
"Kamu serius mau kita balapan liar malam ini?" tanya Sisil pada Devan.
"Pegangan padaku! Kalau kau jatuh bukan tanggung jawabku!" Devan kemudian menarik telapak tangan Sisil agar memeluk dirinya.
Sisil awalnya menolak untuk melakukan itu karena dia tidak mau bermasalah dengan Christina yang selalu saja cemburu dengan hubungan mereka.
"Eh, apa kau tidak menjelaskan kepada pacarmu soal hubungan kita?" tanya Sisil di sela-sela kebisuan yang terjadi di antara mereka.
Angin malam dan motor yang melaju dengan kencang mengakibatkan suara Sisil terbang di bawa angin entah ke mana. "Nanti saja kalau kamu mau mengobrol denganku, kalau sudah sampai di lokasi!" Ucap Devan sambil berteriak kepada suster agar bisa terdengar suaranya.
"Kalau pacarmu melihat kita berdua ngobrol, dia bisa menggorok leherku! Astagfirullah! Dari mana kau mendapatkan seorang kekasih yang begitu Barbar dan menakutkan seperti dia?" tanya Sisil pada Devan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sisil, Devan hanya tertawa. Dia tidak menyangka kalau ada orang yang masih bisa membuat Sisil ketakutan.
Begitu sampai di bengkel, Sisil pun turun dan mengambil motor miliknya. Devan terkesiap melihat Sisil yang sudah siap dengan motor besar.
Devan benar-benar tidak menyangka kalau ternyata dia memiliki seorang jagoan seperti Sisil sebagai istrinya. Selain pintar balapan, Sisil juga pintar sekali taekwondo. Devan pernah melihat Sisil yang menghajar temannya yang berbuat anarkis pada pacarnya yang kasar.
"Kamu, apa hubunganmu dengan Rehan? Kenapa kamu sering sekali pergi dengannya?" tanya Devan pada Sisil yang langsung melotot padanya.
"Eh, aku juga tidak pernah ikut campur dengan urusanmu. Kenapa kau bertanya tentang hal itu?" tanya Sisil yang sudah memasang helm di kepalanya dan bersiap untuk meninggalkan bengkel.
Devan terlihat mendekati Sisil kemudian dia berbisik di telinganya. "Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan Rehan. Jauhi dia!" Sisil merasa merinding mendengarkan apa yang dikatakan oleh Devan kepadanya dengan raut wajah yang terasa begitu aneh baginya.
Sisil kesulitan menelan salivanya sendiri melihat Devan yang sekarang sudah naik ke atas motornya dan bersiap untuk melakukan balapan bersama Sisil.
__ADS_1
"Siapa yang duluan sampai ke arena balapan, dia yang akan menang dan akan menentukan hadiah dari perlombaan balapan liar nanti!" Ucapan Devan tentu saja disambut dengan baik oleh Sisil.
"Siapa takut!" setelah mengatakan itu Sisil langsung melarikan kendaraannya dengan kecepatan maksimal. Tanpa merasa takut sama sekali seakan jalanan sudah menjadi sahabat karibnya.
Devan terkesiap melihat kemampuan Sisil yang ternyata luar biasa. Dirinya ketinggalan lumayan jauh di bandingkan Sisil yang sudah melesat jauh.
Devan mulai memikirkan semua yang dikatakan oleh Sisil dan mulai berpikir untuk meninggalkan Christina yang selama ini selalu mendampinginya di saat terberat hidupnya.
Devan sebenarnya hanya merasa kasihan kepada Christina yang selalu mengalami kemalangan di dalam rumahnya. Walaupun dia seorang yang kaya raya tetapi kedua orang tuanya selalu membandingkan Christina dengan semua kakak-kakaknya yang sukses dan hebat dengan karir mereka.
Sementara Christina yang memiliki penyakit kanker tidak bisa melakukan banyak hal dan selalu terbatas dengan segala aktivitas yang dia lakukan.
Begitu sampai di lokasi balapan, Sisil tersenyum pada Devan yang ternyata kalah jauh dibandingkan dirinya.
"Wah, siapa itu?? Keren sekali!" banyak suara-suara sumbang di antara anggota geng motor lainnya. Ketika mereka melihat kehadiran Sisil di lokasi.
