
Hanif bersama seorang santri masih berada di luar ruangan, menunggu dokter mengobati luka fahri.
Azki berjalan sedikit cepat, ketika melihat hanif yang sedang duduk di depan sebuah ruangan.
"Bagaimana keadaanya,? tanya azki.
"kita tunggu dokter" jawab Hanif.
"dari mana? cepat banget sampai?"tanya hanif
"rumah temen" azki singkat.
"ki, ana masih ada jam ngajar, antum bisa jaga fahri?" tanya hanif lagi.
"insya allah. Kalian boleh pulang nanti. Nanti biar aku yang jaga malam" azki tersenyum. Nayra bisa datang tanpa perlu bertemu hanif fikirnya
"Aisyah bilang. Nayra akan datang menjenguk. mungkin sebentar lagi" kata hanif tiba-tiba.
Alur wajah azki berubah, mendengarkan ucapan hanif.
"Tenang saja. antum bisa menghindar jika dia datang" jelas hanif, melihat ekspresi azki yang tiba-tiba berubah.
Azki diam saja.
Setelah menunggu agak lama, dokter dan beberapa perawat keluar, mengabarkan kondisi fahri yang telah mengalami patah tulang, dan sedang dalam pengaruh obat penenang. Fahri dipindahkan ke ruang rawat inap, untuk pemulihan tulangnya yang patah.
Hari sudah mulai gelap, nayra belum juga datang.
"ki, ana harus pulang sekarang. Titip fahri ya" kata hanif sambil beranjak dari tempat duduk.
"insya allah" kata Azki.
"Nayra, tak akan datang selagi ada kamu, nif. Maaf" batin azki.
Tak lama dari kepergian hanif dan seorang santri nayra datang, dengan meneteng makan malam untuk azki serta beberapa roti untuk fahri.
__ADS_1
Nayra berjalan menemui azki yang sedang menunggunya di depan pintu rawat inap. Azki mempersilahkan nayra untuk menemui fahri. Bagaimana pun Nayra sempat mengajar fahri ketika ia masih SMP. Dan nayra masih keluarga pesantren.
Fahri tersenyum meski masih sangat terlihat jelas wajah kesakitan, ketika melihat siapa yang datang.
Azki meletakkan makanan yang dibawa nayra. Sementara mulai mengajak fahri mengobrol.
dring ponsel azki bersuara,
Nayra yang mendengar melihat ke azki.
"ustadz rahman" ucap nya pelan. Bahkan yang terlihat hanya gerakan bibir saja. Kemudian, ia keluar dari kamar.
Nayra kembali melihat ke arah fahri, yang ternyata sedari tadi memperhatikan keduanya.
"ustazah, ada hubungan apa sama ustadz azki?" tanya fahri pelan, sambil menahan sakit. Namun, ia terlalu ingin tau. Mengapa ustadznya yang begitu tertutup pada wanita, malah seperti meminta izin ketika ingin mengangkat telpon.
"sesama pengajar" nayra singkat.
"kamu istirahat saja. Jangan terlalu banyak beraktifitas" lanjut nayra.
"owh. Sedekat apa?" pancing narya.
"dulu kan, sewaktu ustazah yang tinggal bersama santri putri ustadz azki tak pernah mau masuk ke asrama santri bahkan untuk mengajar. Tapi sekarang" ucapnya terhenti ketika melihat orang yang mereka bicarakan sudah berada di depan pintu, memperhatikan keduanya.
"ustadz" fahri sedikit meringis.
Azki hanya tersenyum.
Azki meminta nayra untuk menjaga fahri sebentar agar ia bisa sholat berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumah sakit. Sementara fahri yang tidak bisa terlalu banyak bergerak hanya bisa sholat di atas tempat tidur, setelah dibantu azki untuk tayamum.
Setelah sholat isya, fahri yang melihat ustazahnya tertidur di kasur yang ada diseberang, memilih tak ingin menganggu. Jadi, ia memilih untuk mengulang hafalannya dengan suara pelan.
Suara pintu kamar dibuka oleh seseorang, yang ia fikir itu adalah azki. Fahri berpura-pura tertidur.
Melihat fahri sedang tertidur, azki mendekati nayra. Diusapnya pelan jilbab nayra yang menutupi kepalanya. Ia mendekati ke wajah nayra.
__ADS_1
"Nay, bangun sayang" bisiknya pelan
"iya"ucap nayra pelan dibalik cadarnya. Ia yang baru membuka mata mengenali suara itu.
"hai"sapa nya. Sambil menyipitkan matanya menandakan ia sedang tersenyum.
Fahri yang tak berniat untuk melihat semua itu telah menutup matanya ketika menyadari azki berjalan mendekati nayra. Dengan terus berkhusnuzon, ia akan bertabayyun kepada ustadznya.
Fahri berrpura-pura bergerak dari posisinya. Azki refleks menjauhi nayra.
"fahri" panggilnya
"ustadz" fahri malah, memanggil azki.
"maaf sebelumnya. Bahwa sebenarnya sedari tadi saya berpura-pura tidur" jelas fahri pelan.
Azki mulai memahami ucapan anak itu.
"tapi sungguh saya telah menutup mata cepat-cepat" sambungnya fahri, ketika melihat keduanya diam dan memandang ke arahnya.
"Baiklah. aku faham maksud mu" ucap azki dengan sedikit rasa malu.
"kami minta maaf atas apa yang kamu lihat" kata azki.
"sungguh saya tidak melihat apapun. hanya melihat ustadz berjalan ke arah ustazah saja"bantah fahri tegas dengan suara pelan.
"mau fahri berjanji kepada saya, jika saya katakan sesuatu"pinta azki
Anak itu diam, menimbang jawabannya. Tapi ia sangat mengenali kedua orang tersebut. Mustahil rasanya jika berniat tidak baik.
"insyas allah, jika itu adalah sebuah kebaikan"katanya bijak tak ingin terlalu beresiko
"tolong jaga rahasia ini"pinta azki tegas.
anak itu mengangguk.
__ADS_1
"kami sudah menikah" ucap azki