
Azki kembali ke kos setelah sholat Magrib. Nayra yang sedang menunggu telah siap dengan gamis, jilbab dan cadar Navynya.
"Ayo" Ucap Nay, ketika ia membuka kan pintu untuk Azki.
Dengan menaiki sepeda motor Nayra, mereka pergi menuju ke arah pelabuhan. Nayra duduk cukup dekat dengan Azki, berniat menutupi dirinya khawatir ada yang mengenalinya dijalan. Gelapnya malam membuat nya bisa sedikit tenang.
Sesampainya di pelabuhan, terlihat lampu remang-remang yang terdapat pada taman di tengah-tengah pelabuhan tersebut. Mereka memilih berhenti dan memarkirkan motor di bagian depan, kemudian menyusuri taman dengan berjalan kaki.
Setelah berada ditengah taman, mereka duduk di kursi kecil berwarna putih yang sedikit jauh dari pencahayaan lampu taman. Posisi itu menampakan kerlap - kerlip lampu di pulau- pulau terdekat dan hempasan ombak yang dibantu angin malam yang mulai bertiup di bulan juli.
Nayra melihat ke arah Azki yang sedang sibuk dengan membalas beberapa pesan di ponselnya. Ia diam saja. Memahami bahwa sifat laki-laki yang berfokus pada 1 hal. Iseng Nayra menyelipkan tangan kanannya ke dalam tangan kiri Azki yang sedang sibuk mengetik. Azki tak menolak tangan Nayra. Tak lama Nayra menarik tangannya lagi. Merasakan tangan Nayra lepas dari tangannya, ia yang sedang sibuk membalas pesan menarik tangan itu, sehingga tetap dalam genggamanya. Tanpa melihat Nayra yang tersenyum karena tingkahya, ia kemudian melanjutkan membalas pesan tersebut. Ternyata pesan itu dari Ustadz Rahman.
"Ustadz, apa yang terjadi jika ada salah satu santri atau orang pondok atau siswa ku atau juga guru-guru melihat kita yang seperti ini" Kata Nayra tanpa melihat ke arah Azki. Azki melihat ke arah Nayra sebentar, lalu ikut memandang ke arah pandangan Nayra yang lurus ke depan.
"pertama jika kita terlihat oleh santri atau siswa mungkin kita akan diadukan ke kepala yayasan pondok pesantren atau kepala sekolah mu, jika guru-guru atau ustadz pondok mungkin kita akan dinasehati, jika dilihat kepala yayasan pondok pesantren atau kepala sekolah mu, mungkin kita akan dinikahi" Kata Azki sambil menahan tawa.
"iya. Dinikahkan" Ucap Nayra dengan nada terdengar putus asa
"Tak ada yang salah jika kita dinikahkan" Kali ini Azki melihat ke arah Nayra dengan sedikit menggodanya.Namun, Nayra hanya diam.
Setelah lama besenda gurau dan menikmati makanan dengan angin laut yang sudah mulai menyampaikan dinginnya dari gunung yang menjulang menguap dengan air dari sungai-sungai yang mengalir menjadikan malam itu semakin dingin dan lembab. Mereka beranjak pergi dari tempat itu.
"Ustadz" panggil Nayra kepada Azki yang sedang berjalan disampingnya.
"ia" jawab Azki, Nayra hanya tersenyum
__ADS_1
Mereka tetap berjalan menuju ke arah parkiran. Tempat mereka memarikirkan motor.
"Ustadz" Panggil Nayra lagi. Namun, setelah Azki menjawab ia hanya tersenyum.
"Ustadz" Panggilnya lagi.
"iya, Nay" Suara Azki lembut
"Abang" panggil Nayra lagi, yang lansung dijawab azki
"iya"
"Apa Nay?"Sambung Azki, meminta Nayra mengulang ucapannya, karena ingin memastika apa yang ia dengar.
"apa?!" Pinta Azki, pada Nayra
"Abang" Ucap Nayra pelan, namun cukup jelas terdengar.
"Apa?" Kata Azki
"Abang" Ulang Nayra lagi
"apa" Azki usil
"Ustadz, gk jadi nginep kan?" Nayra kesal merasa dipermainkan. Lalu meninggalkan Azki.
__ADS_1
***
"Ngapain beli cemilan?" Nayra mengikuti langkah Azki yang sedang memilih cemilan di rak mini market.
"mau ngajak nay nonton film" Azki ringan, dan membawa keranjang yang sudah dipenuhi cemilan ke kasir.
"jangan begadang, nanti susah bangun" kata Nayra dengan tetap mengikuti langkah Azki.
"Kan ada kamu. Orang nge-jemur baju jam 1 malam, terus kamu bangun jam 3 aja bisa. Apalagi ini" Kali ini Azki berucap puas pada Nayra. Namun, ucapan itu malah membuat Nayra ingin mengusilinya
"Jadi selama ini merhatiin" kata Nayra melihat Azki.
Azki yang melihat mata Nayra menyipit di balik cadarnya, menyadari bahwa perempuan itu sedang tersenyum menggodanya.
"tapi, nyakitin" lanjut Nayra
Mereka melangkah keluar dari mini market dengan menenteng plastik hitam yang sudah di penuhi makanan. Azki pelan mengendarai motor di hari yang sudah semakin gelap dan sepi.
"owh, tersakitiiiiii?" Balas Azki
"Niat yaaa" kata Nayra, sambil mendekatkan wajah nya ke Azki, agar lebih mudah ia berbicara
"jangan terlalu dekat nanti suka" pancing Azki
"Suka juga gak masalah" Kali ini Nayra tersenyum ringan semakin mendekatkan wajahnya pada laki-laki itu, yang diikuti tawa Azki.
__ADS_1