"What?? Bos besar Devan dikalahkan oleh orang itu? Siapa dia?" tanya mereka yang merasa heran dengan kejadian yang di luar nalar.
Devan tidak merasa terganggu sama sekali dengan kejadian itu. Toh yang mengalahkannya juga adalah istrinya sendiri. Bukan masalah besar bagi Devan.
"Karena kau sudah memenangkan pertandingan ini. Apa yang ingin kau jadikan pertaruhan untuk balapan selanjutnya?" tanya Devan pada Sisil yang hanya menatap teman-temannya Devan yang lain dengan tatapan meremehkan.
"Akhirnya hubunganmu dengan Christina!" Devan dan Christina cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Sisil.
"Eh, kau jangan keterlaluan ya!! Ini urusan balapan liar. Kenapa kamu harus membawa-bawa urusan hubunganku dengan Devan?" Christina tampak tidak terima dengan apa yang diinginkan oleh Sisil.
__ADS_1
Sisil mengacuhkan apa yang dia katakan oleh Christina dia hanya menatap Devan dengan lekat. Karena saat ini Dia sedang berurusan dengan suaminya sendiri.
Sisil hanya merasa kasihan kepada kedua orang tua Devan yang sangat terganggu dengan hubungan Devan dengan Christina yang sejak dulu tidakdi restui oleh ayahnya.
"Katakan padaku kenapa aku harus meluluskan keinginanmu untuk putus dan meninggalkan Christina? Dia sudah menjadi kekasihku selama bertahun-tahun lamanya dan aku mencintai dia. Bagiku, tidak mudah untuk meninggalkannya." Sisil rasa hatinya seakan teriris sembilu mendengar pengakuan Devan di depan umum.
"Bukankah kau yang mengatakan sendiri padaku? Kalau aku menang dan sampai kesini duluan, maka aku yang berhak menentukan keinginanku untuk mendapatkan hadiah dari balapan kita selanjutnya. Kalau kau tidak ingin putus dengannya, tinggal kau berusaha untuk bisa menjadi juara untuk balapan kita kali ini. Gampang kan?" tanya Sisil dengan begitu entengnya seakan tidak ada hal yang memberatkan hatinya.
Padahal jauh di dalam hatinya saat ini Sisil sedang merasa benar-benar kesal melihat Christina yang terus saja bergelayut manja di bahu Devan.
Sisil tidak sadar bahwa saat ini dirinya sedang merasa cemburu dengan hubungan Devan dan Christina yang begitu lengket. Melebihi hubungan dirinya dan Devan yang merupakan suami istri.
Mereka berdua bahkan belum melakukan malam pertama. Padahal pernikahan mereka sudah jalan hampir 5 bulan lamanya.
"Baiklah aku setuju dengan perjanjian ini. Tapi ingat! Kamu harus meninggalkan Rehan kalau kamu kalah! Kamu tidak boleh mangkir dari pertaruhan ini!" Christina merasa tidak suka dengan perjanjian yang dibuat oleh mereka berdua.
"Sayang! Kenapa melakukan hal seperti ini sih? Kalian bisa melakukan taruhan yang lain. Uang, misalnya. Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan dengannya?" tanya Christina merasa Curiga dengan gelagat keduanya yang tidak biasa.
Devan tersenyum kepada Christina dia berusaha untuk meyakinkan kekasihnya bahwa dirinya hanya ingin membuat Sisil mengakui keunggulannya.
"Kamu tidak jatuh cinta kan kepada istrimu?" Devan kena skakmat dari Christina.
Devan menatap Sisil yang sudah berada di atas motornya dan sudah tidak sabar untuk melakukan balapan liar bersamanya.
"Cepatlah mau berapa lama lagi kalian akan terus berkangen-kangenan seperti itu? Seakan-akan kau mau mati saja!" Ucapan Sisil benar-benar terasa panas di telinga Devan maupun Christina yang merasa sedang diolok-olok oleh gadis itu.
__ADS_1
Sementara itu Rehan yang menjadi penonton di kejauhan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku mereka berdua yang sangat absurd di matanya.