Ambiguitas Diantara Kita

Ambiguitas Diantara Kita
22 # Kau, pesantren dan aku


__ADS_3

"Aku dan seseorang yang lainnya" kata Hanif singkat.


Azki diam.


"jadi, maryam?. Insyaa Allah, aku yakin sekali jika kau melamar maryam dia akan lansung menerima mu" sambungnya lagi.


"Tak bercita-cita menambah nif ?" pancing azki.


"perempuan yang ku inginkan menjadi yang kedua, tak mau menjadi yang kedua. Bahkan tak mau memiliki yang kedua, jika pun ia menjadi yang pertama. Tapi, aku berniat memastikan dulu dan sebenarnya juga aisyah telah mengizinkan aku untuk menikahinya" kali ini laki-laki itu tertawa kecil, seperti mengingat sesuatu hal yang lucu.


Azki malah berfikir bahwa perempuan yang temannya itu maksudkan adalah Nayra, yang tak lain tak bukan adalah istri sahnya.


Azki yang berniat mengorek informasi tentang hubungan keduanya, mulai merasa membakar hati sendiri, dan memutuskan untuk tidak melanjutkan topik itu.


"kau tidak mengajar di santri putri hari ini?" tanya hanif, yang mulai beranjak.


"hari ini bab taharah, maryam yang akan melanjutkan" azki ringan.


Namun tidak dengan hanif. Ia malah tersenyum mengejek pada temannya itu.


"Nif, hari ini aku keluar pondok ya. Pulang agak sore" kata Azki, ketika hanif ingin masuk ke mushola, ingin menerima setoran putra tahun pertama. Hanif berbalik ke arah Azki, dan duduk kembali.


"oh ya. Aku lihat kau sering sekali keluar akhir-akhir ini. Kemana?"tanya hanif ingin tau.


"nyari pahala" kata Azki, kemudian berlalu meninggalkan hanif dengan rasa ingin taunya.


Hanif menggelengkan kepala, merasa tak habis fikir dengan Azki.


Azki menggunakan pakaian normal, menanggalkan setelan sebagai ustadz. Ia menggunakan celana kargo Navy dan kaos putih, dengan jam tangan berada di tangan kirinya. Ia keluar menggunakan motor melewati bangunan santri putri.


Santri putri yang terbiasa melihat ustadznya menggunakan jubah, bergegas ketika laki-laki itu lewat di depan kamar mereka, menggunakan pakaian yang tak biasa, dari kaca jendela.


"Ehem" suara seseorang menyadarkan santri putri, yang sedang sibuk di depan jendela.


Menyadari siapa yang datang, mereka berlarian kembali ke tempat duduk mereka. Duduk bersila dengan kitab kuning dan buku tulis di atas meja.


***


Azki membuka pintu kos Nayra, kemudian menghidupkan beberapa lampu, untuk menerangi ruangan kos itu. Kos yang terdiri dari 1 kamar tidur, 1 ruang tamu, dan sebuah dapur kecil, serta kamar mandi, dengan mudah bagi azki mengelilingi ruangan yang tidak terlalu luas itu. Namun, cukup untuk mereka berdua.


Dia sampai ke dapur, dapur itu terlihat bersih. Ia melihat ke sebuah lemari yang menempel di dinding tempat biasa nayra menyimpan makanan. Lemari itu kosong. Ia melihat ke bahan dapur nayra yang sudah mulai kosong.


Azki tersenyum.


Azki keluar menyusuri jalan yang sudah mulai sepi, walau sebenarnya jalanan kota kabupaten itu memang masih renggang. Ia berhenti disebuah kedai sayur, dengan perempuan yang sudah berumur sebagai penjualnya.

__ADS_1


"bu, saya cari bawang merah, bawang putih, cabe rawit" kata Azki sopan pada perempuan itu.


"kemana istrinya, dek?" tanya perempuan itu ramah.


"ngajar, bu" Azki tersenyum.


"owh. Kamu tidak sedang bekerja"lanjutnya lagi.


"saya sedang libur bu, jadi menyempatkan diri untuk berbelanja" kata Azki sopan, sambil mengambil bahan dapur yang ia inginkan. Terkumpullah beberapa plastik belanjaanya.


"sungguh bahagia istri mu" jawab perempuan itu.


