Ambiguitas Diantara Kita

Ambiguitas Diantara Kita
Delapan Belas


__ADS_3

"Nay" Suara seorang wanita memanggil nama Nayra.


Nayra menoleh ke arah suara itu, dilihatnya kak maya sudah berdiri dibelakangnya.


Maya lansung memeluk Nayra, yang mendapati perempuan itu sudah bermata merah dan sembap. Dilepasnya pelan-pelan pelukan wanita itu.


"Nay, mana yang namanya Ustadz Azki?" tanya maya.


"itu"tunjuk Nay ke arah Azki yang sedang duduk.


Abang iparnya yang melihat ke arah ibu jari Nayra yang menunjuk ke arah seseorang, ia mendekati laki-laki itu lalu duduk disamping laki-laki itu.


"Azki" kata herman, yang merupakan abang iparnya nayra


"ia, bang" jawab Azki lalu menyalangi Herman.


"kenalkan saya Herman, abang iparnya Nayra" ucap Herman.


Mereka sedikit mengobrol, hingga akhirnya nama Azki dan Nayra di panggil. Nayra masih diam. Azki cepat menemui kadi di bagian depan.


"Pak, cukup saya saja yang disini dulu" Ucap Azki. Seperti memahami maksud Azki Nayra pun, tak berpindah dari tempatnya.


Kadi itu menyetujui permintaan Azki.


Ia menyerahkan sebuah cincin emas dihadapi kadi tersebut untuk dijadikan sebagai mahar pernikahannya.


Kadi mulai mengenggam tangan Azki. Mengucapkan kalimat ijab sebagai wali dari Nayra.


Narya gugup, meskipun bukan dia yang akan mengucapkan kabul.


Beraselan beberapa detik dari ucapan kadi Azki menjawab dengan qabul.


"قَبِلْتُ نِکَاحَهَا وَ تَزْوِيْجَهَا عَلَي الْمَهْرِ الْمَذْکُوْرِ وَ رَِضِْیتُ بِهِ وَ اللهُ وَلِيُّ التَّوْفِیْقِ"

__ADS_1


"sah?" tanya kadi pada semua yang hadir, beberapa orang diam.


"sah" kata kadi dan diikuti oleh 2 orang saksi serta yang hadir.


Azki sujud sukur di depan Kadi, saat kalimat sah itu mengaum di dalam ruang mushola tersebut.


Nayra meneteskan air mata tanpa ia sadari


"alhamdulillah" Ucapnya lega, dan lansung melakukan sujud sukur disamping Maya.


"Silahkan mempelai perempuan kemari"kata Kadi


Ia melihat ke arah Azki, kemudian berjalan mendekati ke arah beberapa orang laki-laki. Ia berusaha mencari jalan yang tak melewati kerumunan laki-laki. Ia duduk di samping Azki namun masih berjarak.


"dekat lagi"kata Kadi itu.


Nayra hanya menggeser sedikit


Nayra menggeser sedikit saja. Maya yang melihat adiknya kerepotan menyusul, lalu sedikit mengatur Nayra untuk bisa duduk disamping Azki. Nayra mendekat Azki yang sedikit menjauh.


"la kamu jangan menjauh"kata kadi tersebut pada Azki.


Azki kembali ke tempat duduk awalnya.


"Silahkan masukkan cincin itu pada mempelai wanita nya" kata kadi.


Azki bingung. Sekaligus dek dekan. Mungkin itu akan menjadi kali pertama ia menyentuh perempuan yang bukah mahromnya. Ia sudah memegang cincin itu dengan tangannya meskipun gemetaran. Nayra dengan bantuan Maya juga mengulurkan tangan yang sekali-kali tertutup. Azki yang berusaha memasukkan cincin itu, berulang kali memaju mundurkan tangannya. Nayra menunduk. Terlalu kuat ia memegang cincin itu, hingga cincin itu terlepas darinya dan jatuh ke sejadah.


"jangan terlalu gugup" kata kadi


"pelan-pelan" kata seseorang


"Bismillah"ucapnya.

__ADS_1


Akhirnya cincin itu terpasang di jari manis nayra.


"Cium tangan suaminya" perintah kadi tersebut


Kejadian itu berulang lagi, keduanya teramat sulit ingin bersalaman. Azki yang sudah mengulurkan tangan menunggu tangan Nayra yang di tarik ulur oleh pemiliknya. Ketika tangan Nayra ingin menggapai tangan Azki lagi-lagi azki yang menarik tangannya.


Hingga ada orang yang memegang kedua tangan tersebut barulah mereka dapat bersalaman. Kadi meminta azki mencium dahi Nayra. namun sebelum itu ia meminta Nayra untuk membuka masker.


Nayra terkejut.


"Jangan dibuka"kata Azki


"Tukarkan dengan milik mu ini. Maaf jika sedari tadi saya tidak memberikan ini. Hanya ingin menjaga nama baik islam, hingga mampu membuktikannya" Azki mengulurkan sebuah kain yang terlihat tipis berwarna hitam pada Nayra.


Jelas Nayra mengenali kain itu.


Kain itu adalah cadarnya yang tak sempat ia pakai saat hendak keluar kamar.


"Terima kasih, Ustad" ucap nayra, sambil menggantikan masker dengan cadarnya tanpa menampakkan wajahnya di depan orang ramai.


"Sebelum semua ini selesai, ada yang ingin saya sampaikan" kata Azki dengan tegas dan sopan, wibawanya sebagai seorang ustadz keluar pada saat itu untuk mengembalikan marwah seorang wanita yang dituduh berzina bersamanya itu.


"Silahkan" ucap kadi itu.


"Perempuan yang saat ini dinikahkan dengan saya, insyaa allah adalah perempuan yang sangat menjaga marwah sebagai wanita muslim. Menjaga pergaulannya, menjaga suaranya. Keinginan berzina seperti yang dituduhkan kepada kami ini adalah sebuah ketidakbenaran karena kami telah mengenal 1 tahun tanpa pernah 1 kali pun berbicara, padahal perempuan ini tidur disebelah kamar saya, yang hanya di batasi oleh tanah yang lebarnya tidak lebih dari 1 meter, kami sering ditinggal hanya berdua untuk menjaga santri saja, namun tak 1 kalipun kami bertemu. Perempuan ini yang selalu mengetuk pintu untuk membangunkan kami tahajud, hanya mendengar suara dari dalam saja sudah cukup membuatnya lari masuk ke kamar. Jika bertemu dijalan ia selalu menunduk. Jika ada jalan lain meski jauh maka ia lebih memilih jalan yang jauh itu, ini lah dia sebenarnya, yang telah dituduh berzina" ucap Azki.


semua orang diam, dengan fikiran mereka masing-masing.


Nayra semakin menunduk.


"semoga allah memberkahi pernikahan kalian" kata kadi itu, merasa takjub dengan ucapan laki-laki itu.


Drama singkat itu berakhir malam itu juga, cukup menjadi buah bibir saat itu juga. Ketika keluar beberapa orang lebih melihat ke arah keduanya. Namun mereka tetap keluar dan berlalu.

__ADS_1


__ADS_2