
Seiring berjalannya waktu, mereka terus menjalani kehidupan mereka. Hampir setiap hari Nayra mengantarkan makanan untuk Azki, kecuali hari minggu saja ia tak datang, karena tak memiliki alasan untuk ke pesantren. Begitu juga Azki hampir setiap malam minggu ia tidur di kosan Nayra, dan kembali ke pesantren.
"Jadi, ustadz. Ustazah baru datang?" Tanya Azki ringan pada Ustadz Rahman di sela-sela waktu luang mengajar di pesantren.
"Insyaa allah, ki. Mudah-mudahan lebih bisa membantu kita nantinya" Jawab Ustadz Rahman
"ki" panggil Ustadz Rahman
Azki melihat ke arah Ustadz rahman, namun ada perasaan lain dari nada bicara Ustadz Rahman.
"Maaf sebelumnya. Jika pertanyaan bapak akan sedikit mengusik kehidupan pribadi mu. Bapak hanya ingin tau saja" Pelan-pelan laki-laki dewasa itu berucap, menyusup setiap kata menjadikan dirinya semakin bijak.
Azki menarik nafas sebentar. Lalu mengangguk. Menandakan bahwa ia memberikan izin untuk bertanya.
"Bapak liat akhir-akhir ini sering keluar dari pondok setiap malam minggu. Azki kemana?"
Azki diam sebentar. Ada rasa takut untuk menjawab pertanyaan seperti itu.
"ke rumah kawan pak" jawabnya singkat
"ke rumah kawan tak ape, jangan je ke rumah yang laen" ucap Ustadz Rahman kental dengan bahasa melayunya.
Azki tersenyum
"Bapak juga liat sekarang Azki sudah mau berinteraksi dengan santri putri. Bapak merasa cukup terbantu sebenarnya. Hanya saja merasa aneh dengan perubahan yang tiba-tiba" Jelas Ustadz Rahman.
Azki lagi-lagi tersenyum saja.
"jika memang ada seorang perempuan yang sudah terniat di dalam hati Azki. Boleh lah bapak bantu untuk menemui keluarganya" tawar ustadz Azki.
__ADS_1
Azki memahami kegelisahan Ustadz Rahman. Ia hanya takut jika Azki terfitnah dengan tindakannya. Baik terfitnah secara imannya yang menurun, hafalan yang menghilang, amalan yang menurun, atau dari mata-mata orang yang melihatnya. Fikir Azki.
"Jika gadis seperti Nayra, Azki tolak. Mungkin gadis seperti Maryam Azki mau. Dia Hafizoh dan Alimah. Insyaa allah" Ucap Ustadz Azki.
Azki hanya tersenyum lagi
"Pak" kali ini Azki yang memanggil Ustadz Rahman setelah kebisuan mereka beberapa saat.
"iya"jawab Ustadz Rahman
"Bapak kapan ada waktu, saya ingin menjelaskan sesuatu" Kata Azki pelan-pelan seperti mendramatisirkan keadaan.
"Sekarang boleh" Ustad Azki ringan dengan sedikit senyum.
"Tidak bisa sekarang, pak. Ada seseorang yang ingin saya bawa bertemu bapak juga" Azki semakin gugup
"Nanti bapak liat saja. Kira-kira kapan?" pinta Azki memastikan.
"bisakah malam ahad ini?. soalnya Azki tau rabu saya akan berangkat Umrah dan kegiatan lainnya." Tukas Ustadz Rahman
"Insyaa allah, kami akan betemu bapak malam ahad" Ucap Azki serius.
Ia telah bertekat untuk menghilang sedikit rasa bersalahnya kepada pesantren terutama Ustadz Rahman atas apa yang telah ia lakukan. Berharap laki-laki itu memahami keadaannya.
Hari Kamisnya pesantren disibukkan dengan kedatangan seorang Ustazah baru. Maryam namanya. Perempuan yang menggunakan pakaian serba hitam serta niqab. Kebiasaan baru muncul.
Perempuan itu anggun, lemah lembut bertutur kata dan mudah untuk tersenyum kepada sesama santri putri.
"Ustazah, Ustazah dah liat Ustadz Azki. Ganteng dan manis Ustazah. Hafidz dan alimah sama seperti Ustazah. Ustazah tak tertatik ke?" kata Nisa dengan logat melayunya.
__ADS_1
"Ustazah, nak je. Kalau ustadz tu nak" Jawab Maryam.
kemudian, di sambut gelak tawa santri putri yang mendengar ucapannya.
"Kalau gitu, boleh lah kita coblangkan Ustazah Maryam same Ustadz Azki, kan Ustazah Aisyah" kali ini Mira yang menyambung.
Ustazah Aisyah tersenyum dan mengangguk, sedang santri putri tertawa pelan.
***
"Nay gugup, Ustadz" ucap Nayra kepada Azki yang sedang mengendarai motor.
"bismillah" Jawab Azki sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nayra yang berada mendongak sampingnya itu.
Jalan semakin gelap, melewati hutan sagu yang tak berlampu jalan. Azki tak berniat untuk menambah kecepatan kendaraan mereka karena khawatir akan ada hewan hutan yang menyebrang jalan tiba-tiba.
Nayra, mengencangkan jaketnya dan lebih mendekatkan diri pada Azki, karena hawa dingin dari hutan dan pegunungan telah sampai dikulitnya.
Mereka sudah melewati jembatan perbatasan antar desa, yang menandakan bahwa tempat tujuan mereka hampir sampai. Azki menghentikan motor di depan sebuah halaman rumah permanen dua tingkat, yang di cat dengan warna hijau dan kuning ciri khas warna suku melayu pedalaman. Serta terdapat sebuah teras kayu yang dihiasi oleh bunga yang terisi di dalam pot-pot plastik dan batu berukiran.
Pintu rumah itu terbuka. Mereka mendekat dengan perlahan.
" Assalamualaikum" Suara Azki memberi salam menghadap ke depan pintu, namun Nayra berdiri di sebalik dinding rumah itu.
"Waalaikumus salam" jawab Ustadz Rahman, sambil menyambut Azki di depan pintu, dan sedikit mencari sosok yang dijanjikan Azki.
Nayra keluar disebalik dinding, melihat ke arah Ustadz Rahman.
"Nayra?" ucap Ustadz Rahman pelan, memastikan penglihatannya.
__ADS_1