Ambiguitas Diantara Kita

Ambiguitas Diantara Kita
Tiga


__ADS_3

Nayra mengambil jajanan yang sempat ia beli ketika berada di hotel. Sekantong keripik besar mendarat tepat dipangkuannya.


"Ustadz, mau?" Tanya Nayra, sambil menyodorkan bungkusan kripik tersebut ke arah Azki.


Azki lansung menarik bungkusan kripik tersebut dan memakannya.


"ustadz, jangan diambil semua. Kan Nay masih mauuuu"protes Nayra, karena kripiknya tak juga dikembalikan oleh Azki.


"kiraiin, udah gk mau" Ucapnya santai, yang lansung mendapatkan tatapan yang aneh dari Nayra.


"ingin sekali ku tarik cadarnya, untuk melihat ekspresi wajahnya yang sedang cemberut ini" Batin Azki.


Disodorkannya bungkusan kripik tersebut ke arah Nay.


"Biar saya saja yang memegangnya" kata Azki, karena merasa Nay menarik bungkusan kripik tersebut.


Malu-malu Nayra mengambil kripik yang berada di tangan Azki.


Kapal terus berlayar melewati laut biru, terkadang melewati selat hingga singgah di dermaga kecil satu per satu. Penumpang turun sambil mengobrol dengan bahasa masing-masing, menyisakan kesan perbedaan namun besarnya toleransi dan memahami. tak jarang suara tawa menghiasi obrolan yang hanya sekejap untuk pertemuan yang pertama atau yang telah kenal lama. Semua itu tersamar, yang terlihat dan terdengar seperti mereka adalah saudara yang telah lama pergi dan bertemu kembali. Ramah tak bertuan lagi.


Kapal mulai memasuki sungai yang dipagari pohonan bakau, sesekali terlihat dekat perkampungan dengan rumah panggung di tepian pantai. Sederet rumah berwarna kuning tersusun rapi, rumah-rumah itu adalah rumah suku laut. Mereka yang dulunya hidup di sampan-sampan kecil atau kapal-kapal kecil dengan layar kecilnya sudah mulai belajar menetap di sebuah pulau, bermasyarakat dengan masyarakat sekitar.


Hingga kapal merapat ke sebuah dermaga permanen. Diseberangnya terlihat deretan bakau yang menutupi gunung daik dan gunung sepincan, namun gunung-gunung itu tetap saja memamerkan keindahannya yang dipuncaknya terkadang di tutupi awan cerah.

__ADS_1


Penumpang mulai berdiri dan melangkah keluar, Nayra dan Azki masih duduk di kursinya. Ketika semua penumpang sudah naik ke dermaga, baru lah keduanya beranjak. Nayra bejalan terlebih dahulu dan diikuti Azki dibelakangnya.


Tiba-tiba Nayra berhenti, sontak Azki pun berhenti. Nayra berbalik menghadap laki-laki itu.


"ustad, Nay tidak mau dinikahkan orang kampung karena hubungan kita yang terlihat dekat oleh mereka" kali ini Nayra mengingatkan Azki.


"kita sudah sepakat tentang hal itu, Nay" Azki tersenyum menatap Nayra dengan tenang.


"Baiklah, ayo kita naik" Kata Nayra


"apakah begitu menakutkan dinikahkan orang kampung dengan ku" fikir Azki yang menyisakan senyum di wajahnya.


Nayra berjalan sambil menggendong ransel kecil di tas nya dan diikuti Azki di sampingnya namun berjarak. Hari itu tak ada 1 ojek pun yang berada di pelabuhan, mereka terpaksa berjalan di jembatan dengah terik matahari jam 2 siang, melewati rumah penduduk, hotel, rumah makan, toko pakaian, toko mas, warung makan yang semuanya berdiri di atas sungai. Kapal-kapal kayu, kapal-kapal kecil, kapal barang, kapal fiber dan sampan, terikat disamping-samping jembatan. Mereka melewati sebuah jembatan lengkung yang menghubungkan jembatan yang satu dengan jembatan yang berada disebarangnya.


Azki berhenti di tengah jembatan lengkung itu, memandang tepat pada gunung yang membiru dan membayang di air yang hijau terendam banyak daun bakau. Disebelah lainnya ada jembatan lengkung sama seperti tempat ia beranjak menghubungkan kedua jembatan yang sama.


Azki yang mendengar namanya dipanggil, berjalan ke arah Nayra yang sudah berada di ujung jembatan lengkung.


Dari jauh seorang laki-laki melambaikan tangan ke arah Nayra. Di balasnya lambaian itu sambil menaikan dua jarinya. Laki-laki itu adalah tukang ojek, dan Nayra memberikan kode bahwa ia membutuhkan 2 buah ojek.


Laki-laki itu mengisyaratkan kata oke dengab jarinya.


Tak lama, dua orang tukang ojek mendekati mereka.

__ADS_1


"Ke rumah ye, Bah" ucap Nayra, lengkap dengan dialek melayu kepulauan yang kental. Bah adalah panggilan untuk laki-laki melayu.


"Abang ini juge?" tanya laki-laki yang berada di depan Azki. Berusaha mengubah bahasanya, namun masih dengan dialek melayunya.


"iye, Bah" ucap Nayra singkat.


Nayra mulai melaju dengan motor yang ia tumpangi, begitupun Azki.


Mereka melewati perumahan penduduk yang mayoritas beragama budha dan kristen, melewati gereja katolik, dan protestan, kemudia vihara yang berada di atas bukit, tak jauh dari situ ada sebuah masjid. Kemudian, ada kuburan-kuburan china yang berada ditepian bukit.


Pandangan mereka berpindah mengitu arah yang mereka tuju. Rumah penduduk di tepian pantai, bakau dan pohon kelapa yang berbatasan dengan jalan-jalan kampung.


Azki menikmati setiap pemandangan yang masih dapat ia jamah dengan matanya.


"Abang, calonnye Nay, ye" celetuk tukang ojek tiba-tiba pada Azki


"Saya teman kerjanya Nayra, Bang. Pemilik pondok cukup dekat dengan ayah Nayra, jadi saya dan ayahnya Nayra mulai berteman karena hubungan itu" Jelas Azki.


Namun, penjelasan itu tak menghilangkan praduga dari masyaraka melayu yang terlalu ingin tahu itu.


"kawan ye" ucap tukang ojek mengulang maksud ucapan Azki.


Motor berhenti di depan rumah panggung, yang di depannya ada warung sembako kecil-kecilan dan toko pakaian yang juga kecil-kecilan. Seorang laki-laki yang sudah terlihat menua duduk di depan toko itu.

__ADS_1


Jantung Azki berdegup,


"Bismillah" Batinnya


__ADS_2