
Nayra mendelik melihat ke arah azki.
"Abang dengar ucapan nay tadi siang. Nay tidak akan mengizinkan"ucap nay tegas.
"maksud abang, ustadz hanif nay" kata azki.
"pegang ucapan nay. Selain taqdir yang telah allah tentukan. Nay tak menyukai ustadz hanif sebagai wanita dan laki-laki dewasa"jawab nay.
"dulu sewaktu dia belum menikah, hanif sangat menginginkan mu dan mungkin sampai sekarang. Abang tau hanif pernah ingin melihat wajah nay tanpa alasan"ucapan azki berhenti sejenak.
"abang, tidak merasa sakit hatikah? membicarakan seseorang yang menyukai istri abang?"tanya nay
"bagi nay, hal itu tak penting"lanjutnya lagi.
Azki melihat ke arah nayra.
"percaya lah sebagai wanita dunia, nay bisa menjaga diri dari laki-laki sejenis itu"lanjutnya lagi, kali ini dengan menampilkan senyumnya dan gigi gingsul di sisi kanan.
Azki tersenyum, memperhatikan betapa kerasnya si anak bungsu yang telah menjadi istrinya itu.
"malam ini kita jadikan ke pesantren?"tanya nayra.
azki diam.
"abang?"desak nayra lembut.
__ADS_1
"disini saja ya. abang lagi malas mendengarkan cerita hanif nanti"katanya singkat.
"Nay"panggil azki.
"iya"jawab nay singkat.
"Mengapa nay begitu jujur dengan perasaan? maksud abang, sebagai wanita yang biasanya menutupi tentang perasaan. Mengapa nay begitu terbuka?"ucap azki.
"untuk menanam sebuah benih kita seharusnya bisa menentukan tanaman mana yang cocok untuk ditanami misalkan saja di tanah yang sedikit kering, tak seharusnya kita menanam padi. Mungkin saja singkong lebih baik ditanam. Jika dari awal nay tidak jujur bahwa tanaman yang cocok itu adalah singkong bukan padi, itu hanya akan membuat kita lelah dalam mengolah tanah, pengairan, dan yah menunggu. Namun ternyata bukan padi yang tepat. Tapi singkong." kata nay
"Jujur akan membuat semuanya mudah dimengerti dan dijalani, meski terkadang jujur diawali dengan terluka. Tapi sedikit, dari pada mendalam nantinya" sambung nayra lagi.
Azki hanya bisa tersenyum mendengarkan ucapan nayra.
Ponsel nayra berbunyi sebentar, Ponsel itu diambil azki.
"apa katanya?" tanya nay
Azki tak menjawab pertanyaan nayra, namun menyodorkan ponsel kepada nayra.
"itu artinya memang allah, maunya nayra sampai ke pesantren" kata nayra pada azki.
Nayra beranjak dari posisi baringnya, lalu mengecup bibir azki dikemudian pergi.
"Nay, mau mandi" ucap nay, pergi ke kamar untuk mengambil pakaian.
__ADS_1
"Nay, bareng" jawab azki.
"Sabar, sayang beberapa bulan lagi kok" nayra pergi ke kamar mandi, dengan azki yang masih berada di sofa ruang tamu.
* * *
Azki menarik nayra yang baru masuk ke kamar hingga menempel di dinding. Di dekatnya tubuhnya pada nayra. Wangi segar tubuh nayra, membuat azki semakin menyukainya. Ia mendekatkan wajahnya pada nayra hingga menyentuh bibir nayra. Awalnya nayra membiarkan azki menciumi bibirnya, setelah beberapa saat ia pun membalas cumbuan itu. Alih -alih azki turun ke leher nayra yang jenjang. Menciumi setiap lekuk leher itu dengan perlahan. Sementara tangannya tak tinggal diam, menyentuh tubuh nayra yang masih menggunakan celana panjang dan tanktop putih.
Nayra menyentuh perlahan kepala azki yang sedang berada di lehernya. Digiringnya pelan-pelan hingga kembali menciumi bibirnya. Nayra mengecup 1 kali dengan sedikit kuat, lalu melepaskan kan ciuman azki.
"jika seperti ini, malam nanti nay tidak akan tidur bersama abang. Tapi bersama maryam"tukas nayra sambil tersenyum.
"ah" suara azki terdengar mengeluh.
"jadiii" nayra menggoda lalu berniat menciumi azki lagi. Namun, dicegah azki dengan menutupi bibir nayra dengan tangannya.
"bersiaplah, kita berangkat"kata azki, melepaskan tangannya lalu mengecup bibir nayra.
Nayra bersiap menggunakan pakaian lengkap, gamis lebar, jilbab yang terulur panjang, kaos kaki yang menutup kaki, serta cadar yang menutupi wajahnya. Nayra mengambil jaketnya kemudian mengikat bagian pinggangnya.
Azki yang sedari tadi memperhatikan istrinya itu bergerak, mendekati nayra. Dipeluknya perempuan itu dari belakang, kemudian mendekatkan wajahnya disamping wajah nayra.
"ini harus dilepaskan"kata azki. Sambil melepaskan ikatan jaket dipinggang nayra, kemudian ia menaikkan resleting jaket nayra hingga ke atas, Hingga jaket nayra yang sebenarnya berukuran besar, benar-benar menutupi tubuh nayra yang kecil.
Nayra hanya tersenyum, memahami maksud suaminya itu.
__ADS_1
Tak lama setelah itu nayra dan azki berangkat menggunakan motor masing-masing. Azki terlebih dahulu mengendarai motornya, tak jauh di belakang azki, nayra mengendarai motornya. Terkadang nayra iseng mendekati motor azki yang melaju tidak terlalu kencang. Namun, tak berapa lama nayra kembali berkendara di belakang azki.
Memasuki jalan menuju pesantren.