
"Hei, Nay"sapa meysa pada Nayra.
Nayra tersenyum, sambil membantu kakaknya membawa barang belanjaannya masuk ke kedai.
Keduanya terus mengobrol dan juga melanjutkan pekerjaan mereka. menyusun beberapa barang yang sudah habis di pajangan, dan seperti biasa Nayra akan sedikit merapikan barang-barang yang tak beraturan.
Sudah beberapa jenis makanan dan minuman yang Nayra coba dan tentu saja ia habiskan. Terutama makanan ringan dan ice cream.
Hari sudah menunjukkan pukul 11 siang, pak Bahar masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, meninggal kedua putrinya yang sedang asik di kedai.
Meysa yang melihat ayahnya telah berlalu melihat ke arah Nayra.
"Nay, akak sungguh bingung sekarang. kakak pusing Nay, Syahril belum juge ngasih uang ke akak utk acara pernikahan yang tinggal 1 bulan lagi"keluh Mesya pada adiknya.
__ADS_1
Nayra diam sejenak, menyusun kata-kata untuk menentukan tujuan pembicaraan tersebut. Setelah ibu meninggal, ini adalah kali pertama keluarga mereka merencanakan acara pernikahan. yang dulunya menjadi diskusi antara anak dan ibu, sekarang menjadi diskusi para anak baru disampaikan kepada ayah. Dan saat ini, ayah pun meminta Nayra menjadi pemanjang tangan ayahnya kepada meysa. ayah khawatir jika ayah lansung yang berbicara pada meysa yang terjadi bukan lah diskusi tapi pertengkaran. keduanya memiliki sifat yang sama, keras.
"Dia bilang ape kak?" tanya Nayra ingin tau.
"Dia bilang 1 minggu lagi dia datang untuk mengantarkan uang tersebut, tapi rasanye kok aneh ye Nay" ujar meysa
Nayra menatap kakaknya serius.
"Nay, fikir kak, Mungkin Ade baik nye kite mulai berfikir waspada pade hal ini"ucap Nay, pelan-pelan, takut menyakiti hati kakaknya.
"dia bersikap seakan semuanya dalam keadaan normal, padahal apa yang dia lakukan bukan sesuatu yang normal"lanjut meysa lagi. kali ini ia mulai geram.
"kakak tagih saja terus menerus, kemudian kita lihat. jika memang benar dia serius dan tidak berbohong dia pasti akan menyelesaikan masalah ini"jawab Nayra bijak.
__ADS_1
memang tak ada cara lain lagi, memang itu satu - satu nya cara.
"geram rasanye, Nay"sambung meysa lagi, dengan ekspresi kesal di wajahnya.
Meysa menarik nafas
Nayra diam mendengarkan keluh kesah kakaknya.
Setelah lama keduanya mengobrol Nayra, menawarkan kakaknya istirahat. Sedari dulu memang seperti itu jika Nayra datang, ia akan menggantikan posisi kakaknya.
Nayra duduk di kursi meja kasir, sekali-kali keluar untuk melihat ke arah luar untuk mengusir rasa ngantuk dan pegel.
pikirannya teringat akan suaminya,
__ADS_1
"Alhamdulillah, nay sudah sampai. maaf lambat memberi kabar" pesan itu lansung ia kirim ke azki, namun masih centang 1, mungkin di pondok sedang tidak ada signal.
Nayra menatap ponselnya, berharap centang 1 itu berubah jadi 2, kemudian berwarna biru, dan ada tulisan typing di bagia atas, berselang selang 20 menit ia menunggu sambil meladeni pembeli tetap saja centang 1 tidak berubah seperti harapannya.