Ambiguitas Diantara Kita

Ambiguitas Diantara Kita
Dua


__ADS_3

Suara ponsel dari dalam tas Nayra berbunyi dan bergetar, hingga membuat Nayra terbangun. Ia terbangun dengan posisi kepalanya masih bersandar di bahu Azki.


"Dug" Suara kepala Nayra terbentur dengan dagu Azki yang seketika membuat laki-laki itu terbangun dari tidurnya


"Aduh" Nayra dan Azki serentak.


Nayra yang baru menyadari bahwa ia telah bersandar di pundak Azki dan membentur dagunya lansung meminta maaf.


"Gk papa"ucap Azki pelan


Dikeluarkan ponselnya yang masih berdering didalam tasnya.


Kak Maya, tulisan yang tertera di layar ponselnya.


"Assalamualaikum, Kak" Kata Nayra.


Nayra diam mendengarkan perkataan Maya.


Tak lama ia memberikan ponselnya pada Azki. Azki tak memahami maksud Nayra meskipun sedari tadi ia sedang memperhatikan perempuan itu berbicara.


"Ustadz, kakak mau ngomong sama ustadz, boleh?" tanya Nayra dengan menyodorkan ponselnya kepada Azki.


Diraihnya ponsel yang Nayra ulurkan padanya. Tidak sengaja yang menyentuh ujung jari Nayra, yang membuat keduanya sama-sama menarik tangan masing-masing.


Dengan keadaan canggung setelah tak sengaja menyentuh tangan Nayra, Azki menjawab panggilan Maya, kakak nya Nayra.


Ia diam mendengar orang yang diseberang berbicara.


"Iya kak. Saya akan mengantar Nayra pulang. Setelah itu lansung pulang ke pesantren" katanya


"Insyaa Allah, Kak. Wa alaikumus salam" katanya.


Ia menyerahkan ponsel Nayra dengan memegang bagian ujung ponsel, supaya kejadian diawal tidak terulang lagi.


Keduanya terjebak saling diam. Nayra yang sudah merasa tidak mengantuk karena sudah lama tertidur memilih melihat ke arah luar jendela. Kapal mendarat di sebuah dermaga kecil yang terbuat dari kayu serta jembatan kayu yang menuju ke daratan pulau itu. Di tepian pantai dipenuhi dengan rumah-rumah penduduk menunjukkan bahwa mereka adalah penduduk tradisional yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Nayra mengenali tempat itu.


"Sudah cukup lama aku tertidur, entah apa saja yang sudah aku lakukan dengan ustadz ini. Heishhhh " fikirnya pasrah.


Disebalik cadarnya Nayra tiba-tiba tersenyum, dilihatnya Azki yang sedang serius memperhatikan layar ponsel.

__ADS_1


"Ustadz, udah sampai. Ayo naik" ucapnya pelan


"Kenapa, Nay?" tanya Azki


"Udah sampai. Ayo, naik" ajak Nayra dengan mengulang ucapannya tadi.


"Beneran?" Azki memastikan


"Iya" ucapnya pelan. Sulit baginya untuk menahan senyum saat itu, untung saja wajahnya di tutupi cadar, tapi matanya tak dapat menyembunyikan bahwa ia sedang tersenyum.


Azki yang merasa aneh dengan ekspresi Nayra, lansung melihat keluar dari jendela yang berada disamping Nayra.


Nayra yang terkejut lansung mundur hingga ia bersandar disenderan kursi, karena tubuh Azki cukup dekat dengannya.


"Jika aku tau dia akan melakukan ini, aku tak akan mau berbohong untuk mengerjainya" batin Nayra sambil menahan nafas.


Azki yang menyadari Nayra yang berniat mengerjainya, berniat mengerjai Nayra juga.


"Biar saja seperti ini. Ia pasti kesusahan bernafas" batin Azki


Setelah cukup lama baginya, posisi Nayra seperti itu, dilihatnya sudah berkurang penumpang yang turun ke dermaga itu, Azki mengajak Nayra naik seperti ajakan Nayra.


lalu meninggalkan Nayra di kursi sendirian. Ia berjalan diantara penumpang-penumpang lain, dan bersembunyi di sebalik pintu lain sebelum pintu keluar.


Nayra yang melihat Azki menuju keluar gugup, karena kapal terlihat akan benar-benar berangkat. Tidak tinggal diam, ia lansung menyusul Azki dan mencarinya.


Azki yang melihat Nayra di sebalik pintu tersenyum.


Nayra melihat ke arah luar pintu, tak dia temukan Azki. Lalu, diam sejenak.


Azki yang melihat perempuan itu bingung, merasa tak enak hati.


"Nay" panggil Azki pelan


Merasa seseorang memanggilnya dan mengenali suara itu, Nayra lansung membalikkan tubuhnya, didapati Azki yang berdiri tepat di depannya.


"Ustadz, Nay kira ustadz beneran naik dari kapal" Ucapnya khawatir


"Nay, minta maaf, karena sudah berbohong dan mengerjai ustadz" katanya pelan. Matanya melihat ke bawah

__ADS_1


"Gk papa. Saya tau Nay sedang ingin bercanda. Ayo kembali ke kursi kita" ajak Azki dan Nayra mengikuti langkahnya dari belakang.


"Ustadz"panggil Nayra


"iya" Jawab Azki singkat tanpa melihat ke arahnya sambil terus berjalan menuju kursi.


Nayra diam


"Kenapa" tanya Azki, karena Nayra tak bersuara setelah memanggilnya


"Tidak apa-apa" jawab Nayra.


Nayra kembali ke tempat duduknya yang berada di samping jendela kapal dan Azki duduk disampingnya.


"Ustadz" panggil Nayra lagi


"Iya. Nay. Kenapa" jawab Azki sambil, kali ini ia melihat ke arah Nayra.


Nayra hanya menggeleng. Menandakan tidak apa-apa. Azki berbalik ke posisi awalnya.


"Ustadz" Panggil Narya lagi.


Azki tersenyum ke arah nya.


"Naaaaaaaaaaaay" panggil Azki


Mata Nayra menyipit menandakan ia sedang tersenyum.


Tapi ia tetap menggeleng ke arah Azki.


Azki masih melihat ke arahnya, sambil menatap wanita itu lekat, hingga Nayra yang merasa salah tingkah dibuatnya. Azki terus mempertahankan senyumnya. Senyum yang sangat jarang muncul di depan kaum wanita.


"Ustaaaaaaaaadz, berhentilah menatap Nay" Ucap Nayra


"Salahnya Nay" kata azki singkat.


"Mohon maaf lahir dan bathin ya, Ustadz Azki. Janji tak jail lagi" ucap Nayra.


ucapan itu hanya membuat azki semakin melebarkan senyumnya.

__ADS_1


__ADS_2