
Azki melihat ke arah Nayra.
"Percaya lah kepada qada dan qadar Allah. Ingat, Al-baqarah ayat 216, Nay. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi mu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi mu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" Ucap Azki mengingatkan Nayra.
"Astaqfirullah, sungguh aku berserah kepada yang telah menuliskan taqdir di Lahul Mahfudz, dengan sebaik-baiknya rencana" ucap Nayra.
Polisi itu terus memperhatikan ke duanya.
"Pak, meski ini sebuah pernikahan yang dilakukan di dalam kantor polisi izinkan lah kami meminta restu. Karena sungguh kami tak menganggap pernikahan ini hanya pernikahan melainkan ibadah kepada Allah" ucap Azki
Laki-laki itu mengizinkan. Mereka keluar kembali ke tempat semula.
"Telpon lah ayah mu" Kata Azki, sambil mengulurkan ponsel miliknya, ia tau bahwa Nayra tak sempat mengambil apa pun dari tas ketika diminta untuk keluar dari kamar hotel.
"Terima kasih, Ustadz" Ucap Nayra. Ia mengambil ujung ponsel, menjauh dari ujung jari Azki.
Dering dari ponsel berbunyi, menandakan panggilannya terhubung. Ditunggunya panggilan itu di terima oleh orang yang ia coba hubungi dengan ritme jantung tak karuan.
"Hallo, Assalamualaikum" ucap seorang wanita, panggilan sudah di terima.
Nayra semakin gugup
"Waalaikumus salam" jawabnya setelah berselang beberapa detik dengan diamnya.
"Akak, ini Nay" ucap Nayra. Nayra diam lagi.
__ADS_1
"Kenape Nay?" tanya perempuan itu dengan logat melayu, karena merasa ada yang aneh dengan adik bunsunya itu.
Nayra diam
"Naaaay"panggil perempuan itu lagi.
"Kak, apapun yang nak Nay sebut, Nay harap akak pecaye same Nay" Tegas Nayra mengingatkan dengan maksud kakaknya mempercayai pengakuannya nanti.
Pelan-pelan Nayra menceritakan kejadiannya sama seperti yang ia ceritakan kepada Azki dan polisi yang tak mempercainya. Kakaknya diam mendengarkan penjelasan Nayra, dengan sesekali menanggapi singkat supaya Nayra menghabiskan semua ceritanya.
"Yang sabar ye, Nay. Akak cobe datang malam ini same Bah. Akak pecaye same Nay. Nay dah telpon ayah?" tanya perempuan itu lembut.
"Alhamdulillah. Belum kak. Nay, takut ayah tak pecaye ucapan Nay" kata Nay terpotong-potong.
"Nay, tunggu sebenta. Akak telpon ayah. Insyaa allah, ayah akan percaya. jangan matikan telp nye" ucap kakak Nayra yang bernama Maya.
"Mey, ayah ade?" kata Maya
"Ade, kak. Ngape?" kata Meysa selidik
Maya menjelaskan seperti ape yang Nayra diceritakan Nayra. Sementara Nayra memilih diam sambil mendengarkan percakapan keduanya. Meysa diam. Setelah Maya menyelesaikan ucapannya.
"Mey" Panggil Maya
"Kak, sungguh Nay tak bermaksud untuk mendahului akak. Nay pun sedih dengan kejadian ini. Nay belum siap untuk menikah. Karena Nay datang ke sini bukan untuk nikah, tapi untuk liburan. Tapi" Nayra menghentikan perkataannya.
__ADS_1
"Nay" Panggil Meysa pada Nayra.
"kakak tau ini berat untuk, Nay. tapi, kalau boleh akak jujur, akak pun merase sedih karene dilangkahi. Nay, akak malu same orang kampung, sebab Nay yang masih muda sudah menikah akak belum" jelas perempuan berusia 30 tahun itu.
Nayra diam
"mungkin permintaan akak sulit untuk Nay kabulkan tapi, akak sangat berharap bahwa Nay mau menyembunyikan pernikahan Nay hingge akak menikah kelak" pinta Meysa.
Nayra sangat paham kakak ke-4 nya itu. tapi ia sadar betul bahwa itu bukan keputusannya saja, melainkan akan ada keputusan Ustadz Azki. Nayra menghela Nafas.
Maya diam. Memilih menunggu jawaban Nayra
"kak, sungguh Nay memahami perasaan akak. Tapi, masalah menyambunyikanye kelak harus dibicarekan same ustadz Azki. Dan semoge beliau mengabulkan" jelas Nayra
"Nayra, benar Mey. Yang terjadi sekarang bukan kehendak mereke. Ini cobaan untuk kite semue. Mudahkanlah, Mey. Allah akan mudahkan jalan orang yang memudahkan jalan orang lain"Maya menasehati adiknya itu.
"Baiklah kak. Semoge permintaan Mey dapat di kabulkan. Yang sabar ye Nay. Akak kasih ke ayah" jelas Meysa menyerah dan sedih, namun ia pun tau Nayra pun sedang dalam masalah.
Jantung ketiga perempuan itu berdegup. Terutama Nayra. Dialah yang sedang terdakwa dalam kasus ini. Ia memilih diam. Maya yang berbicara. Meysa akan berusaha meyakinkan dan membesarkan hati ayahnya setelah mendengar kabar itu.
"Ayah" panggil Maya.
" iye, May" jawab laki-laki itu dengan suara berat.
Maya berusaha menjelaskan 1 persatu permasalahannya, hingga menyelesaikan cerit Nayra. Ayahnya diam. Mereka pun diam namun hati, fikiran dan jantung berkecamuk. Meysa melihat alur wajah laki-laki itu.
__ADS_1
"Ya Allah, aku serahkan taqdir ku pada mu, seperti sulaiman yang dibakar didalam kobaran api, seperti bilal yang dicambuki, ini lah taqdir yang mungkin telah mutlak untuk aku hadapi" batin Nayra yang sudah pasrah sedari tadi.