
"Sebetulnya memang ada yang berniat mengkhitbah Nay, lewat bapak. Tapi, bukan Azki. Namun, semuanya tergantung Nay" Ucap Pak Rahman pelan-pelan.
aku belum ingin terluka, lagi. Fikir Nayra.
"Hmmmp. Sepertinya Nay tau orangnya. Tapi maaf jika boleh Nay jujur. Nay belum siap untuk menikah. Dan urusan ustadz Azki, Nay belum sempat menyukainya, jadi lupakan saja" Ucap Nayra, dengan sedikit berbohong.
Laki-laki itu mengangguk pelan, entah apa yang ia fikirkan. Tapi sepertinya ia cukup memahami alasan Nayra menolak.
"aku memilih menyerah untuk menyukai nya, aku menyerah tak ingin terluka lagi apakah itu karena nya, atau karena mereka. Aku memilih bahagia karena diri ku sendiri. Aku tak ingin diperlakukan dengan keadaan yang tak aku sukai. Mulai saat ini aku memilih tak perduli, atas nya, atas mereka, atas sikap ku, yang aku perdulikan agar hati ku baik-baik saja. Egois. Biar saja"
***
Seorang laki-laki bercelana tekwondo hitam dengan kaos biru yang menampakkan lengannya yang berotot, sedang berdiri menghadap ke arah kerumunan santri yang sedang melakukan pemanasan di lapangan pondok, di terangi bias lampu kamar-kamar santri. Sesekali laki-laki itu melihat ponsel nya, dan meninggalkan senyum. Tanpa ia sadari Ustadz Rahman yang sedang duduk bersama Hanif, yang juga seorang pengajar di pondok pesantren sedang memperhatikan tingkahnya dari kejauhan.
"kenapa kawan mu, Nif"tanya Ustadz Rahman pada Hanif yang juga sedang melihat ke arah Azki dan santri putra yang sedang latihan tekwondo.
__ADS_1
"kurang tau pak. Dia Tak ada cerita" Ucap Hanif, melihat ke arah Ustadz Rahman.
Pondok yang baru berumur 2 tahun itu, memiliki pengajar yang relatif muda, sehingga bagi mereka Ustadz Rahman bukan hanya seorang ustadz, melainkan seorang ayah. Begitu pun, Ustadz Rahman kepada mereka.
"Coba Bapak yang tanyakan same Azki. Munking bakal cerita dianya" sambung Hanif sambil tersenyum.
Azki yang mereka bicarakan, terlihat memperhatikan layar ponselnya yang menyala. Tertera sebuah pesan dari sebuah nomor handphone.
"Ngelatih sana. Yang rajin ya kerjanya biar cepet nikah"
***
Sudah beberapa Minggu Nayra pulang ke kosnya yang berada dekat dengan tempat ia mengajar. Ia sudah kembali pada aktifitas normal seorang pengajar dan pendidik. Siang hari ia habiskan waktu untuk mengajar, malam hari ia habiskan untuk dirinya sendiri. Me time baginya.
Jam 2 siang, ia kembali ke kosnya. Ia Mengambil sebuah rantang berwarna putih. Di masukkannya masakan dan kue yang sempat ia masak sebelum berangkat ke sekolah. Setelah semuanya selesai, ia keluar dari kos dengan menenteng sebuah plastik hitam yang beisi rantang makanan.
__ADS_1
20 menit berkendara, ia sampai di parkiran pondok pesantren yang berada di luar gedung pondok. Pada siang hari lapangan pesantren selalu sepi, jarang terlihat santri yang keluar. Waktu siang hingga asar merupakan waktu istirahat santri. Sehingga tak ada yang keluar.
Nayra, berjalan menuju kantor Asatidz sambil menenteng plastik hitam yang ia bawa dari kosnya. Ruang itu masih tertutup.
"Assalamualaikum" ucapnya, ketika berada di depan pintu kantor asatidz, sambil di membuka pintu tersebut.
"Waalaikumus salam" Suara berat menjawab dari dalam ruangan.
Nayra, melihat ke arah suara tersebut. Ditariknya cadar yang masih menutupi wajahnya. Ia tersenyum lalu datang menghampiri.
"Ustadz" panggilnya.
Laki-laki itu tersenyum.
*_* jangan lupa ninggalin kesannya, biar yang nulis semangat
__ADS_1