
Rehan yang sudah selesai melakukan operasi. Dia langsung menuju ke lokasi balapan liar di mana lokasinya sudah di-share lock oleh Sisil kepadanya.
"Kamu baik-baik saja kan, Sil? Katanya kamu mau ikut balapan liar bersama Devan dan geng motor dia. Lalu, kenapa malah memintaku untuk menjemputmu disini? Oh ya, di mana motormu?" Sisil tidak menanggapi apapun yang ditanyakan oleh Rehan. Sisil lebih memilih untuk segera masuk ke dalam mobil milik Rehan.
Rehan mengerutkan keningnya melihat raut wajah Sisil yang tidak bersahabat. "Kenapa? Apa ada yang salah denganmu?" tanya Rehan yang terlihat masih bingung dengan ekspresi Sisil yang baginya masih menyimpan sebuah misteri yang sulit untuk dipecahkan olehnya.
"Udah, Kak! Ga usah banyak tanya. Ayo antar Aku pulang saja! Aku lapar dan mengantuk sekali. Aku ingin tidur, Kak!" Sisil terlihat cemberut kepada Rehan.
Rehan hanya tersenyum dan mengelus lembut pucuk kepala Sisil. Sebuah kebiasaan yang sejak dulu selalu dia lakukan kepada Sisil.
Devan merasa cemburu melihat Sisil yang dijemput oleh Rehan. Apalagi saat melihat keakraban mereka berdua yang bagi Devan terlalu intim antara pria dan wanita. Akan tetapi ego dan juga harga diri Devan yang tinggi, membuat Devan menahan semua rasa cemburunya dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa di hadapan Christina.
"Baiklah aku akan membawamu ke restoran. Aku juga kebetulan belum makan sejak tadi siang." Sisil merasa begitu senang mendengarnya.
"Kalau kamu sekarang pergi denganku. Lalu bagaimana dengan Devan? Bukankah kalian berdua berjanji untuk melakukan balapan liar?" tanya Rehan pada Sisil yang terlihat begitu bete ketika mendengar nama Devan yang di sebutkan olehnya.
"Gak usah menyebutkan nama dia. Karena dia sibuk pacaran dengan kekasihnya yang seksi itu. Aiya! Mana dia ingat dengan janjinya untuk balapan denganku? Istri yang gak di harapkan! Sudahlah, Kak! Kita lupakan saja bajingan itu!" Rehan tidak tahu apakah dia harus merasa senang ataukah merasa sedih melihat Sisil yang terlihat membenci Devan.
Sisil yang seketika mengingat tentang kejadian tadi saat dia melihat Devan dan Christina sedang berciuman, kejadian yang dia lihat sebelum kedatangan Rehan. Sisil hanya bisa memejamkan matanya dan berusaha melupakan semua itu.
Sebenarnya Sisil hanya mengalami kesalahpahaman saat itu. Devan tidak sedang mencium Christina. Tetapi dia sedang menghapus air mata gadis itu. Mungkin karena angel yang terlihat di posisi Sisil saat itu. Sehingga Sisil melihat mereka berdua yang terlihat seakan-akan sedang berciuman dengan mesra. Padahal tidak sama sekali.
__ADS_1
Devan hanya sedang menghibur gadis itu agar tidak sedih dan marah kepadanya. Karena Devan yang terus saja memikirkan tentang Sisil.
Devan yang kebetulan saat itu melihat kedatangan Rehan yang menemui Sisil. Devan terlihat mengerutkan keningnya. Karena Devan melihat mereka berdua yang malah pergi meninggalkan lokasi balapan liar. Alih-alih menemui dirinya.
"Mau ke mana mereka berdua? Padahal aku sudah menunggunya untuk melakukan balapan bersama." Devan bermonolog dengan dirinya sendiri.
Christina mulai cemberut lagi ketika melihat Devan yang kembali memikirkan Sisil.
"Kamu bisa nggak sih, Yang? Ketika kita bersama tidak usah memikirkan istrimu terus. Apa kau tahu? Aku cemburu tahu nggak sih?" tanya Christina mulai kesel lagi.
Padahal tadi hatinya sudah mulai merasa senang melihat Devan yang begitu perhatian dan peduli dengan dirinya.
