Ambiguitas Diantara Kita

Ambiguitas Diantara Kita
Sembilan


__ADS_3

Ia lansung masuk ke kamar, lalu menghadap ke cermin yang tertempel di dinding kamar, menggunakan krim malamnya, di tutupi bedak tipis dan lipstik senada dengan bibirnya, menggunakan lotion pada kaki dan tangannya, kemudian menyemprotkan sedikit parfum di baju dan lehernya.


Nayra merasakan perasaan yang aneh, namun memilih tak menggubris perasaannya. Namun, perasaan itu semakin kuat. Ia merasakan bahwa sedari tadi ada yang memandanginya. Penasaran dengan perasaanya, ia membalikkan badan melihat ke kasur yang ada di lantai berada tepat di belakangnya.


Azki yang terkejut dengan kedatangan Nayra mengenakan pakaian seperti itu di depannya, hanya bisa diam. Ingin ia memastikan apakah itu Nayra atau bukan, namun ia terlalu malu untuk memanggil perempuan yang berpakain serba pendek itu. Ia memilih untuk melihat ke arah lain, namun tetap saja matanya ingin melihat ke arah perempuan yang tidak sopan itu.


"apakah dia berniat menggoda ku" pikir Azki


Nayra yang baru menyadari kehadiran Azki lansung kabur keluar dari kamarnya dengan kebingungan dan rasa malu, wajahnya memerah. Ia tidak mengetahui bahwa Azki akan datang sehingga ia hanya berpakaian seperti hari-hari biasanya.


Di jangkaunya jaket parka hijau botol yang berukuran sedikit besar untuk menutupi tubuhnya yang kecil, namun ia tak mendapatkan bawahan untuk menutupi kaki. Jaket itu hanya bisa menutupi batas celana pendeknya, namun tidak kakinya.


"Nay" Panggil Azki pelan, berinisiatif memulai pembicaraan di tengah keadaaan yang canggung itu


"iya" jawabnya pelan di sebalik tembok kamarnya.


"Ustadz, kenapa gk bilang-bilang mau datang" Sambung Nayra


"ya, kamu kenapa pakek pakaian yang kek gitu" Jawab Azki memahami maksud Nayra yang terkejut.


"iya. memang ini baju kalo Nay lagi di kos" ucap Nayra pelan

__ADS_1


Azki bingung mau berekspresi apa, jelas saja ia ingin tersenyum melihat Nayra seperti itu. namun ia juga malu.


"Ustadz, ngapain datang?"kata Nayra masih bersembunyi di sebalik tembok.


"Mau ngajak malam sabtu-an" jawab Azki singkat dengan posisi berbaring namun menghadap ke jendela.


"Ustadz, boleh tutup mata gk. Nay mau ngambil baju Nay di keranjang samping kasur" Nayra pelan. Ia masih sangat merasa malu dengan baju yang ia gunakan itu.


"iya" Azki pelan.


Nayra mengintip dari sebalik gorden kamarnya.


"iyaaaaa"jawab azki singkat.


Nayra pelan-pelan masuk ke dalam kamar dengan menggunakan jaket parka untuk menutupi bajunya yang serba pendek, namun yang terlihat ia seperti hanya menggunakan jaket tanpa bawahan.


Kemudian ia mengitari kasur, menuju ke keranjang bajunya. Yang otomatis, membuat Nayra membelakangi Azki.


Azki berusaha mempertahankan diri untuk tetap tak melihat ke arah Nayra. Namun, terkalahkan dengan akal nya.


Dilihatnya Nayra menggunakan rok untuk menutupi kakinya yang jenjang, dan menggunakan jilbab dengan keadaan rambut yang masih basah, serta masih menggunakan jaket parka.

__ADS_1


"Kalo pakaian mu seperti itu terus, aku yang tidak akan baik-baik saja" Ucap Azki, melihat ke arah Nayra.


Nayra berbalik ke arahnya.


"Ya. Ustadz bohong. Gk tutup matakan?" Nayra sedikit kesal


"Tutup kok" kata Azki berusaha bersikap wajar, namun jantungnya cukup berdegup padahal.


Nayra yang sudah menggunakan pakaian tertutup meskipun tanpa cadar, duduk disamping kasur tempat Azki berbaring.


"Selesai sholat magrib kita jalan ya" Kali ini iya bergeser ke arah Nayra, kemudian merebahkan kepala ke atas paha Nayra. Wajahnya menghadap ke perut Nayra dengan tangan memeluk pinggang Nayra.


"Ustadz Rahman tau, Ustadz keluar" Tanya Nayra sambil mempermainkan rambut Azki yang sedikit panjang.


"Tau. Saya bilang mau nginep rumah temen" Katanya dengan suara tak jelas, sebab ia masih memeluk Nayra.


"Beneran mau nginap?" Tanya Nayra, di geraknya pelan-pelan wajah Azki sehingga menghadap ke arahnya


"iya. Lagian saya sedang tidak baik-baik saja karena ulah mu tadi" Jawab Azki pelan, lalu mengubah kembali posisi nya, menghadap ke perut Nayra dan memeluk erat pinggang Nayra.


"Ustaaadz" Ucap Nayra pelan, sambil melonggarkan pelukan Azki dipinggangnya karena kegelian. Namun, Azki semakin erat memeluknya. Susah Payah ia mempertahan rasa geli, akhirnya ia membiarkan Azki terus berada dalam posisinya.

__ADS_1


__ADS_2