
"Sil, apa kamu tidak mau untuk menemui Devan di rumah sakit?" tanya Andreas kepada Sisil yang saat ini sedang menatap foto-foto dirinya di masa lalu bersama Rahmat.
Sisil tidak pernah menyangka kalau ternyata dirinya hanyalah anak angkat dari ayahnya, "Tampaknya kita harus menyelidiki semuanya dengan jelas. Siapa yang menjadi otak dari penculikan ibuku? Padahal saat itu dia sedang hamil besar. Aku yakin sekali kalau ada orang yang berniat jahat terhadap ibuku." ucap Sisil ketika itu.
Glane mendekati Sisil dan menatap foto-foto masa kecil adiknya yang baru saja dia temukan kembali setelah 20 tahun tidak bertemu.
"Aku yakin kalau selingkuhan Papah kita yang sudah berbuat jahat terhadap ibu kita," ucap Sisil.
"Tante Rina maksud kamu?" tanya Glane masih belum percaya dengan prediksi Sisil.
"Memang dia itu selingkuhannya papahmu?" tanya Sisil pada Glane.
Glane menatap Sisil. "Papaku, papah kamu juga!" Sisil hanya meringis mendengar ucapan Glane.
"Tes DNA belum keluar hasilnya, jadi kita masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa dia adalah ayahku." Glane hanya bisa menggelengkan kepala mendengar perkataan Sisil yang sebenarnya tidak ada salahnya juga sih.
Andreas mendekat pada Sisil kemudian Andreas memberitahukan kepada Sisil kalau dia baru saja mendapatkan kabar dari anak buahnya yang dia tugaskan untuk mengawasi Devan, kalau Devan sekarang sudah siuman dari komanya.
"Laki Elo udah siuman baru saja. Mau ke sana kagak?" tanya Andreas pada Sisil.
__ADS_1
Sisil, Andreas dan Glane saat ini sedang berada di kontrakan Sisil yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Devan dirawat.
"Ini sudah malam weh, kalau kita ke sana juga gak akan di bolehkan menjenguk pasien. Adik Gue juga butuh untuk istirahat setelah lelah seharian mencari informasi tentang kasus nyokap gue yang udah lama banget hilang." ucap Glane pada Andreas.
Andreas mendengus kesal. "Bukankah ayah angkatmu sudah bilang kepada kamu, kalau ibu kalian meninggal saat melahirkan Sisil?" tanya Andreas pada Sisil.
Sisil sontak menatap Andreas yang mengingatkan dirinya dengan apa yang dikatakan oleh ayah angkatnya kemarin. "Kamu benar, Andreas! Kita bisa menanyakan kepada Papa Rahmat soal makam ibuku. Mungkin kita bisa membongkar makamnya dan melakukan test DNA untuk mengetahui kebenaran kata-katanya." ucap Sisil menimpali ucapan Andreas.
Glane melotot sempurna mendengar perkataan Sisil yang berniat untuk membongkar makam ibunya yang sudah meninggal 20 tahun yang lalu.
"Gila Loe?? Membongkar makam?? Itu terlalu ekstrim banget woi!!" ucap Glane yang sepertinya tidak setuju dengan pendapat Sisil.
Bisa-bisanya Sisil masih bercanda disaat situasi yang genting seperti itu. "Tapi apa yang di katakan oleh Sisil ada benarnya juga, Glane. Kita perlu mencari bukti yang konkret yang membuktikan kalau ibumu memang sudah meninggal. Jangan sampai kita dibohongi oleh ayah angkatnya Sisil." Ucapan Andreas cukup membuka pikiran Glane.
Sisil tersenyum dan melakukan tos bersama Andreas. "Baiklah untuk masalah pembongkaran makam, kita akan bicarakan itu dengan ayahku. Aku yakin ayahku pasti juga sudah bergerak untuk menyelidiki kasus ini supaya lebih jelas lagi." Glane kemudian menceritakan tentang tabiat ayahnya yang sangat teliti dan tidak mungkin membiarkan sedikit celah untuk membohongi dirinya.
