Ambiguitas Diantara Kita

Ambiguitas Diantara Kita
Empat Belas


__ADS_3

Hari itu Nayra menggunakan gamis coklat susu yang ditutupi cardigan tanpa lengan bermotif kotak hitam dan coklat, jilbab panjang coklat panjang yang menutupi lebih dari setengah tinggi Nayra, dan niqabnya yang senada dengan jilbab, serta menggunakan sepatu kets biru muda. Dengan menggendong tas ransel hitam, yang terdapat sebuah gantungan boneka kain berwarna hitam putih.


Ia berjalan sendiri dengan santai menuju ke arah keluar dari pelabuhan. Ia melewati pagar dalam pelabuhan dan menuju area parkiran. Sudah banyak taksi yang memanggil namanya, begitupun tukang ojek. Nayra memilih untuk berjalan kaki, menyusuri teras-teras toko. Ia memilih untuk singgah di tempat makan biasanya ia singgahi saat kuliah ditempat itu. Untuk mencicipi segarnya sup ayam milik baba keturunan tiong hoa.


"Ba, sup ayam 1 ha" katanya ketika laki-laki yang sedikit berumur itu mendekatinya.


"Sup ayam 1" teriaknya, laki-laki itu duduk di kursi bersebrangan dengan Nayra.


"Lu ha, udah lama gak keliatan, kemana? Biasanya rajin mampir ke sini" ucapnya berbahasa Indonesia namun dengan logat tiong hoanya.


"Ala, Ba. wa udah pulang kampung. Makanya udah jarang maen ke sini. Tapi, tiap kali datang keknya mampir terus la Ba" jawab Nayra panjang.


Wa adalah yang berarti saya.


"udah, pulang. Lu udah selesai kuliahnya?" lanjut laki-laki itu lagi.


"udah, Ba. Malah udah dapat kerja" jawabnya sedikit membanggakan diri, tapi tak sebetulnya


"bagus la. Lu kan tau ya. Sekarang cari kerja susah lo" kata laki-laki itu.


Seseorang perempuan datang mengantarkan semangkok sup yang masih mengepul uapnya. Kemudian ia meletakkannya di hadapan Nayra.


"kalau belum dapat kerjaan, kerja disini saja lo," perempuan itu ikut menimpali pembicaraan mereka


"Lu nginap dimana?" tanya nyonya itu.


"Wa nginap di hotel la Nyonya" Jawab Nayra, sambil mengaduk pelan mangkok supnya.


"okeh la. Lu lanjutin sama Baba ya, Wa mau ke belakang" perempuan yang Nyoya itu kembali ke belakang dengan kesibukannya di dapur.


Tak lama setelah nyonya itu pergi, baba pun pergi. Nayra terus menikmati sup ayamnya.


Setelah selesai dengan makan siangnya, Nayra melanjutkan perjalanan yang sudah tidak jauh lagi.

__ADS_1


Nayra menaiki tangga hotel yang menuju ke meja resepsionis.


"Permisi, kak. Saya mau pesan 1 kamar, dengan kasur ukuran king size" Kata Nayra.


"Mohon maaf sebelumnya kak. Kamar dengan kasur ukuran king size hanya tinggal 1, itupun sedang di bersihkan. Mungkin sebentar lagi selesai. Jika kakak mau, kakak boleh menunggu, atau memesan yang lain boleh?" panjang penjelasan perempuan yang berdiri di belakang meja resepsionis .


"Saya menunggu saja" jawab Nayra. Nayra, menerima kunci yang masih berupa kunci biasa dengan sebuah gantungan dengan lambang hotel, serta membayar tagihannya untuk menginap selama 2 hari.


Nayra, memilih duduk di balkon hotel yang menghadap ke arah kolam renang. Karena sudah lama menunggu, ia fikir bahwa kamarnya sudah selesai dibersihkan.


Nayra berjalan menuju kamarnya, melewati lorong-lorong kamar dengan pintu tertutup.


"Krek" suara pintu terbuka


"owh, mungkin petugas kebersihannya lupa mengunci kamar" Fikir Nayra.


Nayra, masuk. Berjalan menuju cermin yang ada di depan kasur. Ia membuka cadarnya.


" uuuuuf, segarnya" kata Nayra, menghirupkan udara dingin dari pendingin ruangan.


"tok, tok, tok" suara pintu kamar hotel di ketok dari luar.


Nayra beranjak membuka kan pintu, meski agak ragu. Karena ia tak merasa memiliki tamu untuk hari itu. Tak ada yang berjanji untuk menemuinya. Mungkin saja pekerja hotel fikirnya.


"tok,tok, tok" pintu itu kembali di ketok. Nayra pun bergegas membukakan pintu, tanpa sempat menggunakan cadarnya, jadi ia hanya menutupi wajahnya dengan jilbabnya saja.


Setelah dibukanya pintu ada 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan, mereka maju sehingga Nayra refleks mundur masuk ke dalam kamar.


"Cari siapa ya pak" tanya Nayra pelan di balik kain jilbab yang menutupi wajahnya.


"Kami dari pihak satpol pp, ingin memeriksa kamar anda. Apakah anda sedang sendiri?" tanya laki-laki itu. Ucapannya malah terdenger seperti tekanan Bagi Nayra.


" iya, saya sendiri" jawab Nayra sedikit gugup.

__ADS_1


Laki-laki itu melangkah lebih masuk ke dalam kamar.


Tiba-tiba terdengar suara air dari kamar mandi. Ketiga orang itu refleks melihat Nayra.


" iya, pak. Saya sendiri" ulang Nayra kali ini lebih gugup karena suara air dari kamar mandi itu.


Laki-laki itu berjalan menuju depan kamar mandi.


Nayra semakin gugup, ia cukup paham kalau sudah bermasalah dengan Satpol PP, ia sering melihat hal ini di tempat ia ngekos dulu sewaktu kuliah, Satpol PP menggring beberapa pasangan yang belum halal.


"Mudah-mudahan buka apa-apa" Nayra mencoba menenangkan diri sendiri.


Seorang laki-laki keluar menggunakan celana cinos coklat dan kaos hitam. Menatap bingung seluruh orang yang ada di dalam kamar itu. Matanya tertuju pada seorang perempuan yang sedang menutupi wajah menggunakan jilbab. Namun ia diam saja.


Nayra yang mengenal laki-laki itu refleks menyebutkan namanya.


Nayra semakin gugup Karena pasti orang-orang itu berfikir bahwa ia telah berbohong jika ia sendirian.


" Anda kenal wanita ini" tanya seorang laki-laki yang bertubuh kekar kepada Azki.


Azki diam sebentar, memastikan penglihatannya. Kemudian ia mengangguk.


Habislah sudah, pikir Nayra,


"silahkan ikut kami ke kantor kepolisian" perintah laki-laki itu.


Azki di ajak oleh laki-laki itu keluar, dan Nayra di bawa oleh perempuan yang bersama mereka.


"Pak, saya tidak tau jika dia ada di dalam kamar" Nayra berusaha menjelaskan yang sebenarnya, namun memang alasannya terdengar klise di depan petugas Satpol PP itu.


"Jelaskan saja di kantor nanti" jawab perempuan itu singkat.


Dilihatnya Azki yang diam saja. Bahkan tak berusaha memberikan penjelasan.

__ADS_1


"Mudah-mudahan aku tak benar-benar tamat" batin Nayra, yang hampir menangis.


__ADS_2