
Nayra duduk di pelantar (jembatan kayu) rumah yang berada di bagian belakang rumahnya, menatap jauh dipopohonan bakau yang jika bukan karena terangnya bulan menerangi maka tak terlihat karena pekatnya malam. Semilir angin laut menyusup melewati popohonan berbaur dengan air sungai yang menguap, menjadikan malam itu dingin meski masih dapat dinikmati.
Namun, malam itu Nayra tak berniat menikmati similir angin malam ataupun terang bulan dan pendar cahaya pada air sungai.
"Sudah sejauh ini taqdir menyampaikan cerita tentang ku agar aku pahami, namun tak satupun yang aku pahami" batin Nayra
Ingatannya teringat dengan rasa sakit 1 tahun yang lalu.
***
"Nay, ana dengar ustadz Azki berniat mengajak Nay ta'aruf. Selamat ya!" pesan itu diterima via whatsApp dikirimkan oleh salah satu istri dari seorang ustadz di pondok pesantren.
Nayra yang membaca pesan itu cukup terkejut, hingga tak juga ia balas sampai beberapa hari. Pesan itu cukup menyita fikirannya. Wajar saja saat itu ia masih berumur 22 tahun, baru bekerja selama 1 tahun dari hari kelulusannya. Ia juga belum siap menikah. Dalam bayangannya ia akan menikah 2 sampai 3 tahun setelah pernikahan kakak nya. Jika sudah bertaaruf mana mungkin membiarkan waktu yang lama untuk menunggu waktu pernikahan. Hingga ia memberanikan membalas pesan tersebut, hanya untuk menghormati pengirim pesan.
"Nay, belum tau tentang itu ukh"jawab Nayra singkat.
Tak lama pesan itu mendapat balasan lagi
"iya, ukh. Nanti anti denger saja. Akan sampai berita itu lansung ke anti" isi pesan dari perempuan itu.
__ADS_1
Nayra diam saja.
Beberapa hari kemudian, berita itu benar-benar mencuat dipermukaan. Mulai menjadi pembicaraan dipondok pesantren. Kabar mulai dikabari sampai ditelinga Nayra, mengatas namakan Ustadz Azki ingin nazhor (melihat wajah) Nayra.
"jika dia memang ingin Nazhor dengan niat bertaaruf karena ingin menikah, sediakan waktu dan tempat. Maaf saya tidak mau memberikan photo" Jawab Nay tegas.
Dari waktu ke waktu Nayra berusaha menganalisa berita yang ia terima.
"selama ini tak ada gelagat yang aneh dari Ustadz Azki. Seharusnya gelagat itu akan muncul jika benar adanya" pikir Nayra
Namun, tak dapat ia pungkiri ia bahagia dengan berita itu, tapi hatinya terlalu takut untuk benar-benar membuka. Layaknya perempuan biasa hatinya mulai ditumbuhi kegembiraan, meski dia sendiri cukup menutup diri dengan ucapannya ketika berbicara dengan orang prihal pendapatnya tentang Azki. Namun, perlahan-lahan ia sendirilah yang membuka kunci hingga pintu hatinya benar-benar terbuka untuk seseorang yang bernama Azki.
Hatinya begitu malu. Ia yang tak pernah mencintai seseorang belajar membuka hati untuk orang yang sebenarnya tak menginginkannya. lalu mengapa mereka memperlakukan hal itu padanya. Malam setelah berita itu sampai kepadanya, ia menangis sejadi-jadi dibagian belakang kamarnya yang berada di pondok pesantren. Ia tak perduli malam itu siapa yang mendengarnya, yang ia tau dia telah terluka karena candaan yang benar-benar tidak lucu dari mereka.
"why, Nab?. Why me.? Why not another people?. what my fals,?. Iam never hurt someone in here? thats not funny? why? they are havent right to make like that with me? " ucap Nayra. Ia sengaja menggunakan bahasa inggris nya meskipun masih belum seutuhnya benar, supaya tak semua orang paham maksudnya.
Setelah itu ia memutuskan untuk bertahan beberapa hari, dan menyibukkan diri di luar selama beberapa hari. Berharap ia telah damai dengan perasaannya. Nayra pulang ke rumah Ayah, bekerja lebih sibuk di MTs sampai ia meminta izin untuk tidak pulang ke pondok, tetapi menginap di rumah teman. Setelah ia benar-benar baikan, ia kembali ke pondok dengan sikap yang seperti biasanya.
Diingatnya perkataan Ayahnya, kuat-kuat seperti ia berusaha memegang hadist dan al-quran.
__ADS_1
"Nay, tak ada yang tau hati mu terluka atau tidak. Tak perlu perdulikan mereka, karena mereka tak tau apakah mereka menyakiti mu atau tidak. Mereka melakukan apa yang mereka sukai. Dan sangat bodoh jika kamu terluka karena mereka yang tak perduli dengan perasaan mu. Tak perlu diperdulikan. Anggap saja tak terjadi apa-apa. Pulang. Lakukan apapun yang kamu mau, yang penting tak menyakiti hati orang lain, melanggar syariat. Semuanya akan baik-baik saja, dan Nay akan baik-baik saja". Panjang ucapan ayah padanya.
Nayra yang sudah merasa muak dengan perasaan yang terluka karena kebodohannya yang membuka hati karena berita yang tak pasti, benar-benar memilihi berpikir waras.
"Al quran dan Hadist ada untuk menjaga umat manusia agar hidup baik-baik saja, ayah ku ada untuk menjaga ku agar aku juga baik-baik saja dan tak terluka karena orang lain". fikir Nayra
Mulai saat itu ia sudah tak memperdulikan perjodohan atau pencoblangan lagi. Tak ia perdulikan niat-niat baik dari laki-laki yang berada di sekitar pondok untuk bertaaruf dengannya, dengan alasan ia masih belum berminat untuk menikah, padahal ia hanya berusaha untuk menjaga hatinya agar tak terluka lagi.
pernah suatu malam, Pak Rahman memanggil Nayra secara pribadi ke rumahnya. Nayra pergi menemui beliau setelah isya seperti apa yang sudah di perintahkan kepadanya.
Panjang lebar pembahasan mereka mulai dari keadaan pondok, santri putri yang berada pada pengawasan Nayra, program pondok, hingga pada akhirnya laki-laki itu berbicara tentang hubungannya dengan Azki.
"Nay, bapak sungguh merasa menyesal atas apa yang terjadi antara Nay dan Ustadz Azki tempo hari, dan bapak belum sempat bertemu Nay" Ucap Pak Rahman tiba-tiba.
Nayra yang belum siap dengan topik itu, memilih diam untuk mendengarkan baik-baik ucapan beliau dan memasang pagar agar hatinya akan tetap baik-baik saja mendapatkan serangan yang tiba-tiba itu.
"sebenarnya Bapak ingin bertemu Nayra dari kemaren, tapi belum sempat. Malam itu setelah kita rapat, kami masih mengobrol hingha larut malam, dan sempat bergurau tentang Nayra kepada Azki. Namun, ia tetap diam saja tak menjawab gurauan kami, memilih tersenyum. Dan ternyata senyumnya di anggap serius oleh seorang ustadz, dan Nayra tau lah mengapa sampai ke Nayra beritanya" Jelasnya.
"Benar kata Ustadz Azki. Memang aku yang terlalu bodoh" batinnya.
__ADS_1
Nayra tersenyum dibalik cadarnya, mentertawakan kebodohannya. Bodoh tak perduli sarjana atau tidak, fikirnya.