"Tapi ayahmu bodoh banget ya? Dia bisa dibohongi oleh selingkuhannya yang mengatakan bahwa ibumu kabur dengan kekasihnya. Dia percaya gitu aja dengan foto palsu yang dikirimkan oleh wanita jahat itu kepadanya," Sisil entah kenapa merasa tidak senang dengan hal itu.
Andreas juga setuju dengan apa yang di katakan oleh Sisil. "Papa waktu itu sedang mencari bukti-bukti yang benar-benar tidak terbantahkan. Tapi Papa malahan kehilangan jejak ibu kalian. Kemungkinan karena identitasnya yang di samarkan, lalu dia meninggal saat melahirkan kamu. Atau mungkin juga, ayah angkat kamu tidak mengetahui identitas ibu kalian sehingga tidak melaporkan kematian Arimbi ke pihak pemerintah." Tiba-tiba saja Handoko sudah bergabung di antara mereka.
__ADS_1
Glane dan Sisil cukup terkejut melihat kehadiran Handoko di sana. "Sejak kapan papa ada di sini?" tanya Glane yang kemudian menyuruh ayahnya untuk masuk ke kontrakan Sisil yang sederhana.
Handoko terlihat tidak nyaman duduk di sana." Kenapa kau menolak untuk tinggal di mansion milik ayahmu sendiri?" tanya Handoko terlihat tidak senang.
Sisil hanya meringis mendengar hal itu," Bagaimana pun juga test DNA hasilnya belum keluar. Aku tidak mungkin mengklaim diriku sendiri sebagai anakmu. Bagaimana kalau hasil test DNA negatif? Aku akan malu dengan hal itu." Handoko terlihat menganggukkan kepala dan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Sisil.
Glane sendiri tidak terlalu memperdulikan tentang hasil test DNA, karena Glane sangat senang memiliki saudara seperti Sisil. Glane selama ini hidup dengan kesepian sekarang tidak memiliki saudara lainnya.
Ayahnya dan Rina tidak memiliki anak. Karena Rina yang tidak ingin membuat tubuhnya rusak karena mengandung dan melahirkan.
Ayahnya juga merasa keberatan untuk memiliki anak bersama Rina. Karena jauh di dalam hatinya, dia tidak ingin kalau status Glane sebagai pewarisnya suatu saat nanti akan bermasalah. Makanya Handoko merasa bersyukur dalam hatinya ketika melihat Rina yang tidak mau melahirkan anaknya.
Padahal Rina memang sengaja mensterilkan dirinya sendiri agar tidak bisa hamil. Sehingga dia bisa bebas berhubungan dengan siapapun di luar sana tanpa harus khawatir dengan kehamilan yang akan merepotkan dirinya sendiri di masa depan.
"Sudahlah!! Ayo kalian ikut dengan Papah ke mansion yang ada di Bintaro. Sisil!! Papa tidak suka melihat Glene yang tinggal sengsara di sini. Dia itu adalah pewarisku yang berharga!! Bagaimana mungkin dia tinggal digubuk seperti ini?" tanya Handoko kepada Sisil dengan raut wajah kesal.
Sisil merasa tersinggung dengan perkataan Handoko yang terlalu blak-blakan. "Siapa juga yang menyuruh dia tinggal di sini? Dia yang tidak tahu malu mau menumpang di rumahku. Sekarang kau malah protes seperti itu denganku?" Tanya Sisil pada Handoko.
"Anak durhaka!! Panggil aku Papah! Astagaa! Kau ini bebal sekali jadi orang! Bukankah Glane sudah bilang kalau kau adalah anaku?" tanya Handoko dengan suara kesal luar biasa.
__ADS_1
Sisil terlihat misuh-misuh karena ayah dan anak yang terlihat begitu memaksakan dirinya untuk menjadi bagian dari keluarga mereka. "Aku kan sudah bilang! Hasil test DNA belum memastikan bahwa aku adalah anakmu. Jadi sebaiknya kita tetap menjaga jarak saja! Itu jauh lebih baik menurutku. Sekarang kalian bertiga lebih baik keluar saja dari kontrakan aku. Aih!! Rasanya terlalu sempit kalau kalian semua ada disini." Sisil lalu mengusir mereka semua dari kontrakan miliknya yang kecil dan sederhana.