Akan tetapi Christina yang merasa cemburu dan tidak rela melihat kekasihnya mengkhawatirkan Sisil, dia pun bersikeras untuk mengikuti Devan ke manapun dia pergi.
"Aku akan ikut denganmu! Kemanapun kau pergi! Pokoknya aku tidak rela melihatmu harus bersama dengan wanita itu. Karena kau hanya milikku seorang! Camkan itu, sayang!" Christina terlihat mencium bibir Devan yang tampak berkesiap melihat emosi dan kecemburuan di mata kekasihnya yang tercinta.
Devan tidak bisa mengelak dengan apapun yang dilakukan Christina kepadanya.
"Baiklah kau boleh ikut denganku. Sebentar, ya! Aku akan menemui anggotaku dulu agar mereka bisa melanjutkan balapan liar tanpa aku." tanpa menunggu jawaban dari Christina ,Devan langsung menemui Badri dan meminta kepada wakilnya itu untuk menggantikan dirinya.
Tentu saja Badri sangat senang dijadikan sebagai pengganti Devan sebagai ketua geng motor mereka. Karena memang itulah yang sangat dia cita-citakan sejak dulu.
__ADS_1
"Kau gantilahkanlah aku sebagai ketua disini untuk sementara waktu. Karena aku ada keperluan yang sangat penting yang tidak bisa ditinggalkan. Nanti kalau sudah selesai Aku akan kembali kemari!" tanpa menunggu jawaban dari Badri, Devan langsung pergi menemui Christina yang masih menunggunya dengan setia.
Christina sebenarnya tidak senang mengikuti Devan untuk mengikuti kepergian Sisil dan Rehan. Tetapi dia pun tidak rela kalau melihat kekasihnya harus mengkhawatirkan wanita lain saat bersama dirinya. Walaupun wanita itu adalah istri Devan sendiri.
Devan kemudian memilih untuk mengikuti Rehan dan Sisil yang sedang makan malam bersama di sebuah hotel mewah dengan membawa Christina bersamanya hanya untuk membuat Sisil merasa cemburu kepadanya.
Apa yang dilakukan oleh Devan benar-benar sangat konyol. Devan sendiri tidak mengerti kenapa dia sampai melakukan hal yang demikian bodoh dan amat konyol baginya.
'Entah apa yang akan dipikirkan oleh Sisil, ketika dia melihat aku berada di sana juga bersama Christina. Ah sudahlah aku tidak terlalu perduli dengan pola pikir gadis itu. Tapi yang jelas, aku sebagai suaminya memiliki hak untuk memastikan dia pulang ke rumah dengan selamat!' sepanjang perjalanan Devan sibuk dengan pemikirannya sendiri dia tidak terlalu memperdulikan apapun yang dikatakan Christina.
Christina sebenarnya cukup marah dengan apa yang dilakukan oleh Devan. Akan tetapi dia mencoba untuk mengerti. Kalau mereka saat ini sedang berada di jalanan dengan angin malam yang begitu kencang. Sehingga suaranya pun kabur karena ditelan oleh angin malam yang kencang dan terasa sangat dingin. Sehingga Devan tidak bisa mendengar apa yang dia katakan.
Christina mengeratkan pelukannya pada Devan dan menghangatkan tubuhnya yang tertimpa angin malam. Enteh kenapa Devan merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh Christina kepadanya.
Devan terlihat tidak nyaman dan meminta kepada Christina untuk tidak memeluknya seperti itu.
Akan tetapi Christina yang merasa memiliki hak sebagai kekasih Devan, dia tampak begitu acuh dengan permintaan Devan kepadanya.
"Kau mau ikut denganku untuk masuk ke dalam atau ingin menungguku disini?" tanya Devan kepada Christina ketika mereka sudah sampai di restoran mewah tempat Sisil dan Rehan yang saat ini sedang makan malam bersama.
Christina tentu saja tidak akan membiarkan Devan bisa bertemu dengan Sisil dengan begitu leluasa tanpa dirinya. Christina langsung merangkul tangan Devan dengan begitu posesif seakan sedang menunjukkan hak dan pemilikan dirinya atas diri Devan kepada semua orang.
__ADS_1