
"dan Nay menyukainya" tegas azki, masih dengan raut yang tidak enak dilihat.
Nayra, masih tersenyum.
"Dia bukan kriteria laki-laki yang nay suka" jawab Nayra singkat.
"owh" Azki tersenyum, membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke plapon lagi.
Nayra malah semakin mendekati laki-laki itu.
"memangnya kalau Nay, pernah suka dan masih menyukainya. kenapa?" Nayra ingin tahu dan sedikit menggoda
"ingat saja suami mu, lebih berhak atas diri mu" ucap Azki membalikkan tubuhnya, sehingga membelakangi Nayra.
Nayra yang dipunggungi malah tersenyum, melihat tingkah laki-laki yang ia hormati itu.
"Nay itu penduduk dunia ustadz, beda sama ustadz, yang penduduk akhirat. Laki-laki yang mudah menggoda wanita bagi kami terlihat biasa saja. Sama dengan laki-laki yang tidak berlebel ustadz" Nay berbicara disebalik punggung Azki.
"saya harap penduduk dunia ini benar-benar tau cara menjaga dirinya hingga dia bisa menjadi penduduk surga"kata azki, dengan sedikit senyum.
"Bi iznillah, ya zauji" kata Nayra.
"Selamat tidur" lanjut Nayra lagi.
Nayra meraih ponselnya yang ada disamping kasur, berniat melanjutkan film korea kesukaannya.
__ADS_1
Azki malah berbalik, menghadap ke Nayra dan memeluk Nayra sambil memejamkan matanya.
"penduduk dunia, tidurlah. Jangan nonton itu lagi" ucap azki dengan tetap memejamkan matanya.
Nayra yang ketahuan, memilih untuk mengikuti laki-laki itu tidur dari pada harus berdebat dengan nya.
***
Azki sudah kembali ke pesantren, sore seperti yang ia janjikan pada ustadz rahman. Di tengah jalan menuju pesantren, Azki berpapasan dengan maryam yang sedang bersama beberapa orang santri berjalan kaki di sore hari. Azki berkendara melewati mereka dengan sikap seperti biasanya. Tak memandang lama ke arah wanita.
Maryam menunduk, santri putri melihat sekejap ke arah azki yang berlalu.
"ustazah, gantengkan ustadz azki?"kata salah seorang santri putri pelan namun cukup untuk terdengar oleh mereka yang sedang berjalan bersama.
Maryam masih diam, disebalik cadar hitamnya.
"ustazah boleh lah, minta ustadz azki same ustadz rahman. manelah tau jodohkan" sambung seorang santri putri lagi.
"kalian ni, ade-ade je" jawab maryam dengan senyum-senyum dibalik cadarnya.
"eh, ustazah senyum-senyum. Suke kaaaaan?"goda santri itu lagi.
Malah membuat maryam semakin salah tingkah.
***
__ADS_1
Sudah beberapa hari Azki tak sempat pergi ke tempat Nayra. Hanya Nayra yang terkadang datang membawa makanan itupun jika dia mengajar di SMP yang ada di pesantren. Terlalu sulit untuk mereka bertemu, saat program pesantren begitu padat. Terlebih lagi, semenjak ustadz rahman tau, Azki sudah menikah. Beberapa mata pelajaran kitab putri yang di ampu oleh ustadz rahman dipindahkan ke Azki. Dan untuk sementara waktu Azki mengajar semua kitab yang diajarkan pada santri putri.
Meski ustadz dan ustazah lain merasa sangat lega bahwa azki tak lagi terlalu anti pada wanita. Namun, ada pikiran yang terasa aneh dengan perubahan sikap azki yang sangat drastis. Semua orang di pesantren tau bagaimana azki memperlakukan wanita, ia sangat berusaha menciptakan jarak dengan wanita bahkan santri putri. Hampir banyak orang yang berfikir bahwa azki sudah mau membuka hati untuk seorang wanita, dan asumsi yang berkembang semua itu karena Maryam. Ustazah baru berumur 20 tahun. Namun, seperti biasa azki tak pernah memberikan penjelasan.
"ki, maryam bagaimana ?" kata hanif pada azki, ketika keduanya sedang duduk di teras mushola pesantren malam setelah rapat rutin pesantren.
Azki tersenyum nyengir hingga menampakkan sedikit giginya.
"menurut mu maryam bagaimana?" azki malah mengulang pertanyaan hanif.
"baik, sopan, hafizoh, alimah, penurut, sepertinya cantik dan anggun" kata hanif.
"Dulu sewaktu kau ingin menikah ada kah gadis yang menjadi pertimbangan mu selain istri mu sekarang" tanya Azki ingin tau.
"jangan bilang, kau juga mempertimbangkan Nayra. Tapi, rasanya tidak mungkin. Nayra itu hanya tipe ku. Bukan tipe mu" Kata hanif
Azki diam, berusaha setenang mungkin.
"aku sempat mempertimbangkan Nayra. Bahkan sempat aku tawarkan ke ummi sifat, tingkah laku dan latar belakang pendidikannya. Ummi dan abi menyerahkannya kepada ku. Namun, jika dari agamanya yang dapat dilihat Aisyah, insyaa allah lebih baik. Jujur saja gadis seperti Nayra meski tak menggoda kita, namun bagaimana cara dia bersikap itu yang membuatnya terlihat indah. Perempuan yang semangat, sedikit manja, keras kepala tapi penurut, spontan, dan tau cara mempertahankan diri sebagai wanita muslim" panjang cerita hanif.
"aku pernah menyukainya" jelas hanif.
"Tapi rasanya cerita itu tak akan terulang lagi. kau tak mungkin menyentuh kehidupan Nayra, seperti apa yang aku lakukan. Sementara maryam, sangat cocok pada mu. Anggun, penurut. Setidaknya ia akan sangat menghormati mu" sambung hanif lagi.
"ya, cerita itu tak akan terulang lagi" kata azki.
__ADS_1
"Aku berniat mentaarufkan Nayra dengan seseorang" kata Hanif tiba-tiba.
Azki refleks melihat ke hanif.