
"Nay" panggil azki, meminta jawaban dari laki-laki itu
Namun, Nayra terlihat ragu untuk menjawab.
"Nay, tidak tau harus cerita dari mana. Entah penilaian kami yang salah, atau kenyataanya seperti itu"ucapan Nayra berhenti dengan keraguan yang jelas di wajahnya.
Azki masih diam, mendengar ucapan Nayra
__ADS_1
"2 hari nanti, Nay berharap bisa mendapat informasi lagi" ucap Nayra, namun belum juga menjawab keingintahuan Azki.
"tidak apa-apa jika belum mau cerita. jika nanti Nay membutuhkan bantuan, jangan malu untuk bilang" putus azki. Bagaimanapun azki paham, meski dia telah menjadi bagian keluarga Nayra, tapi masalah keluarga Nayra pastilah ada pembatas dengannya.
"Terima kasih"Nayra menjawab singkat, ada rasa segan dihatinya karena masih merahasiakannya dengan azki.
"kapan mau pulang ke sana?"tanya azki, menghilang kebekuan diantara keduanya.
__ADS_1
"Semoga Allah mudahkan segalanya, jadilah adil untuk segala perkara" ucap azki dengan rasa cemas.
Setelah bersama perempuan yang kini telah menjadi istri nya dalam hampir 1 tahun, azki sadar sulit bagi Nayra untuk memposisikan dirinya, setelah bertahun-tahun terbiasa menjadi gadis mandiri. Bahkan, setelah menikahpun Nayra masih dituntut mandiri, karena hubungan keduanya belum diresmikan.
Nayra berkendara dengan sepeda motornya, seperti biasa Nayra menggunakan jaket panjang hampir menutupi dua pertiga tubuhnya, dan sepatu sneaker putih yang diikat dengan rapi.
__ADS_1
Nayra telah meminta izin kepada kepala madrasah, dan tentunya ,yayasan. Dia sungguh berharap 2 hari yang ia punya, cukup untuk mendapatkan banyak informasi yang terlihat seperti ada yang di sembunyikan oleh kakaknya.
Hutan yang luas, depan pemandangan perbukitan yang tidak mau dikalahkan oleh gunung-gunung yang menjulang, memaparkan aliran air dari kejauhan. Mencoba menyegarkan Nayra dengan udaranya yang segar, membuat Nayra lebih lega, meskipun tak mengurangi beban di fikirannya.