Semua belanjaan Azki telah ia bayar. Ia pun berlalu. Kembali menyusuri jalan untuk mencari ayam potong, ia berniat memasak untuk nayra hari itu.


Ia kembali ke kos, dengan banyak tentengan kantong plastik, menuju ke dapur, menyusun semua belanjaannya ketempat masing-masing barang itu. ia telah siap dengan pisau di tangannya untuk mengupas dan memotong semua bahan yang ia butuhkan. kali itu ia benar-benar sibuk membereskan rumah, setelah menyelesaikan masakannya, ia masih terus membersihkan seluruh ruangan. Melihat beberapa pakaian Nayra yang masih tergantung dan belum di setrika, dia mengambil dari gantungan dan menyentrika, lalu menyusunnya di dalam keranjang baju Nayra.


Tepat sebelum zuhur ia menyelesaikan semua pekerjaanya.


1 jam kemudian, azki terbangun melihat jam hampir mununjukkan pukul 2 siang, yang berarti nayra akan pulang. Ia bergegas mencuci muka, untuk menyegarkan wajahnya.


Nayra memarkirkan motornya di depan pintu kos. Seperti biasa dengan semangat meskipun di siang hari ia membuka pintu kamar, dan mengucapkan salam untuk penghuni rumah.


Sementara azki berdiri tak jauh dari pintu, menunggu nayra membuka pintu.


Nayra membuka cadarnya, setelah yakin telah menutup pintu. Seperti biasa ia menciumi tangan azki. Nayra tersenyum bahagia, karena laki-laki sudah lumayan lama tidak sampai ke kosnya. Dengan canggung ia masuk ke dalam kos.


"Nay, ganti baju. Abang tunggu nay di dapur, kita makan" azki berlalu menuju dapur. Menyiapkan makanan untuk mereka siang itu.


"tapi nay, belum masak"kata nayra di dalam kamar.


"ke dapur aja" kata azki.


Tak lama nay keluar dengan menggunakan setelan santai celana kain panjang dan kaos, tak lupa ia menguncir tinggi rambutnya, dan membiarkan ujung rambut terjuntai melewati lehernya yang jenjang.


Azki telah menunggu dengan sebuah piring di tangan dan segelas air di lantai.


Seperti biasa, azki tak membiarkan nayra mengotori tangannya untuk makan. Nayra hanya duduk, bersila di depan laki-laki itu sambil menunggu di suapi seperti seorang anak kecil.


"Abang, yang masak?"kata Nayra sambil mengunyah sisa makanan di mulut.


"ia. Sebagai tebusan karena sudah lama tidak kesini" jawab Azki, setelah meminum air yang telah ia siapkan.


Nayra, mengambil gelas milik azki dan minum dibekas bibir laki-laki itu.


"enak" kata nay tersenyum.

__ADS_1


"Abang" kata Nay menunjukkan isi ponselnya, yang merupakan isi sebuah percakapan.


Azki membaca seksama.


Wajahnya berubah


"Enak saja, berniat berpoligami dengan istri orang" kata Azki cetus.


"kan, beliau tidak tau" kata Nayra, sambil memeluk azki dari belakang yang sedang mencuci piring.


"kau mau?" masih dengan kalimat yang cetus.


"mau. Jika abang izinkan" Nay mencium pipi laki-laki itu, dengan masih memeluknya.


Azki berbalik kemudian memelukNayra.


"berani"katanya dengan cetus


Nayra hanya menahan senyum melihat laki-laki itu.


"mana mungkin nay mau melepaskan abang. Kecuali abang yang melepaskan nay. Karena nay sudah pernah disakiti malah memilih untuk tetap bersama abang"kata nay masih dalam pelukan azki.


Ponsel azki berdering.


Dengan nay yang masih didalam pelukannya, Azki menerima panggilan itu.


"ki, ke rumah sakit sekarang, fahri kecelakaan" kata hanif cepat.


"Baik aku ke sana" kata azki.


Nayra mendengar dengan seksama, karena ia masih berada di pelukan azki.


"nay"kata azki,


"pergi lah"potong nayra


"Nanti nay akan menyusul" kata nayra


"terima kasih sayang" kata azki sambil mencium dahi nayra.


"assalamualaikum" azki berlalu meninggalkan nayra sendiri lagi di kos.


nayra tersenyum


"semoga allah, memberkahi hidup mu"batinnya

__ADS_1


__ADS_2