
Nayra, duduk di atas sebuah batu besar yang bersih, memandangi air yang berisik dengan aum nya. Azki mendekati Nayra, duduk di batu itu.
"Nayra, sering ke sini?"Tanya Azki.
Nayra membuka cadar yang menutupi wajahnya, kemudian melihat ke arah Azki dan tersenyum memperlihatkan gigi gingsul dan lesung pipinya.
"beberapa kali" nayra berhenti
"Tak semua orang bisa Nay ajak naik" sambungnya lagi.
"Ustadz, jangan khawatir. Disini jarang ada yang naik" kata Nayra ketika melihat wajah khawatir dari Azki.
"sungguh pandai menjaga diri" kata Azki.
Nayra tersenyum.
Azki menceburkan diri di kolom batu, yang terisi penuh dengan air yang sedikit hijau di tengahnya, namun tetap menerawangkan bebatuan di garis kolam yang dangkal serta Memperlihatkan anak-anak ikan yang berlarian karena ulah laki-laki itu . Dinginnya air, menyegarkan tubuhnya yang telah lama bersumbunyi dalam mendidik santri. Beningnya air masuk ke dalam kulit, menjadikan lansat pucat namun bersih. Berulang kali ia menenggelamkan diri didalam air dan muncul dengan tarikan nafas yang terasa melegakan.
Nayra turun dari tempat duduknya. Mendekati pinggiran kolam yang airnya sudah meluah menuruni bebatuan dilereng. Mengangkatkan celana dibalik roknya hingga ke lutut. Lalu ia mencelupkan kedua kakinya. Rasa dingin dari kaki yang berada di dalam air, seperti mengalir sampai ke kepala.
"Andikan saja bisa menceburkan diri"batin Nayra
Azki mendekati Nayra, meski tetap didalam air menggunakan baju lengkap.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya" tanya Nayra ketika Azki telah dekat dengannya.
"Begini cara mu menikmati dunia?" kata Azki puas.
"Almarhum ibu selalu bilang, sebagai wanita kami tak bisa terlalu menampakkan ketidak sopanan kami kepada dunia. Maka itulah pentingnya bersembunyi dan menyembunyikan diri agar tetap terlihat sopan"kata Nayra tersenyum.
"owh. Baju yang tidak sopan itu, itulah ketidaksopanan yang harus disembunyikan pada dunia?" goda Azki, sambil memercikkan sedikit air pada Nayra.
Nayra tersenyum malu, mengingat baju yang tidak sopan itu yang dimaksudkan Azki.
"Tapi, ustadz. Waktu dipesantren dan di rumah ayah, saya juga tetap menjaga kesopanan" Bela Nayra.
"iya, saya percaya. Kamu cukup memiliki nama baik di pesantren, sekaligus anak kesayangan Ustadz Rahman" kata Azki.
Nayra tak ingin melanjutkan pembicaraannya, mengambil sebotol air dari ransel kecil yang telah ia gendong dari rumah, lalu meminumnya. Ia memegang botol itu disampingnya, yang kemudian di ambil azki.
"Turun kita? sepertinya Ustadz udah kedinginan."kata Nayra sambil beranjak
"Ayo, sebentar lagi juga akan zuhur"jawab Azki.
Azki telebih dahulu melangkah keluar dari pemandangan air terjun lantai 3 itu, mengarungi genangan air dicelah-celah bebatuan, memijak-mijakkan kaki untuk merasai batu yang bisa dipijak karena licin. Nayra berjalan mengikuti langkah Azki dengan hati-hati. Tak jarang ia memanggil Azki untuk dipegangi karena khawatir terjatuh. Rutenya sedikit curam jika untuk menuruni ditambah lagi sedikit licin.
Sampai mereka ke tingkat dasar, beberapa orang laki-laki melihat ke arah Nayra. Namun, perempuan yang dilihat itu memilih untuk tak memperdulikan pandangan tajam beberapa laki-laki yang seusia dengan Nayra. Azki, sedikit kesal. Malah menggandeng tangan Nayra. Nayra terkejut, lalu melihat ke sekitar. Paham lah dia, bahwa laki-laki itu sedang cemburu. Ia tersenyum dibalik cadarnya.
__ADS_1
***
"Nay" panggil Azki
Nayra yang sedang duduk di atas kasur dan bersandar di dinding, melihat ke arah Azki.
Azki menunjukkan layar ponsel Nayra pada pemiliknya. Nayra melihat dilayar ponsel itu isi sebuah percakapannya dengan sesorang. Nayra mendekati Azki yang sedang berbaring, kemudian ikut berbaring menghadap ke laki-laki itu sebentar dan berpindah arah melihat ke plapon rumah berwarna putih polos.
"Mau nay ceritakan?"kata nayra.
"tapi, sampai saat ini. Insyaa allah, nay masih jaga diri kok. Ustadz, jangan terlalu khawatir" ia tersenyum.
Nayra memindahkan kedua kaki ke atas kaki azki.
"Ustadz hanif memang seperti itu, sepertinya. Terlebih sewaktu dulu saat dia akan menikah. Dia rajin sekali menelpon dan mengirim kan wa kepada nay. Nay ladeni saja seadanya. Bagi nay saat itu, sekalian latihan untuk dia ngehadepin seorang perempuan saja. memang bahasanya ya seperti itu, terdengar kurang tepat untuk seorang ustadz, tapi ya sudah lah ustadz juga manusia. Yang penting dia tau membatasi dirinya" jelas Nasyra. Kali ini Nayra sedang mempermainkan tangan dan jari-jari azki. Tangan yang lebih besar jika dibandingkan dengan tangannya, memiliki permukaan yang tebal dan kasar.
Azki menarik tangannya dari tangan Nayra, berbaring miring menghadap ke arah perempuan itu.
"Nay pernah sempat suka sama ustadz hanif?"tanyanya cepat.
Nayra tersenyum, menhadap ke kiri. Sehingga, berhadapan dengan wajah azki.
"Nay kagum si sama beliau. Pinter. lumayan baek" kata nay.
__ADS_1
Lalu dia diam. Namun, tetap dengan senyumnya.
Alur wajah azki berubah seketika.