Ambiguitas Diantara Kita

Ambiguitas Diantara Kita
Sembilan Belas


__ADS_3

-Kembali pada pembicaraan malam itu-


"setelah kejadian itu kami sepakat untuk menyembunyikannya, kami sangat berharap bapak mau memaklumi keadaan kami" pinta Azki setelah semuanya selesai mereka ceritakan.


Ustadz Rahman tersenyum. Melihat laki-laki itu tersenyum Azki dan Nayra bernafas lega.


"Semoga Allah memberkahi pernikahan kalian" katanya.


"kami berencana setelah pernikahan kakaknya insyaa allah dalam jarak 1 bulan, kami akan membuat walimahan tentu dengan sedikit drama pernikahan" Sambung Azki.


"jika boleh bapak jujur, memang pernah bapak melihat kamu keluar dari pintu yang menghubungkan kamar mu ke kantor astatidz padahal saat itu Nayra sedang berada di dalam ruangan itu. Tapi, bapak belum sempat menanyakan prihal itu" jelas Ustadz Rahman.


"Ya sudahlah. Kalian pun sudah menikah" sambungnya lagi.


Malam sudah semakin larut, menunjukkan pukul 11 malam, Azki meminta izin untuk pulang ke kosan Nayra, karena merasa sangat janggal jika tiba-tiba Nayra tidur di pesantren di waktu yang sudah cukup larut.


Mereka siap-siap untuk pulang, melewati kebun sagu dan hutan. Seperti biasanya malam diperkampungan yang masih dikelilingi hutan, menjadikan malam lebih gelap meskipun kadang diterangi lampu jalan. Embun sudah mulai turun membasahi rerumputan dan pepohonan. Dingin malam lebih terasa jika dibandingkan saat mereka pergi. Nayra yang duduk dibelakang Azki yang sedang mengendarai merapatkan tubuhnya pada laki-laki itu.


"Nay, baik-baik saja?"tanya Azki


"baik, ustadz" kata Nayra pelan, lalu memeluk Azki.


"terima kasih, karena sudah mau membantu saya" ucap Azki pada Nayra.

__ADS_1


"sudah seharusnya saling meringankan. Lagian masalah ini bermula dari Nay"jawab Nayra.


"Kita pergi makan malam ya" Ajak Azki.


"Nay yang traktir " Suara Nayra semangat


"harusnya saya yang traktir. Kan Nayra udah bantu saya" jawab Azki.


"Ustadz, nay aja. Soalnya Nay baru gajian di MTs" kali ini dia nyengir meskipun tak terlihat oleh Azki.


"Alhamdulillah" jawabnya sambil sedikit tersenyum.


***


Hari masih pukul 9 pagi. Atas izin ustadz Rahman, Azki bisa kembali sedikit sore ke pesantren. Hari itu ia ingin menghabiskan siangnya bersama Nayra. Mereka sudah siap-siap untuk pergi ke tempat wisata air terjun, dengan sedikit rasa khawatir orang akan mengenali mereka.


Dengan waktu 1 tahun, cukup bagi Nayra untuk mengetahui kebiasaan laki-laki itu. Tanpa dia mencari tau sendiripun kebiasaanya sudah bisa dilihat. Beberapa kali saat santri di ajak jalan-jalan keluar dari pesantren ia hanya menetap sendirian. Pernah Nayra datang ke pesantren saat semua orang sedang libur, Nayra mengira semua orang sudah pulang, sejauh yang ia tau bahwa memang semua orang pulang saat itu. Namun, ketika ia ingin masuk ke kamarnya, Nayra mendapati laki-laki itu keluar dari sebuah ruangan berjalan menuju ruang pribadi miliknya. Dan berulang kali Nayra melihat kejadian seperti itu.


"Itu beda lah sayang" katanya cepat kemudian berlalu pergi dengan senyum-senyum sendiri.


Nayra yang tidak pernah mendengarkan kata sayang keluar dari mulut Azki sangat terkejut dan merasa aneh. Namun, tetap saja ia bahagia sebagai seorang wanita.


30 menit perjalanan mereka sudah berada di area Air Terjun Resun. Hawa dingin masih terasa, meski dipagi hari yang cerah pukul 10 itu. Azki memarkirkan motor di depan pagar air terjun, dan menggunakan topi untuk menutupi wajahnya. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak, kemudian menuruni tangga semen yang dibuat namun sedikit curam.

__ADS_1


"Ustadz, kepala sekolah" kata Nayra, sedikit menunduk.


Azki malah menggandeng tangan Nayra.


"biasa saja. Tak akan ada yang berfikir bahwa ini Nayra. yang saya tau, Nayra yang orang kenali adalah seorang gadis, yang tak mungkin menggandeng tangan seorang pria yang bukan mahromnya" ucap Azki pelan.


Meski dek-dekan Nayra berusah bersikap biasa, tak melihat ke arah kepala sekolah dan keluargnya. Mereka berjalan di atas bebatuan di pinggiran kolam batu dari air terjun tersebut. Kolam itu cukup besar dan dalam. Dengan air yang mengalir dari atas meskipun tak terlalu tinggi, dan menggalir ke lereng yang lebih rendah.


"Kita naik 1 tingkat lagi saja" kata Nayra. Saat itu mereka sudah berada di tingkat 2. Dengan air terjun yang mengalir tak terlalu tinggi dan tak memiliki kolam besar seperti tingkat pertama.


Azki berjalan terlebih dahulu, meski agak ragu karena tak pernah menaiki air terjut tersebut sampai ke atas, namun karena merasa lebih baik, maka ia mendaki terlabih dahulu.


"ikuti saja jejak-jejak yang ada. Kita akan sampai ke atas" Kata Nayra.


Dengan mendaki bukit yang terkadang merupakan tanah liat yang sedikit licin karena dibasahi oleh lelehan air terjun, kemudian melewati tanah gambut hasil dari pembusukan kayu-kayu hutan. Tak jarang mereka harus menunduk untuk melewati batang pohon yang sudah lama tumbang, namun tidak di potong. Memanjati akar-akar kayu yang muncul dipermukaan tanah. Memanjati batuan, dan menghindari daun serta ranting yang berduri.


Azki sudah berada di sebuah batu besar yang di dalamnya ada sedikit cekungan yang berisi air. Ia mencuci kaki yang kotor karena sempat kotor karena mendaki.


"kita belok ke sana, ada air terjunnya" kata Nayra menujuk dibalik semak-semak.


"Ustadz jangan jauh-jauh dari nayra" pinta Nayra.


Azki memanjati sebuah batu besar, kemudian mengulurkan tangan pada Nayra yang masih dibawah, melewati aliran air di celah bebatuan yang masih berlumut yang menandakan bahwa jarang ada yang naik ke tingkat tersebut.

__ADS_1


Mereka telah sampai ke sebuah air terjun yang mengalir mungkin dari ketinggian 1 km, menghempaskan airnya dikolam air, disebalik air terjun itu masih terlihat ruang kecil dari bebatuan yang masih ditumbuhi tumbuhan liar.


Nayra tersenyum dibelakang Azki.


__ADS_2