Nayra yang selalu membayangkan pernikahannya yang akan diadakan dengan sederhana namun dihadari oleh banyak kerabat, kemudian ada rasa haru dari keluarga yang menghadiri serta rangkaian doa yang akan di ucapkan, akan menjadikannya terasa khitmat. Namun, ia malah harus menikah dengan dikawali polisi bukan karena dihormati namun sebaliknya.


"Nay, jangan nangis. Restu dan doa ayah bersama kalian" ucap laki-laki itu lembut dengan suara berat khas seorang bapak-bapak. Ia paham betul siapa putri bunsunya itu. Meski terkadang ia tak tau apa yang sedang ia pikirkan, namun anaknya terlalu mudah untuk meneteskan air mata.


"Tidak Ayah, Nay tidak menangis" namun jelas saja suaranya berat dan tersendat-sendat.


"Iklas, Nay. Jika yang ingin Nay cari adalah pandangannya manusia maka ini telah mencela Nay, namun jika yang Nay cari adalah pandangannya Allah, maka sungguh Allah sedang meninggikan derajat Nay" sambung laki-laki itu, berusaha menguatkan Nayra.


Azki yang melihat Nayra membaik memberanikan diri untuk memanggilnya. Refleks Nayra melihat ke arah Azki yang memanggilnya dari arah belakang.


"Izinkan saya untuk berbicara dengan ayah mu" pinta Azki


Nayra ragu, tapi setelah mendapatkan izin dari ayahnya, ia menyerahkan ponsel itu ke tangan Azki.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Pak" ucap Azki lembut dan sopan.


"walaikumus salam, Azki?" tanya Pak Samsul pada laki-laki yang sedang menjadi lawan bicaranya.


Dengan didengarkan oleh hampir seluruh anggota keluarganya Nayra Azki meminta maaf atas ketidaksopanannya menikah putri dari keluarga itu dengan cara seperti itu serta ia juga meminta restu untuk pernikahan mereka yang mendadak itu.


"Sebetulnya meskipun kami belum bertemu dan mengenal ustad, namun cerita tentang ustadz sudah kami dengar dari Nayra. Rasanya mempercayai kalian untuk melakukan hal seperti itu adalah kemungkinan kecil" ucap Kak Maya.


Kata-kata itu cukup membesarkan hati Azki, yang khawatir keluarga Nayra sulit menerimanya dan akan berfikir buruk padanya. Namun, mereka begitu baik menerimanya dan melepaskan anggota terakhir keluarga itu.


"Nay, mahar apa yang nay inginkan? Nay berhak untuk menentukannya." ucap Azki.


"Sebaik-baiknya mahar adalah yang mudah. Nay lepaskan Ustadz untuk memilih mahar apa yang akan Ustadz berikan pada Nay. Wallahi, Nay iklas" ucap Nay dengan menunduk.


"Baiklah" ucap Azki.


Hari sudah menjelang magrib, Azki yang masih berada di ruang tunggu itu, meminta izin untuk sholat magrib berjamaah, namun tak diizinkan. Jadi ia memilih sholat di ruangan itu setelah meminta izin ke toilet mangambil wudhu itu pun dengan dikawali polisi.

__ADS_1


Ia mendirikan sholat magrib serta masih menyempatkan diri untuk menambah 2 rakaat setelah magrib, dan menambah 2 rakaat istiqoroh, meminta petunjuk untuk pernikahannya yang akan segera dilakukan malam itu. Selesai dengan semua sholatnya ruangan itu telah kosong hanya ada seorang polisi yang sedang menungguinya.


"Mari, semua orang telah berada di mushola" ucap polisi itu.


Azki beranjak dari posisinya dan mengikuti langkah polisi itu secara bersamaan.


Ia sampai di depan pintu mushola benar saja, sudah ramai orang di situ. 4 pasangan yang juga tertangkap bersama mereka tadi sudah hadir di situ, dengan pormasi laki-laki duduk di shaf laki-laki, perempuan duduk di shaf perempuan. Sepasang pasangan sudah duduk menhadap seorang laki-laki berumur 50-an, dengan sorban yang dikalungkan dilehernya, pasti adalah kadi yang akan menikahkan semua pasangan malam itu.


perempuan yang tadinya berpakaian kurang pantas sekarang sedang memakai mukena lengkap. Namun, Nayra masih tetap menggunakan pakaiannya serta masker yang tak 1 detik pun ia buka.


Laki-laki yang bertugas sebagai kadi telah mengucapkan ijab bertindak sebagai wali dari perempuan yang akan menikah didepannya itu. Kemudian laki-laki dari pasangan penganting itu, mulai mengucap qabul nya. Dan di akhiri dengan kata sah oleh seluruh yang hadir. Setelah itu mereka menyelesaikan semua administrasi dan menyerahkan sepasang buku nikah.


Azan sholat isya memberhatikan kegiatan itu, yang akan dilanjutkan setelah sholat isya.


Nayra yang duduk diujung dari sekumpulan wanita berusaha menutup diri dari banyaknya mata laki-laki di dalam mushola itu.


Azki memilin-memilinkan sesuatu di dalam sakunya.

__ADS_1


__ADS_2